Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Ketahuan


__ADS_3

* Sebelum membaca like dulu ya teman-teman.. Gomawo 🤗🤗


Suasana malam hari di gunung Papandayan sangat indah. Karena banyaknya bintang-bintang. Tapi cuaca di sana sudah mulai dingin. Semua anak-anak itu berkumpul di depan api unggun. Mereka membuat posisi lingkaran.


" Axel, pegangin jagung aku bentar"


" Kamu mau kemana?"


" Ke sungai"


" Ngapain?"


" Buang air kecil"


" Temenin sama Adele"


" Nggak usah, aku pergi sendiri aja"


" Bahaya pergi sendiri "


" Nggak kok, lagian cuma deket"


" Ya udah, hati-hati"


" Ok"


Alexa beranjak dari tempat duduknya.


" Eh, mau kemana?" tanya Adele.


" Mau buang air kecil"


" Gue temenin ya?"


" Makasih, tapi gue bisa pergi sendiri"


" Yakin?"


" Hhmm"


" Ya udah hati-hati ya. Ntar kalau bertemu demit teriak aja "


" Ntar gue sebutin aja nama Lo sama mereka"


" Itu juga boleh"


" Udah ah, gue udah kebelet nih"


Alexa segera pergi dari sana. Ia akan ke sungai tempat ia dan Adele mandi tadi. Ia sengaja bilang ingin buang air kecil pada Axel dan juga Adele. Kalau tidak pasti Axel ingin ikut bersamanya. Sedangkan dirinya ke sungai ingin memastikan orang yang dilihat tadi sore.


Berbekal senter kecil di tangannya, Alexa segera menyusuri jalan setapak itu. Ia terus berjalan menuju sungai. Dan ia berharap bisa bertemu lagi dengan seseorang yang ia yakini mirip dengan pamannya.


Akhirnya Alexa sampai di sungai tempat ia dan Adele mandi tadi. Dengan penerangan seadanya, ia pergi ketempat sosok yang ia lihat tadi sore.


Alexa melihat seseorang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Ia tidak tau apa yang dilakukan lelaki itu. Dia pun mengarah senternya pada seseorang itu.


" Hei..! kamu ingin berbuat mesum ya?!"


Deg.


Alexa kaget saat mendengar suara lelaki itu. Suara yang sangat ia kenal, dan orang itu juga yang sering memarahinya saat latihan. Tanpa menunggu lama, ia segera mengambil langkah seribu dan kabur dari sana.


" Eits mau kemana? sudah mengintip, setelah itu mau kabur" kata Nando sambil menahan tangan Alexa.


Ya lelaki tampan yang dilihat Alexa tadi adalah Nando.


" Pa-paman"


Sekarang giliran Nando yang kaget. Ia tau betul siapa pemilik suara itu. Apalagi sang gadis memanggilnya dengan sebutan ' Paman '. Sekarang ini perasaannya bercampur aduk.


Ia malu karena gadis itu melihat dia sedang buang air kecil. Apa gadis itu melihat sesuatu yang tidak boleh dilihatnya. Nando berharap gadis itu tidak melihatnya.


Ehem..


Nando berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya. " Eca ngapain disini? "


" Seharusnya Eca yang tanya, paman ngapain disini?"


" Buang air kecil. Apa Eca kesini mau mengintip?"

__ADS_1


" Ng-nggak..! lagian Eca nggak liat kok"


" Terus kenapa masih di sini?"


" Gimana mau pergi, tangan Eca paman pegang daritadi"


Nando melirik kearah tangganya. Benar saja, tangannya masih betah memegang tangan keponakannya itu. Ia pun segera melepaskan tangannya dari tangan Alexa.


" Sekarang Eca udah boleh pergi"


Alexa segera meninggalkan pamannya. Tapi baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya.


" Kenapa berhenti?"


" Paman belum menjawab pertanyaan Eca"


" Pertanyaan yang mana?"


" Paman kenapa bisa ada disini? apa paman ngikutin Eca?"


" Idih geer, paman itu kesini kerja"


" Kerja?"


" Ya, kan kamu tau bisnis paman dalam bidang pertambangan"


" Tau, tapi apa yang mau di tambang di sini?"


" Rencananya sih paman mau membuka tambang belerang"


" Belerang?"


" Iya. Emang waktu ke sini kamu nggak mencium bau belerang?"


" Kecium sih. Tapi aneh aja"


" Aneh gimana?"


" Kenapa bisa bersamaan dengan aku kesini nya?"


" Itu hanya kebetulan aja. Lagian paman nggak tau kalau Eca mau kesini"


" Bukannya Eca udah bilang ke paman ya kemarin?"


" Masa sih?"


" Hhmm"


" Tenda paman dimana?"


" Nggak jauh dari sini"


" Eca main ke sana boleh ya?"


" Nggak..!" tolak Nando.


Kalau dia membawa Alexa ke sana, bisa-bisa ketahuan. Padahal dirinya sudah susah payah mencari alasan supaya gadis cantik itu tidak curiga.


" Kenapa nggak boleh. Apa paman kesini berdua sama Kak Jihan?"


" Tidak"


" Terus sama siapa?"


" Sama teman "


" Oh kirain sama Kak Jihan "


" Nggak, sekarang Eca kembali ke tenda. Paman juga mau kembali ke tenda"


" Paman kapan pulangnya?"


" Besok, kenapa?"


" Eca pulangnya bareng paman ya"


" Bukannya paman nggak mau bawa Eca pulang bareng, tapi Eca kesini kan bareng sama teman-teman, jadi nggak enak sama mereka. Dan lagi, pasti mereka akan bergosip tentang Eca"


" Iya deh"

__ADS_1


" Sekarang kembali ke tenda ya. Di luar dingin, ntar Eca bisa sakit"


" Bareng aja ke atasnya"


" Ya udah"


Paman dan keponakan itu segera meninggalkan sungai. Mereka akan kembali ke tenda mereka masing-masing.


" Kita pisah disini ya" kata Nando setelah mereka sampai di atas.


" Hhhmm"


Alexa segera mengambil jalan sebelah kanan, sedangkan Nando ke sebelah kiri. Nando menatap punggung Alexa yang semakin menjauh dari pandangannya. Setelah Alexa sudah tidak terlihat lagi, barulah ia berjalan menuju tendanya.


...***...


" Lama amat sih buang air kecilnya?" tanya Axel setelah Alexa duduk di sampingnya.


" Ya soalnya banyak"


" Alasan aja kamu. Apa jangan-jangan kamu kencan sama demit penunggu sungai"


Pletak..


Aawwww..


" Sakit Eca"


" Emang kamu mau punya ipar demit?"


" Ya nggak lha"


" Makanya jangan ngomong sembarangan. Mana jagung aku tadi?"


" Nih, sampai berjamur jagung karena ditinggal lama sama kamu"


" Bibir kamu nggak apa-apa?"


" Nggak apa-apa. Walau agak susah sih saat makan jagungnya"


" Coba liat"


Alexa melihat luka robek dibibir Axel. Luka itu sudah mulai kering. Dia kasihan melihat saudara kembarnya itu. Makan jagung aja harus di ambil satu-satu. Karena kalau digigit langsung, luka dibibir Axel akan terbuka lagi.


" Siapa diantara kalian yang membawa gitar?" tanya Citra.


Beberapa siswa mengangkat tangan.


" Wah cukup banyak juga ya. Sekarang ambil gitar kalian, kita nyanyi sama-sama"


" Baik Kak"


Beberapa siswa laki-laki pergi ke tenda untuk mengambil gitar mereka. Tak berselang lama mereka pun kembali dengan membawa gitar di tangan mereka masing-masing.


" Gitar sudah ada. Gimana kalau kita buat permainan duet?" usul Citra.


" Boleh Kak. Tapi kakak dari anggota OSIS juga harus ikut"


" Iya pasti lebih seru "


" Ok, kami juga akan ikut bersama kalian. Sekarang kita cari peserta duetnya. Kita cari secara acak ya"


Para cewek-cewek berharap bisa berduet dengan cowok tampan. Begitu juga sebaliknya. Citra mulai memutar botol kecap yang sudah kosong. Botol itu berhenti tepat di depan Alexa.


" Peserta pertama Alexa" kata Intan.


" Aku?"


" Iya kamu"


" Baiklah"


" Sekarang kita cari teman duet kamu"


Citra kembali memutar botol kecap itu. Para cowok berdoa di dalam hati mereka masing-masing. Semoga botol itu berhenti tepat di depan mereka.


To be continue.


Sekilas info.

__ADS_1


Di bab sebelumnya Feby kan ada bilang umur Nando mau jalan tiga puluh tiga ya. Feby ganti menjadi tiga puluh, karena jarak umur Nando dan Alexa itu cuma empat belas tahun.


Happy reading 😚😚


__ADS_2