
Para sahabat Anggun, Kenzo dan juga twins sudah sampai di mansion Dwipangga. Mereka mengucapkan rasa bela sungkawa mereka pada keluarga yang ditinggalkan.
" Eca turut berdukacita ya. Maaf kita baru bisa datang?" kata Adele dan Alisha.
" Makasih Del, Sha. Nggak apa-apa, yang penting sekarang kalian sudah disini"
" Pacar Lo udah tau kalau kakek buyut Lo meninggal?" tanya Adele.
" Udah. Mungkin sebentar lagi dia nyampe"
" Nih kita bawain kue buat Lo. Kita tau mungkin Lo belum sempat sarapan" kata Alisha sambil memberikan paper bag pada Alexa.
" Makasih guys, kalian memang sahabat yang paling baik"
" Sama-sama, kita kan best friend forever" kata Adele.
" Ya udah, sekarang Lo makan dulu. Biar tubuh Lo ada tenaganya" kata Alisha.
Alisha juga membawakan sarapan untuk kekasihnya. Karena ia tau pasti kekasihnya itu belum sarapan.
" Yank, sarapan dulu?"
" Makasih yank"
Axel memberikan sebagian kuenya pada saudaranya yang lain. Ia tau mereka juga belum sarapan. Karena dari tadi pagi mereka belum ada yang ke ruang makan.
" Ini masih banyak kok, yank" kata Alisha.
" Bagiin sama yang lain yank. Aku udah segini aja"
Alisha membagikan kue yang tersisa pada keluarga sang kekasih. Alisha memang sengaja membawa agak banyak kue supaya saudara Axel yang lain kebagian.
" Makasih cantik kuenya?" ucap Fira.
" Sama-sama Tante"
" Kamu pacarnya Axel, ya?"
" I..iya Tante"
" Sehat selalu ya"
" Makasih Tante"
Alisha masih berkeliling membagikan kue pada saudara Axel yang lain. Tinggal beberapa kue lagi.
" Masih ada sisanya nggak, yank?"
" Masih, yank. Kamu mau lagi?"
" Nggak. Kasih Oma sama nenek buyut aja"
" Dimana Oma sama nenek buyut?"
" Tuh di kamar"
" Apa nggak masalah aku masuk ke sana?"
" Nggak apa-apa, yank"
" Ya udah, aku ke sana dulu ya?"
" Hhmmm"
Alisha berjalan menuju kamar yang dimaksud sama kekasihnya. Alisha berhenti tepat di depan pintu kamar nenek buyut Axel. Ia masih ragu untuk masuk ke kamar itu. Tapi ia harus memberanikan diri.
__ADS_1
Tok.
Tok.
Tok.
" Masuk"
Alisha membuka pintu secara perlahan. Ia melihat seorang wanita cantik sedang menyuapi seorang wanita yang sudah lansia. Alisha yakin yang sedang disuapi itu nenek buyut Axel. Dan yang menyuapinya pasti Omanya.
" Kenapa berdiri di sana. Ayo sini?"
" Permisi nyonya, saya mau mengantarkan kue ini untuk nenek buyut dan juga nyonya"
" Terima kasih. Siapa nama kamu, sayang?"
" Alisha, nyonya"
Anggun tersenyum. Ternyata gadis cantik ini yang disukai cucunya. Kiran sudah menceritakan tentang kekasih Axel dan juga Alexa. Dan sekarang ia bertemu dengan calon cucu mantunya.
" Kamu kekasihnya Axel?"
" I..iya nyonya"
" Panggil saja Oma. Sama seperti Axel memanggil saya"
" Baik Oma"
" Apa kamu yang membuat kue ini?"
" Iya Oma"
" Kamu juga mempunyai toko kue?"
" Bukan punya Alisha aja Oma, Alexa sama Adele juga. Kami bertiga yang punya toko kuenya"
" Sudah Oma. Tadi sebelum kesini, Alisha sarapan dulu. Oma sarapan aja dulu, biar Alisha yang suapi nenek buyut"
" Apa nggak merepotkan?"
" Nggak Oma"
" Makasih. Ma, mama disuapin Alisha dulu, ya?"
" Iya Nak"
Anggun mulai menyantap sarapannya. Walaupun ia nggak selera makan, tapi ia harus paksakan. Karena ia nggak boleh jatuh sakit. Ia juga mencicipi kue yang di bawa sama Alisha tadi.
" Kuenya enak"
" Makasih Oma"
" Pantas aja toko kue kalian rame. Ternyata ada koki yang hebat dibalik toko kuenya"
" Alisha juga masih belajar Oma"
" Tapi bener, kuenya enak"
" Syukurlah kalau Oma suka kuenya"
Alisha menyuapi Diana dengan sangat lembut. Bahkan gadis cantik itu juga terlihat sesekali menghapus sisa makanan di bibir Diana.
Anggun tersenyum melihat Alisha dengan sangat telaten menyuapi mama mertuanya. Jarang remaja seperti dia yang begitu telatennya merawat orang tua.
" Alhamdulillah, udah habis Nek buyut. Sekarang Nek buyut minum dulu"
__ADS_1
" Makasih ya ***, udah bantuin Nek Uyut"
" Sama-sama Nek Uyut. Oma, Nek Uyut, Alisha pamit dulu ya?"
" Oh iya, sekali lagi makasih ya udah bantuin Oma"
" Sama-sama Oma"
Setelah berpamitan, Alisha pun keluar dari kamar itu. Ia kembali bergabung dengan para sahabatnya.
...***...
Kenan baru sampai dengan keluarganya. Kedatangan mereka langsung jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Apalagi lelaki tampan itu memakai sarung dan juga peci. Jadi ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.
" Turut berdukacita ya calon besan" ucap Helena.
" Makasih calon besan"
" Mari silakan masuk "
Kenan dan papanya bergabung dengan keluarga besar Kiran dan juga pelayat laki-laki lainnya. Sedangkan Helena bergabung dengan Kiran dan juga pelayat perempuan.
Sosok Kenan kembali menjadi sorotan. Laki-laki tampan itu terlihat sedang mengambil membaca surat Yasin. Dan suaranya terdengar cukup merdu.
" Siapa lelaki tampan itu?" tanya salah satu ibu-ibu.
" Dengar-dengar sih calon mantunya keluarga Narendra"
" Narendra?. Anaknya nona Kiran dong, ya?"
" Iya. Katanya sih, kekasihnya Alexa"
" Bukankah putri nona Kiran masih kecil?"
" Saya dengar masih SMA"
" Nggak masalah dia masih SMA. Lagipula zaman sekarang banyak orang nikah muda"
" Kamu benar juga. Kenapa mantu dan cucunya keluarga Dwipangga dan Wiguna ini tampan dan cantik-cantik, ya?"
" Jelaslah. Wong bibitnya juga tampan dan cantik"
Ya memang benar apa yang dikatakan ibu-ibu itu. Cucu mantu kedua keluarga besar itu memang tampan dan juga cantik-cantik. Jadi tidak dipungkiri keluarga mereka selalu jadi sorotan.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Jenazah Dwipangga pun akan segera dimandikan. Karena semua keluarga dan sanak saudara sudah berkumpul semuanya.
" Tuan, sebaiknya jenazah segera dimandikan?" kata salah satu pemuka agama.
" Baik Pak ustadz" kata Vandy.
Vandy, putra dan juga cucu-cucu lelakinya memandikan jenazah Dwipangga. Mereka mengikuti arahan dari Pak ustadz. Satu persatu dari mereka menyiram tubuh Dwipangga.
Setelah jenazah Dwipangga dimandikan. Dan juga dikafani. Mereka pun bersiap untuk membawa jenazahnya ke masjid untuk segera di sholat kan.
Iringan mobil ambulans pun memenuhi jalanan. Karena begitu banyak orang yang ingin mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Langit mendung seakan ikut mengantarkan kepergian orang yang berkuasa nomor dua di Asia itu. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun.
Kenan membantu Kenzo dan yang lainnya membawa keranda Dwipangga. Mereka menggotong keranda itu ke pemakaman umum.
Semua keluarga besar Dwipangga dan Wiguna mengikuti keenam lelaki tampan itu. Mereka akan mengantarkan jenazah Dwipangga ketempat peristirahatan terakhirnya.
Tanah sedikit demi sedikit sudah mulai menutupi jenazah Dwipangga. Hingga jenazah itu sekarang sudah tidak terlihat lagi. Yang sekarang tampak hanya gundukan tanah.
Bunga yang sedari tadi sudah disiapkan ditaburkan di atas kuburan Dwipangga. Satu persatu dari anak dan cucu mantunya menaburkan bunga untuk rumah baru Dwipangga.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚