
* Sebelum baca like dulu ya teman-teman.. Gomawo 🤗🤗*
Jarak Axel dan teman-temannya yang lain cukup jauh. Jadi tidak masalah baginya untuk menunjukkan seni beladiri yang ia pelajari dari kedua orang tua dan pamannya.
" Kalian berdua sudah siap?" tanya Axel.
" Siap!" jawab Adele dan Farel serentak.
Axel meregangkan otot-otot tangannya. Mereka beruntung tangan mereka tidak diikat, jadi cukup mudah bagi mereka bertiga melawan beberapa penjahat itu.
" Hei bocah kalian mau ngapain?"
" Kami? tentu saja mau memberikan Om hadiah" kata Adele.
" Jangan bercanda, kalian mau nyogok saya ya?"
" Idih pede banget sih Om. Kita itu mau kasih hadiah yang tidak akan pernah Om lupakan seumur hidup"
" Oh ya, apa?"
" Ini " kata Adele sambil menendang senjata milik penjahat itu.
Uuuhhhgg..
Axel dan Farel sontak memegang milik mereka masing-masing. Kedua lelaki tampan itu seperti bisa merasakan apa yang dirasakan Om itu.
" Pecah deh tuh telor " kata Farel.
" Hancur sudah masa depan si Om" kata Axel.
" Dasar bocah kurang ajar!" umpat penjahat itu.
Penjahat itu langsung menyerang Adele. Ia tidak mampu menyeimbangi gerakan Adele, karena rasa sakit yang teramat. Sebab Adele menendang miliknya itu cukup kuat.
Tak berselang lama, bala bantuan pun datang. Teman penjahat itu datang lumayan banyak. Penjahat itu mengepung mereka bertiga.
" Sekarang kalian tidak akan bisa lolos lagi. Terutama kau gadis kecil"
" Ck, beraninya main keroyok. Kalau berani, sini satu lawan lima" kata Adele.
" Keroyok juga namanya itu Adele. Yang bener itu satu lawan satu" kata Farel.
" Ya itu maksud gue tadi"
" Buruan hajar mereka, kalian berdua malah asik ngobrol. Kita harus segera bantuin Eca"
" Siap bos. Yuk Rel, kita habisi mereka kata Adele"
" Siap nona Adele"
Para penjahat heran melihat ketiga remaja itu mengobrol. Padahal nyawa mereka sedang berada di ujung tanduk.
" Hei kalian! kenapa bengong? cepat bunuh ketiga bocah itu" kata penjahat yang diserang Adele tadi.
" Baik ketua"
Penjahat itu langsung menyerang mereka bertiga secara bersamaan. Untung Axel dan kedua sahabatnya cepat menghindar, kalau tidak mereka sudah jadi rempeyek.
" Ups hampir saja. Om kalau mau nyerang kasih aba-aba dong" kata Adele.
" Berisik kau bocah!"
__ADS_1
Axel tidak mau membuang-buang waktunya, karena saudara kembarnya sedang membutuhkan bantuannya. Ia segera menyerang para penjahat itu dengan serangan membabi buta. Sepuluh penjahat tumbang sekaligus.
" Wow, anak singa udah mulai mengeluarkan taringnya" kata Farel.
" Kamu jangan cuma nonton aja, cepat keluarkan juga taring kamu" kata Adele.
" Ok"
Farel pun menyerang para penjahat itu. Beberapa penjahat tumbang karena pukulan Farel. Walaupun tidak sebayak Axel, tapi kemampuannya juga tidak kalah dari Axel.
" Gue juga nggak akan kalah dari kalian berdua" kata Adele yang langsung membuat gerakan berputar.
Tujuh orang penjahat langsung tumbang karena tendangan gadis cantik itu. Farel melongo saat melihat gerakan Adele barusan. Sejak kapan gadis cantik itu belajar gerakan memutar seperti itu.
" Lo bisa gaya memutar seperti Eca dan Axel?" tanya Farel.
" Gitu deh"
" Sejak kapan Lo bisa gerakan memutar seperti tadi?"
" Sekitar satu bulan yang lalu. Tapi gerakan gue nggak secepat Eca. Kalau Eca gerakannya sangat cepat, sampai-sampai kita tidak bisa melihat gerakan memutarnya"
" Woi! malah ngobrol, buruan bantuin gue. Bala bantuan mereka tambah banyak nih" kata Axel.
" Siap bos"
Benar apa yang dikatakan Axel. Bala bantuan penjahat itu semakin banyak. Entah darimana datangnya bala bantuan itu.
Bugh..
Bugh..
Beberapa teman penjahat itu bertambah emosi karena dia dikalahkan dengan mudah oleh seorang anak kecil. Ia pun langsung mengeluarkan senjata tajam dari saku celananya.
" Pisau ini sudah banyak memakan korban. Dan korban berikutnya adalah kau bocah!"
" Kita liat aja nanti siapa yang akan menjadi korban senjata itu saya apa anda yang akan menjadi korban selanjutnya"
" Mati kau bocah!"
Serangan penjahat itu sangat cepat. Apalagi pisau itu terlihat agak seperti ular. Jadi salah langkah sedikit, tubuhnya akan tergores oleh pisau itu.
Axel mencari sesuatu senjata yang bisa ia gunakan untuk menghentikan pergerakan pisau itu. Ia melihat ranting kayu yang cukup besar. Ia pun mencari cara untuk bisa mendekati ranting itu.
" Saya sudah bilang, kau tidak akan mampu menandingi senjata kesayangan ku ini"
Axel membawa penjahat itu mendekat kearah ranting kayu yang ia lihat tadi. Akhirnya ia pun berhasil mendekat kearah ranting itu. Tanpa menunggu lama, ia mengangkat ranting itu dengan kakinya.
" Dapat!"
" Ck, kau pikir ranting kecil itu bisa menahan serangan pisau ku"
" Kita lihat saja nanti "
Penjahat itu kembali menyerang Axel dengan pisau yang seperti ular itu. Tepat seperti dugaan Axel, pisau itu melilit ranting kecil tadi. Axel pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung menarik ranting yang sudah di lilit pisau tadi.
" Bagaimana? ranting yang kau remehkan tadi, mampu menangkis serangan pisau mu itu"
" Kembalikan pisau itu!"
" Ok, saya kembalikan" kata Axel sambil melayangkan pisau itu.
__ADS_1
Sret..
Sret..
Sret ...
Pisau itu langsung menancap dibeberapa bagian tubuh penjahat itu. Dan salah satunya di leher. Tubuh penjahat itu langsung terkapar di tanah.
Beberapa teman penjahat itu kaget melihat temannya sudah tidak bernyawa lagi. Dengan senjata andalannya yang menancap di tubuhnya.
" Ka-kau membunuhnya?"
" Hhhmm, dan kalian yang berikutnya" kata Axel.
Penjahat itu kabur untuk melapor pada bos mereka. Adele yang melihat teman penjahat itu mau kabur langsung melemparkan balok kayu pada mereka.
" Mau kabur? jangan harap" kata Adele.
Bugh.
Balok kayu itu tepat mengenai kepala penjahat itu.
" Good job Adele" puji Farel.
Adele tersenyum mendengar pujian receh dari Farel.
" Karena semua penjahat yang disini sudah tumbang. Sekarang kita cari Eca" kata Axel.
" Ok"
Mereka bertiga pun segera menyusul Alexa kearah Utara. Karena mereka tidak tau dimana penjahat itu membawa teman-temannya. Karena tadi mereka ketinggalan cukup jauh.
...***...
Nando, Doni dan juga para bodyguard sudah berada di markas penjahat itu. Mereka melihat situasi di sekitar markas. Sekalian mencari dimana penjahat itu mengurung empat sekawan dan juga teman-temannya.
" Penjaganya lumayan banyak Bang?"
" Iya, dan sepertinya mereka sudah lama melakukan kejahatan seperti ini"
" Mungkin sudah banyak anak-anak yang mereka culik"
" Kemungkinan begitu, melihat markas mereka yang cukup bagus dan juga besar"
" Bagaimana kalau kita berpencar Bang? supaya kita cepat menemukan keberadaan mereka.
" Boleh. Siapa yang lebih dulu menemukan lokasinya, langsung saja bebaskan anak-anak itu" kata Doni.
" Siap Bang"
Nando segera menuju arah Utara. Karena lokasi itu sangat jauh dari markas. Besar kemungkinan anak-anak itu di sekap di sana.
Beberapa penjahat sudah ada yang terkapar di tanah. Ia tidak tau siapa yang melakukannya. Pikiran Nando langsung tertuju pada empat sekawan itu.
" Apa mereka yang melakukan ini?"
Ia segera masuk kedalam ruangan yang tidak jauh dari tempat penjahat yang terkapar itu. Siapa tau ia akan bertemu dengan empat sekawan itu.
To be continue.
Happy reading 😚😚
__ADS_1