Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Menginap di hotel


__ADS_3

Mereka pun sampai di salah satu hotel berbintang di kota M. Mereka masuk ke dalam hotel itu. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh manager hotel.


" Selamat datang tuan dan nyonya Narendra"


" Terima kasih, apa anda sudah menyiapkan kamar yang saya minta?" kata Darren.


" Sudah tuan"


Manager itu memberikan dua kunci kamar pada Darren. Darren memberikan kunci itu pada istrinya.


" Ini kunci kamar kamu" kata Kiran sambil memberikan satu kunci pada Rania.


" Terima kasih Kak"


" Sama-sama. Tolong antarkan adik saya ke kamarnya" pinta Kiran pada pelayan perempuan.


" Baik nyonya. Mari nona"


" Kak, aku sama ibuk duluan ya?"


" Baik, selamat beristirahat"


" Terima kasih"


" Oh iya, bisa kakak minta tolong sama kamu?"


" Bisa Kak"


" Kalau nanti Nando menelpon kamu jangan di jawab ya. Begitu juga kalau dia kirim pesan. Kapan perlu kamu blok nomor dia. Bisa?"


" Bisa Kak. Tapi kalau boleh tau kenapa aku nggak boleh menjawab telepon dari Nando?"


" Karena kakak ingin memberikan sedikit hukuman padanya. Jadi kakak harap kamu mau bekerjasama dengan kakak"


" Baik Kak. Aku akan bekerjasama dengan kakak"


" Terima kasih"


" Sama-sama Kak"


" Ya udah, kamu sama ibuk istirahat dulu gih. Ntar turun untuk makan malam"


" Baik Kak"


Rania dan ibunya mengikuti pelayan perempuan yang ditugaskan untuk mengantarkannya ke kamar yang akan mereka tepati.


Ibu Rania takut masuk kedalam benda berbentuk kotak. Ya ini pertama kalinya ia melihat benda seperti itu.


" Ayo Buk?" ajak Rania.


" Apa kita tidak akan sesak nafas di dalam benda itu?"


" Ini namanya lift Buk. Dan kita tidak akan sesak nafas saat berada di sana"


" Yang bener kamu?"


" Iya Buk, percaya sama Nia"


" Baiklah"


Rania menggandeng tangan Ibunya masuk kedalam lift. Walaupun takut, tapi ibu Rania memberanikan diri untuk masuk kedalam benda berbentuk kotak itu. Pintu lift pun tertutup.


Saat lift bergerak naik keatas, ibu Rania tak henti-hentinya berdoa. Pelayan hotel tersenyum melihat ibu Rania. Ia salut karena dalam ketakutan ibu itu tetap berdoa.


Ting.

__ADS_1


Pintu lift terbuka. Ibu Rania mengucap syukur. Karena ia dan anaknya selamat. Ibu Rania segera menarik tangan putrinya keluar dari benda yang bernama lift itu.


" Silakan nona, ibu. Ini kamar yang akan nona dan ibu tempati "


" Terima kasih mbak"


" Sama-sama nona. Permisi, saya mau ke lanjut kerja lagi"


" Baiklah. Sekali lagi terima kasih"


Pelayan itu menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia pergi meninggalkan Rania dan ibunya. Sepeninggal pelayan, Rania dan ibunya masuk kedalam kamar.


Ibu Rania takjub melihat kamar yang begitu megah. Ini kali pertamanya ia melihat kamar sebagus ini.


" Kita beneran tidur disini Nak?"


" Benar Buk"


" Pasti sewa kamar ini sangat mahal?"


" Iya Buk"


" Apa mereka tidak sayang menghabiskan uang sebanyak itu"


Rania tau kamu yang di tempati ibunya sekarang adalah kamar presidential suite. Dan sudah pasti sewa kamar itu sangat mahal. Tapi bagi orang kaya seperti kakaknya Nando, uang segitu tidak seberapa. Beda dengan orang-orang seperti dirinya.


" Kamar mandinya dimana Nak, ibu kebelet"


" Mungkin di sebelah sana Buk" tunjuk Rania ke ruangan kecil yang ada di samping kaca besar.


Ibu Rania segera pergi ke ruangan yang di tunjukkan putrinya. Karena ia sudah tidak tahan untuk buang air kecil.


Rania tidak mengeluarkan semua pakaiannya. Karena mereka hanya satu malam di sana. Besok mereka sudah berangkat ke kota J.


Rania menolak panggilan Nando. Karena ia sudah berjanji dengan Kak Kiran untuk tidak mengangkat telepon dari lelaki tampan itu. Setelah itu ia mematikan ponselnya. Kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas.


" Maafkan aku. Aku sudah berjanji sama Kak Kiran"


Ini kali pertamanya ia menolak panggilan Nando. Pasti sekarang lelaki itu bingung karena ia menolak panggilannya.


Di lobi hotel.


Darren dan istrinya masih mengobrol dengan manager hotel.


" Maaf tuan kami tidak menyambut Anda dengan baik"


" Tidak apa-apa Pak Ruslan. Saya juga tidak suka ada penyambutan. Baiklah kami mau istirahat dulu"


" Silakan tuan, nyonya"


Darren merangkul pinggang istrinya. Walaupun sudah tidak muda lagi, tapi pesona istrinya masih tidak pudar. Buktinya banyak pasang mata yang melirik sang istri.


" Ingin rasanya ku congkel mata mereka"


" Mata siapa?" tanya Kiran pura-pura tidak tau.


" Mata orang yang menatap kamu dengan penuh damba"


Kiran tersenyum geli mendengar ucapan suaminya. Sudah berumur, tapi suaminya itu masih saja cemburuan.


" Jangan hiraukan mereka"


" Hhmm"


Pasutri itu pun masuk kedalam lift. Benda berbentuk seperti empat itupun bergerak naik ke lantai tujuh. Tempat dimana kamar Darren dan istrinya. Kamar pasutri itu bersebelahan dengan kamar Rania.

__ADS_1


...***...


Nando bingung kenapa wanitanya menolak panggilannya. Biasanya Rania tidak pernah menolak panggilannya. Walaupun wanita itu sedang sibuk sekalipun.


" Dia kenapa? apa aku ada melakukan kesalahan?" gumam Nando.


" Paman kenapa?" tanya Alexa yang melihat pamannya mondar-mandir dengan mulutnya komat-kamit seperti orang lagi baca mantra.


" Jangan tanya. Paman lagi bete"


" Bete kenapa? apa karena wanita yang ada di kantor paman itu?"


Nando menoleh kearah keponakannya itu. Bagaimana ponakannya itu tau kalau dirinya sedang memikirkan wanita yang di maksud sama keponakannya itu.


" Kok Eca tau?"


" Ya tau lha, karena tertulis jelas di jidat paman"


Nando refleks menyentuh jidatnya. Beberapa detik kemudian, ia tersadar kalau dirinya sudah di kerjai sama keponakannya itu.


Alexa tertawa melihat pamannya menyentuh jidatnya. Baru kali ini ia melihat pamannya bertingkah seperti orang bodoh. Apa itu karena cinta?.


" Paman lucu "


Nando menatap tajam keponakannya. Alexa langsung menghentikan tawanya saat melihat tatapan mata pamannya.


Kenapa sih kulkas tiga puluh pintu menatap gue kek gitu. Untung dia paman gue, kalau nggak udah gue karungin dan lempar ke jurang.


" Jangan mengumpat"


" Eh"


Kok paman bisa tau sih. Gue harus cepat Kabir nih dari sini.


" Paman coba liat penampilan Axel?" kata Alexa.


Nando pun menoleh kearah yang di maksud keponakannya. Dan kesempatan itu langsung digunakan Alexa untuk kabur dari sana.


" Paman tertipu lagi?"


Nando menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya ia kena tipu dua kali oleh keponakannya itu. Apa ini efek karena telponnya diabaikan tadi.


Alexa segera berlari menuju kamarnya. Karena itulah tempat persembunyian yang aman baginya.


" Eca kenapa?" tanya Axel saat berpapasan di dengan saudara kembarnya.


" Aku lagi di kejar-kejar sama rentenir"


" Rentenir?"


" Hhmm"


" Kamu pinjam uang sama rentenir?"


" Bukan!"


" Terus?"


" Udah ah, kamu banyak tanya"


Alexa meninggalkan Axel yang masih mematung melihat kepergiannya. Ia harus segera pergi ke kamarnya, kalau tidak dia akan tertangkap sama pamannya.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2