
* Sebelum baca like dulu ya teman-teman.. Gomawo 🤗🤗*
Axel kaget melihat ruangan yang baru saja ia temukan. Ruangan itu sangat berantakan. Sepertinya tadi di sana terjadi perkelahian. Karena ada bekas tebasan juga di sofa.
Mata Axel tertuju pada layar monitor yang ada di depannya. Ia tau itu monitor untuk apa. Ia pun segera memutar video CCTV itu.
" Tadi Eca di sini?"
Video itu terus menampilkan perkelahian antara Alexa dan bos penjahat itu. Setelah itu tampaklah Alexa keluar dari ruangan di susul sama bos penjahat.
Setelah tau kemana arah saudara kembarnya pergi, Axel segera menyusul saudara kembarnya itu. Samar-samar Axel mendengar suara orang sedang bertarung. Ia yakin itu pasti saudara kembarnya. Ia mempercepat langkahnya supaya cepat sampai di lokasi.
Axel melihat saudara kembarnya sedang bertarung melawan seorang lelaki. Ia yakin lelaki itu adalah bos penjahat. Ia melihat seni beladiri lelaki itu sangat bagus. Dan saudara kembarnya sudah mulai kelelahan. Mungkin daritadi ia sudah banyak melawan penjahat.
" Eca payah! masa melawan satu orang aja nggak bisa!"
Alexa menoleh kearah orang yang meremehkannya. " Ckckck, adek durhakim baru datang langsung meledek kakaknya. Buruan bantuin aku"
" Nggak! kalau mommy sama daddy melihat wajah kamu yang sekarang, pasti mereka tertawa"
" Kenapa? apa wajahku jelek?"
" Lebih dari jelek. Buruan kalahkan lelaki lemah itu!"
" Kamu kesini mau jadi penonton? nggak mau bantuin aku?"
" Jadi penonton lebih seru. So semangat Eca!"
Pletak.
Aaaawww
Ranting kayu tepat mengenai kepala Axel. Dan pelakunya sudah bisa ditebak. Tak lain dan tak bukan pasti saudara kembarnya.
" Sakit Eca!"
" Sukurin"
Bos penjahat itu kesal karena Alexa mengabaikannya. Gadis itu asik mengobrol di saat mereka sedang bertarung.
" Jangan turunkan kewaspadaan kamu. Fokus sama lawan"
" Ok"
Axel duduk di kayu besar yang baru di tebang. Ia menonton pertandingan antara saudara kembarnya dengan bos penjahat itu. Ia melupakan niatnya datang ke sana untuk apa.
" Kau menyerah saja bocah. Dengan begitu, aku bisa mengampuni mu"
" Saya tidak akan pernah menyerah untuk membasmi manusia seperti anda"
" Baiklah kalau begitu, padahal saya sudah memberi kamu kesempatan. Tapi kamu malah menolaknya"
Bos penjahat itu menambah kecepatan gerakannya. Ia kembali menyerang Alexa dengan membabi buta.
Alexa juga tidak mau kalah, karena dia juga belum mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya. Dan ia pun membalas setiap pukulan yang diberikan penjahat itu.
" Akhirnya sisi iblis-nya keluar juga. Gue kasihan sama bos penjahat itu, karena ia tidak bisa lolos" kata Axel.
__ADS_1
Bos penjahat itu merasakan ada aura yang berbeda. Aura itu sangat kuat dan mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Dan yang membuatnya kaget, aura itu berasal dari gadis kecil yang ada dihadapannya.
" Kayaknya udah cukup kita main-mainnya Om. Sekarang saya akan serius " kata Alexa.
" Kau pikir bisa mengalahkan aku?!"
" Bisa atau tidak, kita lihat aja nanti"
Dua orang itu kembali bertarung. Sedangkan lelaki tampan yang berstatus saudara kembar Alexa hanya duduk manis menonton pertarungannya.
" Coba mommy sama daddy ada di sini pasti Eca lebih semangat lagi"
Bugh..
Bugh...
Dua pukulan mendarat di wajah penjahat itu. Darah segar pun keluar dari mulutnya. Mungkin karena pukulan yang diberikan Alexa cukup kuat.
" Bagus Eca, hajar terus!"
" Ck, jangan cuma bersorak. Bantuin sini!"
" Cepat habisi penjahat itu. Hari semakin malam, aku mau pulang nih?"
Pletak.
Aawwww...
Axel mengadu kesakitan. Ia menoleh ke belakang, saat ia merasakan ada yang memukul kepalanya dari belakang.
" Paman!"
" Aku bukan cuma duduk aja paman. Tapi aku kasih semangat untuk Eca"
" Bantuin sana!"
" Ih paman nggak asik nih? lagian Eca masih bisa kok melawan penjahatnya"
" Cepat bantuin sana!" kata Nando sambil mendorong tubuh Axel.
" Paman memang yang terbaik!" teriak Alexa.
" Seneng ya liat aku tertindas?" kata Axel.
" Banget"
" Jangan cuma ngobrol. Cepat habisi lelaki itu!"
" Siap paman" jawab twins serentak.
Aura di sana semakin membuat bulu kuduk berdiri. Bukan karena adanya makhluk halus. Tapi tekanan yang diberikan oleh twins, mampu membuat suasana di sana semakin mencekam.
Nando tersenyum melihat aura kedua keponakannya. Ia juga ingin melihat hasil latihan twins selama beberapa bulan ini. Sekarang dialah yang menggantikan Axel duduk di atas kayu besar itu.
" Kamu siap Eca?"
" Siap"
__ADS_1
Bos penjahat itu tidak bisa melihat gerakan twins. Karena gerakan mereka begitu cepat. Alhasil diapun tidak bisa menghindari serangan yang seperti kilat itu.
Tubuh penjahat itu terlempar kebelakang karena Axel dan Alexa menendang perutnya secara bersamaan. Satu tendangan saja sudah membuatnya muntah darah, Apalagi ini dia dua tendangan sekaligus. Penjahat itu merasa tubuhnya seakan remuk. Tendangan yang diberikan twins tadi, mampu membuatnya tidak bisa berdiri lagi.
Alexa mengambil katana yang sempat terlempar oleh tendangannya tadi. Ia berjalan menghampiri bos penjahat yang sudah tidak terkapar itu.
" Ka-kamu mau apa?"
" Tentu saja mau mengambil organ yang ada ditubuh anda"
" Jangan! saya mohon jangan lakukan itu?"
" Kenapa? bukankah anda senang mengambil organ orang lain?" kata Alexa sambil menusuk kan katana itu ke perut penjahat itu.
Alexa membayangkan bagaimana tubuh anak kecil yang masih sehat diambil paksa organ tubuhnya. Setelah itu mayatnya di buang begitu saja tanpa dikubur dengan baik.
" Ck, baru di tusuk sedikit saja kau sudah kesakitan!"
Axel segera menghampiri saudara kembarnya itu. Ia tidak ingin Alexa membunuh penjahat itu. Karena masih ada yang berhak memberikan hukuman untuk penjahat itu.
Nando pun ikut menghampiri keponakannya itu. Dia tidak ingin Eca gegabah. Walaupun ia tau bagaimana perasaan keponakannya saat melihat mayat serta organ anak kecil di ruangan tadi.
" Eca" panggil Axel dan Nando bersamaan.
Alexa menoleh kearah suara yang sangat familiar ditelinganya. " Eca harus melenyapkan iblis ini paman!"
" Jangan! masih ada yang lebih berhak untuk menghukum dia"
" Kalau kita tidak membunuhnya, maka dia akan membunuh lebih banyak anak-anak "
" Tidak akan. Karena sebentar lagi polisi akan datang kesini"
" Polisi?"
" Ya. Paman akan pastikan dia dihukum dengan seberat-beratnya. Kapan perlu hukuman mati"
" Eca saja yang menghukum mati dia. Jadi tidak perlu polisi lagi?"
" Emang Eca mau dianggap pembunuh?"
" Tidak" jawab Alexa sambil menggelengkan kepalanya.
" Kalau tidak mau, jangan bunuh dia"
" Benar apa yang dibilang paman. Mommy sama daddy pasti juga tidak membolehkan Eca membunuh penjahat ini. Kecuali keadaan kita dalam bahaya" kata Axel sambil menginjak tepat di luka tusukan yang diberikan Alexa tadi.
Uhuk... uhuk..
" Ups sorry sengaja"
Alexa dan Nando menatap tajam Axel. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum sambil tanpa dosa sambil memperlihatkan sederetan giginya yang putih.
Aaaaaggkkk..
" Eh sorry , saya pikir tadi kayu" kata Nando setelah menginjak tangan penjahat itu.
Alexa menepuk jidatnya. Ia tidak menyangka dua orang lelaki tampan itu melakukan itu. Tadi mereka berdua yang melarang dirinya untuk tidak membunuh penjahat itu. Tapi liat sekarang. Mereka malah membuat penjahat itu tambah kesakitan.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚