Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Keluarga Richard kumpul


__ADS_3

Kenan baru sampai di mansion milik kakaknya. Walaupun dia punya mansion sendiri, tapi dia jarang ke mansion-nya. Karena mansion mewah miliknya akan ia berikan pada calon istrinya nanti.


" Hore! Om Ken sudah pulang" kata Aiden sambil berlari menuju Kenan.


" Jagoannya Om"


Kenan menggendong keponakannya yang tampan itu.


" Ai kangen nggak sama Om?"


" Nggak!"


" Kok nggak sih?!"


" Karena disini ada kakek sama neneknya, jadi mana mungkin dia kangen sama kamu" kata mama Kenan.


" Mama masih disini?"


" Kenapa emangnya kalau mama masih disini?"


" Ya nggak apa-apa sih. Cuma malas aja kalau masih menjodohkan aku sama anak temannya"


" Kamu nggak boleh Suudzon sama orang tua"


" Bukan Suudzon, tapi mama kan emang selalu berupaya menjodohkan aku"


" Itu mama lakukan supaya kamu nggak jadi bujang lapuk"


" Nenek bujang lapuk itu apa?" tanya Aiden.


" Bujang lapuk itu, orang yang nggak laku-laku. Sama seperti Om Ai ini"


" Emang Om bujang lapuk?"


" Nggak usah dengerin nenek. Yuk ikut Om sini, kita liat oleh-oleh untuk Ai"


" Asik"


Kenan menggendong keponakannya ke ruang keluarga.


" Ben"


" Iya nyonya"


" Foto yang kamu kirim kemarin sama saya itu beneran, kan? nggak kamu edit?"


" Beneran nyonya"


" Akhirnya putra saya itu laku juga"


Tuan muda belum laku nyonya. Wong tuan muda sering berantem sama gadis cantik itu.


" Iya nyonya"


Helena segera menyusul putranya. Ia ingin tau siapa gadis yang sudah bisa menaklukkan hati sang putra. Dilihat dari foto yang dikirim Beni, gadis itu masih kecil.


" Ken "


" Ya Ma"


" Siapa gadis yang di foto kemarin?"


" Gadis di foto mana maksud mama?"


" Itu yang kamu ajak ke mal?"


" Oh itu? dia calon mantu mama"


" Serius kamu?"


" Iya Ma"


" Tapi mama liat ceweknya masih kecil?"


" Iya Ma, masih SMA "


" What..! SMA?"

__ADS_1


" Iya Ma"


" Kamu pacaran sama Bocil?"


" Dia bukan bocil, Ma. Dan lagi cinta itu tak memandang usia"


" Mama nggak setuju!"


Kenan kaget mendengar ucapan sang mama. Begitu juga dengan Beni. Dan baru kali ini Beni menolak keinginan tuan mudanya.


" Kenapa mama nggak setuju?"


" Karena dia masih kecil. Dan lagi, dia mau sama kamu pasti hanya karena mau uang kamu aja seperti model yang nggak jelas itu"


" Mama salah! dia itu nggak mau uang aku, Mah. Dan lagi dia itu anak orang kaya. Bahkan kekayaan keluarganya melebihi kita. Dan gadis ini jauh lebih baik dari mantan aku dulu"


" Benarkah? dari keluarga mana dia?"


" Cucu dari keluarga Narendra, Ma"


" Serius kamu?!"


" Serius lha, Ma"


" Kok bisa mau gadis itu sama kamu?"


" Ya bisa lha Ma, aku ini kan tampan dan juga mapan"


" Bawa gadis itu kesini, kenalkan sama mama dan papa" kata papa Kenan.


" Kalau sekarang ini, aku nggak bisa bawa dia kesini Pa. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan"


" Ya sudah, biar papa sama Mama yang datang ke rumah gadis itu"


" Jangan!"


" Kenapa lagi? kan tadi kamu bilang mau mengerjakan pekerjaan yang penting?"


" Iya, tapi aku nggak ngizinin mama sama papa ke sana"


" Aku anak mama sama papa lha"


" Kalau anak baik itu harus nurut sama orang tua. Kalau nggak, kamu akan dicap sebagai anak durhakim"


" Mana bisa begitu? lagian kalau mama sama papa mendadak pergi ke sana, bisa-bisa dia kaget dan marah sama aku"


" Kenapa dia marah sama kamu. Dan lagi papa ke sana hanya untuk silahturahmi, karena kami adalah rekan bisnis"


" Ya udah terserah mama sama papa aja"


Helena melihat cucu kesayangannya sedang asik mengumpulkan oleh-oleh yang sudah di beri namanya di paper bag nya. Jadi anak kecil itu tinggal melihat namanya.


" Wah, Ai banyak sekali dapat oleh-olehnya?" tanya Helena pada sang cucu.


" Iya Nek, dan ini semua paman yang beliin dan juga pilihkan untuk Ai"


" Ini semua pasti bukan kamu yang pilih, kan?"


" Bukan Ma, ini calon mantu mama yang pilih"


" Bagus juga seleranya. Dia juga tau barang apa yang di suka anak kecil"


" Jadi siapa yang pilih mainan untuk Ai, Om?"


" Kakak cantiknya, Ai"


" Benarkah?"


" Hhmmm"


" Berarti Om perginya sama kakak cantik?"


" Iya Ai bawel"


" Kamu udah pulang Ken?" tanya Arka suaminya Irene.


" Sudah Bang, baru aja nyampe"

__ADS_1


" Papi, liat mainan Ai. Ini semua kakak cantik yang beliin"


" Oh yeah?"


" Iya dong"


" Kamu juga pernah ketemu sama gadis itu, Arka?" tanya Helena pada mantunya.


" Gadis siapa, Ma?"


" Itu pacarnya bujang lapuk"


" Emang Kenan udah punya pacar? siapa, Ma?"


" Itu yang dibilang kakak cantik sama anak kamu"


Uhuk..uhuk.


Arka tersedak ludahnya. Ia melirik adik iparnya itu. Ia tau betul siapa gadis yang dimaksud sama mama mertuanya itu. Dia. bukan gadis sembarangan.


" Kamu beneran pacaran sama gadis itu, Ken?"


" Belum Bang, baru pedekate"


" Serius?"


" Hhmmm"


" Siapa yang lagi pedekate?" tanya Irene yang baru datang.


" Adik kamu sayang" jawab sang suami.


" Kenan? sama siapa?"


" Itu, putrinya tuan Darren"


" What..! serius kamu, sayang?" tanya Irene pada suaminya.


" Serius sayang"


" Pake pelet apa kamu sehingga bisa pedekate sama gadis cantik itu?" tanya Irene pada sang adik.


Semua orang yang ada di sana tertawa mendengar pertanyaan Irene. Termasuk Aiden. Walaupun anak kecil itu tidak tau apa yang ditertawakan oleh orang dewasa itu.


" Sembarangan aja kakak kalau ngomong. Apa kakak meragukan kharisma adik kakak ini?"


" Nggak sih? tapi ini kan bukan gadis sembarangan?"


" Iya terus kenapa kalau bukan gadis sembarangan?"


" Ya seperti keajaiban aja gitu dia mau sama kamu"


" Udah ah aku mau ke kamar dulu. Disini aku dibully terus"


Kenan beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak ingin berlama-lama di sana. Apalagi bersama dengan kakak perempuannya. Pasti dia akan dibully habis-habisan.


" Oh iya, itu ada oleh-oleh untuk kakak sama Abang. Semua paper bag sudah di kasih namanya, jadi jangan rebutan"


" Saya juga pamit undur diri nyonya, tuan" pamit Beni.


" Iya Ben, hati-hati di jalan"


" Makasih nyonya"


" Tuan saya pamit dulu"


" Iya. Kalau sudah ada kabar mengenai wanita itu, jangan lupa kabari saya"


" Siap tuan"


Beni pun meninggalkan mansion mewah milik nona mudanya. Setelah Beni sudah pergi, barulah Kenan segera pergi ke kamarnya. Ia ingin segera membersihkan dirinya, karena tubuhnya sudah lengket karena keringat. Apalagi tadi ia juga sempat olahraga sebentar dengan anak buahnya.


Kenan berharap mantannya itu segera ditemukan. Karena ia tidak ingin wanita gila itu menyakiti keluarganya, terutama keponakannya.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2