
Hampir separuh toilet sudah dibersihkan Axel. Sekarang sudah jam istirahat, ia harus mengisi tenaganya. Tapi kalau kerjaannya belum selesai, nanti para senior rese tadi marah. Ia tidak ingin bermasalah di hari pertama kerjanya. Walaupun Daddy-nya pemilik perusahaan, ia tidak ingin memanfaatkan itu.
" Axel"
" Hhmmm"
" Makan di kantin yuk?"
" Kerjaan aku belum beres nih"
" Udah nanti aja lanjutkan, lagian ini udah jam istirahat"
" Ntar senior marah"
" Nggak akan. Kita harus cepat ke kantin, soalnya jam segini makanan masih banyak"
" Emang biasanya nggak banyak makanannya?"
" Banyak. Tapi anak OB selalu tidak kebagian makanan yang enak-enak"
" Bukannya stok makanan disini banyak, ya?"
" Iya, tapi kamu nggak tau para petinggi dari semua divisi selalu membawa pulang makanannya"
" Maksudnya?"
" Makanan yang enak-enak selalu dihabiskan sama anak-anak yang ada di divisi. Bahkan ada beberapa dari manager disini, membawa pulang makanannya"
Axel kaget mendengar ucapan Fikri. Apakah Daddy-nya tau kelakuan para karyawannya. Kenapa banyak sekali orang menindas hanya karena kedudukan mereka lebih tinggi dari orang lain.
Semua makanan yang ada di kantin memang diberikan secara gratis. Semua karyawan bisa menikmati makanan yang ada di kantin. Jadi semua karyawan bisa menikmati makanan yang sehat.
" Kamu sering nggak kebagian?"
" Sering. Kadang cuma dapat mie goreng"
" Hari ini aku pastikan kamu bisa memakan semua makanan yang enak di kantin"
Fikri tersenyum mendengar ucapan Axel. Axel tidak tau bagaimana berkuasanya orang-orang divisi. Mereka itu bisa melakukan apa saja, bahkan bisa menyingkirkan teman satu divisinya demi tujuannya sendiri.
" Nggak usah cari masalah Axel. Aku makan makanan yang ada aja sudah lebih dari cukup"
" Siapa yang cari masalah"
" Kamu lha yang ngomong tadi"
" Aku cuma ingin memastikan kamu bisa makan makanan enak di kantin hari ini"
" Bagaimana caranya?. Kita berdua itu cuma OB, jadi nggak akan dipedulikan"
" Liat aja nanti"
Axel akan membuktikan perkataannya pada Fikri. Kalau teman barunya itu bisa makan enak hari ini karena semua karyawan berhak mendapatkan makanan yang enak di kantin.
Fikri tidak terlalu berharap bisa makan enak hari ini. Karena ia sudah terbiasa makan dengan lauk seadanya. Bahkan ia sudah pernah makan nasi sama garam saja.
...***...
Suasana di kantin kantor sudah mulai rame. Antrean juga sudah mulai panjang. Axel dan Fikri pun ikut mengantre dengan karyawan yang lain.
__ADS_1
Satu persatu para karyawan sudah mendapatkan makanan mereka. Dan tibalah giliran Axel dan Fikri untuk mengambil makanan.
Ibu kantin kaget melihat ada anak bosnya. Ia lebih kaget lagi melihat seragam yang dikenakan Axel. Ia berpikir kenapa Axel memakai seragam OB?.
Axel memberi kode pada ibu kantin. Ia tidak ingin ibuk kantin memberitahu karyawan lain kalau dia anak CEO disini. Kalau tidak ia tidak bisa menyelidiki karyawan yang suka menindas karyawan lain.
Den Axel lagi melakukan penyamaran. Aku nggak boleh keceplosan.
Axel menyodorkan piring khusus untuk karyawan. Di piring itu sudah ada tempat nasi, lauk, sayur, dan juga buah. Jadi petugas kantin tinggal menaruh di bagian piring itu saja.
Ibuk kantin segera mengisi piring Axel dengan lauk terbaik dan juga buah terbaik yang ada di kantin itu. Ia tidak boleh membiarkan anak bosnya makan makanan biasa.
Fikri kaget melihat piring Axel. Semua makanan yang enak ada di piring teman barunya itu. Ia saja yang sudah lama bekerja di perusahaan ini, jarang mendapatkan makanan enak. Tapi temannya dengan mudah mendapatkannya.
" Makasih Buk. Tolong ambilkan juga untuk teman saya"
" Baik Den"
Ibuk kantin mengisi piring milik Fikri dengan makanan yang sama dengan Axel. Bahkan porsinya juga sama. Tapi Axel menyuruhnya untuk melebihkan porsi untuk Fikri.
" Makasih Buk" ucap Fikri.
Setelah mendapatkan makanan, Axel dan Fikri pun mencari tempat duduk yang agak pojokan. Karena Axel ingin makan dengan tenang.
" Kamu pake sihir ya, Xel?"
" Maksud kamu?"
" Itu tadi ibuk kantin manut aja sama kamu"
" Ibuk itu kan cuma menjalankan tugasnya. Emang salah?"
" Nggak sih. Tapi dia jarang memperhatikan karyawan, apalagi karyawan seperti kita"
" Iya. Mungkin dia takut sama petinggi-petinggi divisi"
Axel semakin penasaran dengan petinggi setiap divisi. Kenapa karyawan disini pada takut dengan mereka. Dan kenapa mereka menindas karyawan yang lain.
" Ya malah bengong. Yuk duduk"
" Ah iya"
Baru saja duduk, pengganggu sudah datang.
" Wah!, makanan enak nih?"
" Jangan senior, ini makanan kita"
" Eh Fikri, kamu itu nggak pantas makan makanan kek gini"
" Iya, kamu itu pantas makan makanan yang ini"
Salah satu senior OB menukar piring makanan Fikri dengan piring makanannya.
" Tapi senior, saya susah payah mengantre untuk mendapatkan makanan ini?"
" Apa peduliku!. Yang jelas sekarang, makanan ini untuk kita"
Brak.
__ADS_1
Semua orang yang ada di kantin kaget mendengar meja di gebrak. Termasuk ketiga senior OB.
" Jangan sentuh makanan Fikri"
" Axel"
" Eh anak baru!. Kamu jangan ikut campur. Kalau tidak, kami juga akan menghajar kamu"
" Jangan senior!. Ambil saja punya saya, saya makan makanan ini aja"
Fikri tidak ingin memberi masalah ini teman barunya. Karena ia tau ini hari pertama Axel bekerja. Jadi ia tidak ingin merepotkan orang lain.
" Nah gitu dong. Jadi makanan ini untuk kita, kalian ambil yang lain"
" Baik senior"
Axel mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menghajar ketiga lelaki yang ada di hadapannya itu. Tapi ia harus menahannya, ini hari pertama ia bekerja, jadi harus tahan emosi.
" Yuk Xel, kita ambil makanan yang lain aja"
" Hhmmm"
Awas kalian nanti, nggak akan gue kasih ampun!.
Axel pasrah saat Fikri menarik tangannya. Padahal tangannya sudah gatal ingin menghajar tiga seniornya.
" Kamu kenapa nggak ngelawan?!"
" Aku nggak mau cari ribut Xel. Apalagi aku butuh pekerjaan untuk membiayai orang tua dan adik aku"
Axel menghela nafasnya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Apalagi itu menyangkut orang tua.
" Ada keinginan ingin melawan mereka itu. Tapi aku berpikir lagi. Kalau aku melawan mereka dan kehilangan pekerjaan aku. Nanti orang tua sama adik aku makan apa?. Jadi aku hanya bisa bersabar"
Lagi-lagi Axel terenyuh. Ternyata masih ada bullying di perusahaan Daddy-nya. Dan semua masalah itu tertutup karena tidak ada satu pun dari mereka yang mau melaporkan orang-orang jahat itu.
Gue janji sama lo, Fik. Lo akan mendapatkan keadilan.
" Pasti yang tersisa cuma sayuran"
" Ya udah kita makan diluar aja"
" Makan diluar, punya duit darimana?"
" Hari ini aku yang traktir"
" Emang kamu punya uang?"
" Ada sedikit"
" Nggak usah Xel. Kita makan disini aja. Uangnya kamu simpan aja untuk orang tua kamu"
Orang tua gue nggak kekurangan uang Fik. Jadi dia nggak butuh uang gue.
" Nggak apa-apa. Lagian sekali-kali makan diluar. Yuk, kita makan di warung tenda"
" Baiklah, kalau kamu maksa"
Sebenarnya Axel ingin mentraktir Fikri makan di restoran yang ada di depan perusahaan Daddy-nya. Tapi ia tidak ingin Fikri curiga, jadi ia membawa Fikri makan di warung tenda.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚