
Pagi hari.
Alexa sudah terlihat rapi dengan memakai pakaian olahraganya. Hari ini ia akan latihan dengan papanya Adele. Ini kali pertamanya ia akan latihan dengan papanya Adele.
" Morning Eca"
Alexa tidak membalas sapaan Axel. Ia terus berjalan melewati saudara kembarnya itu. Sedangkan Axel bingung kenapa saudara kembarnya mendiamkannya.
" Morning Mom, Dad " sapa Alexa.
" Morning sayang" balas Darren.
Kiran mengambilkan nasi untuk suami dan juga kedua anaknya. Setelah itu barulah ia mengambil untuk dirinya.
Suasana di meja makan sangat hening. Kiran dan suaminya merasa ada yang aneh. Biasanya setiap mau akan serapan kedua anaknya itu berdebat dulu. Tapi sekarang kenapa mereka berdua anteng-anteng aja.
Kiran merasa ada sesuatu dengan kedua anaknya itu. Karena mudah saja membedakan ada atau tidaknya masalah antara Axel dan Alexa. Kalau mereka diam seperti sekarang ini, itu pertanda sudah terjadi sesuatu antara mereka berdua.
" Eca sama Axel ada masalah?" tanya Kiran.
" Tidak" jawab Axel.
Kiran menatap putrinya. Berarti firasatnya benar. Karena yang menjawab cuma satu orang. Kalau mereka tidak ada masalah, maka Axel dan Alexa akan kompak menjawabnya.
" Eca"
" Hmmm"
" Eca ada masalah sama Axel?"
Alexa menatap saudara kembarnya itu. Axel pun begitu, mereka saling menatap satu sama lain.
" Kalau Eca sama Axel ada masalah, bicarakan baik-baik. Mommy ingin anak-anak mommy selalu rukun. Kalau berselisih sedikit, itu biasa. Tapi setelah itu selesai kan dengan baik-baik"
" Eca nggak ada masalah sama Axel, Mom. Eca cuma mau kasih dia pelajaran aja"
" Emang gue ngapain?"
" Oh jadi udah lupa, kejadian semalam"
" Ya elah, semalam itu kan kita sama-sama becanda. Lagian kamu ngeledek aku, aku nggak ada marah"
" Iya, tapi yang bikin aku kesal sama kamu. Aku mau masuk ke dalam lift, kamu tutup pintu liftnya"
" Jadi karena itu?"
" Hhmm"
" Maaf ya, karena semalam udah ninggalin Eca"
" Aku harus pukul kamu dulu"
" Pukul?"
" Hhmm"
" Kenapa?"
" Karena tadi aku udah janji, kalau udah mukul kamu baru aku maafin"
" Eca janji sama siapa?"
" Sama diri sendiri"
" Emang ada kek gitu"
" Ada"
" Ya udah, mau pukul dimana?"
" Dimana ya?"
" Terserah Eca maunya dimana"
" Sini lutut kamu"
Axel pun memberikan lututnya pada saudara kembarnya itu. Ia rela dipukul dimana pun, asalkan saudara kembarnya mau memaafkannya.
" Siap ya?"
" Hhmm"
Alexa melirik saudara kembarnya itu. Ada rasa tak tega dalam hatinya. Lagipula Axel sudah meminta maaf padanya.
__ADS_1
" Nggak jadi"
" Kenapa?"
" Nggak tega aku"
" Terus gimana? Eca bilang kalau nggak mukul aku, Eca nggak akan maafin aku?"
" Nggak jadi. Aku udah maafin kamu"
" Yakin?"
" Hhhmm"
" Ikhlas nggak nih maafin nya"
" Ikhlas"
" Makasih Eca. Eca paling baik deh sejagat raya"
Kiran dan Darren tersenyum melihat kedua anaknya. Ia bangga dengan kedua anaknya. Yang kecil mau meminta maaf, dan yang besar mau memaafkan dengan ikhlas.
" Mommy bangga pada kalian berdua. Dan mommy harap kalian berdua akan selalu rukun seperti sekarang ini"
" Iya mommy"
Mereka pun melanjutkan sarapannya. Selesai sarapan twins segera pergi ke lapangan yang ada di belakang mansion. Karena mereka akan latihan di sana.
" Mau liat twins latihan nggak?" tanya Kiran pada suaminya.
" Boleh. Aku juga ingin tau perkembangan mereka sampai dimana"
" Yuk, kita lihat sama-sama "
" Hhmm"
Darren merangkul pinggang istrinya. Para bodyguard membungkukkan badan kala melihat tuan dan nona mudanya.
" Ren"
Darren menoleh ke belakang kala mendengar namanya di panggil. Ia melihat sahabatnya sedang berlari menghampiri.
" Kenapa Lo lari-lari kek gitu"
" Nadia?"
" Iya, siapa lagi"
" Ya siapa tau ada mama Farel yang lain"
" Romy..!" teriak Nadia.
Romy segera bersembunyi di balik punggung Darren. Ia mencari perlindungan, karena ia tidak ingin dihajar istrinya itu.
" Ren, minggir!" kata Nadia.
" Ini kenapa dulu?" tanya Darren.
" Teman Lo yang nggak ada akhlak itu. Berani main sama wanita lain di belakang gue!"
Darren menatap sahabatnya itu. " Benar apa yang dikatakan istri Lo?"
" Kagak, mana berani gue selingkuh"
" Jangan bohong! "
" Beneran sayang, aku nggak bohong"
" Jangan panggil gue dengan sebutan sayang. Sini nggak Lo "
Kiran yang daritadi diam dan menonton, berjalan menghampiri sahabatnya.
" Tenang, kita bicarakan baik-baik ya"
" Gimana mau bicara baik-baik, dia selingkuh dibelakang gue. Princess"
" Sumpah sayang, aku nggak pernah selingkuh"
" Bohong! terus jejak lipstik siapa di kemeja kamu?!"
" Jejak lipstik?"
" Iya"
__ADS_1
" Aku nggak tau sayang. Lagian selama di kantor aku cuma dekat sama Darren. Apa jangan-jangan Darren pake lipstik?"
Pletak.
Aawwwww..
" Sakit Ren"
" Makanya kalau ngomong jangan asal. Enak aja Lo bilang gue pake lipstik. Lo pikir gue cowok apaan?!"
" Udah cepat ngaku itu lipstiknya siapa?"
" Nggak tau sayang. Lagian aku nggak ada dekat sama wanita selain kamu. Kalau nggak percaya tanya aja sama Darren"
" Benar Nad. Suami Lo seharian kemarin kerja di ruangan gue"
" Denger kan. Aku ini suaminya yang paling setia sayang"
" Terus bekas lipstik siapa di jas kamu itu?!"
" Tunggu! sepertinya aku ingat sesuatu?" kata Romy.
" Apa?!"
" Bukankah itu bekas lipstik kamu?"
" Kok aku?"
" Apa kamu lupa, waktu aku pulang kerja kamu ngapain?"
Nadia mengingat kejadian kemarin malam saat suaminya pulang kerja. Seketika wajah memerah bak kepiting rebus. Ia menatap suaminya.
" Udah ingat?"
Nadia menganggukkan kepalanya.
" Jadi bekas lipstik siapa itu?" tanya Romy.
" Aku"
Kiran dan Darren menggelengkan kepalanya melihat tingkah pasutri itu. Begitu juga para bodyguard. Mereka ingin tertawa, tapi takut dihukum.
" Jadi kamu harus kasih aku kompensasi"
" Kompensasi?"
" Iya, karena kamu sudah menuduh suami kamu yang setia ini didepan sahabatnya"
" Kita damai aja deh, ya?"
" Nggak bisa. Aku minta kompensasi"
" Emang nggak bisa dengan jalur damai aja"
" Nggak bisa"
" Kamu minta kompensasi apa?"
" Nanti malam kamu ha--"
" Sana jauh-jauh ngomong kompensasinya" kata Darren. Ia tidak ingin sahabatnya melanjutkan ucapannya. Karena di sana ada bodyguard-nya yang masih lajang. Dan lagi ia sedang puasa karena istrinya lagi tanggal merah.
" Lo kenapa sih Ren?" tanya Romy.
" Jangan di mansion gue ngomong kompensasinya. Di rumah Lo sana!"
" Emang Lo tau apa yang mau gue minta sama istri gue"
" Tau, makanya gue pengin Lo ngomongnya di rumah Lo. Karena kasian bodyguard gue yang masih lajang dan juga jomlo"
" Ah iya. Gue lupa kalau mereka masih lajang dan juga jomlo"
Para bodyguard itu hanya bisa menunduk kepala. Karena mereka sangat malu dibilang jomlo sama tuan muda dan sahabatnya.
" Sudah-sudah, masalah kompensasinya nanti aja. Sekarang kita liat anak-anak latihan" kata Kiran.
" Benar juga. Kita kan udah lama nggak liat Farel latihan " kata Nadia.
Romy pun menunda untuk dulu masalah kompensasinya. Ia akan melihat anak-anak latihan. Karena sudah lama ia tidak melihat putranya latihan. Dan ia juga ingin tau sudah sampai mana kemampuan putranya itu.
To be continue.
Happy reading 😚😚
__ADS_1