Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Axel juga bisa malu


__ADS_3

" Belagu banget sih gaya Kak Rian itu. Padahal kan lebih mahal motor Lo ketimbang mobilnya dia" kata Adele.


" Mungkin dia nggak bisa bedain motor biasa dengan motor yang berkelas"


" Mungkin. Tapi sumpah gue pengin banget kasih tau harga motor Lo ke dia"


" Nggak usah, lagi pula belum saatnya untuk dia tau siapa kita"


" Lo bener. Kalau dia tau, pasti nantinya dia akan nangis darah. Termasuk si Diva. Pasti dia akan kena serangan jantung karena mendengar nama belakang Lo. Secara siapa yang nggak kenal dengan keluarga Narendra dan juga keluarga buyut Lo. Pasti mereka akan tertampar sama omongan mereka nanti"


" Lo kayaknya dendam amat sama si Diva?"


" Sangat, bahkan gue ingin nyantet dia saat ini juga"


" Wih sadis juga Lo " kata Alexa.


" Cewek macam si Diva itu kudu di ruqyah. Biar dia nggak menghina orang terus. Tapi kayaknya tuh cewek udah nggak mempan di ruqyah"


" Kenapa?"


" Setannya dalam tubuhnya udah permanen, jadi kagak bisa dikeluarin lagi"


Alexa hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Tapi ada benarnya juga sih apa yang dikatakan Adele. Kalau Diva sudah tidak mempan di ruqyah.


Tanpa terasa mereka pun sampai di depan pintu gerbang mansion. Alexa membunyikan klakson motornya. Pintu gerbang pun terbuka saat mengenali motor Alexa.


Alexa melajukan mobilnya menuju mansion. Tapi ia tidak langsung ke mansion, karena ia akan mengantarkan Adele terlebih dahulu, Setelah itu barulah ia ke mansion.


" Lo nggak mau mampir dulu?"


" Kapan-kapan deh. Gue capek banget mau istirahat"


" Istirahat atau nonton?"


" Ya istirahat sambil nonton Oppa-oppa "


" Dasar"


" Gue balik dulu ya"


" Ok, makasih tumpangannya"


" Sama-sama"


Alexa melajukan motornya ke mansion. Ia langsung memasukkan motornya ke dalam garasi. Karena ia memang tidak akan pergi keluar lagi.


" Nona kecil udah pulang?" sapa bibik.


" Iya Bik. Mommy udah pulang Bik?"


" Belum nona"


" Ya udah, Eca ke kamar dulu ya Bik"


" Baik nona"


Alexa masuk kedalam lift. Ia tidak naik tangga, karena hari ini ia sangat lelah. Sesampainya di kamar, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Hari ini otaknya terkuras habis karena memikirkan rumus fisika dan juga kimia. Ya dia kurang suka dengan dua mata pelajaran itu.


Ia pun teringat sesuatu, Alexa mengambil ponselnya. Kemudian ia menghubungi nomor seseorang. Tak butuh waktu lama, telponnya pun tersambung.


" Hallo Assalamualaikum"


" Wa'alaikum salam"


" Paman udah nyampe mana?"


" Udah nyampe di tambang, Eca lagi dimana?"


" Kok nggak ada kasih kabar kalau udah nyampe?"


" Udah tadi sama Mommy-nya Eca. Eca lagi dimana? udah pulang sekolah?"


" Udah, baru aja nyampe di mansion"


" Terus sekarang lagi apa?"


" Tiduran, soalnya otak Eca lagi capek banget paman"


Terdengar suara tawa dari seberang sana.

__ADS_1


" Emang capek kenapa?"


" Menghafal rumus fisika sama kimia. Paman tau sendirikan betapa sulitnya tu rumus"


" Paman tau, tapi paman suka belajar fisika sama kimia"


" Oh iya. Terus kenapa paman nggak jadi dokter aja?"


" Karena cita-cita paman dulu bukan menjadi dokter"


" Sayang sekali, padahal otak paman kan encer"


" Mau jadi apapun kita nanti, yang penting kita bisa konsisten sama apa yang sudah kita pilih itu"


" Setuju. Sekarang paman lagi apa?"


" Lagi istirahat di kantin "


" Wah, ada kantin juga di pertambangan?"


" Ada dong"


" Gimana makanan di sana, enak-enak nggak paman?"


" Lumayan. Tapi nggak seenak masakan mommy-nya Eca"


" Iya dong. Mommy kan jago masak"


" Eca kenapa nggak bisa masak kek mommy-nya?"


" Nggak tau juga paman, kenapa Eca nggak bisa masak"


" Makanya belajar"


" Nanti kalau udah menikah Eca belajar masaknya, paman"


" Kalau mau belajar masak dari sekarang. Bukannya setelah menikah"


" Benar juga. Ntar kalau Eca nggak bisa masak, suami Eca cari istri baru lagi "


" Kalau lelaki itu mencintai Eca, dia harus menerima kekurangan dan kelebihan Eca"


" Setuju paman. Berarti Eca nggak usah belajar masak ya paman?"


" Siap paman"


" Nah gitu dong. Oh iya, paman tutup dulu ya telponnya. Soalnya paman mau lanjut kerja lagi"


" Ok paman"


Tut.


Panggilan telepon pun berakhir. Alexa meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia segera ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Karena saat ini ia masih memakai seragam sekolah.


Selesai mengganti pakaian, Alexa menonton Drakor favoritnya. Tapi di dalam kamarnya tidak ada camilan. Ia pun turun ke bawah untuk mengambil buah dan juga Snack.


...***...


Farel sudah mendapatkan komik yang dia inginkan. Ia pun mencari sahabatnya yang daritadi menghilang entah kemana.


" Dicariin dari tadi, eh ternyata mojok dimari"


" Siapa yang mojok?" tanya Axel.


" Semut. Ya Elo lha emang siapa lagi"


" Gue nggak mojok"


" Terus ngapain Lo berduaan sama cewek dimari. Kalau bukan mojok "


" Gue lagi bantu Alisha menata buku di rak"


" Alisha? siapa?"


" Nih cewek yang ada di samping gue. Namanya Alisha"


" Kok kek kenal ya?"


" Ya kenal lha. Bahkan kita udah tiga kali bertemu sama dia"

__ADS_1


" Cie cie dihitung nih ye"


Wajah Axel memerah karena diledek sama sahabatnya itu. Sedangkan Farel tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa juga membuat kulkas dua pintu itu malu.


Ehem..


Axel berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya. " Apa Lo udah dapat komiknya?"


" Udah dong, nih" jawab Farel sembari memperlihatkan komik yang ada ditangannya.


" Good. Udah dibayar belum?"


" Belum, makanya gue cari Lo "


" Ya udah, yuk kita bayar. Gue pamit dulu ya Alisha"


" I-iya"


" Kalau kalian bertemu lagi, berarti kalian berdua jodoh" kata Farel.


Setelah mengatakan itu pada Alisha, Farel pun segera menyusul Axel yang sudah berada di depan.


Alisha menatap punggung kedua cowok tampan itu. Ia kepikiran apa yang dikatakan Farel tadi. Apa benar kalau ia berjodoh dengan Axel.


Tidak mungkin gue berjodoh dengannya. Karena kita bagai bumi dan langit.


Axel membayar buku komik yang diambil sama Farel tadi. Ada tiga buku komik yang ia beli hari ini. Begitu juga dengan Farel. Setelah membayar, mereka langsung meninggalkan toko buku komik itu.


" Lo ngomong apa aja tadi sama Alisha?" tanya Axel setelah mereka berada di dalam mobil.


" Nggak ada. Gue cuma pamitan aja. Kenapa? Lo cemburu?"


" Si-siapa yang cemburu"


" Udah ngaku aja"


" Apa yang mau gue akui coba?"


" Ngaku kalau Lo cemburu"


" Kagak"


" Kagak salah kan?"


" Kagak bener"


" Eleh bohong"


" Terserah kalau Lo nggak percaya"


Axel melajukan mobilnya meninggalkan toko komik itu. Kalau ia belum juga jalan, Farel pasti meledek dia terus.


" Axel"


" Hhhmm"


" Kita beneran gabung sama Kak Kevin ke bioskop?"


" Sepertinya gitu"


" Gue malas banget ketemu sama si Rian itu"


" Apalagi gue"


" Ingin rasanya gue nonjok wajahnya yang belagu itu"


" Ya tonjok aja"


" Gue nggak pengin cari ribut aja. Ntar kalau dia cari masalah lagi sama lo, gimana?" Tanya Farel.


" Kalau nanti dia cari gara-gara lagi sama gue. Gue nggak akan tinggal diam. Cukup berapa kali gue ngalah"


" Harus itu. Karena tangan gue juga udah gatal mau menghajar tuh orang"


" Ntar kita bagi dua"


" Lo kate tubuh Kak Rian itu makanan, dibagi"


Kedua lelaki tampan itupun tertawa. Mereka nggak bisa membayangkan tubuh Rian yang terbagi menjadi dua.

__ADS_1


To be continue.


Happy reading 😚😚


__ADS_2