Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Misi penyelamatan Anya 2


__ADS_3

Anak buah yang di bayar Ferdi sudah datang. Jumlah mereka sangat banyak. Namun anak buah Beni tidak gentar. Karena mereka sudah biasa melawan banyak musuh. Apalagi ini hanya sekumpulan serangga kecil.


Bunyi suara tembakan masih terdengar di setiap sudut ruangan. Tapi itu tidak membuat Beni gentar. Lelaki tampan itu terus mencari ruangan tempat sang pujaan hati di sergap.


Akhirnya Beni berhasil menemukan tempat Anya di sergap. Tanpa menunggu lama, Beni pun menendang pintu ruangan itu. Tapi sayangnya pintu itu tidak sama dengan pintu ruangan yang tadi.


Hahaha...


" Kamu tidak akan bisa membuka pintu ruangan itu. Karena pintunya sudah dirancang dengan khusus"


" Kau terlalu meremehkan lawan mu. Kau pikir saya kesini tidak dengan persiapan?!".


Beni menekan tombol yang ada di jam tangannya. Sinar berwarna merah pun muncul dari jam tangan itu. Perannya sama seperti sensor. Dengan sekali klik, pintu ruangan itupun terbuka.


" Kau lihat bukan?"


Bos penjahat itu kaget sampe mulutnya terbuka. Ia tidak menyangka kalau Beni bisa membuka pintu ruangan yang sudah ia rancang khusus. Dan tidak ada seorang pun yang bisa membuka pintu itu kecuali atas perintahnya.


" Ba.. bagaimana bisa"


" Tentu saja bisa. Makanya kau kenali dulu siap lawan mu"


" Tapi kau jangan senang dulu. Di dalam masih ada hadiah menunggumu. Dan saya pastikan setelah ini kamu akan tinggal nama"


Beni tersenyum smirk. " Kita liat aja nanti"


Beni masuk kedalam ruangan itu. Alangkah kagetnya Beni melihat wanita yang ia cintai terkulai lemas di atas kursi dan tangannya juga diikat dengan tali tambang.


Ia segera menghampiri wanita cantik itu yang sudah terkulai lemas di atas kursi. Ada jejak air mata di kedua pipi Anya. Itu tandanya sang pujaan hati baru saja menangis. Beni pun menghapus sisa air mata itu.


Bos penjahat itu kaget karena Beni selamat sampai ke tempat Anya. Ia bingung, kenapa jebakan yang sudah di pasang tidak berfungsi. Bahkan tidak ada satu anak panah pun yang menancap di tubuh lelaki itu.


Apa sistemnya rusak.


Anya membuka matanya saat merasakan sentuhan dari Beni. Ia kaget sekaligus bahagia melihat lelaki tampan yang sudah mencuri hatinya.


" Be.. Beni. Apa ini beneran kamu?"


" Iya Anya, ini aku"


" Aku nggak lagi bermimpi, kan?"


" Kamu tidak bermimpi kok. Ini beneran aku, sahabat kamu"


Anya tersenyum getir mendengar jawaban Beni. Sampai kapan lelaki tampan itu mau jujur sama perasaannya sendiri. Kenapa sampai saat ini masih menganggap dirinya sebagai sahabat.


" Kamu datang menyelamatkan aku?"


" Tentu saja untuk menyelamatkan kamu. Setelah itu baru akan buat perhitungan sama Ferdi"


Mendengar nama Ferdi seketika tubuh Anya bergetar. Ia teringat kejadian beberapa menit yang lalu.


" Kamu kenapa?"

__ADS_1


" Cepat pergi dari sini. Kalau tidak Ferdi akan membunuh kamu!"


" Dia nggak akan berani menyentuh aku, ataupun kamu"


" Kamu nggak tau siapa dia!. Dia itu psikopat"


Beni memeluk wanita yang ada di hadapannya itu. Ia membelai rambut panjang Anya, sampai wanita itu tenang. Setelah Anya tenang, barulah ia melepaskan pelukannya.


" Aku nggak mau kamu kenapa-napa, Ben"


Beni tersenyum mendengar ucapan Anya. Ia sangat senang karena wanita cantik itu mengkhawatirkan dirinya.


" Kamu tenang aja, aku akan baik-baik aja. Sekarang kita keluar dulu dari ruangan ini"


Beni membantu melepaskan tali tambang yang masih melingkar di tubuh Anya. Saking kuatnya lilitan tali itu sampe meninggalkan bekas di kulit mulus wanita cantik itu.


" Mau kemana kalian!"


Bos penjahat dan beberapa anak buahnya mengepung Beni dan Anya.


" Ben"


" Tenang, kamu sembunyi di belakang aku. Biar aku yang hadapi mereka "


" Emang kamu bisa melawan mereka?"


" Liat aja. Sekarang duduk manis disini dulu, jangan kemana-mana?"


" Gimana aku mau menghajar mereka kalau tangan aku kamu pegang terus?"


" Jangan ke sana. Kamu tidak akan mampu melawan mereka"


" Apa kamu meremehkan aku?"


" Tidak!. Aku hanya tidak ingin kamu terluka"


Beni tersenyum sambil membelai rambut Anya. " Percaya sama aku. Kalau aku bisa membawa kamu keluar dengan aman dari sini"


Anya melihat tidak ada keraguan dalam diri Beni. Lelaki itu terlihat sangat percaya diri saat mengatakan kalau dia akan membawa dirinya keluar dari tempat yang menyeramkan ini.


" Baiklah. Tapi kamu harus tetap hati-hati"


" Makasih. Aku akan baik-baik saja"


Beni meregangkan otot-otot kekarnya. Sudah lama dia tidak melakukan olahraga seperti ini. Apalagi yang akan jadi samsak nya saat ini adalah orang-orang jahat. Jadi dia tidak perlu menahannya. Tidak seperti saat berlatih dengan anak buahnya.


" Mau langsung maju semua atau one by one


"


Cuih!.


" Sombong sekali kau!. Jangankan melawan semua anak buah ku!. Satu saja kau belum tentu mampu"

__ADS_1


" Coba saja"


" Hei, kalian!. Tunggu apalagi, habisi dia!"


Sepuluh lelaki bertubuh kekar itu maju dan langsung menghajar Beni. Mereka menyerang Beni dengan membabi buta.


Aaaaaaaaa..


Anya berteriak saat salah tubuh salah satu anak buah penjahat itu jatuh tersungkur di depannya. Tubuh lelaki yang bertubuh kekar itu penuh dengan luka dan juga lebam.


Mata cantik berwarna biru laut itu terus memandang lelaki tampan yang sedang bertarung dengan anak buah penjahat yang di sewa sama Ferdi.


Sejak kapan dia bisa bela diri?.


Satu serangan dari anak buah penjahat itu belum ada yang mengenai Beni. Sedangkan beberapa anak buah penjahat itu sudah tumbang dan tidak bisa bertarung lagi.


" Dasar bodoh!. Melawan satu orang saja kalian tidak becus!"


Beni tidak menghiraukan umpatan bos penjahat. Ia terus menyerang satu persatu lelaki bertubuh kekar itu. Jumlah mereka tidak berkurang malahan bertambah terus.


" Beni, semangat!"


Mendengar suara sang pujaan hati memberi semangat padanya. Membuat kekuatannya bertambah berkali-kali lipat. Padahal tadi tenaganya sudah hampir habis.


Bos penjahat itu terus menambah pasukannya. Karena ia ingin melihat sampai dimana Beni bisa melawa mereka semua. Ia yakin sekarang tenaga lelaki itu sudah hampir habis.


" Lebih baik kau menyerah saja"


" Meskipun aku harus mati di sini, sedikitpun aku nggak akan menyerah. Melawan orang-orang mu yang lemah ini tidak akan membuatku sakit"


" Jangan sombong!. Saya tau kamu sudah mulai kehabisan tenaga. Jadi saya yakin tidak lama lagi, tubuh mu itu akan tumbang sendiri"


Ya itulah taktik bos penjahat itu. Dia sengaja menambah anak buahnya. Mungkin anak buahnya tidak bisa mengalahkan Beni. Tapi ia yakin kalau tenaga lelaki itu akan habis. Dan di saat Beni sudah tidak bertenaga lagi, barulah ia akan menghabisi lelaki itu.


Beni tidak mungkin meminta anak buahnya untuk membantunya. Ia tau kalau anak buahnya juga sibuk melawan anak buah Ferdi yang tidak ada habisnya. Tapi jujur, sekarang ini tenaganya sudah hampir habis.


Bugh.


" Beni!"


Satu pukulan anak buah penjahat itu berhasil mengenai pipi Beni. Dan itu lumayan sakit. Tapi itu tidak berasa sama sekali untuknya. Rasanya seperti gigitan semut.


" Jangan maju, tetap duduk di sana"


Anya kembali duduk di kursi. Ia sangat sedih karena tidak bisa membantu lelaki yang ia cintai. Bahkan ia hanya jadi beban lelaki itu. Ingin rasanya ia bisa membantu Beni. Tapi apalah daya, untuk melindungi diri sendiri aja, ia tidak mampu.


To be continue.


Maaf ya teman-teman kemarin nggak bisa up. Jaringan internet di tempat Feby lagi gangguan. Ini aja berusaha mencari sinyal, supaya bisa up dan kalian bisa baca. Semoga hari ini Feby bisa up 2.


Gomawo untuk kalian yang masih mau menunggu kelanjutan ceritanya twins A.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2