
Axel heran, kenapa orang-orang selalu saja cari masalah dengan saudara kembarnya. Apa mereka tidak tau betapa menyeramkan nya saudara kembarnya itu kalau lagi marah.
Ya Axel sudah tau kalau di hari pertama Alexa bekerja, saudara kembarnya itu di kerjain sama seniornya. Ia mendapatkan cerita itu dari kekasihnya.
Entah apa masalahnya sehingga seniornya melakukan hal itu. Apa karena mereka senior jadi wajar melakukan hal seperti itu kepada juniornya.
Axel bangkit dari tidurnya, ia akan pergi ke rumah Farel. Karena dia boring sendirian di rumah. Lagipula ia juga jarang pergi ke rumah sahabatnya itu.
" Tuan kecil pergi mau kemana?" tanya salah satu bodyguard.
" Mau ke rumah Farel. Jangan ikuti saya"
" Baiklah tuan kecil"
Rumah Farel memang dekat dengan mansion-nya. Seperti rumah Adele yang berada di belakang mansion-nya. Sedangkan rumah Farel berada di samping mansion.
Jarak rumah Farel dari mansion-nya hanya sekitar seratus meter. Jadi Axel hanya berjalan kaki menuju rumah sahabatnya, hitung-hitung dia berolahraga.
Axel menikmati pemandangan yang ada di sekitarnya. Ia baru tau kalau pemandangan di sini sangat indah. Mungkin karena ia jarang jalan ke sana.
Para bodyguard yang berjaga di depan rumah Farel memberi hormat pada Axel. Ya di rumah Farel memang ada bodyguard juga. Karena Darren tidak ingin hanya mansion-nya saja yang di jaga, tapi rumah sahabatnya juga.
" Eh ada Den Axel"
" Iya Bik. Farel nya ada Bik?"
" Ada Den di atas, naik aja"
" Aku ke atas dulu ya Bik"
" Ya Den"
Setelah berbicara dengan bibik, Axel pergi ke lantai dua. Tepatnya ke kamar sahabatnya. Baru separuh naik tangga dia udah bertemu dengan mama Farel.
Tok.
Tok.
Tok.
" Siapa?"
" Gue"
Farel yang lagi berbaring langsung bangkit saat mendengar suara sahabatnya di depan pintu kamarnya. Ia segera membukakan pintu untuk Axel.
" Kenapa Lo liatin gue kek gitu?" tanya Axel.
" Ini beneran Axel si kulkas dua puluh delapan pintu"
Pletak.
Aawwwww.
" Ternyata beneran elo"
" Ya iyalah gue, emang Lo pikir siapa? Adele?"
" Tumben Lo kesini? biasanya gue terus yang main ke sono"
__ADS_1
" Boring "
" Gue ada ide biar Lo nggak boring?"
" Apa?"
" Kita ke mall"
" Ogah"
" Ayolah bro. Apa Lo nggak mau beliin Alisha dress atau gaun gitu?"
Axel melirik sahabatnya itu. Benar juga kata sahabatnya itu. Apalagi besok mereka akan pergi ke acara ulang tahunnya Kevin.
" Gue liat uang gue dulu"
" Ya udah buruan"
Axel mengambil dompetnya. Ia melihat berapa uang yang tersisa di dalam dompetnya.
" Gimana?"
" Cukuplah"
" Tunggu apalagi, yuk jalan"
Axel mengikuti Farel keluar dari kamar. Mereka berdua akan pergi ke mall. Kedua lelaki tampan itu hanya memakai baju santai. Karena kalau nunggu Axel ke mansion akan memakan waktu yang lama.
" Lo yang bawa mobil atau gue?" tanya Farel.
" Lo aja deh"
Axel segera masuk kedalam mobil. Ia memasang sabuk pengamannya. Ini kali pertamanya ia naik mobil sahabatnya itu. Karena biasanya Farel selalu nebeng dengannya.
Setelah sahabatnya memasang sabuk pengamannya, barulah Farel melajukan mobilnya meninggalkan rumah. Ia melajukan mobilnya menuju mall terbesar di kota J.
Suasana jalan raya pada siang itu cukup sepi. Jadi Farel bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi.
Mereka pun sampai di mall terbesar di kota J. Mall itu adalah milik Omanya Axel. Farel memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Setelah itu mereka berdua masuk kedalam mall.
Perhatian para pengunjung tertuju pada kedua cowok tampan itu. Walaupun mereka hanya memakai baju kaos biasa, namun tak mengurangi ketampanan mereka.
" Tampan sekali mereka?"
" Iya, mana aromanya wangi lagi"
" Kira-kira mereka pakai parfum apa, ya?"
Ingin rasanya mereka menghampiri kedua cowok tampan itu. Tapi melihat tatapan Axel yang dingin, seketika membuat mereka takut. Alhasil mereka hanya bisa menatap dari kejauhan.
" Kita ke toko yang mana nih?" tanya Farel.
" Terserah Lo, mau ke toko yang mana"
" Kalau ke toko brand itu uang Lo cukup nggak?" tunjuk Axel ke salah satu toko yang brand internasional.
" Cukup"
" Ok, kita ke toko itu aja"
__ADS_1
Axel memang ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihnya. Karena selama ini ia belum pernah memberikan hadiah untuk kekasihnya itu.
" Selamat datang "
Kedatangan mereka langsung di sambut sama karyawan toko. Itulah salah satu alasan mereka suka belanja di toko brand seperti itu. Karyawan di toko itu ramah-ramah.
" Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu karyawan toko.
" Bisa tolong carikan dress untuk remaja berumur enam belas tahun" kata Axel.
" Bisa. Kebetulan ada dress yang baru datang. Mari silakan jalan sebelah sini"
Axel dan Farel mengikuti karyawan toko itu. Sampai di tempat yang di maksud, mata mereka langsung di manjakan dengan dress yang sangat indah.
Kedua lelaki tampan itu bingung mau memilih yang mana. Karena semua dress yang ada di sana bagus-bagus semua.
" Saya mau dress yang berwarna pink itu mbak" kata Axel.
" Wah, pilihan adek sangat bangus. Dress ini keluaran terbaru, dan hanya ada sepuluh di dunia"
Axel dan Farel kaget mendengar ucapan karyawan itu. Mereka tidak menyangka dress itu hanya di produksi sedikit.
" Saya juga mau dress yang itu mbak" kata Farel.
" Baik"
Mengingat dress itu hanya ada sepuluh di dunia, jadi Axel membelikan satu lagi untuk saudara kembarnya.
" Saya ambil warna pink dan juga peach mbak"
" Kalau adek yang warna satu lagi, mau warna apa?"
" Saya warna navy mbak"
Setelah karyawan itu memasukkan dress milik Axel dan Farel. Kedua lelaki tampan itu langsung menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.
Petugas kasir menghitung belanjaan Axel. Tak butuh waktu lama, tampaklah berapa biaya yang akan di bayar sama Axel.
" Mau bayar cash, atau pake card?"
" Cash aja mbak" kata Axel.
Axel mengambil uang sesuai yang tertera di monitor kasir. " Hitung dulu mbak"
Petugas kasir itu menghitung uang yang diberikan Axel padanya. Uang yang Axel berikan pas. Sekarang petugas kasir menghitung jumlah belanjaan Farel.
Kalau Axel membayar belanjaannya dengan uang cash, maka Farel akan membayar belanjaannya dengan card. Karena card-nya tidak disita oleh mamanya. Sedangkan card Axel di sita oleh mommy-nya.
Selesai membayar belanjaannya, kedua cowok tampan itu keluar dari toko itu. Sekarang mereka akan pergi ke restoran untuk makan siang.
" Gimana kalau kita makan di warteg aja?" usul Axel.
" Ide bagus. Kebetulan uang gue juga udah menipis"
Ya sama dengan Farel. Uang saku Axel yang ia sisihkan beberapa bulan lalu juga sudah menipis, karena membeli dress untuk wanita yang ia sayangi.
Kedua cowok tampan itupun pergi menuju parkiran. Mereka tidak jadi pergi ke restoran. Mengingat uang mereka sudah pas-pasan.
To be continue.
__ADS_1
Happy reading 😚😚