
Clara membuka matanya secara perlahan. Ia memegang kepalanya yang masih terasa sakit. Ia menatap ruangan yang terasa asingnya baginya.
Bukan kah dia sedang berada di acara resepsi pernikahan. dan kenapa sekarang ia berada di ruangan serba putih itu. Di tambah lagi kepalanya di perban.
Gue ada di mana.
Clara pun teringat akan kejadian beberapa jam yang lalu. Semua kejadian itu, terekam jelas dalam ingatannya. Ia pun mencoba untuk bangun.
Alangkah kagetnya Clara melihat baju yang ia kenakan. Gaun cantik yang ia pakai sudah berganti dengan baju pasien rumah sakit. Dan yang paling membuat ia shock, baju yang ia kenakan baju pasien rumah sakit jiwa.
" Sialan! siapa yang sudah berani memasukkan gue kesini!"
Clara teringat siapa gadis kecil yang sudah ia ganggu. Dan ia yakin, pasti keluarga Narendra lah yang memasukkannya kedalam rumah sakit jiwa.
" Buka pintunya! keluarkan gue dari sini! gue nggak gila!"
Clara terus menggedor pintu ruangan itu. Ia berharap ada seseorang mendengar teriakkannya dan membukakan pintu untuknya.
Sudah beberapa menit Clara menggedor pintu ruangan itu. Tapi tidak ada tanda-tanda orang lewat untuk membukakan pintu. Ia bingung harus bagaimana lagi.
" Tolong buka pintunya! gue mau keluar dari sini! gue nggak gila!"
Tubuh Clara terkulai lemas di lantai. Tenaga dan suaranya sudah habis karena teriak-teriak dari tadi. Tapi tidak ada satupun yang mendengarkannya.
Tap.
Tap.
Tap.
Clara segera bangkit, kala mendengar suara langkah kaki dari luar. Dengan sisa tenaga yang ia punya. ia menggedor pintu ruangan itu.
" Tolong buka pintunya!"
Clara sangat senang karena ada orang yang mendengar teriakkannya. Ia mundur kebelakang agar tidak kena sama pintu saat terbuka nanti.
Seseorang memakai jas berwarna putih. Dan ia tau itu pasti dokter yang bekerja di rumah sakit ini.
" Dokter tolong keluarkan saya dari sini. Saya nggak gila, Dok"
" Semua pasien di sini juga bilang begitu nona. Mereka mengatakan kalau mereka tidak gila"
" Tapi saya memang tidak gila, Dok!"
" Kalau saya percaya dengan ucapan nona. Maka saya yang akan dibilang gila sama orang-orang"
" Dokter tidak tau ya. Saya ini seorang model terkenal Dok!"
" Kamu model?"
" Iya Dok"
" Kamu lihat teman kamu yang membawa boneka?"
Clara menganggukkan kepalanya.
" Dia mengatakan dirinya artis. Dan teman di sebelahnya itu, seorang CEO di sebuah perusahaan besar"
" Tapi mereka itu gila Dok! sedangkan saya tidak gila"
" Iya nona. Semua pasien disini juga mengatakan kalau dirinya tidak gila. Jadi sekarang nona makan dulu. Saya mau lanjut berkeliling dulu"
__ADS_1
" Dokter! jangan tinggalkan saya disini sendirian, Dok " kata Clara sambil menahan tangan sang dokter.
Dokter itu berusaha melepaskan tangan Clara. Tapi Clara memegang tangannya sangat kuat. Namun dokter itu bukanlah dokter yang lemah. Ia sudah terlatih.
Aaaaaaww..
Clara menjerit kala tangannya di putar kebelakang oleh dokter itu.
" Kau diam dan tenang lah disini. Jangan membuat masalah. Kalau tidak? kau akan mendapatkan hukuman"
Pintu ruangan itu di kunci kembali. Dan Clara hanya bisa menangisi nasibnya. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan mencari cara untuk kabur dari sana. Dan membalas semua perbuatan orang yang sudah memasukkannya kedalam rumah sakit jiwa.
...***...
Seorang lelaki tampan tersenyum saat mendapatkan kabar dari salah satu anak buahnya. Sekarang ia tenang, karena ia sudah berhasil menyingkirkan ular sawah. Walaupun ia tidak bisa memukul wanita itu, tapi setidaknya ia memberikan hukuman yang jauh lebih parah dari dipukul.
Kenan terbayang kejadian dimana ia mengecup bibir gadis tipis itu. Ia tidak menyangka akan mencium bibir gadis tipis itu.
Padahal dulu waktu pacaran bersama Clara, ia tidak pernah nafsu untuk menyentuh wanita itu. Tapi entah kenapa dengan gadis tipis itu ia nafsu. Kenan pun tersenyum sambil mengusap bibirnya.
" Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya seorang wanita cantik.
" Astagfirullah, kakak bikin kaget aja"
" Makanya jangan senyum-senyum sendiri. Tumben kamu tersenyum seperti itu?"
" Nggak apa-apa. Kakak ngapain kesini?"
" Kenapa emangnya? ini kan mansion kakak, jadi suka-suka kakak mau pergi kemana"
" Ya.. ya, aku cuma numpang disini"
" Lagian kamu itu aneh, punya mansion tapi nggak dibiarkan kosong. Ntar di huni demit baru tau rasa "
" Maid terus. Kapan seorang istri ada di sana"
" Ntar juga ada istri di sana"
" Jangan terlalu lama, ntar kamu jadi bujang lapuk"
" Nggak lama lagi, seorang istri cantik akan menghuni mansion itu"
" Benarkah? Siapa?"
" Nanti kakak juga akan tau"
" Tapi calonnya nggak kek ular sawah itu kan?"
" Nggak Kak. Ular sawah tidak selevel dengan dia. Tapi menaklukkannya mungkin tidak akan mudah"
" Wah, kakak jadi penasaran siapa gadis itu. Sampai seorang bos mafia sangat kesusahan untuk menaklukkannya"
" Gadis ini berbeda dengan wanita yang pernah aku temui. Dia gadis yang spesial"
Ya Kenan melihat saat mata Alexa berubah. Ia tambah terpesona kala, gadis itu bisa mengontrol emosinya. Karena setahu dirinya, orang yang memiliki mata seperti itu tidak bisa mengontrol emosinya. Dan bisa saja gadis itu melukai semua orang di sana.
" Oh iya kakak hampir lupa. Suami tampan kakak ingin berbicara hal penting sama kamu"
" Soal apa?"
" Mana kakak tau. Cepat temui sana!"
__ADS_1
" Iya nyonya "
" Nah begitu benar. Abang kamu diruang kerjanya"
" Tau"
Kenan segera ke ruang kerja Abangnya. Diikuti sama Irene dibelakang.
" Kok kakak ngikutin aku?"
" Kamu lupa lagi kalau ini ma--"
" Mansion nyonya Irene"
Irene tertawa mendengar ucapan adiknya. Entah kenapa hari ini ia sangat senang sekali menjahili adiknya itu.
Tok.
Tok.
Tok.
" Masuk"
Kenan dan kakaknya masuk kedalam ruangan itu.
" Sayang, bujang lapuk sudah disini?" kata Irene.
Kenan duduk di sofa yang ada diruang kerja Abang iparnya. Ini bukan kali pertamanya ia keruang kerja Abang iparnya itu. Dan ruangan itu masih sama seperti waktu pertama kali ia masuk ke sana.
Ya di ruangan itu banyak foto kakaknya dan juga Aiden di sana. Bahkan dinding ruangan itu penuh dengan foto keluarga kecilnya. Dan yang anehnya tidak ada satu pun fotonya ada di sana.
" Hal penting apa yang mau Abang bicarakan sama aku?"
" Kamu kan sudah lama menjomblo. Dan kencan kamu satu Minggu yang lalu juga tidak berjalan dengan lancar"
Kenan kaget mendengar ucapan Abang iparnya. Abangnya tau darimana kalau kencan buta nya gagal. Ia pun teringat sama asistennya.
Awas kamu Ben. Gue potong gaji Lo tujuh puluh lima persen.
" Siapa bilang kencan aku gagal?"
" Udah, kamu nggak usah bohong. Abang punya bukti yang kuat"
" Emang kenapa kalau gagal?"
" Untuk itulah Abang menyuruh kamu datang kesini. Abang akan menjodohkan kamu dengan putri rekan bisnis Abang"
" Aku menolak!" kata Kenan.
" Kenapa kamu menolak. Emang kamu tau siapa calon kamu itu?" tanya Rafka.
" Aku nggak mau di jodohkan. Dan lagi, pilihan Abang itu tidak sesuai kriteria aku"
" Kamu mau kemana? Abang kamu belum selesai ngomong?" kata Irene.
" Aku nggak minat membicarakan tentang perjodohan. Dan lagi, pesona aku belum redup. Jadi nggak perlu ajang perjodohan seperti itu"
Kenan segera keluar dari ruang kerja Abang iparnya. Ia benar-benar tidak minat dengan perjodohan itu. Apa Abang dan kakaknya itu meragukan ketampanannya.
To be continue.
__ADS_1
Happy reading 😚😚