
Malam hari.
Suasana di ruangan keluarga Darren sangat ramai. Karena kedatangan para sahabatnya. Jarang-jarang mereka bisa ngumpul seperti ini.
" Gimana kerjaan kamu di Sumatera Nan?" tanya Nadia pada Nando.
" Alhamdulillah lancar Kak"
" Syukurlah. So, kapan nih kakak akan kamu bawakan calon adik ipar?"
" Iya Nan, masa iya kamu kalah sama Axel" kata Serly.
" Axel?" tanya Kiran dan Darren berbarengan.
" Iya, putra kalian"
" Emang Axel kenapa?"
" Dia udah berani gandeng tangan cewek"
" Serius Lo?" tanya Nadia.
" Serius"
" Lo tau darimana?" tanya Kiran.
" Adele yang cerita sama gue"
" Kapan?"
" Kemarin"
" Adele tau siapa cewek yang di gandeng Axel?"
" Tau, mereka satu kelas. Dan sahabat Eca juga"
" Siapa nama gadis itu?"
" Gue lupa. Coba Lo tanya sama Axel"
" Ntar deh gue tanya"
" Tuh Nan, masa kamu kalah sama Axel" kata Nadia pada Nando.
" Kakak tunggu aja, ntar aku akan bawa calon adik ipar kakak kesini"
" Emangnya udah ada calon adik ipar kakak?" tanya Kiran.
" Masih proses pendekatan sih Kak"
" Apakah wanita itu Jihan?" tanya Serly.
" Bukan Kak"
" Terus siapa?"
" Ntar kakak juga tau"
" Ih si ganteng gue udah main rahasia-rahasia"
" Biar surprise untuk semuanya"
" Alamat nggak bisa tidur nih nanti, karena mikirin siapa wanita yang akan jadi pasangan adik tampan gue" kata Serly.
" Tenang, kalau kamu nggak bisa tidur. Ntar aku Nina bobokan " kata Doni.
Uhuk..uhuk..
Darren dan Romy tersedak sama buah anggur yang mereka makan. Mereka tidak menyangka Doni semakin pintar menggombal.
" Kalian berdua kalau mau batuk jauh-jauh sana!" kata Nadia.
" Sembarangan Lo, main usir laki gue" kata Kiran.
" Wih betinanya Darren marah"
" Oh iya Kak, aku pamit ke kamar dulu ya" kata Nando. Karena ia tidak mau jadi obat nyamuk diantara pasutri itu.
" Baru jam delapan, masa udah mau tidur aja?" kata Serly.
" Biarkan saja, kalau lama-lama disini nggak baik untuk dia" kata Kiran.
Setelah berpamitan Nando pun pergi ke kamarnya. Ia akan menghubungi Rania, karena tadi sore ia lupa menelpon wanita cantik itu.
Sesampainya di kamarnya, Nando langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi Rania. Tak butuh waktu lama, telpon pun tersambung.
" Hallo "
Terdengar suara lembut dari seberang sana.
" Maaf ya baru bisa telpon. Soalnya tadi aku ketiduran"
__ADS_1
" Nggak apa-apa, yang penting kamu sampai dengan selamat"
" Kamu lagi apa?"
" Lagi tiduran aja. Kamu sendiri lagi apa?"
" Sama, aku juga lagi tiduran. Gimana kabar ibuk?"
" Ibuk baik-baik aja. Tadi dia nanyain kamu"
" Benarkah?"
" Hhhmm"
" Emang ibuk bilang apa?"
" Dia bilang, kapan kamu mau main kesini"
" Terus kamu bilang apa sama ibuk?"
" Ya aku bilang, nanti kalau kerjaannya sudah selesai"
" Aku akan usahakan secepatnya datang ke sana"
" Disini aku akan selalu menunggu kamu"
" Jaga hatinya untuk aku"
" Iya, aku akan selalu jaga hati aku untuk kamu. Kamu juga ya, jaga hatinya untuk aku"
" Pasti akan selalu aku jaga. Uda malam, kamu tidur gih. Besok kerja kan?"
" Iya. Kamu juga, jangan begadang"
" Hhmm. Good night "
" Good night "
Panggilan pun berakhir. Nando meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Ia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membersihkan wajahnya. Setelah itu barulah ia tidur, karena besok pagi ia harus bangun pagi.
Di taman mansion.
Alexa dan kedua sahabatnya masih asik mengobrol. Obralan mereka seperti tidak ada habis-habisnya. Apa saja bisa jadi bahan obrolan mereka.
" Eca" panggil Axel.
" Hhmm"
" Iya, kenapa?"
" Nggak apa-apa"
" Ck, bilang aja kamu mau tau dia pindah kemana?"
" Tuh kamu tau"
" Ya tau lha. Karena yang berbau Alisha pasti kamu selalu ingin tau. Apakah kulkas dua puluh delapan pintu ini udah falling in love ?"
" Buruan kasih tau dia pindah kemana?"
" Jawab dulu dong. Apakah kamu udah falling in love sama Alisha"
" Nggak tau"
" Ya udah, jangan harap aku mau ngasih tau kamu"
" Eca mah gitu"
" Makanya kasih tau dulu kakak kamu yang cantik sejagat raya ini"
" Kasih tau apa?"
" Jangan pura-pura amnesia. Ntar amnesia beneran baru tau rasa!"
" Ya gue nggak tau apa yang gue rasakan saat ini ke dia. Tapi yang jelas, gue nyaman sama dia. Dan selalu ingin melindungi dia"
" Wih super banget jawabannya. Baiklah, karena kamu udah mau jujur sama perasaan kamu maka, kakak kamu yang cantik, baik, dan rajin menabung ini akan memberitahu Alisha tinggal dimana"
" Dimana?"
" Kompleks C"
" Serius?"
" Iya. Mommy yang menyuruh Alisha sama neneknya pindah ke sana"
" Kok mommy nggak ada bilang sama aku?"
" Ngapain juga mommy bilang sama kamu"
" Ya juga sih"
__ADS_1
" Oh iya, gimana dengan kalian berdua?" tanya Alexa pada Adele.
" Gimana apanya?" tanya balik Adele.
" Hubungan kalian. Apa Kang modus ini udah menyatakan cintanya sama Lo"
" Siapa tuh Kang modus?" tanya Farel.
" Ya Elo lha, emang siapa lagi"
" Gue nggak pernah modus Eca"
" Kalau emang Lo nggak modus, apa Lo udah nembak Adele?"
Farel melirik gadis cantik yang ada di sampingnya. Begitu juga dengan Adele. Dan mata mereka pun bertemu.
Deg.
Jantung keduanya berdegup kencang dari biasanya. Ini udah kedua kalinya jantung Farel berdegup kencang saat menatap mata Adele. Begitu juga sebaliknya.
" Lha malah main hipnotis mereka berdua" kata Alexa.
Adele langsung memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Alexa melihat wajahnya yang memerah bak kepiting rebus.
" Udah jadian aja " kata Axel.
" Gue sih mau, tapi nggak tau dengan Adele" kata Farel.
" Mana bisa kek gitu. Adele itu sahabat gue, masa Lo nembaknya kek gitu. Nggak romantis banget"
Farel beranjak dari duduknya. Ia memetik bunga mawar merah yang ada di sana. Alexa dan Axel kaget karena Farel memetik bunga mawar merah favorit mommy-nya. Dan tidak ada yang berani memetiknya selain sang mommy.
" Farel..!"
Sontak empat sekawan menoleh kearah suara.
" Mommy"
Ya, Kiran pergi ke taman untuk memanggil anak-anak untuk menyuruh mereka tidur. Karena besok empat sekawan itu sekolah. Tapi sesampainya di taman ia melihat Farel memetik bunga kesayangannya.
" Apa itu yang ditangan kamu?"
" Bunga Tante"
" Kamu tau itu bunga apa?"
" Tau, bunga mawar merah"
" Iya, siapa bilang ini mawar putih. Kamu tau ini bunga mawar kesayangan Tante"
Deg.
Farel susah payah menelan ludahnya. Ia tidak menyangka kalau bunga yang baru saja ia petik, adalah bunga kesayangan Tante Kiran.
" Maaf Tante, aku nggak tau kalau bunga ini bunga kesayangan Tante"
Kiran menarik nafasnya. Kemudian membuangnya secara perlahan.
" Kamu ngambil bunga itu untuk apa?"
" Untuk menyatakan cinta pada Adele, Tante"
" Apa..!" kaget Serly dan Nadia.
Farel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak menyangka kalau mamanya juga datang ke sana.
" Farel, kamu jangan main-main ya" kata Serly.
" Siapa yang main-main Tante. Aku serius"
" Bagaimana dengan Adele, apa dia menolak kamu?" tanya Serly lagi.
" Siapa bilang aku menolak Farel" kata Adele.
" Maksud kamu?" tanya Farel.
" Aku mau jadi pacar kamu"
" Beneran kamu terima aku?"
" Iya" jawab Adele sambil menganggukkan kepalanya.
" Oh astaga, apa dia bener putra gue" kata Nadia.
Semua orang yang ada di sana tertawa mendengar ucapan Nadia.
" Tentu saja dia putra kita " kata Romy.
To be continue.
Happy reading 😚😚
__ADS_1