
Alisha masih memikirkan cowok yang membawa Alexa pergi tadi. Iya yakin seperti pernah melihat cowok tampan itu. Dan apa hubungannya dengan Alexa.
" Woi, bengong aja. Lagi mikirin apa sih?" tanya Vani.
" Lagi mikirin Alexa. Entah bagaimana keadaannya sekarang?"
" Iya kasihan banget dia. Bella kenapa suka banget cari masalah"
" Nggak tau, tapi dia udah dapat sedikit pelajaran dari Adele"
" Gue nggak nyangka, ternyata Adele bisa melawan Bella. Tapi gue takut kalau Bella ngadu sama bokap-nya "
" Iya juga ya. Bapak Adele itu kan orang berkuasa. Mudah-mudahan Adele baik-baik saja"
" Mudah-mudahan deh "
Kedua gadis itu pun masuk kedalam bus sekolah mereka. Tadi mereka berdua sudah berpamitan sama Adele dan juga Farel.
...***...
Alexa mengganti pakaiannya di toilet restoran. Axel dengan setia berjaga di depan pintu toilet. Ia harus memastikan keselamatan saudara kembarnya itu.
Axel menoleh saat pintu toilet terbuka. Ia melihat Alexa keluar dengan memakai pakaian yang sudah bersih.
" Udah selesai?"
" Hhmm"
" Kita langsung ke parkiran ya?"
" Terus Farel sama Adele gimana?"
" Mereka berdua sudah di dalam bus. Yuk buruan, teman-teman udah nungguin kita"
" Hhmm"
Ya Farel tadi sudah menghubungi Axel, kalau dia dan Adele duluan ke parkiran. Axel dan Alexa pun segera pergi dari sana. Mereka langsung pergi ke parkiran. Tempat bus mereka diparkirkan.
" Hebat banget Lo ya bisa membuat kita menunggu" kata Diva saat Alexa dan Axel akan duduk.
" Diva cepat duduk, dan jangan cari masalah" kata Citra.
" Tapi mereka berdua sudah membuat aku menunggu lama Kak"
" Emang cuma kamu aja yang nunggu? saya dan yang lainnya juga menunggu. Tapi kami nggak seheboh kamu"
Diva pun kembali ke tempat duduknya. Dia sangat kesal karena tidak ada satu pun orang yang berpihak padanya.
Karena semua anggotanya sudah lengkap, Kevin meminta Pak sopir untuk melajukan busnya. Bus pun melaju meninggalkan parkiran restoran.
...***...
Nando sangat kesal karena dari tadi, Jihan tidak henti-hentinya menelponnya. Ya semenjak ia mengatakan akan memberikan kesempatan pada wanita itu. Jihan semakin menunjukkan sifat posesifnya.
Ia tidak masalah kalau Jihan posesif padanya karena itu bentuk rasa sayang wanita itu padanya. Tapi jika setiap detik menelpon dan kalau nggak di angkat langsung kirim pesan marah-marah.
" Ada apa lagi sih Ji?"
" Kok kamu kek marah gitu?"
" Aku nggak marah, cuma kesal aja"
" Kenapa kesal?"
__ADS_1
" Kerena tiap menit kamu selalu menelpon aku"
" Itu karena aku sayang dan juga khawatir sama kamu Nan? Sekarang kamu udah nyampe mana?"
" Masih di kota G"
" Kok masih di kota G, bukannya tadi kamu bilang udah di jalan?"
" Bukankah tadi juga sudah aku bilang, kalau aku lagi istirahat sebentar mau makan"
" Oh iya aku lupa"
" Ji, kamu tau kan gimana aku?"
" Maksud kamu apa nanya kek gitu? tentu saja aku tau bagaimana kamu"
" Kalau begitu kamu pasti tau apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka?"
Hening.
" Aku memberikan kamu kesempatan untuk membuat aku cinta sama kamu kan? tapi apa yang kamu lakukan beberapa hari ini sungguh membuat aku tertekan Ji. Dan itu sungguh membuat aku tidak nyaman"
" Maaf"
" Sudahlah, sepertinya aku nggak bisa kasih kesempatan lagi sama kamu"
" Nggak! kamu bilang satu bulan, tapi ini baru empat hari"
" Tapi dalam waktu empat hari itu kamu tidak berusaha untuk membuat rasa cinta itu tumbuh Ji. Kamu malah membuat aku tidak nyaman saat bersama kamu"
Nando pun memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Karena kalau dilanjutkan akan menambah masalah. Jadi lebih baik di sudahi.
Lelaki tampan itu menghela nafasnya. Ia tidak menyangka kalau hubungan dengan Jihan malah semakin memburuk. Mungkin ini salah dirinya karena sudah memberikan kesempatan kepada wanita itu.
...***...
" Serem banget jalan disini kalau malam?" kata salah satu siswi.
" Iya, mana sepi lagi" kata temannya.
" Konon kata orang-orang ya, di sini tuh banyak setannya"
" Iya, salah satu anggota setannya yang ngomong barusan"
Tawa teman-teman yang lain pecah mendengar perdebatan kedua orang itu. Namun tawa mereka terhenti kala Pak sopir mengerem mendadak busnya.
" Ada apa Pak?" tanya Kevin.
" Maaf Nak Kevin, didepan ada mobil yang berhenti"
Semua siswa pun berdiri dan melihat mobil yang di maksud oleh Pak sopir. Dan benar saja, ada mobil truk berhenti tepat di depan jalan mereka.
Dua orang lelaki berbadan kekar memakai tato di tangannya keluar dari truk itu.Kedua lelaki itu berjalan menghampiri bus sekolah. Para siswa menjerit ketakutan kala dua orang lelaki berbadan kekar itu mengetuk pintu bus.
" Tenang semuanya, jangan berteriak" kata Kevin.
" Kita takut Kak"
" Pak jangan dibukakan pintunya. Karena kita tidak tau apa motif dua orang lelaki itu"
" Baik Nak Kevin"
Karena sudah beberapa kali mengetuk pintu, tapi tidak ada respon. Dua orang lelaki berbadan besar itu pun marah. Salah satu dari mereka mengeluarkan benda tajam. Ia menggunakan benda itu untuk membuka paksa pintu bus.
__ADS_1
Teriakan siswa itu makin keras kala dua orang lelaki itu berhasil membuka out bus. Setelah itu salah satu dari mereka membunyikan peluit. Dan beberapa laki-laki berbadan kekar turun dari dalam bak truk.
" Sepertinya mereka penjahat" kata Citra.
" Iya, kita harus bagaimana ini" kata Intan.
" Tenang semuanya jangan panik" kata Kevin.
" Jangan panik gimana? mereka itu penjahat Kak, mereka pasti mau menculik kita dan mengambil organ dalam tubuh kita untuk di jual" kata Diva.
" Diva sekarang kamu diam, jangan bicara yang aneh-aneh lagi. Kalau tidak kami akan menyerahkan kamu kepada para penjahat itu!" kata Intan.
Diva pun diam, ia tidak ingin diserahkan pada penjahat itu. Kemudian organ tubuhnya diambil, terus dijual ke orang. Dan mama sama papanya jadi sedih.
Empat orang penjahat itu masuk kedalam bus. Masing-masing dari mereka membawa pistol ditangannya. Dan mereka yakin, pistol itu pasti mereka dapatkan secara ilegal.
" Kalian semua cepat turun!" kata salah satu penjahat itu.
Para siswa tidak ada yang bergerak dari tempat duduknya. Mereka terus bertahan sesuai apa yang dikatakan Ketos mereka tadi.
Salah satu penjahat itu menodongkan pistol ke kepala Pak sopir. Semua siswa pun histeris. Terutama siswi cewek.
" Cepat turun!"
Mereka pun mau tak mau harus turun. Daripada mereka mati di tembak. Satu persatu mereka turun dari bus.
Empat sekawan masih duduk di kursi mereka masing-masing. Mereka berempat terlihat sangat santai.
" Hei! kalian kenapa masih duduk, cepat turun!"
" Kenapa kami harus turun, dan lagi kami tidak kenal sama kalian " kata Alexa.
" Wah, gadis kecil ini ternyata punya nyali juga. Apa kamu nggak takut timah panas ini bersarang di kepala kamu?!"
" Tidak" jawab Alexa santai.
" Udah tarik aja mereka kebawah" kata salah satu teman mereka yang ada dibawah.
" Kami akan turun kalau kalian membebaskan teman-teman kami" kata Axel.
" Jangan macam-macam kau bocah. Cepat turun!"
" Saya yakin kalian membajak bus ini karena menginginkan uang kan?" tanya Axel.
" Salah satunya itu"
" Makanya bebaskan teman-teman saya. Maka kalian akan mendapatkan banyak uang"
" Ck, emang kau pikir kau siapa?"
" Kami berempat ini anak orang kaya Om, terutama orang tua saya " kata Axel.
" Udah cepat bawa mereka turun, bocah itu hanya membohongi kalian" kata temannya yang ada di bawah.
" Benar juga, hampir saja aku tertipu. Cepat turun!"
Alexa menutup mulutnya menahan tawa, karena penjahat itu tidak percaya kalau saudara kembarnya itu orang kaya.
" Wajah kamu tidak meyakinkan mereka" bisik Alexa.
" Berisik!"
Axel sangat kesal karena penjahat itu meragukan dirinya. Apa tampangnya tidak terlihat seperti anak orang kaya.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚