
Axel khawatir melihat tangan sang kekasih. Walaupun lukanya tidak dalam, tapi tetap aja itu membuat pergerakan sang kekasih jadi lambat.
" Yank, kamu istirahat aja. Aku bisa melawan mereka semua "
" Aku nggak apa-apa kok yank"
" Pergerakan kamu jadi lambat yank"
" Iya, tapi aku masih bisa mengalahkan mereka"
Axel tersenyum melihat semangat kekasihnya. Walaupun tangannya sedang terluka, tapi dia tidak mau istirahat sedikit pun.
" Ayo kita selesaikan ini secepatnya, supaya kita bisa berkumpul dengan yang lainnya"
Axel menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan kekasihnya, mereka tidak boleh membuang-buang waktu di tempat ini.
Sepasang kekasih itu segera melumpuhkan anak buah black cobra. Setelah itu mereka akan menyusul Adele dan Farel. Jadi mereka akan sama-sama ke tempat Alexa dan juga Kenan.
Anak buah black cobra tidak ada habisnya. Banyak teman mereka yang sudah tumbang. Dan makin banyak juga yang datang untuk melumpuhkan Axel dan Alisha.
" Kalian sudah dikepung, jadi menyerah saja"
" tidak akan!"
" Ck, anak kecil ini ternyata keras kepala juga"
" Sudah, habisi saja mereka berdua!"
" Iya, kita serahkan kepala mereka pada si bos"
Axel tertawa mendengar ucapan anak buah black cobra. Sungguh mereka itu sangat percaya diri sekali.
" Walaupun kami cuma berdua. Kami masih bisa mengalahkan kalian semua"
" Punya nyali juga kamu anak kecil"
" Udah, serang bersamaan aja mereka. Setelah itu kita kasih tubuh mereka sama si Jakson"
" Kamu benar"
" Tunggu apalagi, ayo serang!"
Axel mengambil samurai yang terletak di samping mayat salah satu anak buah black cobra. Sedangkan Alisha memakai pedang untuk melawan anak buah black cobra.
Anak buah black cobra menyerang Alisha dan Axel secara bersamaan. Bunyi pedang dan samurai beradu menciptakan bunyi yang cukup nyaring.
Set.
Set.
Set.
Darah segar langsung membasahi samurai Axel dan juga pedang milik Alisha. Darah itu milik anak buah black cobra. Satu persatu tubuh anak buah black cobra terkapar.
Sekarang jumlah anak buah black cobra semakin berkurang. Dan bantuan dari teman-teman mereka tidak ada lagi. Sepertinya Farel dan yang lainnya sudah menghabisi mereka.
" Yank, sepertinya bala bantuan mereka sudah tidak ada lagi?" kata Alisha.
" Sepertinya begitu yank"
" Cepat kita selesaikan ini "
" Siap sayang"
Axel segera menghabisi anak buah black cobra yang tinggal kurang lebih tiga puluh orang itu. Dengan sekali serangan, semua anak buah black cobra tumbang.
" Hebat sayang"
" Makasih sayang, kamu juga hebat"
" Sekarang kita susul Adele sama Farel"
__ADS_1
" Ok sayang"
Axel dan Alisha segera meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan menuju lokasi Adele dan Farel berada.
Bruk.
Alisha hampir saja terjatuh karena di tabrak seseorang. Untung saja Axel menegang pinggangnya, jadi dia tidak terjatuh.
" Ma.. maaf "
" Kak Indah"
" Eh, Alisha"
" Kok kakak ada disini?"
" Kamu kenal sama kakak ini yank?"
" Kenal yank. Dia salah satu karyawan di toko kita"
Axel tidak ingat. Karena iya memang tidak tertarik untuk melirik wanita lain selain kekasihnya.
" Jadi kakak ngapain disini?" tanya Alisha lagu.
" Saya lagi cari adik-adik saya, yang di culik"
Alisha kaget mendengar jawaban Indah. Kalau adik-adik, berarti tidak hanya satu orang yang di curi oleh anak buah black cobra.
" Kakak yakin, adiknya diculik?"
" Yakin, wong saya melihat sendiri adik-adik saya di masukkan kedalam mobil Jeep"
" Apa adik kakak sudah ketemu?"
" Belum. Saya masih mencari"
" Ayo aku bantu cari. Nggak apa-apa kan yank, kita bantu Kak Indah dulu"
" Makasih"
" Sama-sama Kak. Yuk kita cari adik-adiknya kakak"
" Hhmmm"
Mereka bertiga segera memeriksa semua ruangan yang ada di markas itu. Mungkin saja adik-adiknya Indah ada di sana.
Satu persatu ruangan di markas itu mereka periksa. Tak ada satu ruangan pun yang luput dari pemeriksaan mereka.
" Di ruangan ini kosong yank" kata Axel.
" Sama, di ruangan ini juga" kata Alisha.
" Kita cari di ruangan lain"
Semakin masuk kedalam, suasana di markas itu juga semakin menyeramkan. Dan lagi aroma amis tercium di tempat itu.
" Bau apa nih?" tanya Indah.
" Aku juga nggak tau, Kak"
" Ini bau amis darah" kata Axel.
" Darah?" tanya Indah.
" Hhmmm"
" Apa disini juga sudah terjadi perkelahian?" tanya Indah lagi.
" Mungkin. Kita tidak akan tau kalau tidak menceknya?" kata Axel.
Mereka terus berjalan menuju ruangan yang ada di ujung markas. Aroma amis semakin kuat tercium oleh indera penciuman mereka.
__ADS_1
Ada tiga ruangan lagi yang tersisa di sana.
Axel menendang pintu salah satu dari tiga ruangan itu.
Brak.
Aroma tidak sedap langsung menyeruak dari ruangan itu. Axel, Alisha dan Indah refleks menutup hidung mereka.
" Bau banget" kata Indah.
" Iya, aku pengen muntah karena baunya" kata Alisha.
" Yank, kamu tunggu disini aja. Biar aku yang periksa" kata Axel.
" Iya yank, hati-hati ya"
Axel masuk kedalam ruangan itu. Tapi sebelum itu dia menutup hidungnya dengan baju kaosnya.
Mata Axel terbelalak melihat pemandangan yang ada di ruangan itu. Beberapa potongan tubuh dan juga kerangka manusia berserakan di sana. Bukan itu saja, organ tubuh seperti ginjal di tata dengan rapi di dalam sebuah lemari kaca.
" Sungguh keji sekali mereka"
Axel teringat akan kejadian waktu mereka pulang dari hiking. Mobil bus mereka di bajak sama pencuri. Dan mereka semua dibawah ke markas mereka yang ada di tengah hutan. Penampakan markas itu juga sama dengan ruangan ini.
" Sayang, kita harus segera mencari adik-adiknya Kak Indah" kata Axel setelah keluar dari ruangan itu.
" Emang kenapa?"
" Sepertinya adik-adik yang di culik itu mau di ambil organ tubuhnya"
Alisha dan Indah menutup mulut mereka karena kaget mendengar ucapan Axel. Kedua gadis itu tidak menyangka ada orang sekejam itu.
" Tenang Kak, berdoa saja semoga adik-adik kakak baik-baik saja"
" Aamiin, semoga Sha"
Indah berharap adik-adiknya masih hidup. Kalau tidak, ia akan membalas perbuatan orang yang sudah menyakiti mereka.
...***...
Kenan mengambil suntik yang ada di dalam laci meja milik Bara. Ia yakin suntik ini lha yang digunakan lelaki itu untuk membuat manusia zombie itu mengamuk.
" Ka..kau mau apa?!"
" Aku?, tentu saja mau memberikan sesuatu hal yang membuat kamu happy"
" Kau pengecut Kenan!. Berani menyerang disaat lawan sedang terluka!"
Kenan tertawa mendengar ucapan Bara. Lelaki itu bilang kalau dia pengecut. Tapi dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya tadi. Itu lebih dari seorang ' pengecut.
Bara melenguh kala jarum suntik itu menembus kulitnya. Ia tidak menyangka kalau Kenan akan melakukan itu padanya.
" Sekarang kita akan menunggu reaksi obat zombie yang telah kau ciptakan sendiri"
Kenan membuang suntik yang ada di tangannya. Ia akan menunggu bagaimana reaksi obat zombie itu bekerja. Lelaki itu harus merasakan apa yang dirasakan zombie-zombie tadi.
Mata Bara berubah menjadi merah. Aroma darah segar yang keluar dari lukanya membuatnya lapar. Ia mengambil tangannya yang di putus sama Jakson tadi. Lelaki itu mulai memakan tangannya sendiri.
" Om, lebih baik dia di ikat saja. Karena akan lebih bagus kalau dia merasa lapar dan mati secara perlahan "
" Ide bagus sayang"
Kenan mengambil rantai besi yang tidak jauh dari sana. Ia mengikat kaki Bara dengan rantai itu.
Bara meronta-ronta. Tubuhnya merasa tidak bebas. Sedangkan perutnya terasa sangat lapar. Dan sekarang tubuhnya tidak bisa bergerak dengan leluasa karena rantai yang ada di kakinya.
Sungguh menjijikkan.
To be continue.
Happy reading 😚😚
__ADS_1