
Penjahat itu tidak ada habisnya. Walaupun sudah banyak yang tumbang. Tapi teman-teman mereka terus berdatangan seperti jamur yang tumbuh setelah hujan.
Sial!. Tenaga gue sudah habis.
Bos penjahat sangat senang melihat Beni yang sudah mulai kelelahan. Ia yakin, sebentar lagi laki-laki itu pasti akan tumbang dengan sendirinya. Dan di saat itulah ia akan menyerang Beni.
" Beni"
" Tetap di sana Anya"
" Tapi kamu sudah kelelahan"
" Nggak apa-apa, aku masih kuat"
" Jangan memaksakan diri, Ben"
" Kamu percaya sama aku, kan?"
" Aku percaya sama kamu"
" Kalau kamu percaya sama aku, tolong jangan maju selangkah pun. Karena aku nggak bisa konsentrasi kalau kamu nggak duduk manis di sana"
" Baiklah. Berhati-hatilah, dan jangan sampai terluka"
Hanya kata-kata itulah yang mampu ia ucapkan untuk Beni. Sejujurnya, ia sangat khawatir dengan lelaki tampan itu. Apalagi saat ini Beni terlihat kelelahan karena sendirian melawan banyak penjahat.
" Kalian jangan kasih kendor. Cepat habisi dia, karena saat ini tenaganya sudah terkuras habis"
Beni tidak menyerah begitu saja. Ia menekan tombol berwarna merah yang ada di arlojinya. Ia tidak boleh menyerah sebelum anak buahnya datang ke sana.
Hanya dalam hitungan detik, beberapa anak buah Beni sudah datang. Mungkin mereka berada di sekitar sana, jadi ketika mendengar alarm bahaya dari sang bos, mereka pun langsung menuju lokasi.
" Bos!"
Anak buah Beni bersyukur karena sang bos tidak terluka. Hanya kelelahan saja. Mereka pun menyuruh Beni untuk beristirahat sejenak.
" Biar kami yang bereskan sisanya bos. Sekarang bos istirahat saja"
" Hhmmm"
Anak buah Beni segera menghajar anak buah penjahat itu. Sedangkan Beni beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya. Setelah itu barulah ia akan menghajar kembali para penjahat.
" Kamu baik-baik saja?"
" Aku baik-baik aja" jawab Beni sambil tersenyum.
" Darimana kamu tau kalau aku di sekap?"
" Dari anak buah ku. Maaf, selama ini aku menyuruh anak buah ku untuk menjaga kamu. Eh taunya mereka lalai menjaga kamu, hingga kamu berakhir di sini"
" Kamu nggak perlu meminta maaf. Ini bukan salah mereka. Seharusnya aku berterima kasih sama kamu dan juga anak buah kamu, karena sudah menjaga aku"
" Itu sudah kewajiban ku untuk melindungi kamu"
" Kewajiban?"
" Hhhmmm"
Apakah ini pertanda kalau dirinya sangat penting untuk lelaki tampan itu. Tapi ia tidak boleh senang dulu, siapa tau Beni hanya menganggap dirinya sebagai sahabat. Dan mungkin sekarang ini dia punya seorang kekasih.
" Anya"
" Ah iya"
" Kenapa kamu melamun?"
" Nggak. Aku cuma kepikiran, apakah kita bisa keluar dari sini"
" Tentu saja bisa. Kamu tidak tau bagaimana kemampuan anak buah, ku"
" Ternyata kamu sudah jadi orang besar, ya?. Waktu kita bertemu terakhir itu, kamu juga sudah menjadi seorang bos?"
" Tidak juga. Aku hanya orang biasa"
Anya tersenyum mendengar perkataan Beni. Dari dulu sifat lelaki tampan itu tidak berubah. Selalu rendah hati. Itulah yang membuat dirinya jatuh hati pada Beni.
" Kalian ngapain aja, cepat habisi mereka!"
Perkataan bos penjahat itu membuat Beni dan Anya menoleh kearahnya. Ternyata orang-orang Beni berhasil mengalahkan beberapa dari mereka. Tapi bukannya berkurang, jumlah mereka terus bertambah.
" Aku bantu anggota ku dulu ya. Kamu duduk manis lagi di sini"
" Emangnya tenaga kamu sudah pulih?"
" Alhamdulillah sudah"
__ADS_1
Beni kembali bertarung melawan anak buah penjahat. Sekarang tenaganya sudah pulih. Ia akan memberi pelajaran pada para penjahat itu karena mereka sudah berani menculik Anya.
Bugh.
Bugh.
Dua pukulan langsung ia layangkan pada perut anak buah penjahat. Penjahat itupun langsung tersungkur ke lantai.
" Sial!. Kenapa tenaganya cepat pulih?. Saya harus turun tangan sendiri"
Bos penjahat itupun turun tangan. Ia sendiri yang akan menghadapi Beni. Karena ia tau tenaga Beni belum pulih sepenuhnya. Jadi dia akan memanfaatkan itu untuk mengalahkannya.
Anya hanya jadi penonton di sana. Karena ia pun tidak tau harus melakukan apa. Beladiri pun dia tidak bisa. Apa ia hanya bisa jadi beban untuk lelaki tampan itu.
Beni mendapatkan lawan yang cukup tangguh. Ternyata bos penjahat itu cukup pandai ilmu bela diri. Jadi nggak salah kalau dia menjadi bos penjahat.
Bugh.
Satu tendangan mengenai peru bos penjahat. Dan itu cukup untuk membuat tubuhnya mundur kebelakang.
" Cuma segini kemampuan mu?!"
" Jangan senang dulu, itu cuma secuil dari kemampuan ku"
Beni memang sengaja tidak mengeluarkan kemampuannya. Karena tenaganya belum sepenuhnya pulih. Jadi dia harus menghemat tenaganya untuk serangan akhir.
...***...
Ferdi heran kenapa bos penjahat yang ia bayar belum balik-balik juga. Padahal ia cuma melawan satu orang. Ia pun penasaran apa yang sedang terjadi di sana. Apakah bos penjahat itu sedang bersenang-senang dengan mayat Beni.
Tanpa menunggu lama, Ferdi pun menyusul ke sana. Sepanjang jalan menuju ruangan Anya di sekap, banyak tubuh anak buah penjahat yang tergeletak.
Apa saja yang di kerjakan sama orang-orang bodoh ini..!
Ferdi bagaikan manusia tidak punya perasaan. Padahal anak buah penjahat itu sedang kesakitan, tapi dia malah sengaja menginjak tubuh mereka.
" Lebih baik kalian mati saja, darimana menjadi orang tidak berguna"
Aaaaaaaaa..
Suara salah satu anak buah penjahat itu karena perutnya di injak Ferdi sangat kuat hingga darah keluar dari mulutnya. Ferdi menginjak beberapa kali hingga anak buah penjahat itu pun menghembuskan nafasnya.
Cuih!.
" Manusia tidak berguna!"
Akhirnya Ferdi pun sampai di ruangan dimana Anya di sergap. Ia melihat bos penjahat yang ia bayar sedang bertarung melawan Beni. Ia pun menggunakan kesempatan itu untuk membawa Anya kabur dari sana.
" Ferdi!. Mau apa kamu!"
" Ayo sayang, kita pergi dari sini"
" Nggak!. Aku nggak akan ikut dengan manusia seperti kamu!"
" Ayo ikut aku"
Ferdi menarik tangan Anya. Namun Anya berusaha melawan manusia jahat itu. Anya tidak ingin ikut dengan Ferdi.
" Nggak ada gunanya kamu melawan, Anya!"
" Lepasin aku Fer. Beni, tolong aku!"
Beni yang mendengar teriakkan Anya pun menoleh kearah suara.
" Sial!"
Bugh.
Tubuh Ferdi tersungkur ke lantai.
" Lo mau bawa Anya kemana, huh!"
Anya segera bersembunyi di belakang Beni. Ia benar-benar takut Ferdi membawanya lagi. Karena ia tau Ferdi itu psikopat.
" Serahkan Anya sama gue, Ben!"
" Nggak akan"
Ferdi sangat marah karena Beni menghalangi jalannya. " Carlos! "
Mendengar namanya dipanggil bos penjahat pun segera menghampiri Ferdi.
" Ada apa bos?"
" Cepat habisi Beni!"
__ADS_1
" Siap bos"
Bos penjahat itu segera memisahkan Beni dengan Anya. Tapi Beni tidak akan membiarkan Anya di bawa pergi sama Ferdi.
Beni cukup kesusahan karena melawan bos penjahat sambil menjaga Anya yang sedang bersembunyi di belakangnya.
Anak buah Beni yang melihat bosnya kesulitan pun segera membantu sang bos.
Bugh.
Bos penjahat itu tersungkur karena mendapatkan tendangan tiba-tiba dari arah belakangnya.
" Lawan Lo itu gue, badut tua"
" Ck, hanya seekor serangga. Tendangan mu itu tidak berasa apa-apa, bocah"
" Bos, biarkan badut tua ini saya yang lawan bos"
" Saya serahkan dia sama kamu, Mes"
" Ok bos"
Sekarang Beni akan melawan Ferdi. Ia akan menghabisi nyawa lelaki itu. Karena Dia sudah berani menyakiti wanita yang ia cintai.
" Ternyata kau punya nyali juga Ben!"
" Tentu saja. Ini adalah hari terakhir Lo menghirup udara di dunia ini"
" Kau pikir bisa melawan ku"
" Tentu saja. Justru inilah saat yang gue tunggu"
Tanpa menunggu lama, Ferdi segera menyerang Beni. Ia menyerang Beni dengan sangat brutal.
Ferdi terlihat kesal, karena serangannya tidak ada yang mengenai Beni. Ia pun mengambil pisau lipat yang ia selipkan di sepatunya. Pisau itu sering ia bawa kemana-mana.
" Beni hati-hati"
Set.
Set.
Set.
Ternyata Ferdi sangat hebat menyerang dengan senjata. Tapi serangan itu lagi-lagi tidak ada yang mengenai Beni. Jangankan untuk melukai Beni, untuk mengenai se ujung rambutnya aja nggak bisa.
Ferdi emosi karena lagi-lagi serangannya meleset. Beni mampu menghindari setiap serangan yang diberikannya.
" Sekarang giliran gue!"
Bugh.
Satu pukulan pun berhasil mendarat di sudut bibir Ferdi. Dan seketika itu darah segar pun mengalir di bibirnya.
" Hanya segitu kemampuan Lo?"
Ferdi pun terprovokasi sama omongan Beni. Ia kembali menyerang Beni dengan seluruh kemampuannya.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Tiga pukulan mendarat di pipi dan juga perut Ferdi. Dan itupun dilakukan terus menerus oleh Beni. Sehingga Ferdi tidak berdaya lagi. Dan akhirnya Ferdi pun tumbang.
Anya senang karena Beni berhasil mengalahkan Ferdi. Berarti ia terbebas dari manusia psikopat itu.
" Beni"
Beni kaget karena Anya tiba-tiba memeluknya. Tapi setelah itu, ia pun membalas pelukan wanita cantik itu.
" Makasih"
" Untuk apa?"
" Karena kamu sudah berhasil mengalahkan Ferdi"
Beni menganggukkan kepalanya.
Ferdi merasa tubuhnya sangat remuk. Di sisa tenaganya, ia mengambil pistol yang ia selipkan di celananya. Ia mengarahkan pistol itu ke Anya.
" Kalau gue nggak bisa miliki Anya, maka Lo juga nggak bisa"
Dor.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚