
Di sepanjang jalan mulut Alexa terus komat-kamit. Ia terus mengumpat Kenan, karena lelaki tampan itu mencuri ciumannya. Dan itu udah yang kedua kalinya.
" Cepat amat baliknya?" tanya Adele saat melihat sahabatnya sudah kembali.
" Hhhmm"
" Emang kalian ngomongin apa? kok cepat amat?"
" Nggak ngomongin apa-apa"
Kevin menatap gadis cantik yang sudah mengisi hatinya. Ia tau suasana hati gadis itu sedang tidak baik. Pasti sudah terjadi sesuatu dengannya.
" Gimana kalau kita pergi makan?" usul Kevin.
" Yuk, kebetulan gue juga sudah lapar" kata Citra.
" Kalian mau ikut nggak?" tanya Intan pada Alexa dan yang lainnya.
" Ikut dong. Kapan lagi bisa makan dengan anggota OSIS" kata Adele.
" Tunggu apa lagi, yuk cabut" kata Intan.
Karena acara sudah selesai, mereka pun memutuskan untuk pergi makan siang ke salah satu restoran terkenal di kota J.
" Kamu ikut mobil kakak, ya" kata Kevin pada Alexa saat mereka sudah sampai di parkiran.
" Iya Kak"
Kevin membukakan pintu mobil bagian depan untuk gadis cantik yang selalu mengisi hatinya.
" Makasih kak"
" Sama-sama"
Setelah Alexa duduk dan memasang sabuk pengamannya, barulah Kevin menutup kembali pintu mobilnya.
" Aku boleh ikut naik mobil kakak nggak?" tanya Adele.
" Kamu mau jadi obat nyamuk, Yank" kata Farel.
" Ya nggak lha"
" Kalau nggak mau, terus kenapa minta ikut mobil kak Kevin"
" Ya juga ya. Yuk Yank ikut mobil Axel aja"
Farel geleng-geleng kepala melihat tingkah kekasihnya yang sangat menggemaskan di matanya.
Kevin melajukan mobilnya meninggalkan sekolah. Diikuti sama mobil para sahabatnya di belakang.
" Makasih ya udah mau dateng ke acara kelulusan kakak"
" Sama-sama Kak"
" Kamu cantik hari ini"
" Jadi cantiknya cuma hari ini?"
" Nggak. Tapi hari ini cantiknya luar biasa"
" Kakak udah pinter menggombal ya sekarang. Udah berapa cewek digombalin hari ini?"
" Nggak ada. Kakak gombalnya cuma sama kamu"
" Ya lha tuh"
" Beneran. Dan lagi itu bukan gombalan, tapi ucapan tulus dari dasar hati kakak" ucap Kevin sambil melirik Alexa.
Alexa tersenyum mendengar ucapan Kevin. Walaupun ia sudah sering mendengar pujian seperti itu dari Kevin, tapi tetap saja dia tidak percaya kalau lelaki tampan itu pintar menggombal.
" Oh iya, kakak boleh nanya nggak?"
" Boleh. Nanya apa Kak"
" Janji dulu kalau kamu nggak akan marah kalau kakak tanya nanti?"
" Iya janji nggak akan marah. Cepet bilang?"
__ADS_1
" Ngomongin apa sama cowok tadi?"
" Nggak ngomongin apa-apa"
" Beneran?"
" Hhhmm"
Mereka pun sampai di salah satu restoran terkenal di kota J. Kevin memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah di sediakan. Begitu juga dengan para sahabatnya.
Di depan pintu restoran mereka langsung di sambut oleh pelayan.
" Selamat datang, silakan masuk"
" Terima kasih mbak"
Mereka semua masuk kedalam restoran. Itulah bedanya restoran mahal dengan warung pinggir jalan. Kalau di restoran mahal kita di sambut sama karyawan restoran. Sedangkan warung pinggir jalan tidak. Tapi kalau soal rasa, warung pinggir jalan nggak kalah sama masakan restoran.
Kevin mencari tempat duduk yang ada di dekat jendela. Supaya nanti mereka bisa melihat pemandangan dari sana.
Setelah mereka duduk, salah satu pelayan langsung menghampiri mereka dengan membawa buku menu restoran itu. Dan tak lupa buku kecil untuk mencatat pesanan mereka.
" Mau pesan apa?" tanya pelayan restoran.
" Sebentar ya mbak, kita liat dulu" kata Citra.
Alexa melihat menu yang ada di restoran itu. Semua menu yang ada di sana sudah pernah ia cicipi. Dan tidak ada yang seenak masakan mommy-nya.
" Kamu mau pesan apa?" tanya Kevin.
" Belum tau Kak"
" Kenapa? apa kamu nggak suka makan disini?"
" Suka, tapi aku lebih senang makan di warung pinggir jalan"
" Kenapa nggak bilang dari tadi? kan kita banyak melewati warung pinggir jalan?"
" Nggak apa-apa. Teman-teman kakak belum tentu mau makan dipinggir jalan"
" Mereka pasti mau kok"
" Ya udah, sekarang pesan makanannya"
" Hhmmm"
Alexa pun menyebutkan pesanan makanan dan minumannya. Begitu juga dengan yang lainnya. Pesanan mereka cukup beragam. Hanya beberapa orang saja yang sama pesanannya.
Setelah mencatat semua pesanan Kevin dan teman-temannya, pelayan itu pun pamit undur diri untuk memberikan catatan pesanan para remaja itu.
" Cuma gue yang nggak punya pasangan disini?" kata Citra.
" Makanya Lo cepat cari pasangan, biar nggak jadi obat nyamuk terus" kata Rian.
" Asem Lo. Gue bukannya nggak mau cari, tapi belum nemu yang cocok"
" Gimana mau nemu kalau elo nya milih-milih" kata Intan.
" Mana ada gue pilih-pilih. Bagi gue mah, yang penting dia baik".
" Sabar, siapa tau nanti di pas liburan di Bali elo dapat cowok" kata Intan.
" Aamiin, semoga ya Ntan"
" Oh iya, kalian harus cepat kasih kabar kita, bisa atau nggaknya?" kata Rian pada Axel.
" Iya Kak. Ntar malam, kita aq akan coba ngomong sama mommy dan daddy"
" Gue harap sih kalian semua bisa diizinkan pergi. Jadi kita bisa seru-seruan bareng"
" Iya Kak"
" Harus bisa lah. Nanti kita bisa cuci mata di sana" kata Intan.
" Coba aja kalau kamu berani, Yank" kata Rian pada Intan.
" Berani lah. Lagian nggak mungkin kan kita harus tutup mata saat sampai di sana"
__ADS_1
" Ya nggak harus nutup mata juga. Tapi maksud aku itu, padangan kamu itu di jaga"
" Iya, justru aku menjaga pandangan dengan cara mencuci mata melihat bule-bule di sana"
" Terserah"
Intan tertawa mendengar ucapan kekasihnya. Begitu juga dengan yang lain. Mereka baru tau kalau lelaki tampan itu bisa merajuk juga.
" Becanda Yank, jangan ngambek gitu lha"
" Aku nggak ngambek"
" Yang bener nih nggak ngambek?"
" Hhmmm"
" Kamu tenang aja. Walaupun banyak bule di sana? tidak ada yang setampan dan juga semenarik pacar aku ini" kata Intan.
" Belajar gombal dari mana kamu"
" Dari kamu. Kan kamu raja gombal"
" Mana ada aku kek gitu"
" Emang pun"
Saat mereka sedang asik mengobrol, pelayan pun datang dengan membawa pesanan mereka. Pelayan pun menghidangkan semua makanan pesanan Kevin dan teman-temannya. Setelah itu dia pamit undur diri.
" Ngobrolnya kita lanjut nanti, sekarang kita makan dulu " kata Citra.
Mereka semua pun mulai menyantap hidangan yang sudah mereka pesan tadi. Mereka menikmati hidangan itu dengan hikmat tanpa ada yang bersuara.
...***...
Beni menatap tuannya melalui kaca spion yang ada didepannya. Ia merasa tuanya agak aneh setelah berbicara dengan putri penguasa Asia dan Eropa.
" Anda baik-baik saja tuan?"
" Emang saya terlihat seperti orang sakit?"
" Bu.. bukan begitu tuan"
" Terus?"
" Saya lihat tadi tuan senyum-senyum sendiri"
" Maksud kamu, saya gila!"
" Itu tuan yang ngomong. Bukan saya"
" Cuma kamu asisten yang berani sama saya. Nyetir yang benar"
" Iya tuan. Dari tadi saya nyetirnya udah benar"
" Bicara lagi saya potong gaji kamu"
Beni menutup mulutnya. Ia tidak ingin gajinya dipotong sama tuannya yang nggak ada ukhluk itu. Bisa-bisa modal untuknya menikah semakin menipis karena di potong sama tuanya.
" Ben"
Beni hanya diam, dia tidak menjawab panggilan tuannya.
" Ben"
Lagi-lagi Beni diam.
" Beni!"
" I..iya tuan"
" Kamu tuli atau gimana?"
" Tadi tuan bilang saya nggak boleh ngomong. Saya hanya mengikuti apa kata tuan tadi. Tapi tuan malah marah"
" Sudahlah, malas saya ngomong sama kamu. Merusak suasana hati saya saja"
Emang siapa juga yang mau ngomong sama tuan.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚