
Widi kaget melihat bosnya sudah berada di lobi. Setahunya tadi, sang bos masih berada di lantai dua puluh. Ada keperluan apa bosnya itu ke lobi.
" Bapak kenapa ada disini?" tanya Widi.
" Mana gadis yang nganterin pesanan tadi?"
" Itu Pak udah naik Ojol"
Abimanyu melihat kearah yang di maksud oleh sekretarisnya. Ia melihat gadis yang di carinya sudah naik Ojol.
Shiiit..!
Abimanyu kesal saat ojol yang membawa gadis yang dia cari sudah pergi. Padahal sedikit lagi, dia bisa menangkap gadis itu. Tapi dia kalah cepat.
Widi heran, kenapa bosnya itu mencari gadis pengantar pesanan tadi. Padahal mereka tadi sudah bertemu.
" Emang ada masalah apa Pak?"
" Nggak apa-apa. Saya baru ingat kalau gadis tadi itu teman, saya"
" Teman bapak?"
" Maaf Pak, saya tidak tau kalau dia teman bapak. Kalau saya tau, udah saya tahan dia tadi"
" Nanti saya pasti akan bertemu lagi dengan dia"
Kalau gadis itu bertugas sebagai kurir di tempat adiknya. Itu berarti dia kerja dengan adik sepupunya. Nanti ia akan tanya sendiri sama adik sepupunya.
Karena gadis yang dia cari berhasil lolos. Abimanyu pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Diikuti sama Widi di belakang.
Para karyawan membungkukkan badan saat melihat CEO tampan itu melewati mereka. Sesekali mereka mencuri-curi pandang. Mereka semua tau kalau CEO tampan itu belum punya kekasih.
Belum ada yang bisa menaklukkan hati CEO tampan itu. Termasuk sekretaris cantik yang selalu berada di sisi CEO tampan itu.
Sekretaris CEO aja cantik tidak pernah dilirik sama sang CEO. Apalagi mereka yang hanya karyawan biasa dan punya wajah pas-pasan pula.
" Menurut kalian, buk Widi cantik nggak?"
" Cantik, tapi sayangnya dia juga tidak dilirik sama CEO"
" Bener, apa kabar dengan kita yang hanya punya wajah pas-pasan, tambah nggak dilirik"
" Lo bener juga. Apa CEO kita nggak normal, ya?"
" Huus.. ngaco kamu!"
" Tau nih. Jelas-jelas CEO kita macho gitu"
" Habisnya nggak ada yang membuat dia terpukau"
" CEO itu punya kriteria, mungkin buk Widi belum masuk kriterianya"
" Benar juga. Pasti kriteria CEO sangat tinggi"
" Sudah pasti. Wajah dia aja tampan, kaya dan mapan lagi. Jadi sudah pasti kriterianya juga tinggi"
" Yuk kembali bekerja. Ntar gaji kita di potong karena ketahuan ngerumpi"
Karyawan itu pun bubar. Mereka kembali ke ruangannya masing-masing. Karena mereka tidak ingin ketahuan ngerumpi sama CEO tampan itu.
Widi menatap punggung lelaki tampan yang ada di depannya itu. Punggung yang sangat kokoh. Apa bener dia tidak termasuk kriteria CEO tampan itu. Ya Widi mendengar obrolan para karyawan tadi.
Widi menggelengkan kepalanya. Apa yang sedang ia pikirkan. Berada di sisi lelaki tampan itu saja dia sudah bersyukur. Karena banyak wanita diluar sana berlomba-lomba untuk berada disisi CEO tampan itu. Tapi dirinya lha yang beruntung. Jadi dia tidak boleh berpikiran jauh.
__ADS_1
...***...
Alexa kagum dengan bocah umur lima tahun itu. Gimana nggak kagum, diusia yang masih kecil, Aiden sudah bisa mengambil baju, memakai baju dan juga menyisir rambutnya sendiri.
" Kenapa Ai nggak mau di bantu sama mama atau bibik?"
" Ai sudah besar kakak. Jadi harus bisa pakai baju sama menyisir rambut sendiri"
" Pinter sekali sih kamu" kata Alexa sambil mencubit pipi Aiden.
Aiden tersenyum saat Alexa mencubit pipinya. Hal seperti itu sering dilakukan sang mama padanya.
" Yuk Kak kita ke bawah"
" Yuk"
Alexa menggandeng tangan Aiden. Bocah itu sekarang sudah wangi dan juga semakin tampan.
" Mama"
" Wah tampan sekali anak mama. Wangi lagi" puji Irene sambil mencium pipi putranya.
" Tentu dong, kan Ai baru selesai mandi sudah pasti wangi lha"
" Siapa yang bantu Ai pakai baju?"
" Ai sendiri mama"
" Ai nggak mau dibantuin Kak" kata Alexa.
" Iya, dia udah biasa pakai baju sendiri"
" Coba Om cium dulu, bener wangi atau nggak?"
Semua orang di sana kaget mendengar ucapan Aiden. Termasuk Alexa. Bagaimana tidak bocah itu meminta Omnya untuk mencium dirinya.
" Beneran nih? Om boleh cium kakak cantik?" tanya Kenan sambil melirik Alexa.
" Boleh, tapi cuma satu kali aja"
" Baiklah sesuai keinginan Ai, Om akan cium kakak cantik"
Mata Alexa membulat sempurna saat bibir Kenan menempel di keningnya. Ia tidak menyangka kalau gunung es itu akan menciumnya di depan semua keluarganya.
Dasar tukang sosor! selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Ingin rasanya Alexa menghilang dari sana saat ini juga. Ia sangat malu karena dicium di depan banyak orang. Walaupun itu keluarga gunung es, namun tetap saja dia merasa malu.
" Wah ternyata bujang lapuk ini gesit juga" kata sang mama.
" Harus gesit lha Ma, kalau nggak ditikung"
Helena tersenyum mendengar jawaban putranya. Kalau gadisnya secantik Alexa emang wajar kalau putranya takut ditikung.
" Alexa nginep disini aja malam ini?" kata Helena.
" Maaf Ma, bukannya Eca nggak mau nginep disini. Tapi Eca belum izin sama mommy, Daddy"
" Kalau masalah itu gampang, ntar mama yang hubungi mommy kamu"
Karena mamanya gunung es sudah ngomong kek gitu. Alexa tidak punya alasan lagi untuk menolak.
" Oh iya, ini kue terbaru dari toko kalian?" tanya Irene.
__ADS_1
" Nggak Kak. Kue ini belum diproduksi banyak"
" Sudah aku bilang, kue ini khusus dibikin untuk calon mertuanya" kata Kenan.
" Ini kamu yang bikin sendiri sayang?" tanya Helena.
" Iya Ma"
" Udah cantik, pinter masak pula. Sungguh mantu idaman"
" Eca baru belajar Ma"
Helena tambah kagum sama gadis cantik yang ada di hadapannya itu. Gadis itu masih sempat merendah. Kalau orang lain dipuji kek gitu pasti udah kegirangan.
" Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam"
" Wah lagi rame nih?" kata Arka suami Irene.
" Sayang sudah pulang" kata Irene sambil mengambil ahli tas kerja suaminya.
Arka mencium kening sang istri. Ya itu kegiatan rutin yang selalu dilakukan sepulang kerja.
" Kita kalau udah nikah kek gitu juga nggak besok, yank?" tanya Kenan pada Alexa.
Wajah Alexa memerah karena dipanggil seperti itu sama Kenan. Entah sejak kapan gunung es itu merubah panggilan untuk dirinya.
" Emang siapa yang mau nikah sama Om" bisik Alexa.
" Kamu lha, masa anak tetangga"
" Aku nggak mau nikah sama Om"
" Sekarang emang bilang nggak, nanti kamu sendiri yang minta dinikahi sama saya"
" Pede banget"
" Harus dong. Kalau nggak pede, gimana saya mau bersaing dengan lelaki yang ada di luar sana"
" Ada tamu rupanya?" tanya Arka.
" Calon adik ipar Abang" kata Kenan.
" Bukankah gadis cantik ini putri dari tuan Darren?"
" Iya Bang"
" Emang dia mau sama kamu, Nan?"
" Ya mau lha Bang. Siapa yang bisa menolak pesona cowok tampan seperti aku"
" Kalau gitu, kenapa kamu masih jadi bujang lapuk cukup lama" kata Helena.
" Mama kok gitu sih. Nggak ada mau belain anaknya"
" Mama itu ngomong sesuai fakta"
" Tau ah, punya mama kandung tapi terasa kek mama tiri"
Semua orang di sana tertawa mendengar ucapan Kenan. Begitu juga dengan Alexa. Tapi dia merasa hubungan Kenan dan mamanya sangat dekat. Mungkin seperti itulah cara ungkapan sayang ibu dan anak itu.
To be continue.
__ADS_1
Happy reading 😚😚