
Malam hari.
Seperti biasa selesai makan keluarga kecil Kiran berkumpul di ruang keluarga. Mereka akan bercerita tentang kegiatan mereka tadi siang.
" Gimana dengan sekolah kalian?" tanya Darren.
" Lancar-lancar aja apa"
" Daddy dengar dari mommy, Eca telat pulang?"
" Hhmm"
" Emang Eca tadi kemana?"
" Main ke rumah teman"
" Teman yang mana?"
" Teman baru Dad"
" Oh yeah? emang ada yang mau temanan sama Eca?"
" Ada dong, malahan mereka mengantre mau berteman sama Eca"
" Aku liat lebih banyak yang musuhi daripada berteman" kata Axel.
" Itu karena mereka iri sama aku. Soalnya semua cowok yang mereka incar suka sama aku"
" Eleh, palingan juga Kevin sama Rian yang ngejar kamu"
" Kevin, Rian? siapa mereka?" tanya Darren.
" Pacar Eca, Dad" jawab Axel.
" Bohong Dad! kamu jangan fitnah dong. Jelas-jelas aku masih jomlo"
" Oh kirain udah jadian sama Kak Kevin"
" Lo kenapa belum jadian sama si Diva?!"
" Siapa tu Diva, gue nggak kenal"
" Jangan pura-pura amnesia, gue sumpahin amnesia beneran, baru tau rasa!"
" Emang gue nggak kenal sama dia"
Kiran dan Darren geleng-geleng kepala melihat tingkah twins. Mereka berdua bisa akurnya cuma satu menit. Setelah itu kek Tom and Jerry lagi.
" Kita tidur aja yuk By"
" Yuk sayang. Kita tinggal aja Tom and Jerry disini"
Pasutri itu pun pergi meninggalkan twins yang masih berdebat. Daripada pusing, mending mereka tidur.
" Mommy, Daddy" panggil Alexa.
" Udah lanjutkan aja berantemnya" kata Kiran sambil masuk kedalam lift.
" Gara-gara kamu, mommy sama daddy pergi"
" Kok aku?"
" Ya iyalah. Secara, aku tuh nggak pernah salah"
" Nggak pernah salah, yang ada kamu itu biangnya masalah" kata Axel sambil pergi dari sana.
" Axel..! awas kamu ya"
Axel segera berlari menaiki tangga. Karena lift sudah di pake mommy dan daddy-nya. Alexa segera mengejar saudara kembarnya itu. Bisa-bisanya Axel bilang dia biang masalah.
Kalau soal lari Axel memang lebih jago daripada Alexa. Jadi kalau mereka berdua lomba lari, bisa dipastikan Axel yang akan keluar jadi pemenangnya.
Axel segera menutup pintu kamar, kemudian menguncinya. Setelah itu ia mengaktifkan kedap suara kamarnya. Jadi ia tidak bisa mendengar suara kakaknya yang cempreng itu.
__ADS_1
Alexa menggedor sambil berteriak memanggil nama Axel. Tentu saja semua usahanya itu sia-sia, karena sang empunya kamar tidak mendengar teriakkan saudara kembarnya.
" Axel..! buka pintunya?!"
Ceklek..
" Eca, buruan tidur udah malam. Jangan teriak-teriak kek di hutan" kata Kiran.
" Ya mommy"
Alexa pun masuk ke kamarnya. Karena kalau tidak, mommy-nya akan marah. Nasibnya benar-benar apes. Pintu Axel yang di gedor, eh yang keluar malah mommy-nya.
Alexa tidak langsung tidur. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan juga menggosok gigi. Itu sudah hal wajib yang harus dilakukan Alexa sebelum tidur.
Selesai membersihkan wajah dan juga menggosok gigi. Alexa mengganti baju santai dengan baju tidur bergambar anime hello Kitty. Ya baju tidur itu, salah satu baju kesayangan Alexa.
Alexa berbaring di atas kasur empuk miliknya. Ia mematikan lampu kamarnya. Dan bersiap untuk pergi ke dunia mimpi. Siapa tau di sana bertemu dengan pangeran berkuda putih.
...***...
Nando baru pulang dari tambang. Ya hari ini dia dan pekerjanya lembur. Karena tadi ada sedikit masalah di tambang. Ya tanah di dekat pengambilan batu bara longsor. Untungnya tidak ada korban.
Korban yang luka-luka sudah ditangani oleh dokter. Nando memang selalu menugaskan dokter untuk selalu stay di sana. Gunanya untuk memberikan pertolongan pada para pekerja.
Seperti sekarang ini. Tanah di pinggir dekat pekerja alat berat mengambil batu bara yang sudah di tumpuk longsor. Mungkin karena di guyur hujan terus menerus. Dan lagi, Area sana bagian sana belum di kasih dinding.
" Rania"
" Ya Pak"
" Saya antar kamu pulang?"
" Makasih Pak, saya pulang sama taksi aja"
" Taksi nggak ada masuk ke area sini. Lagian ini juga sudah malam"
Rania berpikir. Apa yang dikatakan bosnya emang ada benarnya. Karena ini area pertambangan, jadi mana mungkin ada kendaraan umum yang melintas. Dan lagi kakinya masih terasa sakit karena terhimpit batu besar saat menyelamatkan salah satu temannya.
" Baiklah kalau bapak memaksa"
Nando tersenyum mendengar ucapan wanita cantik itu. Ia membukakan pintu mobil untuk Rania.
" Silakan masuk"
" Terima kasih"
Nando menutup kembali pintu mobil, saat Rania sudah duduk nyaman di kursi penumpang. Setelah itu barulah ia masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Mobil mewah itu melaju meninggalkan tambang batu bara.
" Rumah kamu dimana?"
" Pas di depan belok kanan Pak"
" Saya sudah sering bilang, kalau diluar jam kerja panggil nama saya saja. Tanpa embel-embel Pak di depannya"
" Baiklah Pa--, Nando maksud saya"
" Itu baru benar"
Rania kagum dengan lelaki tampan yang ada di sampingnya itu. Dia tidak seperti bos yang biasa ia temui. Nando laki-laki yang sopan dan juga baik. Walaupun agak dingin dan juga datar.
" Apa ibu kamu sudah ke luar dari rumah sakit?"
" Sudah. Sekarang ibu sedang menjalani rawat jalan. Jadi harus kontrol satu kali sebulan"
" Syukurlah. Ibu kamu galak nggak?"
" Nggak, kenapa?"
" Takutnya nanti saya di pukul sama sapu. Karena berani mengantarkan anak gadisnya pulang dalam keadaan terluka"
" Tau takut juga kamu?"
__ADS_1
" Bukan takut di amuk"
" Lalu?"
" Saya takut kalau kamu nggak di izinkan kerja di tempat saya lagi"
Rania tersenyum. Ternyata lelaki tampan itu pintar menggombal juga. Padahal kalau di tempat kerja dia terlihat sangar.
Mobil mewah itu berhenti di depan rumah sederhana. Dan di depan rumah itu tampak seorang wanita paruh baya sedang duduk. Mungkin sedang menunggu kepulangan anaknya.
" Apa ibu kamu sedang menunggu kamu pulang?"
" Hhmm"
" Senang ya kalau kita pulang ada yang nungguin?"
" Ya. Emang kamu nggak ada yang nungguin saat pulang kerja"
" Ada. Kakak dan juga keponakan aku"
" Orang tua kamu?"
" Orang tua aku udah lama meninggal"
" Maaf, aku nggak tau"
" Nggak apa-apa. Yuk turun, kasihan ibu kamu nunggu di luar"
" Kamu ikut turun juga?"
" Iya dong. Bukankah mengantarkan penumpang sampai tujuan adalah tanggung jawab saya"
" Tapi kan kamu bukan sopir taksi"
" Ya anggap aja sekarang ini saya sopir taksi kamu"
" Ck"
Rania segera turun dari mobil. Begitu juga dengan Nando. Mereka berdua berjalan berjalan berdampingan.
Ibu Rania kaget melihat putrinya pulang dengan seorang laki-laki. Dan ia tambah kaget kala melihat jalan putrinya agak sedikit pincang.
" Rania, kamu kenapa Nak?"
" Ibuk, tadi ada sedikit kecelakaan di tambang Buk. Kaki Nia terhimpit batu "
" Astagfirullah"
" Tapi Alhamdulillah kaki Nia baik-baik aja Buk. Cuma ter-kilir "
" Lalu dia siapa?"
" Ah iya. Perkenalkan Buk, nama saya Nando"
" Dia bos Rania Buk"
" Maaf Nak, ibuk tidak tau. Mari masuk"
" Terima kasih Buk, lain kali saja saya mampir. Soalnya udah malam, nggak baik saya bertamu malam-malam. Ntar Ibuk digosipin tetangga lagi"
" Ya sudah. Kapan-kapan mampir ya"
" Iya Buk. Saya pamit dulu. Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam"
Setelah berpamitan, Nando segera pergi dari sana. Karena ia tidak ingin orang-orang bergosip tentang Rania dan ibunya.
To be continue.
Jangan lupa mampir di novel terbaru Feby ya..🤗🤗
Happy reading 😚😚
__ADS_1