Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Obrolan paman dan keponakan


__ADS_3

Nando menatap langit-langit kamarnya. Ia teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Dimana ia pertama kali merintis usaha, dan saat itu dirinya juga di kenalkan Jihan pada orang tuanya.


Masih jelas diingatan semua ucapan yang dikatakan mama Jihan waktu itu. Dan yang paling ia tidak menyangka, Jihan juga mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah ia bayangkan.


Ya kata-kata itu masih membekas dalam ingatannya. Dimana mama Jihan mengatakan kalau dirinya tidak selevel dengan Jihan. Meskipun dirinya sudah diangkat menjadi adik oleh Kiran. Namun bukan itu yang membuat ia sakit hati. Tapi ucapan Jihan pada mamanya lha yang membuatnya sakit hati.


' Dia tidak akan pernah jatuh cinta pada anak yatim piatu dan juga tidak jelas asal usulnya'


Ya itulah kata-kata yang keluar dari mulut Jihan waktu itu. Dan di dengar langsung oleh telinga Nando. Karena itulah dia mengubur perasaannya yang baru tumbuh untuk Jihan. Dan ia bersyukur karena rasa cinta itu belum tumbuh besar untuk wanita itu. Dan Tuhan langsung menunjukkan kalau Jihan memang bukan jodohnya.


Dering ponsel membuyarkan lamunan Nando. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Ia melihat nama keponakannya tertera di sana. Ia segera menggeser tombol hijau yang ada di sana.


" Hallo, Assalamualaikum paman"


" Wa'alaikum salam. Eca belum tidur?"


" Belum"


" Kenapa belum tidur? emang besok nggak sekolah?"


" Sekolah. Eca baru pulang dari mall"


" Mall?"


" Hhmm"


" Sama siapa Eca pergi ke mall?"


" Sama Axel, Adele dan juga Farel"


" Cuma berempat aja?"


" Kalau dari mansion, iya?"


" Maksudnya?"


" Dari mansion, Eca emang pergi berempat. Tapi udah di mall, Eca pergi bareng kakak kelas"


" Eca ngedate?"


" Bukan! kita perginya rame-rame paman"


" Paman kirain Eca ngedate "


" Nggak lha. Oh iya, paman tau? Ketos nembak Eca"


" Tapi Eca nggak mati kan?"


" Ya nggak lha. Kan nembak nya bukan pake pistol"


" Dimana-mana menembak itu pake pistol"


" Kalau menembak penjahat iya. Tapi inikan menembak cewek. Gimana sih paman?"


Nando tersenyum mendengar jawaban keponakannya. Walaupun ia tidak bisa melihat secara langsung. Tapi ia tau kalau keponakannya sekarang ini sedang kesal.


" Hallo paman. Paman masih di sana kan?"


" Iya, paman denger"


" Ck, kenapa diam aja"


" Terus Eca jawab apa?"


" Eca bilang, kalau kita berteman aja dulu. Gitu paman"


" Kenapa Eca nggak terima aja?"


" Nggak lha. Lagian Eca mau fokus belajar dulu"


" Good girl. Kalau Eca mau pacaran juga, tunggu umurnya tujuh belas tahun dulu"


" Oh iya. Gimana kerjaan paman di sana?"


" Alhamdulillah lancar"


" Apa calon Tante untuk Eca sudah dapat?"


" Belum. Paman kesini bukan untuk cari jodoh, tapi untuk kerja"


" Kerja sambil cari jodoh apa salahnya"

__ADS_1


" Nggak ada salahnya sih. Tapi paman belum sempat memikirkan calon Tante buat Eca"


" Buruan cari paman. Atau paman mau jadi bujang lapuk"


" Udah pinter ngeledek sekarang ya?"


Terdengar tawa di seberang sana. Nando pun ikut bahagia mendengar tawa keponakannya yang cantik itu.


" Udah malam, Eca tidur gih?"


" Iya. Paman juga istirahat, jangan bergadang terus"


" Hhmm"


" Good night paman"


" Good night Eca"


Panggilan pun berakhir. Nando meletakkan ponselnya kembali. Ia mematikan lampu kamarnya. Setelah lampu kamarnya mati, ia pun mulai memejamkan matanya. Tidak butuh waktu lama, Nando pun terlelap.


...***...


Selesai menelpon pamannya, Alexa pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan juga menggosok gigi. Karena sebentar lagi ia mau tidur.


Tok..


Tok..


Tok..


" Eca"


" Masuk aja, pintunya nggak dikunci"


Setelah mendapatkan izin dari sang empunya kamar. Barulah Axel masuk kedalam. Ia membawa paper bag di tangannya.


" Nih belanjaan kamu?"


" Baik banget adek aku ini. Letakkan di atas meja"


" Ck, ada maunya baru bilang gue baik"


" Udah kan. Kalau nggak ada lagi aku mau tidur"


" Ok. Makasih ya adekku yang tampan. Selamat tidur, semoga mimpi buruk"


" Tuh kan, mana ada kakak yang mendoakan adeknya mimpi buruk"


" Kalau mimpi indah mah udah biasa. Udah cepat keluar dari kamar gue!"


Brak..


" Astagfirullah.. Axel!"


Alexa kaget setengah mati mendengar suara pintunya di banting oleh adiknya. Untung saja jantungnya nggak sampai copot gegara adik durhakim itu.


Untung dia adek gue. Kalau nggak udah gue kirim ke planet Pluto.


Setelah mengomel-ngomel Alexa pun masuk ke kamar mandi untuk segera menggosok gigi dan juga mencuci wajahnya.


Selesai menggosok gigi dan juga mencuci wajahnya. Alexa segera berbaring di atas kasur empuk miliknya. Sebelum tidur, ia mematikan lampu kamar. Ia pun mulai memejamkan matanya.


Pagi Hari.


Axel sudah terlihat tampan dan juga rapi dengan memakai seragam putih abu-abunya. Ia mengambil tasnya dan segera turun kebawah untuk sarapan bareng kedua orang tua dan juga saudara kembarnya.


" Morning boy " sapa Kiran kala melihat putranya baru keluar dari kamarnya.


" Morning Mom. Mommy kok disini?"


" Biasa, mau bangunin putri tidur dulu"


" Emang Eca belum bangun?"


" Belum. Ya udah Axel turun duluan, mommy mau membangunkan Eca dulu"


" Siap Mom. Oh iya, apa mommy hari ini jadi ke SMA Harapan Bangsa?"


" Jadi dong"


" Axel minta bantuan satu lagi boleh nggak Mom?"

__ADS_1


" Bantuan apalagi?"


" Masukkan teman Axel ke sekolah Tunas Bangsa"


" Siapa nama teman Axel itu?"


" Alisha"


" Alisha? kok seperti nama cewek?"


" Emang teman Axel cewek Mom"


" Apa cewek ini juga yang mau Axel bantu?"


" Hhmm"


" Apa dia calon mantu mommy?"


" Bu-bukan!"


" Mommy cuma becanda. Kenapa Axel jadi gugup gitu?"


" Mommy bisa kan bantu teman Axel?"


" Bisa, nanti mommy minta data-datanya ke sekolahnya yang lama"


" Tapi jangan bilang kalau mommy, mommy-nya Axel"


" Kenapa?"


" Axel takut dia minder dan nggak mau berteman lagi sama Axel"


Kiran tersenyum mendengar ucapan putranya itu. " Baiklah, mommy tidak akan bilang"


" Makasih Mom"


" Sama-sama sayang"


" Axel ke bawah dulu"


" Hhmm"


Axel berjalan menuju lift. Setelah putranya masuk kedalam lift, barulah Kiran pergi ke kamar putrinya.


Kiran baru akan mengetuk pintu kamar putrinya, namun tiba-tiba pintu kamar itu sudah terbuka. Tampaklah putri cantiknya yang sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya.


" Mommy baru aja mau membangunkan Eca?"


" Eca kan emang nggak pernah telat bangunnya Mom"


" Ah iya mommy lupa, putri mommy ini kan selalu bangun pagi"


Alexa tersenyum mendengar ucapan mommy-nya.


" Yuk Mom, kita ke bawah. Daddy sama Axel pasti udah nungguin"


" Yuk"


Ibu dan anak itu masuk kedalam lift. Kalau pagi hari dan juga ingin cepat, Kiran dan keluarga kecilnya baru menggunakan lift. Tapi kalau tidak terburu-buru, maka mereka akan menggunakan tangan.


" Morning Daddy " sapa Alexa setelah sampai di ruang makan.


" Morning sayang"


" Tumben kamu bangun pagi?" tanya Axel.


" Aku kan selalu bangun pagi"


" Pagi apaan? siang yang ada"


" Siang buat kamu, tapi pagi buat aku"


" Mana ada kek gitu"


" Ya adalah"


" Sudah-sudah, sekarang kita sarapan dulu" kata Darren. Karena kalau tidak begitu, perdebatan antara Alexa dan Axel akan terus berlanjut.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2