
Diva tidak terima Alexa memukul wajahnya. Ia akan melaporkan pada papanya. Kapan perlu ia akan meminta papanya untuk membuat Alexa lenyap dari muka bumi ini.
" Pelan-pelan" kata Diva pada salah satu temannya.
Ya teman Diva sedang mengompres pipi Diva dengan es batu. Sesekali Diva meringis kala es batu itu mengenai pipinya yang biru lebam.
" Lo harus segera membalas Alexa"
" Kalian tenang saja. Biarkan hari ini dia tertawa, tapi besok? gue pastikan hari terakhir dia di sekolah ini. Siapa suruh melawan ku"
" Gue sudah nggak sabar menunggu hari esok"
" Iya. Dan kita adalah orang pertama kali yang akan menertawakannya"
Sama halnya dengan kedua sahabatnya. Diva juga tidak sabar melihat kehancuran Alexa. Dan ia ingin melihat gadis itu berlutut di hadapannya.
...***...
Nando benar-benar bingung. Dari kemarin Rania tidak menjawab teleponnya. Pesannya pun juga tidak pernah di balas oleh wanita cantik itu.
Sekarang ia tidak tau bagaimana kabar wanita cantik itu. Dan sedang apa dia sekarang. Apakah Rania tidak merindukannya.
" Sial! gue sudah nggak tahan lagi. Rasa rindu ini sungguh menyiksa banget"
Nando mengambil ponsel, kemudian ia menghubungi nomor Anton. Ia akan menanyakan kabar Rania padanya. Tak butuh waktu lama telpon pun tersambung.
" Hallo bos"
" Bagaimana kabar pertambangan?"
" Semua berjalan dengan lancar bos"
" Apa kamu sedang bersama Rania?"
" Tidak bos, hari ini Rania tidak masuk kerja"
" Tidak masuk kerja?"
" Iya bos"
" Kenapa dia nggak masuk kerja?"
" Saya juga tidak tau bos. Karena terakhir saya bertemu dia kemarin"
Apa dia sakit?.
" Kamu suruh anak buah kamu untuk melihat Rania di rumahnya"
" Siap bos"
" Kalau sudah ada kabar tentang dia, kamu segera hubungi saya"
" Ok bos"
Panggilan pun berakhir. Nando semakin khawatir. Hari ini wanitanya tidak pergi ke kantor.
Tuhan lindungilah dia. Jangan sampai dia kenapa-napa.
Nando masih menggenggam ponselnya. Karena kalau Anton menghubunginya, ia bisa segera menjawab teleponnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu tidak dihiraukan oleh Nando. Karena sekarang ini pikirannya tidak berada di sini. Melainkan di kota M.
Karena tidak ada jawaban dari dalam. Ikbal pun masuk kedalam ruangan bos sekaligus atasannya itu.
" Nan"
" Hhmm"
__ADS_1
Ikbal heran melihat sahabatnya yang terus saja memandangi ponselnya. Entah apa yang menarik di ponselnya itu.
" Makan siang yuk?"
" Lo aja deh, gue lagi nggak selera" jawab Nando tanpa menoleh kearah sahabatnya.
" Lo kenapa sih?"
" Nggak apa-apa"
" Terus kenapa mata Lo menatap ponsel terus"
" Gue lagi nunggu telpon dari Anton"
" Anton? apa ada masalah di tambang?"
" Nggak"
" Terus kenapa?"
" Rania nggak masuk kerja hari ini. Telpon gue dari kemarin juga nggak di jawab"
Ikbal tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Ia tidak menyangka seorang cewek bernama Rania mampu membuat sahabatnya uring-uringan seperti ini. Tiba-tiba satu ide pun muncul di kepalanya.
" Jangan-jangan Rania sedang mempersiapkan pernikahannya?"
" Ngaco Lo "
" Siapa tau. Karena tetangga gue ada juga yang kayak Lo. Beberapa hari nggak ada kabar dari ke kasihnya. Tapi beberapa Minggu kemudian, dia datang ke rumah pacarnya mengantarkan surat undangan"
Nggak! Rania nggak mungkin seperti itu. Karena dia sudah berjanji pada gue kalau dia akan menjaga hatinya untuk gue.
" Mending Lo makan sana!"
" Lo ngusir gue?"
" Iya. Daripada Lo disini bikin gue emosi"
" Kan gue cuma menceritakan tentang tetangga gue"
" Ya udah kalau emang Lo nggak mau denger"
Nando tidak ingin memikirkan apa yang di katakan sahabatnya itu. Walaupun cerita yang dikatakan Ikbal itu mirip dengan kisahnya saat ini. Tapi ia berharap Rania masih tetap menjaga hatinya.
Ponsel Nando berdering. Ia segera menekan tombol hijau saat melihat nama Anton tertera di layar ponselnya.
" Bagaimana?"
" Rania dan ibunya tidak di rumahnya bos"
" Apa! bagaimana bisa?!"
" Saya juga tidak tau bos. Menurut para tetangganya, kemarin sore ada yang menjemput Rania dan ibunya"
" Kemana mereka membawanya?"
" Para tetangganya tidak ada yang tau tuan"
" Sial! kamu kerahkan seluruh anak buah kamu untuk mencari keberadaan Rania dan ibunya. Dan cepat kabarkan pada saya kalau ada perkembangannya"
" Baik bos"
" Kenapa?" tanya Ikbal.
" Rania dan ibunya menghilang"
Apa jangan-jangan cerita yang gue karang tadi jadi kenyataan?.
Nando menelpon salah satu bodyguard yang ada di mansion. Ia meminta beberapa bodyguard untuk ke kota M.
Ikbal merasa bersalah. Karena tadi ia hanya berniat untuk menjahili sahabatnya. Tapi ternyata ceritanya itu jadi kenyataan.
" Tenang bro, Rania dan ibunya pasti di temukan"
__ADS_1
" Semoga"
Baru kali ini Ikbal melihat sahabatnya panik seperti itu. Dan ia semakin yakin, kalau sahabatnya sudah mencintai Rania.
Di kota M.
Kiran tertawa saat selesai menerima telepon dari salah satu bodyguard yang ada di mansion.
Darren yang baru keluar dari kamar mandi langsung kaget mendengar tawa sang istri. Entah apa yang bisa membuat istrinya tertawa seperti saat ini.
" Sayang, kamu kenapa tertawa seperti itu?"
" Nando, By"
" Ada apa dengan Nando?"
" Dia sekarang lagi panik, karena tau ke kasihnya tidak ada di rumahnya"
" Lalu?"
" Dia meminta para bodyguard untuk mencari keberadaan Rania"
" Wah cepat juga dia"
" Tapi aku sudah menyuruh mereka untuk tidak mencari Rania. Biarkan dia uring-uringan seperti itu"
Darren menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka hukuman yang akan diberikan istrinya mampu membuat Nando ketar-ketir.
" Aku nggak sabar ingin melihat seperti apa wajah anak itu saat panik"
" Apa kamu happy melihat adik kamu tersiksa seperti itu?"
" Sebenarnya tidak tega. Tapi itu salah dia, kenapa menyembunyikan hubungannya dari kita"
" Kamu memang selalu benar. Dan tidak ada yang bisa membantah kamu"
" Karena di mansion, akulah ratunya"
" Tentu saja kamu ratunya"
" Bersiaplah, sebentar lagi kita akan berangkat ke bandara"
" Hhmm"
Kiran masuk kedalam kamar mandi. Ia akan membersihkan dirinya. Saat istrinya sudah masuk ke dalam kamar mandi, Darren menelpon Romy.
" Hallo Ren"
" Tolong pesankan kamar di hotel mertua gue"
" Wih ada angin apa nih Lo mau menyewa kamar hotel. Apa Lo pengen menikmati suasana yang berbeda?"
" Jangan mikir yang aneh-aneh. Lo pesankan kamar presidential suite"
" Siap bro"
" Setelah selesai Lo pesan. Tunggu gue di sana"
" Kok gue tambah penasaran gitu sih bro"
" Entar aja penasarannya. Dan jangan lupa bilang sama istri dan juga Doni dan keluarganya. Malam ini kita akan makan malam di hotel"
" Siap bro, ntar gue telpon Doni "
" Ok, gue tutup dulu telponnya. Soalnya gue mau berangkat ke bandara"
" Bandara? emang Lo lagi di mana sekarang?"
" Ada deh"
Sebelum sahabatnya mengajukan pertanyaan lagi padanya, Darren buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
To be continue.
__ADS_1
Happy reading 😚😚