
Kevin tidak habis pikir dengan sahabatnya. Biasanya Citra mau mengalah demi dirinya bisa dekat dengan Alexa. Tapi tadi sahabatnya itu seperti tidak mau berbagi.
" Kamu kenapa?" tanya Kevin setelah duduk di kursinya.
" Nggak kenapa-napa. Kok Lo nanya kek gitu?"
" Sikap Lo agak aneh hari ini"
" Aneh gimana?"
" Biasanya Lo selalu ngasih gue kesempatan untuk dekat dengan Alexa. Tapi hari Lo malah nggak mau tukar tempat duduk sama Alexa"
" Kok Lo nyalahin gue? bukannya dia yang nggak mau duduk sama Lo. Buktinya tadi dia lebih memilih duduk sendiri"
" Ya, itu karena Lo diem aja saat di tanya sama Intan tadi"
" Jadi menurut Lo, ini salah gue?"
" Bukan gitu maksud gue"
" Terus apa?"
" Udahlah nggak usah di bahas lagi"
Kevin memilih memejamkan matanya. Karena ia tidak ingin berdebat dengan sahabatnya itu. Dan perjalanan ke kota B pasti akan terasa lama.
" Lo marah sama gue?" tanya Citra.
" Nggak"
" Terus kenapa Lo diamkan gue"
" Gue nggak mendiamkan Lo, gue ngantuk jadi pengen tidur"
Citra tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak ingin membuat Kevin marah sama dirinya. Ia pun memilih untuk tidur.
...***...
Kenan agak ragu menaiki tangga pesawat. Apa kata rekan bisnisnya nanti kalau mereka melihat dirinya naik pesawat umum seperti ini. Masa pebisnis kaya naik pesawat umum dan kelas ekonomi lagi.
" Tuan buruan naik"
" Kamu berani memerintah saya?!"
" Bukan begitu tuan, tapi dibelakang banyak yang mau naik"
" Ini semua gara-gara kamu, bisa-bisanya kamu pesan tiket pesawat kelas ekonomi"
" Maaf tuan, saya hanya mengikuti permintaan nyonya besar"
" Ya mulai besok kamu kerja sama mama saya aja"
Ini kali pertamanya Kenan naik pesawat umum. Dan ini untuk pertama dan juga terakhir kalinya ia mau naik pesawat kelas ekonomi itu.
" Wow tampan banget tuh cowok"
" Iya, tapi tatapannya dingin banget"
__ADS_1
" Justru cowok yang seperti itu yang menantang "
" Kira-kira dia duduk dimana, ya?"
Kenan terus mencari nomor kursinya. Anehnya kenapa ia tidak duduk bareng asistennya itu. Seharusnya duduk mereka itu berdekatan.
" Kita nggak salah masuk pesawat, kan?" tanya Kenan.
" Tidak tuan"
" Tapi kenapa saya belum menemukan kursi saya?"
" Sabar tuan, ntar juga ketemu"
" Kalau nggak ingat kamu masih berguna? udah saya habisi kamu, Ben"
Mata Kenan berhenti tepat di depan kursi kosong yang ada di depannya. Ia melirik seorang gadis cantik yang sedang memakai headset. Mungkin gadis itu sedang mendengarkan musik. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya.
Rasa kesal yang sedari tadi ia rasakan langsung menghilang begitu saja. Akhirnya perjalanannya menuju kota B tidak akan membosankan.Tanpa menunggu lama, ia duduk di kursi kosong yang ada di sebelah gadis cantik itu.
Sungguh engkau maha baik ya Allah.
Ehem..!
Kenan berdehem untuk menyadarkan gadis cantik itu. Sayangnya suara Kenan tidak dapat di dengar oleh gadis cantik itu. Tapi ia tidak kehabisan akal untuk membuat gadis cantik itu menyadari kehadirannya.
Ide jahil pun melintas di kepalanya. Ia ingin sekali melihat amarah gadis cantik yang ada di sebelahnya. Lelaki tampan itu merebahkan kepalanya di bahu gadis cantik itu.
Alexa kaget saat kepala seseorang menyentuh bahunya. Ia tidak menyangka ada orang yang berani merebahkan kepalanya di bahunya. Emang orang itu pikir bahunya bantal.
Sepertinya orang ini mau mati.
Gunung es! kenapa bisa dia sih?!. Dan sejak kapan dia duduk di sana.
Ia tidak ingin berdebat dengan lelaki gunung es itu. Karena kalau mereka berdua berdebat, bisa-bisa penumpang lain terganggu karena suara mereka berdua. Maklum kalau mereka berdua berdebat, suaranya ngalahin toa.
Dengan hati-hati ia menyingkirkan kepala Kenan. Karena kalau tidak lelaki itu akan terbangun. Kemudian terjadilah perang dunia ke 100.
Alexa merasa lega karena ia berhasil menyingkirkan kepala Kenan dari bahunya. Ia pun kembali mendengarkan musik dari ponselnya.
Berani sekali gadis kecil ini menyingkirkan kepala gue. Besar juga nyalinya.
Kenan merebahkan lagi kepalanya ke bahu Alexa. Tapi kali ini dia tidak menutup matanya. Jadi dia bisa menatap mata gadis cantik itu.
Alexa menoleh lagi ke lelaki yang merebahkan kepalanya di bahunya. Matanya dan mata lelaki tampan itu pun bertemu. Mengunci satu sama lain.
" Saya tau kalau saya tampan, jadi liatnya biasa aja" goda Kenan.
" Ck! pede banget" kata Alexa sambil memalingkan wajahnya.
" Lap dulu tu ilernya"
Alexa refleks mengusap sudut bibirnya. Dan ia tidak merasakan apa-apa. Ia pun tersadar kalau Om gunung es itu hanya mengerjainya.
" Om ngapain sih duduk disini?"
" Lha ini kan kursi saya. Ya wajar lha saya duduk disini"
__ADS_1
" Coba liat kalau emang kursi ini milik Om"
" Nggak percaya an banget sih "
Kenan mengambil kertas yang ada di dalam saku jasnya. Kemudian a memberikan pada Alexa.
" Nih, liat baik-baik angka yang tertulis di sana"
Alexa mengambil kertas yang diberikan Kenan padanya. Dan ia menuruti apa yang dikatakan lelaki tampan itu. Ia melihat dengan teliti angka yang ada di sana.
" Nih saya kembalikan lagi"
" Udah percaya belum?"
" Hhmmm"
" Sekarang saya mau tidur, jangan ganggu saya lagi" kata Kenan sambil merebahkan kepalanya lagi di bahu Alexa.
" Emang Om pikir bahu saya bantal" kata Alexa sambil mendorong kepala Kenan dengan kuat.
" Pelit amat sih!"
" Kalau Om mau tidur, bawa kasur dan bantal dari rumah"
" Enakan tidur di bahu kamu"
" Dasar mesum"
Mimpi apa gue semalam? kenapa bisa gue satu pesawat dan juga satu tempat duduk sama Om gunung es yang suka nyosor itu.
Alexa memilih melihat keluar jendela. Ia tidak ingin berdebat dengan lelaki mesum itu. Dan ia berharap semoga cepat sampai di kota B.
Kena tidak menyangka akan di acuhkan sama seorang gadis kecil. Padahal di luar sana banyak wanita yang ingin duduk di sampingnya.
" Gadis tipis"
Alexa pura-pura tidak mendengar. Lagian namanya kan bukan gadis tipis.
" Gadis tipis"
Apa sih lelaki tua ini. Masa aku yang berisi kek gini dibilang tipis.
" Kalau nggak jawab, saya do'akan kamu nggak bisa ngomong beneran"
" Apa sih Om! jangan ganggu aku!"
Kenan kaget mendengar suara Alexa.
Galak amat sih gadis tipis ini.
" Makanya kalau di panggil itu nyaut"
" Aku lagi nggak mood ngomong sama Om. Dan lagi, kita itu tidak terlalu kenal"
" Udah pernah ciuman dua kali, kamu bilang kita tidak terlalu kenal. Apa perlu aku cium sekali lagi biar kita bisa kenal"
Alexa refleks menutup mulutnya. Karena dia tidak ingin gunung es itu mencuri ciumannya lagi.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚