
Alexa menatap Diva. Gadis yang tadi dengan lantangnya membanggakan keluarganya. Dan sekarang terlihat seperti macan kehilangan taringnya.
" Alexa, gue mohon kembalikan perusahaan papa gue"
Alexa tersenyum mendengar ucapan Diva.
" Kenapa disaat perusahaan orang tua Lo tidak bisa di selamatkan, baru Lo minta maaf sama gue? Lalu kemana perginya sifat Lo yang angkuh tadi?"
Diva terdiam. Ia benar-benar tidak tau harus bagaimana. Ia harus menyelamatkan perusahaan papanya. dan kalau pun ia harus berlutut di depan Alexa, maka akan ia lakukan.
" Gue sudah sering memperingatkan Lo supaya tidak mengusik gue. Tapi peringatan gue itu tidak Lo dengerin. Jadi sekarang Lo terima konsekuensinya. Karena apa yang Lo tanam, maka itulah yang akan Lo tuai "
" Lo emang manusia yang tidak punya hati!"
Alexa tertawa mendengarkan ucapan teman sekelasnya itu. " Apa Lo nggak salah ngomong?"
" Emang Lo nggak punya hati! bahkan keluarga Lo suka menindas orang!"
" Lo sadar dengan apa yang Lo katakan? terus bagaimana dengan kedua orang tua Lo, yang memaksa kepala sekolah untuk mengeluarkan gue dari sekolah? dengan alasan dia salah satu donatur di sekolah. Jadi nggak ada salahnya juga kalau gue memakai kekuasaan keluarga gue"
Anggun dan Clarissa tersenyum penuh bangga melihat cucunya membungkam mulut gadis yang angkuh itu.
Aditama memegang kaki Darren. Ia tidak ingin jatuh miskin. Dan lagi perusahaan itu ia bangun dengan jerih payahnya sendiri. Maka dari itu ia akan melakukan segala cara untuk mengembalikan perusahaannya.
" Tuan saya mohon jangan akuisisi perusahaan saya"
" Disini saya tidak punya hak. Karena semua keputusan ada pada putri saya"
" Saya akan jadi pelayan tuan seumur hidup jika tuan mau mengembalikan perusahaan saya"
" Maaf, saya tidak butuh pelayan. Lagian pelayan saya di mansion sudah banyak"
" Saya akan melakukan apapun tuan, asalkan tuan mau mengembalikan perusahaan saya"
" Bukankah sudah saya katakan, kalau keputusan ada pada putri saya"
Karena suaminya tidak berhasil membujuk Darren. Maka mama Diva pun turun tangan. Ia ikut berlutut di depan Darren dan istrinya.
" Tuan tolong kasihanilah kami" kata mama Diva.
" Kalian ini tuli atau gimana? dari tadi saya bilang, kalau keputusan ada di tangan putri saya. Jadi tidak ada gunanya kalian memohon pada saya"
Mama Diva merangkak menuju ke tempat Alexa. " Tolong jangan akuisisi perusahaan keluarga saya"
" Tante memohon pada saya?"
" Iya, saya memohon pada kamu"
" Tapi saya melihat cara memohon Tante tidak benar"
" Maksud kamu?"
" Tampar wajah Tante"
" Apa!"
" Ta.. tampar?"
" Yeah, seperti Tante menampar wajah saya tadi"
Kiran dan yang lainnya kaget mendengar ucapan putrinya.
" Berani sekali kau menampar putriku?!"
Deg.
Tubuh mama Diva terhenyak karena kaget. Wanita yang ada di hadapannya itu sangat menakutkan.
" Tangan mana yang kau gunakan untuk menampar putriku?"
Darren tidak akan mencegah istrinya kali ini. Karena wanita itu sudah berani menyentuh putrinya. Jadi ia harus di beri sedikit pelajaran, supaya kelak wanita itu tidak melakukan hal seperti itu lagi.
Sonya dan Trisno merinding melihat aura dari Kiran. Aura itu sangat mendominasi. Dan juga sangat menakutkan.
Mungkin benar apa yang di katakan oleh orang-orang di luar sana tentang keluarga besar itu. Tapi mereka tidak akan mengusik kalau tidak di usik duluan.
" Ma.. maafkan saya nyonya?"
__ADS_1
" Coba kalau anak yang kau besarkan dengan cinta dan kasih sayang saya tampar terus saya minta maaf. Apa kamu akan terima permintaan maaf saya?"
" Tentu saja saya akan memaafkan anda nyonya"
" Kau memaafkan karena kau tau status keluarga saya. Bukan karena ikhlas memaafkan"
" Sudah sayang, tampar aja anaknya. Dan kasih juga bonusnya" kata Darren.
" Kau dengar apa yang dikatakan suami saya?"
" Jangan tampar anak saya nyonya"
" Kenapa? bukankah tadi kau memperbolehkan aku menampar putri mu. Atau kau yang akan melakukannya sendiri?"
" Sa.. saya yang akan melakukannya sendiri nyonya"
" Ma.. mama, jangan tampar aku, Ma"
Plak..
Aawwww..
" Mama!"
" Saya sudah melakukan apa yang anda suruh nyonya"
" Good, tapi putri saya masih ingin bermain-main sama keluarga anda"
Kiran kembali duduk. Ia akan melihat bagaimana cara putrinya menyelesaikan masalah ini.
" Saya udah melakukan apa yang kamu minta" kata mama Diva ke Alexa.
" Saya tidak pernah meminta anda untuk menampar Diva"
" Apa maksud kamu?!"
" Apa anda lupa, kalau saya menyuruh anda untuk menampar wajah anda sendiri. Bukan menampar anak anda "
" Berani sekali kau mempermainkan saya?!"
Plak..
Suara tamparan itu menggema di ruangan itu. Dan bisa di pastikan pipi mama Diva memerah karena tamparannya sendiri.
" Saya sudah melakukan apa yang kamu suruh. Jadi batalkan akuisisi perusahaan saya"
" Baiklah akan saya batalkan"
" Terima kasih"
" Tapi?"
" Tapi apa?"
" Suami Tante tidak akan menjadi pemilik perusahaan lagi dan dia juga tidak akan menjadi direktur di perusahaan lagi"
" Lantas suami saya jadi apa?"
" Cleaning Service"
" Apa! kenapa harus cleaning Service?"
" Karena pekerjaan itu yang cocok untuknya. Tapi kalau anda tidak terima juga nggak apa-apa. Karena saya tidak akan rugi"
" Saya akan terima nona. Dan saya berterima kasih karena nona tidak jadi me-akuisisi perusahaan saya"
" Kenapa papa terima. Apa nanti kata teman-teman mama kalau mereka tau pekerjaan papa"
" Daripada kita tinggal di jalanan, mending terima aja pekerjaan itu. Setidaknya, kita masih bisa makan "
Sebenarnya Alexa juga tidak ingin melakukan ini. Tapi dia ingin memberikan sedikit pelajaran, supaya nanti mereka lebih bisa menghargai orang lain.
Vandy dan Jhonatan bangga pada cucu mereka. Walaupun Alexa masih kecil, tapi dia bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik. Dan memberikan hukuman pada orang yang sudah menyakitinya. Walaupun perusahaan itu tidak jadi di akuisisi.
" Pak Trisno"
" Ya tuan Darren"
__ADS_1
" Saya harap bapak merahasiakan identitas putri saya"
" Kenapa tuan?"
" Karena belum saatnya orang-orang tau siapa putri saya"
" Baik tuan, saya akan menutup rapat-rapat"
" Saya juga ingin bapak memperlakukan putri saya, sama dengan murid lainnya"
" Tapi tuan?"
" Tidak ada tapi-tapian. Saya tidak ingin putri saya mendapatkan perlakuan khusus dari sekolah karena statusnya"
" Baik tuan saya akan lakukan apa yang tuan katakan"
" Baiklah, karena masalahnya sudah selesai. Saya dan keluarga pamit dulu"
" Baik tuan "
Kiran melihat guru yang ada di samping putri. Ia yakin guru itu sudah membantu putrinya. Ia berjalan menghampiri Sonya.
" Apa anda wali kelasnya Eca?"
" Benar nyonya"
" Terima kasih karena sudah membantu putri saya"
" Sama-sama nyonya. Saya melakukan ini karena saya tau kalau Alexa tidak bersalah"
" Pak Trisno" panggil Kiran.
" Iya nyonya"
" Guru seperti ini harus anda pertahankan"
" Baik nyonya"
" Saya permisi dulu"
" Baik nyonya"
Kiran menyusul suami, orang tua dan mertuanya yang sudah keluar dari tadi.
" Buk, saya permisi dulu ya. Mau menemui mommy dulu"
" Silakan"
Alexa segera menyusul mommy-nya. Ia ingin meminta maaf karena tidak menceritakan masalah ini pada mommy-nya.
" Mommy"
Kiran menghentikan langkahnya. Ia tersenyum melihat putrinya.
" Eca nggak ke kelas?"
" Maaf"
" Eh!"
Kiran kaget karena tiba-tiba putrinya meminta maaf padanya.
" Maaf karena tidak menceritakan masalah ini pada mommy"
Kiran membelai rambut putrinya. " Mommy maafkan. Karena mommy tau, Eca pasti punya alasan tidak menceritakan masalah ini pada mommy"
" Mommy memang, mommy terbaik"
" Sekarang Eca kembali ke kelas, gih"
" Ok Mom"
Alexa kembali ke kelasnya. Ia senang karena mommy-nya tidak marah padanya.
To be continue.
Happy reading 😚😚
__ADS_1