
" Om, kita mau kemana?" tanya Alexa saat mobil sudah jalan.
" Ke tempat yang paling di sukai cewek-cewek"
" Benarkah? tempat apa itu?"
" Nanti kamu juga tau"
Alexa penasaran, tempat apa yang dimaksud sama gunung es itu. Apalagi tadi dia bilang, kalau tempat itu disukai sama cewek-cewek.
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit. Mereka pun sampai di salah satu mall terbesar di kota B.
Alexa menatap bangunan yang tinggi yang ada di hadapannya. Ia tau betul itu bangunan apa.
" Ini kan mall?"
" Iya, siapa bilang lapangan bola"
" Tadi Om bilang kita mau ketempat yang disukai para wanita. Tapi kok malah kesini?"
" Ini tempat yang saya maksud itu"
" Mall?"
" Iya, kenapa? kamu nggak suka?"
" Nggak"
Kenan kaget mendengar ucapan gadis cantik yang ada di sampingnya itu. Bagaimana bisa gadis itu nggak suka di ajak ke sana. Bukankah cewek akan suka di ajak ke mall.
" Yuk kita balik aja"
" Kok balik. Kan kita belum belanja?"
" Belanjanya ditempat lainnya"
" Udah disini aja. Lagian udah nyampe juga. Yuk masuk" kata Kenan sambil menggandeng tangan Alexa.
Kedatangan mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Bagaimana tidak, cowoknya tampan bak bintang film. Begitu juga dengan ceweknya.
" Mau beli apa dulu?" tanya Kenan.
" Nggak tau, soalnya belum ada yang menarik"
" Ya udah kita keliling aja dulu. Siapa tau nemu yang menarik"
Beni diam-diam mengambil foto sejoli yang sedang bergandengan tangan itu. Ia mengirim foto itu pada mamanya Kenan. Setelah mengirimkan foto tuanya, Beni menyimpan kembali ponselnya.
" Om kita ke sana yuk"
" Ngapain ke sana?"
" Aku mau beli mainan"
" Mainan untuk siapa? emang kamu punya keponakan yang masih kecil?"
" Nggak! buat adik-adik di panti asuhan"
" Panti asuhan?"
" Hhmmm"
" Kamu sering ke panti asuhan?"
" Sering nggak juga. Satu kali seminggu lha aku ke sana"
Kenan kagum sama Alexa. Ia sangat salut dengan jiwa dermawan gadis itu. Jarang sekali ada orang seperti dia. Sudah kaya, cantik dan juga baik. Keinginan Kenan semakin besar untuk lebih dekat lagi dengan gadis cantik itu.
" Mau nggak Om?" tanya Alexa lagi. Karena ia melihat Kenan hanya diam membisu.
" Ayuk, kamu pilih aja semua mainan yang terbaik. Nanti biar saya yang bayar"
" Beneran Om"
__ADS_1
" Hhmmm"
" Baiklah, nanti Om jangan nangis ya kalau uang yang ada di card nya berkurang?"
Kenan tertawa mendengar ucapan Alexa. Apa gadis tipis itu tidak tau berapa banyak uang yang ada di dalam black card-nya. Jangankan membeli mainan, membeli pulau aja dia bisa.
" Habiskan aja kalau kamu sanggup"
" Ok"
Mereka pun masuk kedalam toko mainan yang berkualitas bagus. Karena Alexa ingin menghabiskan uangnya Kenan. Dan lagi, ia memang selalu membelikan mainan terbaik untuk adik-adik yang ada di panti.
" Ben"
" Iya tuan"
" Coba cari tau panti asuhan mana yang sering di datangi gadis tipis itu"
" Baik tuan"
Beni segera menelpon salah satu anak buahnya. Ia meminta anak buahnya untuk mencari tau panti asuhan yang sering di datangi keluarga Narendra.
Kenan mengikuti kemana Alexa pergi. Bahkan ia juga ikut membantu memilih mainan. Karena kebetulan dia punya keponakan yang masih kecil, jadi dia cukup tau mainan untuk anak-anak.
" Om"
" Hhmmm"
" Aiden apa kabarnya?"
" Alhamdulillah baik"
" Udah lama nggak ketemu sama dia. Kangen"
" Sama Aiden aja kangennya? sama Omnya nggak kangen?"
" Nggak!".
" Ngapain kangen sama Omnya"
Kenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa omongan gadis kecil itu selalu pedas padanya.
" Sekali-kali kangen sama Omnya juga dong"
" Ogah "
" Masa iya kamu nggak mau kangen sama orang yang tampan kek saya"
" Tampan darimana?"
" Dari lahir lha. Asal kamu tau, diluar sana banyak cewek yang ngantri"
" Emang mau ngapain mereka antre?"
" Mau menerima sembako! "
" Oh"
Ingin rasanya Kenan mengacak-acak rambut Alexa. Sungguh ia kesal sekali sama gadis tipis itu.
" Om ini bagus nggak?"
" Tau ah" kata Kenan sambil pergi meninggalkan Alexa.
" Dia kenapa?"
Beni menutup mulutnya menahan tawa. Ini kali pertamanya ia melihat tuanya bersikap seperti anak kecil. Dan pake acara ngambek pula lagi.
Coba saja nyonya besar bisa melihat tingkah anaknya yang seperti anak kecil itu.
" Om Ben"
" Iya nona"
__ADS_1
" Bisa tolong ambilkan troli yang lebih gede nggak?"
" Bisa nona, sebentar saya ambilkan dulu"
Beni segera mengambil troli besar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian memberikannya pada Alexa.
" Ini trolinya nona"
" Makasih Om Ben"
" Sama-sama nona"
Alexa memindahkan semua mainan yang ada di troli kecil ke kedalam troli yang lebih besar. Setelah itu ia kembali melanjutkan memilih mainannya.
Kenan kesal karena Alexa tidak datang menghampirinya. Padahal ia sudah pergi cukup jauh. Walaupun masih dalam toko yang sama.
" Apa dia nggak ada niat mau membujuk atau apalah, gitu?"
" Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu karyawan toko. Karena ia bingung melihat Kenan berjalan sambil ngedumel.
" Nggak! mending mbak jauh-jauh dari saya"
" Dasar orang aneh" kata karyawan itu sambil berlalu pergi.
Ingin rasanya Kenan melenyapkan karyawan itu. Bisa-bisanya karyawan itu mengatakan dirinya aneh. Ditambah lagi sekarang dia lagi kesal karena nggak di bujuk sama Alexa.
Kenan pun memutuskan untuk menunggu Alexa di dekat kasir. Dia sengaja menunggu di sana supaya gadis tipis itu tidak susah mencarinya.
Akhirnya Alexa sudah selesai memilih mainan. Dan troli besar itu juga sudah terisi penuh.
" Om Ben, udah penuh nih?"
" Iya nona, sekarang kita ke kasir "
" Om gunung es kemana?"
" Dia nunggu kita di kasir nona"
" Baiklah kita ke kasir sekarang"
Beni membantu Alexa mendorong troli yang berisi mainan. Mereka berdua pun berjalan menuju kasir.
" Lama ya Om"
" Iya, sampe pegal nih kaki saya karena berdiri lama"
" Maaf deh Om. Lagian di sana ada kursi, kenapa Om nggak duduk?"
" Udah cepat bayar, sana!"
" Card nya dulu dong"
Kenan mengambil black card yang ada di dompetnya. Kemudian dia memberikan pada gadis tipis.
" Jangan kaget ntar ya Om, kalau uang di card-nya berkurang banyak"
" Udah bayar aja dulu"
" Ok"
Para pembeli yang ada di sana kaget melihat isi troli Alexa. Mereka berpikir untuk apa mainan sebanyak itu untuk gadis kecil itu. Dan harga mainan yang ada di sana pun tidak murah.
" Beli mainan sebanyak itu, apa gadis kecil itu mau membuka toko" kata salah satu pengunjung.
" Tau tuh. Dan lagi, apa gadis itu mampu membayar semua mainannya?"
" Kamu benar, apa dia nggak tau berapa harga satu mainan itu?"
Alexa hanya membalas dengan senyuman setiap pertanyaan ibu-ibu itu. Ia tidak perlu menjawab. Karena nanti ibu-ibu itu bisa melihat sendiri mampu atau nggaknya dia membayar.
To be continue.
Happy reading 😚😚
__ADS_1