Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Memberi pelajaran kecil


__ADS_3

Akhirnya semua pekerjaan Axel pun selesai. Remaja tampan itu segera membersihkan peralatan pel. Selesai membersihkan semua peralatan kebersihannya, Axel pergi ke ruang ganti.


" Fikri!, kamu kenapa?"


" Makanan yang kamu beliin tadi hilang"


" Huh?, kok bisa?"


" Sepertinya ada yang membuka loker aku"


Pikiran Axel langsung tertuju pada ketiga orang itu. Ia yakin pasti mereka yang sudah mengambil makanan Fikri. Kali ini dia tidak akan tinggal diam.


" Aku udah seneng banget karena adik aku bisa makan makanan yang enak. Tapi sekarang makanannya sudah hilang. Mereka tidak bisa cobain makanannya"


" Kamu jangan sedih, nanti aku belikan lagi makanannya"


" Jangan!. Mending uangnya kamu kasih ke orang tua kamu. Lagipula aku nggak mau merepotkan kamu Xel"


" Nggak ngerepotin kok. Bentar ya"


" Kamu mau kemana?"


" Mau nelpon om aku dulu"


Axel mengambil ponselnya. Ia menghubungi papa sahabatnya.


" Hallo, assalamualaikum Om"


" Wa'alaikum salam, Axel. Ada yang bisa om bantu?"


" Ada nih Om. Aku butuh dua orang bodyguard"


" Cuma dua orang?"


" Dua orang cukup Om"


" Mau bermain-main, ya?"


" Nggak. Axel mau kasih pelajaran sama orang yang serakah"


" Kalau gitu biar om aja yang kasih pelajaran mereka"


" Emang nggak ngerepotin, Om?"


" Nggak. Kebetulan om juga lagi kesel, dan pengen banget hajar orang"


" Wah pas banget dong Om. Ntar aku kirim foto orangnya. Kasih pelajarannya jangan parah banget ya Om"


" Kenapa?"


" Karena Axel punya hadiah untuk mereka"


" Ok siap. Om tunggu foto orangnya"


" Iya Om. Kalau bisa, Om segera ke perusahaan Daddy. Karena sebentar lagi orang pulang kerja"


" Emang mereka karyawan daddy kamu?"


" Iya Om"


" Baiklah, Om segera ke sana"


" Ok Om"


Sambungan telpon pun berakhir. Axel menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Tapi sebelumnya ia mengirim foto ketiga senior jahat itu pada Doni. Setelah itu ia kembali menemui Fikri.


Axel memang tidak turun tangan sendiri. Karena ia tidak ingin seniornya mengetahui indentitasnya. Dan lagi ia ingin ketiga orang itu meminta maaf secara langsung sama Fikri.


" Kamu udah mau pulang?"


" Iya Xel. Lagian ini juga udah jam pulang kerja"


" Bareng yuk"


" Emang kamu tinggal dimana?"


" Di daerah C"


" Itu kan jauh dari rumah aku. Dan kita nggak searah"


" Ya nggak apa-apa, kan kita satu lift"


" Ya udah, ganti baju dulu"


" Hhmmm"


Axel dan Fikri mengganti baju tugas mereka dengan baju yang mereka pakai tadi. Setelah itu mereka menuju lift untuk turun ke lobi.


...***...


Doni sudah sampai di perusahaan tuan mudanya. Ia menunggu para karyawan keluar dari perusahaan. Karena ini sudah jam pulang kantor.


Mana mereka, aku udah nggak sabar ingin memukul wajah mereka.


Axel sudah memberitahu Doni melalui chat singkat. Tentang kejahatan apa yang sudah dilakukan ketiga orang itu pada temannya. Dan Doni pun sangat emosi membaca chat itu.

__ADS_1


Satu persatu para karyawan keluar dari perusahaan. Doni pun memfokuskan penglihatannya pada karyawan cowok. Karena ia tidak boleh kehilangan tiga orang jahat itu.


Nah itu mereka.


Doni mengikuti ketiga lelaki itu. Ia harus mencari tempat yang sepi untuk menghajar ketiga cecunguk itu. Karena kalau di tempat rame, pasti tidak akan seru. Dan pastinya ia tidak bebas menghajar mereka bertiga.


" Sepertinya ada yang mengikuti kita?"


Kedua teman Faisal pun menoleh kebelakang. Tapi tidak ada orang dibelakang mereka.


" Nggak ada orang"


" Iya, nggak ada orang"


" Mungkin cuma perasaan aku aja"


Tiba di tempat yang sepi, Doni pun melancarkan aksinya. Ia melempar salah satu dari teman Faisal dengan batu. Batu itupun tepat mengenai kepala teman Faisal.


Aaawwww...


" Kamu kenapa?!"


" Ada yang melempar kepalaku. Sakit banget"


" Siapa di sana!. Cepat keluar!" kata Faisal.


Doni dengan gagahnya keluar dari persembunyiannya. Inilah saat yang dia tunggu-tunggu. Musuh memanggilnya.


" Kamu yang melempar teman saya dengan batu?"


" Iya, kenapa?"


" Kamu nggak takut dengan kami"


" Tidak!"


" Kamu nggak tau siapa kami?!"


" Saya tau. Kalian itu tiga orang pencuri yang harus diberantas"


Faisal dan kedua temannya kaget mendengar jawaban Doni. Kenapa orang asing itu mengatakan mereka pencuri.


" Jangan asal tuduh!. Emang kamu punya bukti kalau kami ini pencuri?"


" Tentu saja. Tapi sebelum saya menunjukkan buktinya, saya mau bermain-main dengan kalian"


Tanpa menunggu lama, Doni menghajar ketiga senior Axel. Ia tidak memberi cela mereka untuk membalas serangannya. Nggak butuh waktu lama, ketiga lelaki itupun terkapar di lantai.


" A..ampun Om!. Jangan pukul kami lagi"


" Iya Om"


Ketiga senior Axel pun saling lirik. Apa lelaki dewasa itu sudah gila. Badan mereka sudah mau remuk dia bilang cuma segitu.


" Om mau apa dari kami?. Uang?. Kami akan berikan Om"


" Kalian pikir saya kekurangan uang!. Dan lagi, siapa yang mau uang curian"


" Nggak Om. Ini uang gaji kami sendiri"


Doni pun teringat pesan Axel tadi. Kalau dia harus membeli makanan untuk adik Fikri.


" Keluarkan semua uang yang kalian punya"


" Semuanya Om?"


" Iya semuanya"


" Ba.. baik Om"


Faisal dan kedua temannya mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompet mereka. Kemudian mereka memberikan pada Doni.


" I..ini Om"


" Cuma segini uang kalian?!"


" Iya Om, nggak ada lagi. Kalau nggak percaya, liat aja"


" Uangnya saya ambil. Ingat, kalau kalian masih saja mencuri dan menggangu orang lain saya akan beri pelajaran yang lebih dari ini"


" Kami janji Om nggak akan mencuri dan menggangu orang lagi"


" Bagus. Dan saya akan liat buktinya"


" Baik Om"


" Oh iya satu lagi, jangan coba-coba menindas Fikri lagi"


" Fikri?"


" Iya Fikri"


" Emang Om siapanya Fikri?"


" Saya Om nya"

__ADS_1


Faisal dan kedua temannya shock mendengar ucapan lelaki yang sudah menghajar mereka tadi. Mereka tidak menyangka kalau Fikri mempunyai Om yang hebat.


" Besok kalian bertiga harus meminta maaf sama dia"


" Ba..baik Om"


" Kalau kalian bohong, kalian tau kan akibatnya?"


" Ta..tau Om"


" Saya memperhatikan kalian bertiga"


Doni pun pergi meninggalkan ketiga senior Axel. Ia akan membelikan makanan untuk orang tua dan juga adik Fikri. Karena Axel bilang dia udah sampai di lobi.


Doni mencari warung tenda terdekat. Ia memesan menu makanan yang sama persis dengan yang di pesankan Axel tadi. Setelah itu ia segera menemui Axel.


...***...


" Kamu pulang naik apa Xel?"


" Bus Fik. Kalau kamu?"


" Aku sama motor"


" Kamu bawa motor?"


" Iya Xel"


" Yuk aku anterin sampe halte depan "


" Beneran nih?"


" Beneran?. Aku ambil motor dulu ya"


" Ok "


Fikri mengambil motornya di parkiran khusus sepeda motor. Sampai di parkiran ia dikagetkan sama seorang lelaki bertubuh kekar.


" Astagfirullah"


" Maaf kalau saya mengagetkan kamu"


" Iya Om, kaget banget malah. Om mau ngambil motor juga?"


" Nggak. Saya kesini mau menemui kamu"


" Saya?"


" Kamu yang bernama Fikri, kan?"


" Iya Om"


" Nih saya ada bingkisan untuk kamu"


" Bingkisan? Untuk saya Om?"


" Iya untuk kamu"


" Sebelumnya maaf ya Om, bukan maksud saya menolak pemberian Om. Saya nggak bisa terima bingkisannya. Karena saya tidak tau apa isi bingkisan ini dan juga Om dapat darimana. Jadi maaf banget Om, saya nggak bisa terima"


Ya Fikri takut kalau bingkisan itu isinya bom atau juga sesuatu yang berbahaya. Dan ia tidak ingin terlibat dalam hal-hal seperti itu. Karena sekarang banyak kasus kejahatan yang modusnya menawarkan bingkisan.


" Kamu tenang aja, isi bingkisan ini makanan kok. Kebetulan tadi saya tidak sengaja dengar pembicaraan kamu dengan teman kamu"


Fikri menatap lelaki bertubuh kekar itu dari atas sampai bawah. Dan gayanya memang tidak seperti orang jahat.


" Ayo ambil"


" Om nggak ingin berbuat jahat, kan?"


" Astagfirullah, nggak. Saya tulus dan ikhlas untuk memberi kamu makanan"


" Makasih ya Om"


" Sama-sama. Ini ada sedikit uang juga untuk kamu dan adik-adik kamu"


" Masya Allah, Om baik banget. Tapi ini nggak uang hasil korupsi, kan Om?"


Doni tertawa mendengar pertanyaan Fikri. Bisa-bisanya Pemuda itu berkata seperti itu padanya.


" Tenang aja, makanan dan uang itu halal"


" Alhamdulillah. Aku terima nih Om"


" Hhmmm"


" Makasih Om, saya permisi dulu"


" Sama-sama Fik"


Setelah berpamitan, Fikri pun pergi dari sana. Ia akan mengantarkan temannya ke halte bus yang ada di depan perusahaan.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2