
Alisha sedang membereskan pakaian dan juga barang-barangnya. Karena besok ia sudah tidak tinggal di kontrakan ini lagi. Ia akan pindah ke kontrakan yang lebih bagus.
" Sha"
" Ya Nek"
" Ponsel kamu berbunyi " kata sang nenek sambil memberikan ponsel pada Alisha.
" Makasih Nek"
Alisha melihat siapa yang menghubunginya. Ia melihat nama Axel tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, ia segera menjawab panggilan lelaki tampan itu.
" Hallo, Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam. Lagi apa?"
" Lagi beres-beres "
" Emang mau kemana, kok berberes?"
" Mau pindah"
" Pindah?"
" Hhmm"
" Kemana? terus sekolahnya juga pindah?"
Alisha tersenyum mendengar serentetan pertanyaan dari lelaki tampan itu.
" Aku pindahnya nggak jauh-jauh kok. Dan aku juga masih sekolah di SMA Tunas Bangsa"
" Syukurlah. Terus pindah kemana?"
" Ntar kamu juga tau"
" Nggak mau kasih tau nih?"
" Bukan nggak mau kasih tau"
" Terus?"
" Biar jadi kejutan"
" Ya deh"
" Ngambek nih ceritanya?"
" Nggak "
" Yakin?"
" Yakin. Oh iya gimana kabar nenek kamu?"
" Alhamdulillah nenek sehat. Kamu lagi apa sekarang?"
" Udah ngobrol dari tadi, nanyanya baru sekarang"
" Nggak apa-apa. Jadi kamu lagi apa?"
" Lagi baring aja"
" Pasti baru bangun tidur?"
" Kok tau?"
" Suaranya serak"
" Emang serak banget ya?"
" Nggak kok. Oh iya, Alexa mana?"
" Nggak tau, mungkin tidur"
" Aku nggak nyangka lho kalau kalian berdua itu kembaran"
" Nggak nyangka gimana?"
" Iya, soalnya kalian keliatan mesra banget"
" Mesra apaan? gelud terus, dibilang mesra"
" Beneran. Aku aja sempat mikir kek gitu kemarin"
" Berarti kamu orang yang ke seratus yang bilang kek gitu?"
" Benarkah?"
" Iya. Satu sekolah aja nyangka kita berdua pacaran. Padahal kan kita berdua kembar"
" Mungkin karena sikap kamu ke Alexa, makanya orang jadi salah paham gitu"
" Tapi bagus juga sih mereka salah paham gitu. Jadi nggak ada yang gangguin aku sama Eca"
" Ganggu gimana?"
__ADS_1
" Menyatakan cinta mereka sama aku"
" Wajarlah mereka kek gitu. Secara kan kamu tampan"
" Tampan?"
" Hhmm"
" Kamu juga cantik "
Wajah Alisha merona mendengar ucapan Axel barusan. Untung lelaki tampan itu tidak ada di sana.
" Ya udah, aku mau mandi dulu ya. Kamu lanjut lagi beres-beres nya"
" Hhmm"
" Sampai jumpa besok di sekolah. Bye"
" Bye"
Panggilan pun berakhir. Alisha meletakkan ponselnya di atas tempat tidurnya. Setelah itu ia kembali melanjutkan membereskan pakaiannya.
...***...
Setelah menelpon Alisha, Axel seperti mendapatkan vitamin. Ia segera bangkit dari tidurnya. Kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Lima belas menit lamanya Axel mandi. Selesai mandi ia Axel pergi ke walk-in closet untuk mengambil pakaiannya. Sore ini ia memakai baju santai.
Sekarang wajah Axel sudah terlihat fresh. Apalagi dengan rambutnya yang sudah disisir rapi. Setelah semuanya selesai ia pun keluar dari kamarnya.
" Bik, kok sepi ya. Mommy sama daddy kemana?"
" Nona sama tuan pergi keluar, Den. Kalau nona Alexa pergi ke bandara"
" Bandara?"
" Iya"
" Ngapain dia ke bandara?"
" Dia bilang mau menjemput Den Nando"
" Astaga, kok aku bisa lupa kalau paman pulang hari ini. Eca pergi ke bandara sama apa Bik?"
" Mobil Den"
" Dia yang nyetir, atau dianterin?"
" Nona Eca yang nyetir Den"
" Ya udah, makasih ya Bik"
" Paman" panggil Axel saat melihat lelaki tampan keluar dari mobil.
" Axel sudah bangun?"
" Udah dong"
" Eh raja tidur, udah bangun apa masih tidur nih?" tanya Alexa.
" Masih tidur. Ya udah bangunlah. Emang kamu nggak liat aku udah tampan kek gini"
" Ck, narsis"
" Bukan narsis, tapi kenyataan. Dan yang bilang aku tampan juga banyak"
" Berarti mata mereka rabun"
" Bilang aja Eca iri sama aku?"
" Iri, sorry ya"
Nando menghela nafasnya mendengar perdebatan Axel dan Alexa. Tapi terkadang ia juga kangen dengan perdebatan mereka berdua. Karena tidak mau mendengar perdebatan kakak adik itu, Nando memilih masuk kedalam mansion.
" Paman, tunggu" kata Alexa sambil berlari menyusul pamannya. Begitu juga dengan Axel.
Nando tidak mendengarkan panggilan keponakannya. Ia terus berjalan masuk kedalam mansion.
" Gara-gara kamu paman jadi pergi"
" Kok aku?"
" Ya iyalah, coba kamu diem aja tadi, pasti paman nggak akan pergi"
" Kenapa selalu aku yang disalahkan?"
" Karena kamu memang biang masalah"
Karena pamannya sudah pergi ke kamarnya. Alexa memutuskan untuk ke kamarnya juga. Karena ia nggak mau dekat-dekat dengan saudara kembarnya itu.
" Kamu mau kemana?"
" Kamar"
" Disini aja, kita main PlayStation"
__ADS_1
" Malas"
" Ayolah. Lagian kita udah lama nggak main "
" Baiklah"
" Nah gitu dong"
Alexa pun menemani saudara kembarnya main PlayStation. Karena apa yang dikatakan Axel tadi emang bener, mereka sudah jarang main PlayStation bareng.
...***...
Kevin yakin kalau ponselnya diriset. Tapi ia tidak tau siapa yang melakukan itu. Karena tadi ia pergi ke supermarket dan ponselnya ia tinggalkan di kamar.
Untung kemarin ia sudah memindahkan semua foto Alexa ke komputernya. Jadi ia bisa memasukkan kembali ke dalam ponselnya. Tapi nomor gadis cantik itu sudah tidak ada lagi di ponselnya.
" Bik"
" Ya Den"
" Bibik tadi ada masuk kamar aku nggak?"
" Nggak Den. Emang kenapa? ada barang Aden yang hilang?"
" Nggak Bik"
" Syukurlah, bibik kirain ada barang Aden yang hilang"
" Mama ada masuk kamar aku nggak tadi Bik?"
" Bibik kurang tau Den, soalnya bibik daritadi di dapur"
" Baiklah, makasih Bik"
" Sama-sama Den"
Kevin kembali ke kamarnya. Ia yakin, tadi ponselnya baik-baik saja saat ia tinggalkan. Tapi saat ia pulang kenapa semua file di ponselnya hilang.
" Oh iya, kenapa nggak kepikiran dari tadi. Di rumah ini kan ada CCTV nya. Dengan begitu aku bisa tau siapa yang masuk kedalam kamar aku"
Kevin segera pergi ke ruangan CCTV. Walaupun CCTV itu hanya sampai depan kamarnya, setidaknya ia bisa tau orang yang masuk kedalam kamarnya.
Sesampainya di ruang CCTV. Kevin segera melihat rekaman satu jam yang lalu. Saat ia pergi ke supermarket. Setelah ketemu rekaman satu jam yang lalu. Ia segera memutar video itu.
" Mama!"
Kevin juga sudah menduga kalau mamanya yang masuk ke dalam kamarnya. Karena hanya mamanya yang punya akses untuk keluar masuk kamarnya.
Karena ia sudah tau siapa yang masuk kedalam kamarnya. Kevin pun segera menemui mamanya. Ia akan menanyakan kenapa mamanya masuk kedalam kamarnya.
" Ma, mama!"
" Kenapa sih Vin teriak-teriak kek gitu?"
" Mama kan yang meriset ponsel aku?"
" Nggak!"
" Jangan bohong Ma. Pas aku ke supermarket tadi mama masuk ke kamar aku kan?"
" Harus berapa kali mama bilang sama kamu. Kalau mama nggak ada ke kamar kamu"
" Kenapa mama nggak mau ngaku. Aku udah liat CCTV, dan di sana aku melihat mama masuk ke kamar aku!"
Plak..
" Berani kamu membentak mama!"
" Maaf Ma, aku nggak bermaksud membentak mama"
" Iya mama yang sudah meriset ponsel kamu"
" Kenapa mama melakukan itu Ma? kenapa?"
" Karena mama mau melihat siapa gadis yang bersama kamu waktu di mall itu"
" Dia gadis yang aku cintai Ma"
" Terus bagaimana dengan Citra?"
" Aku nggak mencintai Citra Ma, begitu pun sebaliknya"
" Dari keluarga mana gadis itu?"
Kevin hanya diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan mamanya.
" Kenapa kamu diam? apa gadis itu dari kalangan bawah?"
Lagi-lagi Kevin diam.
" Baiklah, silakan kalau kamu masih ngotot mau sama gadis itu. Tapi jangan harap mama akan merestui hubungan kamu dengan dia. Karena mama tidak akan membiarkan gembel masuk ke dalam keluarga kita. Ngerti kamu!"
Brak.
Mona membanting pintu kamarnya. Ia sangat marah sekarang. Karena putranya tidak mau mendengarkan ucapannya.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚