
Axel merasakan aura yang berbeda dari dalam markas. Begitu juga dengan Alisha dan yang lainnya.
Eca.
Axel segera berlari ke dalam markas. Namun langkahnya terhenti karena anak buah Edmond menghadangnya.
" Minggir!. Kalau tidak kalian akan menyesal"
" Menyesal kenapa?. Justru kalau kami tau kau mau menyelamatkan teman mu yang ada di dalam sana. Jadi kami tidak akan membiarkan itu. Makanya jangan cari masalah dengan kelompok mafia"
Axel tersenyum smirk. " Justru sebaliknya. Bos kalian lha yang tidak aman. Karena saudara kembar ku sudah dalam mode on "
Anak buah Edmond tertawa mendengar ucapan Axel. Bagaimana bisa seorang anak kecil akan membunuh bos mafia yang cukup di takuti di negara L.
" Sepertinya kau lagi bermimpi anak kecil"
" Saya tidak lagi bermimpi"
Anak buah Edmond kaget melihat mata Axel yang berubah menjadi merah. Dan tatapan Axel juga sangat menakutkan.
" Kalian takut melihat mata ku?. Seperti inilah mata kakak ku saat ini. Dan keinginan membunuhnya dua kali lipat dari biasanya. Jadi biarkan saya masuk kalau masih ingin melihat bos kalian hidup"
" Kau jangan bercanda anak kecil. Hanya karena mata mu berubah menjadi merah, bukan berarti kakak mu itu bisa membunuh bos kami. Kau lupa siapa kami?"
" Terserah kalian, yang penting saya sudah mengingatkan"
" Banyak omong kau bocah. Kalian, cepat serang anak kecil itu!"
Anak buah Edmond yang berjumlah sepuluh orang itu langsung menyerang Axel. Mereka menyerang Axel secara bersamaan. Mereka tidak akan membiarkan Axel masuk kedalam.
Axel tidak ingin berlama-lama dengan anak buah Edmond. Ia mengambil gerakan memutar, dan menendang semua anak buah Edmond dengan satu kali tendangan.
Bruk.
Anak buah Edmond pun tersungkur ke lantai. Axel pun memanfaatkan itu untuk masuk kedalam markas.
" Rel, tolong atasi mereka dulu. Gue mau menahan Eca "
" Ok bro"
Axel segera masuk kedalam markas. Sedangkan sahabatnya dan bodyguard mengatasi anak buah Edmond yang masih tersisa.
...***...
Axel kaget melihat keadaan saudara kembarnya. Bajunya sudah dipenuhi darah. Dan keadaan lawannya juga sudah sekarat.
" Eca"
Alexa menoleh kearah suara yang ia kenal. Ya Walaupun dalam mode mata merah seperti itu, Alexa masih bisa mengenali orang-orang terdekatnya. Dia sudah bisa mengendalikan matanya.
" Ngapain kamu kesini?"
" Kamu jangan sampai orang itu"
" Kenapa?"
__ADS_1
" Mati itu hukuman paling ringan. Lebih baik kita siksa secara perlahan. Dan biarkan dia sendiri yang minta untuk mati"
Edmond dapat melihat mata anak laki-laki yang berjalan mendekatinya. Matanya sama dengan gadis kecil itu. Mereka berdua mempunyai mata merah seperti wanita itu.
" Siapa kalian sebenarnya?"
" Kami berdua malaikat maut anda " jawab Axel.
" Kenapa mata sama dengan wanita itu?"
" Wanita mana?" tanya balik Alexa.
" Wanita yang pernah saya temui belasan tahun yang lalu di negara L"
Alexa dan Axel saling lirik. Mereka tidak tau maksud bos mafia itu. Dan lagi mereka berdua tidak mengenal wanita yang di sebutkan sama Edmond.
" Apa kalian berdua anaknya?. Karena mata kalian berdua sama dengan matanya"
Axel dan Alexa tau kalau di keluarga besarnya hanya mommy-nya yang memiliki mata merah. Dan Daddy mereka bilang kalau mata ini sangat spesial. Jadi tidak semua orang memiliki mata seperti ini.
Tidak salah lagi, wanita yang di maksud sama bos mafia itu adalah mommy mereka. Apalagi mommy mereka juga pernah tinggal lama di negara L.
" Ya, kami putri dari wanita itu. Lebih tepatnya, putri dari Zanna Kirania Dwipangga" kata Axel.
Edmond tersenyum pahit. Ternyata dua anak kecil ini benar putri dari wanita yang pernah melumpuhkannya hanya dengan beberapa kali serangan.
" Apa lelaki ini pernah di tolak sama mommy. Dan sekarang dia balas dendam sama kita?" bisik Alexa pada saudara kembarnya.
" Mungkin. Mommy kita kan cantik, jadi wajar banyak yang suka"
" Apa anda salah satu korban penolakan mommy saya?"
Mata twins A sudah kembali normal. Dan rasa ingin membunuh Alexa juga sudah tidak sebesar tadi lagi.
" Apa Om datang kesini mau balas dendam karena pernah di tolak mommy saya?" tanya Alexa lagi.
" Tidak!. Saya tidak kenal dengan kalian berdua. Saya kesini ingin membalaskan dendam kekasih saya"
Alexa menatap wanita yang masih dalam penjagaan Jakson. " Om kekasihnya nenek sihir itu?"
" Hhhmmm"
" Saya kasih tau sama Om ya. Nenek sihir ini dulu juga pernah mau melenyapkan nyawa saya. Tapi rencananya itu gagal. Dan saya tidak membunuh dia karena kemarin saya yakin dia bisa berubah. Nyatanya malah tambah parah. Jadi sekarang ini saya tidak akan memberikan kesempatan untuk hidup lagi"
" Jangan bunuh dia!"
" Kenapa saya tidak boleh membunuh orang yang ingin melenyapkan nyawa saya dua kali"
" Karena dia lagi mengandung anak saya"
Alexa kaget mendengar ucapan bos mafia itu. Apa bener wanita itu sedang hamil?. Tapi kenapa di saat hamil pun wanita itu masih merencanakan kejahatan.
" Saya siap menggantikan nyawa dia. Asalkan kalian mengampuninya. Setidaknya sampai anak saya lahir"
Alexa menghela nafasnya. Kenapa setiap kali ia ingin membunuh wanita ular itu selalu saja ada yang menghalanginya. Sekarang wanita itu sedang hamil. Jadi mana mungkin dia membunuh wanita hamil.
__ADS_1
" Anda yakin wanita itu sedang mengandung anak anda?"
" Saya yakin, karena saya lah yang mengantarkan dia pergi ke dokter untuk memeriksa kandungannya"
" Jakson lepaskan tangan wanita itu"
Jakson pun melepaskan tangan Clara dari mulutnya. Setelah tangan Clara tidak lagi di mulutnya, kucing besar itu langsung muntah-muntah.
" Coba lihat, Jakson saja tidak sudi memakan daging mu"
Clara segera menjauh dari kucing besar itu. Jangan sampai tubuhnya dicabik-cabik. Apalagi luka di tangannya lumayan dalam karena gigitan Jakson tadi.
" Berterima kasihlah pada bayi yang ada dalam kandungan mu. Karena dia nyawa kau bisa selamat hari ini. Dan mungkin Allah juga punya rencana, makanya kau masih diberi kesempatan untuk melihat dunia ini"
" Tapi kau jangan senang dulu nenek lampir. Walaupun saudara kembar saya sudah memaafkan kamu. Bukan berarti kamu bisa keluar dari markas ini"
Alexa menatap saudara kembarnya itu. Apa yang direncanakan adiknya itu. Apakah dia sedang merencanakan sesuatu yang menarik.
" Apa kamu sedang merencanakan sesuatu?"
Belum sempat Axel menjawab terdengar suara yang sangat familiar di telinga Alexa.
" Sayang"
" Kakak"
Kenan segera menghampiri pujaan hatinya. Ia tidak peduli pakaian sang kekasih berlumuran darah.
" Kamu baik-baik aja kan?. Apa ada yang terluka?"
Alexa susah payah menahan sakit di lengannya. Karena kalau Kenan tau dia terluka bisa-bisa bos mafia itu tidak selamat.
" Eca baik-baik saja Kak"
" Kok dilepas sih pelukannya?"
" Baju Eca banyak darahnya"
Kenan terpaksa melepaskan pelukannya.
" Ternyata bos mafia seperti anda bisa juga bersikap seperti anak-anak" kata Edmond.
Kenan menatap tajam lelaki yang terbaring di lantai. Sepertinya kekasihnya menghajarnya tanpa ampun.
" Apa kamu yang membuat dia seperti ini sayang?"
" Hhmmm"
" Maafkan aku, Ken"
Kenan kaget mendengar ucapan bos mafia itu. Ia seperti mengenal suara itu.
" Kau?"
Edmond tersenyum. Sepertinya Kenan tidak lupa dengannya. Walaupun mereka bertemu dengan keadaan dia yang sekarat seperti ini. Tapi setidaknya ia masih bisa meminta maaf pada Kenan.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚