
Kiran kaget karena dokter keluarganya tiba-tiba datang. Ia berpikir siapa yang lagi sakit.
" Selamat malam, tuan dan nona muda"
" Malam. Kenapa kamu ada disini, Robert?"
" Maaf nona, tadi nona kecil menelepon, dan meminta saya segera kesini"
" Alexa?"
" Iya nona"
" Apa putri kita itu terluka, By?"
" Biar jelas, kita liat saja ke kamarnya sayang"
Baru mereka mau pergi ke kamar Alexa. Alexa nya sudah nongol di sana.
" Om udah datang?"
" Iya nona "
" Yuk Om. pasiennya udah menunggu"
" Pasien?, siapa?. Eca sakit?" tanya Kiran beruntun.
" Bukan Eca pasiennya mommy, tapi Om Kenan"
" Kenan?, dia terluka?"
" Luka bekas operasinya ke buka "
" Astagfirullah. Ya udah cepat bawa om Robert ke sana"
Robert mengikuti Alexa dari belakang. Sedangkan Kiran dan yang lain menunggu di ruang keluarga.
" Om, dokternya udah datang"
" Tunggu, saya pake baju dulu"
Ya Kenan baru selesai mandi. Walaupun sedikit kesusahan, Ia tetap berusaha sendiri untuk mandi.
" Apa dia habis mandi nona?"
" Iya Om"
" Apa lukanya ngga basah?"
" Nggak Om, kepalanya udah Eca tutup. Jadi nggak akan basah"
Kenan keluar dari kamar mandi. Keadaannya sudah segar daripada yang tadi. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Robert. Mata dokter itu tertuju pada penutup kepala Kenan.
" Itu penutup kepala model terbaru, dan juga limited edition, om" kata Alexa.
Robert hanya menganggukkan kepalanya. Walaupun ia tidak yakin kalau itu penutup kepala model terbaru.
Ya Alexa menutup kepala Kenan dengan kantong kresek. Karena kalau pake penutup kepala biasa akan mengenai luka Kenan. Jadi dia pake aja kantong plastik.
" Sayang, tolong buka penutup kepala aku dong"
Alexa menghela nafasnya. Ingin sekali dia melempar Kenan ke kandang King karena selalu memanggilnya dengan panggilan' sayang '.
Kenan tersenyum melihat ekspresi jengkel gadis tipis itu. Ia memang sengaja memanggil Alexa dengan sayang. Karena gadis cantik itu sudah berani memakaikan kantong kresek ke kepalanya.
Ternyata tuan muda ini, kekasihnya nona kecil.
" Mari tuan, saya liat lukanya"
Kenan duduk di sofa yang ada di sana. Diikuti sama Alexa. Gadis cantik itu ingin melihat bagaimana luka Kenan.
Robert membuka perban di kepala Kenan. Dia membuka dengan sangat hati-hati. Karena kalau tidak dia akan membuat sang pemilik kepala kesakitan.
" Jahitannya tidak ada yang terbuka tuan" kata Robert setelah perban di kepala Kenan terbuka.
" Kalau nggak ada yang terbuka, terus kenapa berdarah?"
" Mungkin karena terbentur. Apa tadi tuan muda ada terbentur?"
" Nggak, cuma tadi kena pukulan"
Robert kaget mendengar jawaban Kenan. Kemudian dia melirik gadis kecil yang ada di samping Kenan.
" Bukan Eca yang mukul, Om" kata Alexa yang mengerti arti tatapan Robert.
" Syukurlah kalau begitu. Om pikir Eca yang pukul"
" Nggak kok. Itu karena om Kenan nakal, makanya dipukul sama orang tadi"
" Kapan aku nakal sih, sayang. Kalau pun aku bakal, itu cuma sama kamu doang"
__ADS_1
Wajah Alexa memerah karena malu. Bisa-bisanya gunung es itu bicara seperti itu di depan Om Robert.
Sedangkan Robert hanya tersenyum melihat sepasang kekasih itu. Ia pun teringat saat muda dulu.
" Terus gimana Dok. Apa perlu dibawa ke rumah sakit?"
" Nggak perlu tuan, disini saja. Lagipula lukanya tidak parah"
Robert mulai melakukan tugasnya. Ia mengobati luka Kenan. Setelah itu dia mengganti perbannya dengan yang baru.
" Usahakan jangan terkena air dulu ya, tuan" kata Robert setelah membalut kepala Kenan dengan perban.
" Iya Dok. Saya akan ingat pesan dokter"
" Kalau bisa jangan kerja dulu. Istirahat agak beberapa hari. Soalnya saya lihat, jahitannya masih baru"
" Iya Dok. Dijahitnya baru tadi pagi"
" Tadi pagi?"
" Iya Om Robert. Setelah operasi, pasiennya langsung kabur dari rumah sakit" kata Alexa.
" Kenapa kabur. Kan lukanya masih belum sembuh?"
" Bau rumah sakit nggak enak" kata Kenan.
Robert mengangguk tanda mengerti. Emang kebanyakan pasien kurang suka dengan aroma rumah sakit. Walaupun dia menyewa kamar sekelas VVIP pun tetap tak ngaruh.
" Baiklah, kalau tidak ada lagi saya pamit undur diri dulu"
" Ah iya, makasih ya Dok"
" Sama-sama tuan. Eca, Om pamit dulu"
" Iya Om. Sekali lagi terima kasih"
Robert mengangguk sebagai jawaban. Dokter tampan itu pun keluar dari kamar Kenan.
" Apa kepala Om masih pusing?"
" Hhmmm"
" Ya udah Om masih pusing bawa istirahat aja"
" Temenin"
" Udah tuan Om. Jadi nggak boleh manja"
Lagi-lagi Alexa menarik nafasnya. Gunung es ini sungguh membuat kepalanya pusing. Entah sejak kapan lelaki dingin itu berubah manja seperti ini.
" Ya udah aku temenin"
" Ikhlas nggak nih nemenin-nya?"
" Ikhlas Om"
Kenan berbaring di atas kasur empuk itu. Benar apa kata Dokter tadi, dia harus istirahat. Apalagi sekarang kepalanya agak terasa sakit. Ia pun mulai memejamkan matanya.
Alexa khawatir melihat keadaan Kenan. Bagaimana pun, lelaki tampan itu seperti ini karena menyelamatkan dirinya.
Setelah Kenan benar-benar tertidur, barulah Alexa keluar dari kamar itu. Tapi sebelum itu dia mengganti menyelimuti tubuh gunung es itu. Kemudian ia mematikan lampu dan mengganti dengan lampu kamar.
Alexa segera keluar dari kamar itu. Ia menemui kedua orang tua dan juga sahabatnya. Ia akan melihat brankas Daddy-nya.
" Gimana keadaan Kenan?" tanya Kiran saat putrinya datang.
" Masih pusing Mom"
" Terus dimana dia sekarang?"
" Istirahat"
" Ya sudah biarkan saja dia istirahat"
Alexa duduk di tengah-tengah. Antara Adele dan Alisha.
" Emang Om Kenan kenapa?" tanya Adele.
" Luka selesai operasi tadi berdarah lagi"
" Kok bisa?"
" Karena terkena pukulan anak buah black cobra"
" Astagfirullah, pasti itu sakit banget "
" Ya sakit lha, Del. Tapi saat di sana om Kenan tidak merasakan sakit"
" Mungkin belum ngeh kali, Cha" kata Alisha.
__ADS_1
" Mungkin sih"
" Sekarang kalian harus cerita bagaimana k seruan saat melawan black cobra" kata Serly.
" Alexa aja deh yang cerita" kata Adele.
" Gantian lha. Lagian kan keseruannya beda-beda" kata Alexa.
" Lo benar juga"
Lima sekawan itu mulai bercerita. Di mulai dengan Adele dan Farel. Setelah itu Axel dan Alisha. Terakhir barulah Alexa yang bercerita.
" Oh iya, Daddy juga punya brankas kan?" tanya Alexa.
" Punya"
" Boleh nggak Eca melihat brankas Daddy?"
" Tentu saja boleh"
" Eca mau liat sekarang, boleh?"
" Boleh"
" Asik"
" Kita juga boleh ikut nggak, Om?" tanya Adele.
" Boleh. Semua boleh ikut"
Darren mengajak twins dan juga para sahabatnya untuk melihat brankas miliknya. Para orang tua juga tidak ingin ketinggalan. Kapan lagi bisa melihat brankas sultan.
...***...
Mereka sampai di depan dinding berwarna abu-abu. Darren menekan tombol kecil yang ada di belakang guci besar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lelaki tampan itu menekan tombol kecil itu. Dinding tadi pun terbuka.
Mereka semua pun masuk kedalam ruang rahasia itu. Di dalam ruangan itu ada brankas besi raksasa.
Darren menekan password untuk membuka brankas raksasa itu.
" Yuk masuk"
" Emang nggak apa-apa kalau kita masuk, Om?" tanya Farel.
" Nggak apa-apa. Yuk masuk"
Mereka semua kaget melihat gundukan uang. Ini kali pertamanya Adele dan yang lainnya melihat uang sebanyak itu. Begitu juga dengan Alexa. Ia tidak menyangka kalau di dalam mansion mewah itu ada harta Karun.
" Ini uang asli semua Om?"
" Hhhmmm"
" Daebak. Ternyata orang tua Lo bener-bener sultan, Cha"
Di sana to tidak hanya ada uang. Emas batangan juga ada. Emas batangan itu tersusun dengan sangat rapi.
" Boleh bawa pulang nggak, uang sama emasnya Om?" tanya Farel.
" Kalau kamu mau ambil aja"
" Serius Om?!"
Darren menganggukkan kepalanya.
" Nggak jadi ah. Nanti pas aku mau pulang, King udah nunggu di depan pintu mansion"
Semua orang yang ada di sana tertawa mendengar ucapan Farel. King yang dia maksud itu adalah singa jantan peliharaan Darren.
" Nggak kok, Om kan udah kasih izin kamu untuk mengambilnya. Jadi King nggak akan datang"
" Udah cepat ambil, daripada nanti Daddy gue berubah pikiran" kata Axel.
" Ah, Lo bener juga"
Farel mengambil satu ikat uang dolar dan satu batang emas yang beratnya mencapai satu kilo.
" Adele sama Alisha kalau mau ambil aja" kata Darren.
" Kita juga dapat bagian, Om?" tanya Adele.
" Iya. Ambil aja"
" Makasih Om. Yuk Sha kita ambil. Kapan lagi dapat sedekah sebanyak ini"
Serly tersenyum melihat putrinya. Dia akui kalau Darren dan Kiran memang orang yang baik. Mungkin karena sering berbagi, jadi harta sahabatnya itu tidak akan pernah habis.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚