
Pagi-pagi Kenan sudah bersiap untuk pergi ke kota Y. Ia akan melihat sendiri bagaimana pengerjaan proyek taman hiburan yang pertama bagi perusahaannya.
" Sudah mau berangkat, Ken?"
" Iya Ma"
" Nggak sarapan dulu?"
" Nanti aja di jalan sama Ben"
" Kenapa harus di jalan sarapannya. Mama udah masak lho?"
Kenan kaget mendengar ucapan mamanya. Apa ia tidak salah dengar, Mamanya masak?.
" Mama masak?"
" Iya, hari ini mama masak khusus buat kamu"
" Tumben mama masak buat Ken?"
" Lagi pengen aja. Lagi pula mama kan udah lama nggak masak. Jadi hari ini mama masak untuk kamu"
Kenan melirik mamanya. " Ini nggak ada udang di balik bakwan, kan?"
" Apa maksud kamu kamu ngomong kayak gitu?"
" Ya aneh aja"
" Orang tua masak untuk anaknya, kamu bilang itu aneh?"
" Hhmmm"
" Anehnya darimana coba?"
" Mama kan selalu cari gelud tuh sama Ken. Dan tiba-tiba hari ini mama masak untuk Ken. Apa ada yang mama inginkan dari Ken?"
Helena tersenyum mendengar ucapan sang putra. " Sebenarnya mama pengen minta sesuatu sama kamu?"
Kenan menghela nafasnya. Benar dugaannya, mamanya masak hari ini karena ada sesuatu yang diinginkannya.
" Mama mau apa?"
" Teman mama bilang di kota Y banyak bunga hias yang bagus-bagus. Jadi tolong belikan beberapa bunga untuk mama, ya?"
" Bunga?"
" Hhmmm"
" Nanti Ken suruh Beni membelinya"
" Mama nggak mau Beni yang beli"
" Terus?"
" Kamu lha yang beliin untuk mama"
" Masa Ken yang beli. Lagian mau Ken atau pun Ben yang beli, kan sama aja"
" Nggak sama. Mama nggak mau tau, pokoknya kamu sendiri yang harus beli bunganya"
" Baiklah"
" Nah gitu dong. Sekarang kita sarapan dulu, sebelum masakan yang mama buat tadi dingin"
Mau tak mau Kenan pun mengikuti keinginan sang mama. Karena mamanya sudah capek-capek masak untuk dirinya. Walaupun dibalik itu sang mama ada maksud tertentu. Tapi ia tetap menghargai sang mama, lagian sudah lama juga ia tidak mencicipi masakan mamanya.
" Tuan sudah siap berangkat?"
" Kita sarapan dulu Ben, mama sudah masak"
" Nyonya besar masak, tuan?"
" Iya, mama masak khusus untuk saya"
Beni menghentikan langkahnya. Ia hafal sekali bagaimana sifat nyonya besarnya itu. Nyonya tidak akan masak kalau tidak menginginkan sesuatu dari tuan mudanya.
" Apa ada yang diinginkan nyonya, tuan?"
" Mama ingin oleh-oleh bunga hias dari kota Y"
" Sudah saya duga, ternyata benar ada udang dibalik kapal selam"
__ADS_1
" Malah ngobrol disini, ayo sarapan. Sebelum makanannya dingin"
" Iya Ma"
Kenan dan Beni pun segera ke ruang makan. Di meja sudah tertata rapi masakan kesukaan Kenan. Semua makanan itu sangat menggugah selera.
" Semua ini mama yang masak?"
" Iya, di bantu sama bibik juga"
" Rasanya pasti nggak berubah dong?"
" Nggak dong, silakan di coba Ben"
" Iya nyonya besar"
Beni pun mengambil nasi dan juga lauk secukupnya.
" Jangan sungkan-sungkan ya, Ben. Makan yang banyak"
" Siap nyonya"
Keluarga Kenan sudah menganggap Beni bagian dari keluarga mereka. Jadi Helena tidak membedakan antara putranya dengan Beni. Mereka mendapatkan kasih sayang yang sama.
" Bagaimana Ben?"
" Seperti biasa, masakan nyonya selalu enak"
" Kalau enak, tambah lagi dong nasinya. Kamu juga Arka"
" Iya Ma"
Helena sangat senang karena semua keluarganya menyukai masakannya. Apalagi melihat cucu kesayangannya makan dengan lahapnya.
" Ai mau tambah lagi?"
" Nggak Nek, Ai sudah kenyang. Coba aja liat perut Ai, udah gendut" kata Aiden sambil memperlihatkan perutnya.
" Sepertinya cucu nenek memang sudah kenyang"
Kenan dan Beni segera menghabiskan sarapan mereka. Karena mereka harus segera ke bandara.
" Iya, hati-hati di jalan"
" Iya Ma"
" Alexa udah kamu kasih kabar belum, Ken?"
" Udah Ma, nanti pas nyampe di bandara Ken telpon dia lagi"
" Ya sudah, semoga selamat sampai tujuan"
" Aamiin, makasih doanya Ma"
Setelah berpamitan Kenan dan Beni pun segera pergi dari ruang makan. Mereka harus segera pergi ke bandara. Karena Kenan ingin berangkat menggunakan pesawat biasa.
...***...
Alexa dan kedua sahabatnya baru selesai sarapan. Pagi ini mereka akan pergi ke toko dan juga cafe milik mereka. Karena beberapa hari ke depan mereka tidak bisa datang ke toko ataupun cafe, karena mulai Minggu besok mereka akan sibuk belajar untuk menghadapi ujian sekolah.
" Hari ini kamu jadi ikut sama Daddy?"
" Jadi, kenapa?"
" Nggak apa-apa. Baguslah, jadi kamu nggak kelihatan kayak orang pengangguran"
" Aku kerjanya cukup di rumah aja, tetap bisa menghasilkan uang"
" Eleh, sok sibuk"
" Bukan sok sibuk, tapi emang seperti itu kenyataannya"
" Dibayar berapa sama kak Ken untuk mengerjakan proyek rumah baru?"
Uhuk..uhuk..
Axel tersedak sama susu coklat yang diminumnya.
" Hati-hati sayang minumnya, jangan buru-buru"
" Iya Mommy"
__ADS_1
Axel segera menghabiskan susu coklat hangat yang sudah dibuatkan sama mommy-nya.
" Kamu tau darimana?"
" Kak Ken yang bilang"
" Sudah ku duga. Emang kak Ken nggak bisa jaga rahasia"
" Nggak ada satupun yang bisa kamu rahasiakan dari aku?"
" Ya deh"
" Jadi berapa digit?"
" Apanya?"
" Upah kamu?"
" Ada deh"
" Ck, baru itu, kamu udah nggak mau kasih tau aku?"
" Ya nggak ada apa-apa nya di bandingkan uang kamu"
" Iya berapa?, empat, lima digit atau lebih?"
" Sekitar lima digit"
" Daebak!, lima digit?. Banyak banget" kata Adele.
" Alhamdulillah Del. Semoga uang gue cepat terkumpul, jadi gue bisa secepatnya melamar sahabat kalian" kata Axel sambil melirik sang kekasih.
" Aamiin, semoga niat baiknya segera dikabulkan Allah"
" Makasih atas dukungannya"
" Niat baik itu kan harus didukung" kata Adele.
" Tapi jangan kelamaan" kata Alexa.
" Iya, ini juga lagi berusaha "
Alisha benar-benar bersyukur mendapatkan laki-laki setampan dan sebaik Axel. Lelaki itu sangat menjaganya. Bahkan sampai saat ini Axel belum pernah berbuat macam-macam padanya. Lelaki tampan itu hanya pernah mengecup keningnya.
Bunyi dering ponsel Alexa pun menghentikan pembicaraan mereka.
" Sebentar ya guys, gue jawab telpon dulu"
Alexa beranjak dari tempat duduknya. Ia akan menjawab telepon dulu.
" Hallo nona"
" Iya Om, apa ada kabar terbaru lagi?"
" Wanita itu hari ini meninggalkan negara L nona"
" Wah ternyata lebih cepat dari dugaan kita ya Om"
" Sepertinya begitu nona"
" Baiklah, Om dan yang lainnya bersiap-siap untuk menyambut wanita itu di bandara. Beri penyambutan yang meriah"
" Baik nona"
" Oh iya Om, bagaimana kabar kakeknya Adele?"
" Saya sudah membawanya ke rumah panti jompo, nona?"
" Pantau terus kesehatan kakeknya Adele ya Om"
" Kami sudah menyiapkan dokter terbaik untuk kakek Adele nona"
" Makasih Om. Oh iya, Tante nya Adele jangan sampai lepas dari pengawasan ya Om. Karena Adele akan memberikan sesuatu untuk tantenya itu"
" Baik nona"
Sambungan telpon pun berakhir. Alexa sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan tamu istimewanya. Kali ini dia tidak akan melepaskan wanita ular itu lagi.
To be continued
Happy reading 😚😚
__ADS_1