
Alexa terus melajukan mobilnya. Ia tau mobil yang mengikuti mereka itu tidak akan berani menyerang mereka di tempat yang ramai. Karena kalau itu dilakukan, maka orang yang ada di dalam mobil itu, akan jadi bulan-bulanan massa.
" Sepertinya mobil itu masih mengikuti kita?" kata Adele.
" Biarkan saja. Lagipula kita belum tau apa orang yang berada di dalam mobil itu ingin berbuat jahat atau nggak" kata Alexa.
Mobil Alexa memasuki jalan Cempaka. Di sana sudah masuk kedalam wilayah pribadi keluarga Richard. Jadi orang tidak bisa sembarangan masuk ke sana.
Saat masuk kedalam wilayah keluarga Richard, mobil Alexa langsung di stop oleh beberapa orang bodyguard. Karena mereka tidak mengenal mobil Alexa. Salah satu lelaki bertubuh kekar menghampiri mobil Alexa.
Tok.
Tok.
Tok.
Alexa menurunkan kaca jendela pintu mobilnya yang sebelah Aiden. Jadi para pengawal itu bisa melihat, kalau mereka membawa cucu keluarga Richard.
" Aden kecil"
Aiden tersenyum pada pengawal itu. Setelah tau siapa yang ada di dalam mobil, barulah mobil Alexa di perbolehkan lewat.Tak berselang lama mobil Alexa melaju. Tiba-tiba mobil yang mengikuti mereka juga masuk.
" Eh mobil yang ngikutin kita masih ada di belakang lho?" kata Adele.
" Masa?" kata Alexa sambil melihat ke kaca spion.
Benar apa yang dikatakan sahabatnya. Mobil yang tadi mengikuti mereka masih ada. Dan jaraknya juga dekat dari mobilnya.
" Jangan-jangan mereka pengawal Aiden?" kata Axel.
" Sepertinya begitu. Karena nggak sembarangan orang bisa masuk ke wilayah keluarga Ricard" kata Alexa.
" Untung kita belum menghajar mereka" kata Adele.
" Kamu benar Yank" kata Farel.
Alisha sudah tidak kaget lagi saat pintu gerbang itu terbuka secara otomatis. Karena ia sudah pernah melihatnya. Bedanya, pintu gerbang itu terbuka saat melihat wajah Aiden. Mobil terus melaju ke dalam, menuju mansion utama.
Sama halnya dengan mansion milik Kiran. Mansion keluarga Ricard pun banyak di jaga oleh banyak bodyguard. Dan itu tersebar di seluruh jalan menuju mansion.
Kedatangan Aiden langsung di sambut oleh mamanya. Ya, mama Aiden mendapatkan telepon dari adiknya, kalau Aiden pulang bersama Alexa.
" Mama"
" Ih kesayangan mama sudah pulang".
" Ai tadi main sama kakak cantik"
" Benarkah?"
" Iya. Bahkan Ai makan ice cream yang jumbo"
" Ai seneng?"
" Hhhmm"
Irene menatap gadis cantik yang ada di hadapannya. " Makasih ya udah mengantarkan Aiden ke mansion"
" Sama-sama Tante"
" Kita masuk dulu yuk" ajak Irene.
" Makasih Tante. Tapi lain kali aja kita mampir. Soalnya udah sore"
" Baiklah, kapan-kapan kalian nggak boleh menolak, ya?"
" Iya Tante. Kami pamit dulu "
" Ai salaman dulu sama kakak cantik dan teman-temannya"
Aiden bersalaman dengan Alexa dan juga sahabatnya. Terakhir ia memberikan pelukannya kepada Alexa. Ia seperti tidak rela melepaskan Alexa.
__ADS_1
" Kapan-kapan kakak cantik main di mansion Ai, ya?"
" Iya sayang. Sekarang kakak pulang dulu"
Aiden pun melepaskan pelukannya. Walaupun sebenarnya ia masih ingin bersama dengan Alexa. " Hati-hati di jalan kakak cantik"
" Makasih Ai. Tante, kita pamit dulu"
" Iya. Sekali lagi terima kasih"
" Sama-sama"
Alexa dan para sahabatnya masuk kedalam mobil. Sebelum melajukan mobilnya, ia melambaikan tangan pada Aiden. Dan Aiden pun membalasnya.
Mobil milik Alexa perlahan meninggalkan mansion mewah milik keluarga Ricard. Aiden masih melambaikan tangan sampai mobil Alexa sudah tidak terlihat lagi.
" Yuk sayang, kita masuk kedalam" ajak Irene pada putranya.
" Apa kakak cantik akan kesini lagi?"
" Hhhmm"
" Ai lebih suka sama Tante Clara atau sama kakak cantik?"
" Sama kakak cantik"
Irene tersenyum mendengar ucapan putranya. Ternyata sang putra bisa tau mana orang yang baik dan mana yang nggak. Dan ia berharap adiknya segera menemukan kejelekan kekasihnya.
...***...
Mobil Alexa berhenti di depan rumah sahabatnya. Ia memarkirkan mobilnya di teras rumah Alisha. Ketiga gadis cantik itu langsung masuk kedalam rumah. Sedangkan Axel dan Farel membawa barang belanjaan tadi ke dalam rumah Alisha.
" Banyak sekali belanjaannya?" tanya nenek Alisha.
" Iya Nek. Ini semua bahan-bahan untuk membuat kue"
Axel dan Farel membawa semua barang belanjaan itu ke dapur. Dan sekarang tugas ketiga gadis cantik itu menata semua barang belanjaan.
" Kalian berdua tunggu kita di ruang tamu aja" kata Alexa.
" Karena kalian berdua itu merusak pemandangan gue"
" Kok merusak? kita kan nggak ngapa-ngapain?"
" Ya emang. Tapi keberadaan kalian disini benar-benar merusak pemandangan gue"
Ternyata dia masih sensitif.
" Ya udah, kita tunggu di ruang tamu" kata Axel sambil menarik tangan Farel dari dapur.
" Kok Lo narik gue kesini sih?" tanya Farel saat mereka sudah nyampe di ruang tamu.
" Diem aja disini. Lo mau dilahap Eca"
" Ya nggak lha"
" Makanya diam disini. Lo nggak liat wajah Eca tadi"
" Iya juga sih. Makanya kita harus cepat-cepat daftarkan Eca ke biro jodoh, biar dia nggak marah-marah lagi"
" Apa Eca nggak akan marah kalau tau kita masukkan dia ke biro jodoh? dan Lo juga tau Eca kalau marah kek gimana?"
" Makanya kita usahakan jangan ketahuan sama Eca. Biar gue nanti yang ngomong masalah ini sama yayang gue"
" Emang Adele tau tempat biro jodoh itu?"
" Mungkin. Ntar gue coba tanya"
" Pastikan biro jodohnya terpercaya. Dan pastikan cowok yang mendaftar di sana itu cowok yang baik"
" Lo tenang aja. Lagian ayang gue juga nggak mungkin cariin jodoh yang nggak baik untuk sahabatnya "
__ADS_1
" Emang seharusnya begitu"
Axel dan Farel saling lirik. Dan tak berselang lama, mereka berdua tertawa. Mereka berdua membayangkan bagaimana kencan pertama Alexa dengan kekasihnya.
" Kalian berdua lagi mentertawakan apa?" tanya Alexa yang baru saja datang dari dapur.
" Ng.. nggak ada" jawab kedua lelaki tampan itu.
" Nggak ada. Tapi kok jawabnya gugup kek gitu?"
" Beneran nggak ada lho?"
" Dasar aneh"
" Kamu mau kemana?" tanya Axel.
" Menjawab telepon"
" Jawab telpon kok harus keluar. Jawab disini aja?"
" Suka-suka aku lha mau jawab telponnya dimana" kata Alexa sambil berlalu pergi.
Axel menatap punggung saudara kembarnya yang semakin menjauh dari pandangannya.
Sedangkan Alexa duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon jambu.
" Hallo assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam. Kakak kemana aja? kok baru telpon?"
" Maaf ya baru sempat ngabarin kamu. Tadi kakak habis dari tempat pelatihan"
" Pelatihan?"
" Hhmmm"
" Kakak udah mulai latihan?"
" Belum. Kakak baru daftar"
" Kapan mulai latihannya?"
" Besok sore"
" Apa kakak latihan karena ucapan mommy kemarin?"
" Salah satunya iya. Tapi walaupun mommy kamu nggak ngomong kek gitu kemarin, kakak juga udah pengin belajar beladiri juga. Karena kakak ingin melindungi orang-orang yang kakak sayangi. Terutama kamu"
Wajah Alexa bersemu merah kala mendengar ucapan Kevin barusan. Kata-kata Kevin barusan sungguh manis.
" Kalau kakak nggak sanggup jangan dipaksakan?"
" Kakak sanggup kok. Dan lagi, kakak mau membuktikan sama kedua orang tua kamu, kalau kakak pantas untuk kamu. Kamu masih mau menunggu kakak, kan?"
" Masih"
" Tunggu kakak. Dan kita akan secepatnya bersama"
" Hhhmm"
" Ya udah, kakak tutup dulu ya telponnya. Jaga selalu hatinya untuk kakak"
" Hhmmm"
Panggilan pun berakhir. Air mata Alexa pun keluar tanpa permisi. Ia tidak menyangka kalau Kevin akan berjuang seperti itu untuknya. Tapi ia belum bisa memastikan hatinya untuk siapa.
To be continue.
Maaf ya teman-teman. Mungkin Feby belum bisa up seperti biasa. Tapi Feby akan usahakan up tiap hari.
Feby ucapkan banyak terima kasih pada teman-teman yang sudah mendoakan dan juga memberikan support untuk Feby. Berkat Doa dan support kalian Feby bisa up hari ini. Maaf nggak bisa balas komen kalian satu persatu.
__ADS_1
Sayang kalian banyak-banyak 🤗🤗🤗
Happy reading 😚😚