Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Cari masalah


__ADS_3

Satu persatu para petinggi perusahaan pamit undur diri. Mereka tidak marah atau pun iri karena Axel yang memenangkan tender. Sebab mereka tau kalau ide yang diberikan Axel memang sangat bagus.


" Semoga proyek ini berjalan dengan lancar tuan Darren "


" Aamiin, semoga aja ya tuan Wiliam. Terima kasih sudah mempercayakan proyek ini pada perusahaan kami"


" Perusahaan anda layak mendapatkan ini. Karena ide putra anda sangatlah bagus"


" Terima kasih Om atas pujiannya. Saya masih baru belajar tentang bisnis sama daddy"


" Saya yakin kamu bisa melampaui kesuksesan Daddy mu. Bukan begitu tuan Darren?"


" Betul tuan Wiliam"


" Baiklah, silakan tanda tangan kontraknya"


Darren membubuhkan tanda tangannya di dokumen yang sudah dipersiapkan oleh Wiliam.


" Semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar"


" Aamiin, semoga tuan Wiliam"


" Baiklah saya undur diri dulu. Mau ketemu klien"


" Iya tuan, silakan"


Wiliam dan sekretarisnya pun undur diri. Karena ia akan bertemu dengan kliennya yang lain.


" Sekali lagi selamat ya, Axel"


" Terima kasih Om Romy"


" Axel harus penuhi janji Axel sama Eca"


" Iya Daddy"


" Emang Axel ada perjanjian apa sama Alexa?"


" Kalau Axel menang tender, Axel harus traktir anak panti sama anak-anak yang ada di rumah singgah makan bakso"


" Wah bagus juga tuh ide Alexa. Dapat uang lebih, kita sedekah"


" Iya Om"


" Kalau gitu, Om yang traktir minumannya"


" Beneran Om?"


" Beneran lha"


" Oh iya Daddy kemarin liat mobil keluaran terbaru di showroom langganan keluarga kita. Axel nggak mau beli mobil baru?"


" Nggak Dad. Mobil Axel masih bagus. Dan lagi untuk apa punya mobil banyak-banyak. Tapi nggak di pake. Mending uang untuk beli mobilnya di sumbangkan untuk biaya pendidikan anak-anak jalanan"


Darren tersenyum mendengar jawaban putranya. Ia bangga pada kedua anaknya. Kedua anaknya itu tidak tergiur untuk membeli barang-barang yang branded. Padahal kalau anak-anaknya mau membeli, akan di belikan.


" Ya udah, sekarang kita pergi ke warung bakso langganan keluarga besar"


" Siap Daddy"


" Axel nggak mau kasih tau Eca tentang keberhasilan Axel?"


" Iya Dad. Bentar Axel telpon Eca dulu"


Axel mengambil ponselnya. Ia mencari kontak sang kakak. Setelah ketemu, ia langsung menghubungi saudaranya.


" Hallo assalamualaikum"


" Wa'alaikum salam. Ada apa telpon?. Apakah kamu kalah?"


" Nggak lha. Justru aku mendapatkan tendernya"


" Jangan bohong kamu?"

__ADS_1


" Aku nggak bohong. Kalau nggak percaya, tanya aja sama daddy?"


" Palingan kamu udah sogok Daddy"


" Mana ada. Kalau kamu pikir aku sogok Daddy. Ya udah tanya sama om Romy?"


" Apalagi Om Romy. Kamu pasti lebih mudah nyogok dia"


" Kalau kamu masih nggak percaya, tanya aja sama Om William"


" Om William itu siapa?"


" Orang yang mengadakan acara tender "


" Iya aku percaya"


Axel menghela nafasnya. Untung saja kakaknya nggak minta ngomong sama Om William. Kalau dia minta itu, sudah pasti dia tidak bisa mengabulkannya. Karena om William sudah pergi.


" Selamat ya adikku yang tampan karena sudah memenangkan tendernya. Kamu nggak malu-maluin Daddy deh"


" Iya makasih kakak aku yang cantik. Walaupun diakhir kata-katanya nggak enak di kuping"


" Masih ingatkan sama janji kamu?"


" Masih"


" Ya udah, sekarang traktir adik-adik yang ada di panti dan juga di rumah singgah. Setelah itu antar kan juga dua puluh porsi untuk karyawan aku"


" Iya nyonya, nanti saya antar kan"


" Terima kasih adikku yang tampan, baik hati dan rajin menabung"


" Aku tutup dulu ya telponnya. Aku mau pergi beli baksonya dulu"


" Ok adikku"


Sambungan telepon pun berakhir. Axel menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


" Yuk Dad, Om, kita berangkat"


Ketiga lelaki tampan beda usia itu segera pergi meninggalkan aula. Mereka akan membeli bakso.


Dari jauh seseorang mengepalkan tangannya menahan emosi. Ia masih tidak terima dengan hasil keputusan tuan Wiliam tadi. Mana mungkin dia kalah dari anak bau kencur seperti itu.


Sebentar lagi, kamu akan lenyap dari muka bumi ini.


Pria itu sudah menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan Axel. Tapi disisi lain dia tidak mengetahui siapa lawan yang akan dia lawan.


Sampai di parkiran ponsel milik Darren berbunyi. Lelaki tampan itu pun segera melihat ponselnya. Ia melihat nama anak buahnya yang tertera di sana.


" Hallo bos


" Ada informasi apa?"


" Seperti dugaan bos. Lelaki itu sudah bergerak"


" Bagus, terus saja ikuti dia. Tangkap dia dan bawa ke markas. Nanti Axel sendiri yang akan memberikan hadiah untuk orang itu"


" Baik bos. Bagaimana dengan pembunuh bayaran itu?"


" Masalah itu biar saya yang ngatasin. Sekarang tugas kalian ikuti lelaki itu"


" Siap bos"


Panggilan telepon pun berakhir.


" Siapa yang telpon?"


" Anak buah gue"


" Mereka bilang apa?"


" Seperti dugaan gue, tuan Baskoro mau cari masalah sama Axel"

__ADS_1


Ya Darren sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi. Karena di dunia bisnis hal semacam ini sudah sering terjadi. Pasti ada salah satu diantara mereka yang menang dan juga kalah.


" Dia bodoh atau gimana?. Masa dia nggak tau lawan yang akan dia hadapi itu siapa?"


" Mungkin dia ingin uji nyali"


" Lo bener, kalau dia nggak kuat suruh lambaikan tangan ke kamera"


" Ada apa Daddy?. Apa ada masalah?"


" Nggak ada masalah apa-apa. Cuma ada lalat yang ingin bermain-main dengan kita"


" Benarkah?"


" Iya. Mungkin dalam perjalanan pulang nanti lalat itu sudah mulai mengikuti kita"


" Bagus dong. Sudah lama Axel nggak latihan. Jadi mereka bisa jadi samsak"


Darren tersenyum mendengar jawaban putranya. " Semoga mereka tidak mengecewakan Axel"


" Semoga Daddy. Karena Axel pengen banget dapat lawan yang tangguh. Jadi kita nggak sia-sia melawan"


" Om jadi penontonnya aja, ya?"


" Siap Om"


" Lo mau langsung pulang, atau gimana Ren?"


" Gue mau makan siang dulu. Setelah itu gue balik kantor"


Axel masuk kedalam mobil Daddy-nya. Sedangkan Romy masuk kedalam mobilnya. Dua mobil mewah itu pun pergi meninggalkan tempat itu.


...***...


" Siapa yang telpon, sayang?"


" Axel"


" Gimana hasilnya?"


" Alhamdulillah dia menang"


" Alhamdulillah. Bagus dong kalau gitu?"


" Iya Oppa"


" Berarti Axel mentraktir anak panti sama anak-anak yang ada di rumah singgah dong?"


" Iya, kan perjanjiannya gitu"


" Kalau sayang minta traktir apa?"


" Nggak ada. Aku cuma minta dia traktir karyawan yang ada disini"


" Wah otomatis saldo tabungan Axel berkurang, nih?"


" Kayaknya nggak deh. Kan dia dapat gaji juga tuh dari Daddy"


" Tapi nggak ada yang membuat ulah kan?"


" Maksud Oppa?"


" Biasanya kalau di acara seperti itu pasti ada salah satu pihak yang tidak terima dengan keberhasilan kita"


" Maksud Oppa, ada diantara mereka yang mau mencelakai Axel?"


" Maybe?"


" Nggak apa-apa. Lagian adik aku itu juga bukan orang yang lemah. Dia pasti bisa menghadapi musuh yang licik seperti itu"


" Iya sayang, aku percaya"


Alexa yakin adiknya itu akan baik-baik saja. Ia hanya bisa mendoakan keselamatan adiknya. Dan lagi Daddy-nya juga ada bersama sang adik.

__ADS_1


To be continue.


Happy reading 😚😚


__ADS_2