
Kabar Axel yang menghardik Alexa pun sampai di telinga Kevin dan juga Rian. Karena Kevin sudah tau kalau Axel saudara kembarnya Alexa, jadi dia tidak terlalu kaget. Tapi tidak dengan Rian. Dia langsung emosi saat mendengar berita itu.
" Lo mau kemana?" tanya Kevin.
" Mau melabrak bocah tengik itu"
" Jangan, itu masalah mereka berdua, jangan ikut campur"
" Gue nggak suka di bentak-bentak Alexa kek gitu!"
" Berita itu belum tentu benar. Lagipula nggak mungkin Axel kek begitu"
" Lo kok selalu belain tuh bocah sih?!"
" Bukan membela. Tapi gue lebih berpikir logika. Kalau pun Axel menghardik Alexa, pasti ada yang memicu hal itu"
" Alah! tu bocah emang nggak bener. Gue mau ke kantin, Lo jangan coba-coba halangi gue lagi"
" Jangan cari masalah. Lo lupa ntar malam kita mau nobar sama empat sekawan itu"
Aaaarrggghh .
Rian menendang kursi. Ia sangat kesal, lagi-lagi dia tidak bisa menghajar Axel. Karena ia sudah janji sama Intan dan juga Citra, kalau ia tidak akan membuat masalah.
Sebenarnya Kevin juga ingin ke kantin untuk menemui gadis yang ia suka. Ia ingin tau bagaimana keadaan gadis cantik itu sekarang. Kevin mengambil ponselnya, ia akan mengirim chat pada gadis cantik itu.
Hai, lagi apa?.
Setelah menulis pesan, ia langsung mengirimi ke nomer ponsel Alexa. Muncul contreng dua. Itu tandanya sang pujaan hati sedang online. Ia tidak menyimpan kembali ponselnya karena ia akan menunggu balasan dari gadis cantik itu.
Semenit dua menit berlalu, tapi tanda-tanda chat dibalas pun belum ada. Jangankan dibalas, dibaca aja belum chat nya sama gadis cantik itu. Tapi ia masih setia menunggu. Ia mengunci layar ponselnya.
Ting.
Ponsel Kevin berbunyi. Ia segera melihat pesan yang masuk barusan. Tapi sayang, pesan itu bukan balasan dari pesan yang ia kirim, melainkan pesan dari kartu prabayarnya. Di pesan itu tertulis kalau ia mendapatkan paket internet murah.
" Ck, lagi nunggu pesan dari dia, yang nongol malah pesan kartu prabayar. Sial..!"
" Kenapa Lo?" tanya Rian.
" Nggak apa-apa"
" Terus kenapa Lo mengumpat kek gitu"
" Kuping Lo salah denger kali"
" Ck, jelas-jelas gue denger tadi"
Kevin tidak menghiraukan ucapan sahabatnya. Ia terus saja menatap layar ponselnya. Tapi ponselnya itu tidak ada menunjukkan tanda-tanda akan berbunyi.
Kevin tersenyum karena chat nya sudah dibaca oleh sang pujaan hati. Tapi wajahnya berubah sedih, karena pesannya cuma di baca doang sama Alexa.
" Ya elah, dibaca doang"
" Lo kenapa sih Vin. Apa coba yang dibaca doang"
" Lo nggak akan ngerti, jadi mendingan Lo diem"
" Aneh banget sih Lo"
" Biarin! mau aneh kek, apa kek, terserah!"
__ADS_1
Kevin sangat kesal sama sahabat itu. Sudah tau hatinya lagi gundah gulana karena chat nya cuma dibaca doang sama Alexa. Eh sahabatnya itu malah bikin dia kesel. Kan gondok jadinya.
Karena tidak ada tanda-tanda pesannya chat nya akan dibalas, Kevin pun menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Anggap aja hari ini dia lagi apes.
...***...
Nando masih berkeliling di area tambang batu bara. Ia melihat proses demi proses pengambilan batu bara. Semua pekerjanya sangat
Matanya kembali tertuju pada wanita yang sedang menjalankan salah satu alat berat yang ada di sana. Wanita itu sangat cekatan dalam melakukan pekerjaannya.
" Bos sudah waktunya makan siang?"
Nando melirik jam tangan yang ada di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
" Baiklah, kita istirahat dulu"
Beberapa pekerja juga sudah turun dari atas alat berat. Begitu juga dengan wanita cantik yang sedang menjalankan alat berat. Karena sudah waktunya untuk mengisi tenaga yang sudah terkuras tadi.
Rania berjalan melewati Nando. Ia membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormatnya pada sang empunya tambang.
" Apa kamu akan pergi makan siang?"
" Eh, bapak nanya saya?"
" Hhmm"
" I-iya Pak"
" Yuk, bareng sama saya"
" Eh" kaget Rania.
" Kenapa bengong, ayo"
Rania mengikuti Nando di belakang. Ia tidak mengerti kenapa big bosnya ingin ka kantin bersamanya. Begitu juga dengan Ikbal. Ia juga
tidak mengerti kenapa sahabatnya mengajak pekerja wanita itu makan siang bersama.
Suasana di kantin sudah mulai ramai sama para pekerja. Saat Nando dan yang lain datang, para pekerja itu langsung berdiri dari dudukny. Mereka memberikan salam pada big bos itu.
" Kalau diluar jam kerja, jangan bersikap formal sama saya. Bersikap seperti teman biasa. Kalian mengerti" kata Nando.
" Eh" kaget mereka semua, saat mendengar ucapan big bos itu.
" Nggak usah kaget, ikuti saja apa yang dikatakan big bos tadi" kata Anton.
" Baik bos"
" Silakan duduk kembali" kata Nando.
Para pekerja itu duduk kembali. Mereka bersyukur memiliki big bos yang ramah dan juga baik.
" Yuk duduk di sana, Jihan udah menunggu kita" kata Ikbal.
" Lo aja deh Bal yang duduk di sana. Gue duduk disini aja" kata Nando sambil menarik kursi yang ada di samping Rania.
" Ya udah, gue ke sana dulu"
" Hhhmm"
Jihan heran karena Ikbal cuma sendirian. Biasanya sahabatnya itu selalu bersama dengan Nando.
__ADS_1
" Nando mana?"
" Gabung sama pekerja "
" Itu nggak akal-akalan Lo kan?"
" Nggak Ji. Dia sendiri yang bilang sama gue, kalau dia mau makan bareng sama para pekerja "
" Ya udah, kita gabung juga sama mereka"
" Nggak usah, lagian tempat duduknya juga udah penuh"
" Udah penuh?"
" Iya, makanya gue kesini"
" Oh gitu, jadi kalau kursinya nggak penuh, lo mau gabung sama mereka dan tinggalin gue sendirian disini, iya?"
" Ya nggak lha. Gue ajak Lo gabung sama mereka"
" Ck"
" Jangan marah, yuk pesan makan"
Walaupun kesal karena Nando tidak bisa ikut makan siang dengannya. Tapi setidaknya ada sahabatnya yang mau menemaninya makan siang.
Rania membuka sarung tangan yang menempel di kedua tangannya. Saat sarung tangam terlepas, tampaklah jari-jari tangt yang putih dan juga mulus.
Pekerjaan yang dilakukan Rania memang pekerjaan kasar, atau bisa dibilang pekerjaan untuk para lelaki. Tapi kulit dan juga tubuh Rania sangat terawat. Karena ia selalu merawat tubuhnya. Walaupun bukan perawatan salon. Namun kulitnya sangat halus dan juga lembut.
Nando tidak sengaja melihat tangan wanita yang ada di sampingnya. Ia kaget melihat jari-jari tangan Rania yang mulus terawat. Padahal wanita itu bekerja menjalankan alat berat, tapi tangannya terlihat sangat mulus.
" Kamu pesan apa?"
" Eh"
" Kenapa kamu selalu kaget setiap kali saya bertanya"
" Maaf Pak"
" Kalau diluar jam kerja jangan panggil saya Bapak. Apa saya terlihat tua, sehingga kamu selalu memanggil saya bapak"
" Ng-nggak Pak"
Rania menutup mulutnya. Karena keceplosan bilang ' Bapak'. Sudut bibir Nando terangkat sedikit, wanita yang ada disampingnya itu sangat lucu.
" Maaf, lalu saya harus panggil apa?"
" Panggil Nando saja"
" Baiklah P--, Nando maksud saya"
" Nah itu baru bener. Jadi mau pesan apa?"
" Jus jeruk sama soto "
Nando memanggil karyawan kantin untuk membuatkan pesanan yang diinginkan oleh Rania, dan juga dirinya. Siang ini menu makan siang Nando sama dengan Rania.
To be continue.
Mana nih vote sama hadiahnya, untuk Axel.
__ADS_1
Happy reading 😚😚