YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
10. aku antar pulang.


__ADS_3

Yumna dan Haidar berjalan menjauh dari tempat Dave tadi berada. Saat mereka melangkah untuk keluar, Yumna tak sengaja melihat Aldy yang menggandeng seseorang, mereka baru saja datang. Ini pertama kalinya Yumna bertemu dengan Aldy lagi setelah terakhir sebelum Yumna ke Singapura dulu. Dadanya berdebar, sedikit rasa tercubit di dalam hatinya saat melihat pria itu datang bersama wanita cantik nan seksi yang bergelayut manja di lengan Aldy.


Yumna berusaha menutupi wajahnya dengan tas, melangkah dengan cepat, membuat Haidar juga semakin cepat melangkah, karena tangan mereka masih bertautan. Dan Yumna masih tidak menyadari keadaan itu. Yang Yumna inginkan adalah pergi sesegera mungkin.


"Yumna?" panggil Aldy saat mereka berpapasan.


Yumna tersentak, refleks dia berhenti.


"Eh, Aldy!" Yumna menurunkan tas nya dari wajahnya.


"Apa kabar?" tanya Aldy seraya mengulurkan tangannya. Yumna pun menyambutnya.


"Baik. Kamu juga apa kabar? Sudah lama tidak ketemu." tanya Yumna. Aldy hanya tersenyum.


"Ya, sudah lama." mereka terdiam, keadaan menjadi canggung, saling menatap, saling mengagumi satu sama lain, dalam diam. Aldy dan Yumna sama-sama tidak sadar, mereka dengan seseorang yang berada di sampingnya masing-masing.


"Ekhheemmm." Haidar berdehem, Yumna dan Aldy sama-sama tersadar dan segara melepaskan tangan mereka. Aldy menatap tangan Yumna dan Haidar yang bertautan. Ada sedikit rasa tidak suka di dalam dirinya. Rasanya dia ingin merebut tangan itu dan memisahkan Yumna dari pria tinggi di sampingnya. Apalagi melihat jas pria itu yang bertengger manis di kedua bahu mulus Yumna.


Cih bahkan aku lebih tampan! cibir Aldy.


Ini Aldy ya.



Aldy mengagumi sosok Yumna yang semakin cantik dan menawan. Ia akui sedari dulu Yumna memang cantik, tapi yang di hadapannya ini sangat menawan, bagaimana kalau Yumna jadi pengantinnya? Sempurna! Tapi Aldy tidak bisa mengungkapkan kata-kata yang ada di kepalanya jika sudah bersangkutan dengan Yumna. Entah kenapa, sedari dulu Aldy seakan lumpuh, dan bisu jika sudah berhadapan dengan Yumna. Aldy lebih sering menghindar atau berpura-pura cuek, karena dia takut akan pingsan akibat jantungnya yang mendadak tidak sehat. Berbeda dengan sikapnya pada gadis yang lain yang bisa di hadapi dengan santai tanpa takut kena serangan jantung dadakan.


"Sayang, ayo kita masuk!" ujar gadis yang ada di sebelah Aldy, menggoyangkan lengan Aldy dengan nada dan sikapnya yang manja. Membuat Yumna geram dan tak sadar mengeratkan pegangan tangannya pada Haidar.


"Iya. Yumna, aku pergi kesana dulu." pamit Aldy. Aldy sebenarnya masih ingin berlama-lama memandang wajah Yumna, tapi dia takut jika lama-lama disana dia akan hilang kendali dan merebut Yumna dari pasangannya. Mungkin membawanya berlari seperti di drama korea yang pernah ia tonton di laptopnya.


"Iya silahkan!" Yumna mundur satu langkah memberi jalan pada Aldy. Aldy dan gadis yang Yumna kira kekasihnya, berjalan ke arah panggung pelaminan. Yumna melihat punggung keduanya menjauh. Pasangan sempurna. Bahkan banyak mata yang memandang mereka takjub. Tak terkecuali dirinya.


'Mereka serasi!' batin Yumna semakin mengeratkan genggamannya.


"Yumna, ayo!" Haidar sedikit menarik tangan Yumna. Yumna tersadar lalu segera berjalan semakin cepat hingga Haidar malah yang kini ia tarik. Masih tidak sadar kalau tangan mereka masih bertautan.


Yumna merasa sakit di hatinya, tercubit dan seperti terhimpit. Bertahun-tahun menyukai sosok Aldy dalam diam, pergi jauh ke Singapura untuk melupakan dia, tapi nyatanya Aldy telah menempati sudut hati Yumna bagian terdalam, dan itu sangat sulit untuk di lupakan.


"Yumna. Yumna!" panggil Haidar. Yumna tersadar. Mereka sudah berada di loby hotel. Yumna berbalik dan mendapati Haidar di belakangnya.


"Eh, Haidar? Kamu masih disini?" tanya Yumna heran.


"Ya disini lah! Orang kamu yang narik tangan aku!" Yumna menatap pada tangan mereka yang masih menyatu. Dia baru sadar kalau sedari bertemu dengan Dave dan Aldy mereka berpegangan tangan.


"Eh, oh. Maaf. Maaf." ucap Yumna canggung. "Aku gak sadar." ucapnya wajahnya merah menahan malu.


"Segitu inginnya deket-deket gue yang ganteng ini!" cibir Haidar sambil merapikan rambutnya.


"Cih, siapa yang mau! Elo aja yang kegatelan bilang tadi tunangan gue sama Dave. Segitu maunya jadi pasangan gue?" cibir Yumna balik, hawa menjengkelkan mulai mendatanginya.


"Kalau Yumna yang punya sifat kalem seperti di dalam sih mau aja. Tapi kalau Yumna dengan sifat bar-bar seperti sekarang. OGAH!!" Haidar berlalu meninggalkan Yumna yang ingin sekali mengumpat. Tapi dia sadar dimana tempat dia berdiri sekarang ini. Hingga Yumna hanya berdecak kesal dan akhirnya menuju tempat dimana mobilnya di parkir.


Yumna baru saja membuka pintu mobilnya, tapi saat melihat ke bawah, dia sadar ban mobilnya kempes.


"Yah, kempes lagi!" gumam Yumna sambil menendang pelan ban mobilnya. Lalu dia kembali menutup pintu mobilnya. Mengeluarkan hp dan menelfon sang mama.


Yumna mendengus kesal karena mendapati kedua orangtuanya sudah pulang duluan. Dia memasukkan hpnya ke dalam tas. Syifa juga ikut pulang bersama mereka, sedangkan kedua adik kembarnya juga sudah meninggalkan pesta. Yumna benar-benar di tinggalkan!


"Mereka sudah pulang?" tanya Haidar yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya, dan di jawab anggukan kepala Yumna.


"Nyebelin kan, gue di tinggal sendirian!" dengus Yumna dengan memanyunkan bibirnya.


"Ya udah deh, gue pulang duluan." pamit Yumna. "Yang tadi makasih ya, udah tolongin. Yaa walaupun agak ngeselin juga karena ngaku-ngaku tunangan gue!"


Haidar terkekeh sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.


"Sorry, habisnya yang ada di fikiran gue tadi ya hanya itu, tunangan. Harusnya gue bilang temen gitu ya?" sesal Haidar tidak enak. "Gue cuma agak risih dengan pandangan si Dave sama elo. Kayaknya elo gak nyaman di dekat dia." ucap Haidar lagi.


"Iya emang gue gak nyaman. Padahal dulu dia itu pemalu, culun juga. Tapi tadii..."


"Yah udah lama kali Na, udah beda dari yang dulu." tutur Haidar, Yumna membenarkan. Zaman SMP hingga sekarang sudah lebih dari sepuluh tahun, tentu bisa membuat siapapun berubah.


"Mau pulang?" Tanya Haidar.


Tadinya Yumna ingin bertanya banyak pada Haidar, tapi sekarang malam sudah hampir larut.


"Pulang. Udah mau jam sepuluh. Mama pasti marah gue pulang jam segini." tutur Yumna. Haidar terkekeh, dia tidak menyangka gadis di depannya ini takut di marahi jika pulang telat. Beda dengan tutur katanya yang sangat berani.

__ADS_1


"Pulang pakai apa?" Tanya Haidar.


"Umm, gue bawa mobil." ucap Yumna. "tapi kempes. Jadi...cari taksi aja!" Yumna menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tiba-tiba merasa canggung di tatap sedemikian rupa oleh Haidar.


"Pulang sama gue aja! Gue bawa mobil. Punya temen sih, bukan punya sendiri, hehe..." terang Haidar sambil tersenyum malu.


"Gak usah. Taksi juga masih ada yang lewat kok." tolak Yumna.


"Yee nolak. Itung-itung gue bayar hutang yang ongkos taksi kemarin, gue gak punya uang buat balikin ongkosnya, jadi gue akan antar sebagai pengganti ongkos waktu itu! Ayuk!" tanpa menunggu jawaban dari Yumna, Haidar sudah menarik tangan Yumna ke arah dimana mobil temannya di parkir. Yumna sempat tertegun saat Haidar membuka pintu mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam di depannya. Keren.


"Hei, ayo masuk." ucap Haidar saat Yumna masih berdiri di samping mobilnya. "Atau mau aku bukakan pintu mobilnya buat kamu?" tanya Haidar lagi.


Yumna menggelengkan kepalanya, lalu membuka pintu mobil yang kemudian terangkat ke atas. Dengan hati-hati Yumna msuk ke dalam, dia menundukan kepalanya, takut terantuk body mobil karena atapnya yang terlalu rendah.


"Rumah kamu dimana?" tanya Haidar setelah menyalakan mobilnya. Yumna menyebutkan sebuah alamat. Mobilpun segera melaju membelah jalanan yang masih ramai.


"Elo datang tadi sama orangtua?" tanya Haidar memulai percakapan.


"Iya. Tadi kami datang sama-sama. Tapi gue malah ditinggal."


Haidar terkekeh pelan, membuat Yumna menoleh.


"Kenapa ketawa?"


"Harusnya elo bawa pasangan ke undangan pernikahan seperti itu. Tapi gak aneh sih kalau sendiri atau sama ortu, gak ada yang mau sama cewek bar-bar macam elu!"


Yumna mendengus kesal Haidar mulai dalam mode menyebalkan!


"Elo sendiri? Datang gak bawa pasangan. Ya mana ada yang mau juga sih, secara kan elo menyebalkan!!" balik serang menekan kata di kalimat terakhirnya. Tapi Haidar hanya terkekeh seperti ada yang lucu yang sedang ia tertawakan membuat Yumna risih dan takut.


"Apa dia gila?"


"Apa lihat-lihat gue?" cerca Haidar.


Yumna sedikit beringsut agak menjauh, menempel dengan pintu tepatnya.


"Enggak!" tutur Yumna.


"Gue heran aja, elo bisa ke pestanya Tia."


"Ronald itu temen baik gue!" terang Haidar sambil fokus pada jalanan.


"Nah elo?" tanya balik pada Yumna.


"Tia sahabat gue dari SMP."


Mereka terdiam beberapa saat. Sesekali Haidar melirik ke arah Yumna yang tampak berbeda dengan sebelum ia bertemu kemarin. Tidak ada kacamata lagi di wajahnya, rambut yang kemarin di ikat kuncir kuda kali ini tergerai indah. Dan bayangan Yumna pada saat mereka sama-sama di Singapura pun sama meski Yumna tidak memakai kacamata waktu itu. Apa mungkin sekarang mata Yumna rusak karena terlalu sering membaca? Bisa jadi!


"Elo beda Na! Cantik kalau gak pakai kacamata!" Haidar segera menutup mulutnya, tidak menyangka kata-kata itu akan meluncur dari mulutnya.


"Iya lah gue cantik, kan cewek!" mencoba bersikap biasa, tapi nyatanya di dalam dada Yumna berdetak dua kali lebih cepat. Ini pertama kalinya Haidar memuji dirinya cantik.


"Yumna..." panggil Haidar.


"Ya?" salah tingkah, semakin berdebar.


"Muka lu merah, persis kepiting rebus, wkwkwk." Haidar tertawa keras sambil menunjuk tepat di wajah Yumna membuat gadis itu kesal. Dia bersiap mengangkat tasnya untuk di labuhkan ke wajah Haidar.


"Eh, eh mau apa? Jangan konyol, lu mau mobil ini oleng terus kita nabrak? Yang bener aja. Gue gak bisa ganti biaya bengkel kalau mobil ini lecet!" seru Haidar memperingatkan. Yumna menurunkan tasnya kembali.


"Dasar lu. Menyebalkan!" dengus Yumna. Entahlah, dekat dengan Haidar membuat Yumna selalu emosi. Yumna berharap sosok seperti Haidar ini di jauhkan dari kehidupannya. Cukup setelah ini jangan sampai dia bertemu lagi dengan Haidar.


"Kok elu bisa..." Yumna tidak jadi meneruskan perkataannya, sedikit tidak enak juga saat ingin mengemukakan apa yang ada di fikirannya.


"Penampilan gue?" seperti bisa menebak fikiran Yumna. Yumna mengangguk, malu.


"Baju sama mobil dapet pinjem. Puas lo!" cerca Haidar. Yumna hanya menutupi mulutnya yang ingin menyemburkan tawa.


"Apa, ketawa. Ketawa aja! Gue tahu gue ini gak punya apa-apa." entah kenapa itu membuat Yumna berhenti tertawa, dia malah merasa tidak enak pada Haidar.


"Sorry!" ucap Yumna.


"Its oke. Gak pa-pa. Gue cuma gak mau Ronald malu ngundang gue, makanya gue pinjam baju ini. Beruntung temen gue baik, mau pinjemin, dia juga sibuk gak bisa datang, sekalian gue bilangin sama si Ronald kalau dia gak bisa datang gitu. Dia juga pinjemin mobil ini." Yumna hanya bisa mengangguk dalam.


Mereka pun terdiam.


"Elo gak mau gitu kerja di perusahaan supaya bisa mengubah hidup?" tanya Yumna yang tidak suka keheningan diantara mereka.

__ADS_1


"Ingin, tapi gak tahu gue cepet bosen. Gue gak suka di suruh orang dan di tunjuk-tunjuk orang. Ronald juga nyuruh gue kerja di perusahaan dia tapi gak tahu. Gue belum memutuskan."


"Eh tapi tadi elo bisa banget ngobrol sama Dave, sekilas gue gak percaya kalau elo tahu soal perkembangan bisnis papanya. Kalau orang yang gak tahu elo malah bisa di sangka elo itu pengusaha, termasuk si Dave." Haidar terkekeh mendengar penuturan Yumna.


"Tapi gue pantas gak kalau jadi bos?" Gantian Yumna yang terkekeh.


"Bos? kerja aja enggak! Gue gak nyangka elo hebat banget, sampe gue aja salut dan hampir percaya kalau elo itu pengusaha muda." Yumna menutup mulutnya yang tertawa lebar.


"Elo lupa kalau gue dulu ikutan kelas drama? Kalau cuma akting gitu mah, gampang!" ucap Haidar sombong.


Yumna lupa akan hal itu. Saat di Singapura memang Haidar beberapa kali mengikuti pentas drama yang di adakan di universitas atau di luar universitas. Dia cukup mahir akan hal itu. Haidar juga cukup di kenal di kalangannya.


"Trimakasih ya tadi udah nolongin!" lirih Yumna.


"Tentu, tadi gue gak sengaja aja ada di deket sana dan lihat elo lagi ngobrol sama dia. Maaf sekali lagi gue udah ngaku-ngaku." sesal Haidar.


"Ya sudah lah. Tidak apa-apa semoga saja gue gak akan ketemu dia lagi." Yumna tersenyum sambil merapikan rambutnya menyelipkannya di belakang telinga. Hal itu tak luput dari perhatian Haidar. Haidar merasa sedikit canggung dengan hal itu, Yumna benar-benar berbeda kali ini. Dia perfect!


"Lalu yang tadi kita ketemu sama cowok yang bawa pacarnya itu, siapa?" taya Haidar hati-hati karena tadi sempat melihat Yumna enggan bertemu. Bahkan kali ini raut wajahnya berubah sendu.


"Sorry, gak mau bahas ya?"


"Enggak kok. Dia cuma teman satu sekolah, orangtua kami juga bersahabat."


"Oh. Ehm, Yumna rumah kamu yang mana?" tanya Haidar saat memasuki area sebuah perumahan.


"Masih terus ke dalam." ucap Yumna. Haidar melajukan kendaraannya perlahan.


"Yang itu!" tunjuk Yumna. Mobil berhenti di sebuah rumah sederhana berlantai dua dengan taman kecil di depannya.


"Makasih ya udah anterin. Gak mampir gak papa kan? Takut mama marah." ucap Yumna malu.


"Gak nyangka cewek bar-bar takut mama!" ejek Haidar. Yumna hanya melotot.


Yumna membuka pintu mobil sedikit lalu kembali menutupnya.


"Ada apa?" tanya Haidar.


"Aku lupa!" Haidar mengernyitkan dahinya.


"Jas kamu!" Yumna melepas jas nya dan dengan hati-hati menyerahkan jas itu pada Haidar.


"Trimakasih." ucap Yumna dengan senyuman.


"Sama-sama." Haidar tidak menyangka senyuman manis Yumna sedikit menghipnotisnya hingga tangannya masih menggantung di udara dengan jas di tangannya.


Yumna keluar dari dalam mobil itu dan melambaikan tangannya pada Haidar. Begitu juga Haidar balas melambaikan tangan pada Yumna yang berdiri di depan pagar. Sadar akan tangannya yang melambai Yumna kemudian menariknya ke belakang tubuhnya. Melipat bibirnya ke dalam. Malu. Salah tingkah.


Begitu juga dengan Haidar di dalam mobil, dia merutuki dirinya sendiri. Lalu menjalankan mobilnya dengan perlahan meninggalkan Yumna yang kemudian ia lihat sudah masuk ke dalam pagar.


"Neng Yumna?" tanya seorang security penjaga rumah, membukakan pintu gerbang untuk putri majikannya. "Tumben neng kesini, udah malam lagi. Dari pesta ya neng?" tanyanya lagi pada Yumna yang memakai baju bagus.


"Iya, A." jawab Yumna sembari masuk ke dalam. "A, kalau nanti pak Naryo kesini, panggil saya di dalam ya."


"Baik, Neng!" ucap Jeje. Jeje adalah keponakan pak Dani, usianya di atas Yumna dua tahun. Bekerja disini sejak lulus dari SMA, untuk menemani pak Dani yang kini menjaga rumah milik Bima.


Yumna berjalan ke dalam rumah, berpapasan dengan pak Dani, sang penjaga rumah yang sudah sangat lama menjaga rumah itu. Ingat pak Dani kan? Satpam di rumah Lily! Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tapi pak Dani masih tegap dan masih terlihat tampan.


"Eh, neng Yumna. Ada apa kesini neng?" Pak Dani dengan dua cangkir kopi di tangannya.


"Gak apa-apa, pak Dani. Tadi ada yang nganterin pulang jadi kesini."


"Oh. Neng mau bapak bikinin apa, nanti bapak anterin dulu ini ya ke depan ke si Jeje sebentar, nanti bapak balik lagi ke dalam."


"Gak usah pak Dan. Yumna cuma sebentar kok nunggu Pak Naryo aja. Nanti tolong panggil Yumna kalau pak Nar datang ya." pinta Yumna.


"Oh oke, neng!" ucap Pak Dani. Lalu keduanya pergi ke arah yang berlawanan.


Pak Dani yang sudah tahu sifat nonanya hanya memaklumi. Yumna memang berbeda dengan gadis lainnya. Dia tidak menampakkan dirinya yang berada, malah terkesan menutupi jati dirinya. Yumna dengan segala kesederhanaan, berbanding terbalik dengan kemewahan yang ada.


Yumna merebahkan dirinya di atas kasur, di kamar yang dulu di tempati sang papa. Kakinya pegal karena selama di pesta dia memakai heels yang lumayan tinggi.


Yumna tersenyum sendiri, merasa lucu dengan dirinya. Entah kenapa. Yumna pun tidak mengerti. Satu hal yang Yumna belum sadar, sosok Haidar bisa membuat sisi lain seorang Yumna keluar dari garisnya.


Tak lama suara pak Dani memanggil.


"Pak Naryo, sudah jemput neng!" pak Dani setengah berteriak dari luar pintu.

__ADS_1


"Iya pak." Yumna pun segera beranjak dan mengambil tasnya.


__ADS_2