
"Azkhan! Apa yang kamu lakuin!" teriak Syifa dengan marah, tidurnya terganggu akibat adik bungsunya ini. Tubuhnya berada di bahu sang adik dan entah apa yang akan dia lakukan kepadanya.
"Ini udah siang, elu bangun dan kuliah. Mau jadi pengangguran lo?" tanya Azkhan dengan tidak peduli, pun dengan apa yang kakaknya lakukan terhadapnya kini, memukulnya dengan keras dan menendangnya dengan lutut.
"Hei, turunin gue napa! Elu mau bawa gue kemana?" teriak Syifa tak terima. Azkhan membuka pintu kamar mandi dan menurunkan Syifa beserta selimutnya ke dalam bathub.
"Azkhan! Rese lu, ya!" Syifa berteriak lagi dengan marah, tubuhnya basah karena sang adik membuka kran air dan mengguyur kepalanya, juga dengan selimut tebal yang kini ada di setengah bathub. "Basah. Aduh!"
"Mandi, Kakak. Ini udah siang. Enak aja lu mau libur, ingat lu sebentar lagi mau ujian," ucap Azkhan tidak peduli meski kakaknya kini telah basah kuyup.
"Rese, ih. Dingin!" Syifa gelagapan, mengusap wajahnya dari serangan air. Kesal dan juga pagi begini si bungsu berulah.
"Gue kan cuma menjalankan mandat dari ibu ratu. Jangan marah sama gue, ya." Azkhan tertawa kecil, lalu dengan seger pergi dari sana setelah mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya itu.
Syifa melotot ke arah pintu, melihat sang adik yang hanya tersenyum dengan jahil dan tidak berperasaan.
"Gue akan balas elo nanti ya. Awas aja lo!" teriak Syifa lagi sambil mengacungkan sikat pembersih lantai kepada sang adik.
"Aku tunggu pembalasanmu," ucap Azkhan lalu menjulurkan lidahnya dan kemudian pergi dari sana.
Syifa mendengkus sebal. "Keterlaluan banget sih!" teriaknya lagi sambil menghentakkan kakinya di lantai bathtub.
Azkhan kini berjalan turun ke lantai bawah dengan sangat santainya, seakan tidak terjadi apa pun di atas sana. Dia kembali duduk di tempatnya tadi.
"Kamu apain Syifa?" tanya Lily yang tadi sempat mendengar suara teriakan dari lantai atas.
"Cuma bangunin aja," jawab Azkhan santai lalu mengambil roti lapis miliknya.
"Nggak mungkin Syifa teriak gitu kalau kamu gak bikin ulah!" Tatapan tajam dia dapatkan dari sang ibu, tapi Azkhan hanya tersenyum sedikit hingga giginya yang putih terlihat berjejer rapi.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Ma. Cuma bangunin dia aja kok. Dan bantu mandi juga," gumam Azkhan di akhir kalimatnya.
Bima hanya bisa menggelengkan kepala mendengar penuturan putranya ini. Rasanya tidak bisa dipercaya sama sekali.
...***...
Terpaksa Syifa mandi pagi ini. Rencana untuk tidur seharian jelas sudah ambyar akibat ulah adiknya itu. Kini dia hanya pasrah dan segera bersiap untuk turun dengan membawa tas nya.
Langkah kaki gadis itu cepat dengan jarak yang pendek menuruni tangga. Rambutnya yang setengah basah bahkan masih meneteskan air karena tidak cukup waktu untuk membuatnya kering sempurna. Ini sudah siang, jika tidak bergegas bukankah percuma juga bangun dan mandi sepagi ini?
"Pagi!" sapa Syifa dengan wajah yang kesal, duduk di kursinya dan cemberut, tak ada ciuman selamat pagi untuk kedua orangtuanya.
Hal itu membuat Lily merasa kehilangan, menyidik dari rambut dan pakaian yang sedikit basah Lily tahu jika ada hal yang tidak baik terjadi tadi.
"Ma, Azkhan tuh. Masa aku diguyur air dingin," ucap Syifa mengadu. Azkhan yang dituduh hanya diam menikmati makanannya, sudah biasa jika mendapatkan omelan dari sang bunda.
"Astaga. Azkhan! Bener itu?" tanya Lily dengan terkejut. Akan tetapi, memang itu hal biasa yang sering anaknya lakukan.
Syifa mendengkus sebal. "Tapi kan bukan guyur gue juga, dingin tau! Elo terlalu benget sih jadi adik. Durhaka!" teriak Syifa dengan nada yang melengking keras. Telinga Lily sampai pengang mendengar putrinya itu berteriak.
"Kan gue cuma bangunin elo. Kalau nggak mau diguyur seharusnya elo bangun sendiri, dong. Udah gede juga."
Perdebatan di pagi itu membuat kepala Lily menjadi pusing, berbeda dengan Bima, melihat anak-anaknya berdebat rasanya menyenangkan sekali, membuat dia mengingat masa lalu saat keempat anaknya masih kecil. Rindu sekali.
Kurang satu orang, gumam Bima di dalam hatinya.
"Papa nih ya, senyum-senyum aja. Bukannya melerai." Bima tersadar saat Lily memukul lengannya. Dua anaknya masih berdebat hebat, Sifa dengan nada kesal dan dijawab Azkhan dengan nada yang santai.
"Biarin aja napa, kan rame kalau kayak gini, Ma." Hanya itu jawaban Bima yang membuat Lily menatap suaminya malas. Percuma!
__ADS_1
Perdebatan akhirnya selesai saat Lily memutuskan jika dia lah yang memegang kendali di kerajaannya.
"Nyebelin! Awas lu," ujar Syifa yang mendahului berjalan di depan Azkhan. Dengan langkah kakinya yang kecil gadis itu berjalan dan melangkah dengan lebar hingga membuatnya terlihat lucu di mata sang adik.
"Astaga. Elo keterlaluan! Kenapa gak sekalian aja elo ceburin Syifa ke kolam renang," ucap anak ketiga pasangan Lily dan Bima itu seakan memberikan ide yang lebih gila lagi.
Azkhan menatap punggung kakaknya sambil berpikir, "Bener juga ya. Kenapa gue gak kepikiran buat ke sana?" gumam Azkhan.
Di ruang makan, Bima dan Lily masih duduk bersama. Beberapa piring kotor bekas ketiga anaknya masih ada di atas meja.
"Mas, untuk ulang tahun Yumna, apa Mas udah siapkan sesuatu?" tanya Lily pada suaminya.
Bima yang sedang menyesap air kopi tersedak karena mendengar pertanyaan sang istri. Ulang tahun?
Bima melirik Lily, masih menikmati sarapan paginya yang berupa roti tawar dengan selai coklat kesukaannya.
"Aku sudah siapkan," ucap Bima berbohong. Tak ingin istrinya marah karena dia lupa dengan hal penting itu.
"Beneran?" tanya Lily menatap suaminya. Bima menganggukkan kepala, meski kini dia berpikir keras apa yang akan dia berikan untuk putri sulungnya itu.
"Apa? Aku boleh tau?" tanya Lily dengan sangat ingin tahu.
"Rahasia, dong. Masih rahasia, apanya ujar Bima, lalu kembali menyesap kopinya dengan cepat sehingga meninggalkan dedak hitam di dasar cangkirnya. Dia gegas berdiri dan mengambil tas kerja. "Aku berangkat dulu, ya."
Lebih baik menghindar daripada Una tersayang semakin kepo dan akhirnya membuat dia mau tidak mau jujur pada mahkluk tercantik itu.
"Eh, aku belum tau apa hadiahnya," ucap Lily dengan nada protes.
"Aku udah telat ini, takut macet. I love U," ucap Bima, lalu mencium kening Lily dan kemudian pergi dari sana dengan cepat.
__ADS_1
Lily mengiringi kepergian suaminya dari ruang makan, dia memilih melanjutkan acara sarapannya yang belum selesai.
"Hem ... Pasti lupa, deh." Tebak Lily.