YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
31. Hari Pernikahan.


__ADS_3

Hari pernikahan tiba. Acara akad dan resepsi di lakukan di hotel milik Bima dengan sangat meriah. Banyak tamu yang datang, dari kalangan pengusaha maupun teman-teman Yumna. Dari dalam maupun luar kota. Bahkan Bima menyediakan kamar-kamar bagi tamu yang ingin bermalam disana secara gratis.


Hotel terbesar milik Bima di sulap menjadi tempat pesta terbaik malam itu, semuanya menyunggingkan senyum melihat kedua pengantin itu yang terlihat sangat serasi dalam balutan gaun pengantin.


Yumna dan Haidar berdiri di atas pelaminan, beberapa orang sedang menyalaminya memberikan ucapan selamat atas pernikahannya.


Haidar menatap Yumna tanpa berkedip, tak dia sangka. Yumna yang biasanya berpenampilan culun dengan kacamata besarnya kini bisa secantik dan sempurna seperti ini. Make up yang terlihat simpel dan tidak berlebihan membuat dia terlihat sangat menawan. Tak bosan ia memandang wajah dengan senyuman itu.


'Sialan! Kenapa dia cantik sekali? Aku kan jadi betah lihatnya!' gumam Haidar dalam hati.


Haidar mencebik sebal saat lagi-lagi ada orang yang datang untuk memberi salam dan juga selamat untuk mereka. Apalagi saat teman-teman lelaki Yumna datang. Mereka seperti tak rela melepaskan pandangan dan tautan tangan mereka dari si pengantin wanita. Membuat Haidar ingin sekali menarik Yumna dan segera menguncinya di dalam kamar pengantin untuk... menikmati wajah cantik itu sendirian maksudnya.


"Selamat ya Yumna!" ucap seorang pria. Lagi-lagi mereka bersalaman sangat lama, sambil mengobrol ringan. Haidar berdehem, membuat keduanya mengalihkan pandangannya. Haidar tersenyum membuat pria itu lantas menarik tangannya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Yumna, setelah mereka kembali duduk. Dia berbicara sambil terus melengkungkan senyum.


"Gak pa-pa!" jawab Haidar bete.


"Kalau gak pa-pa, senyum dong! Jangan cemberut gitu! Gak baik tahu di lihat orang lain masa pengantin malah cemberut!" goda Yumna.


"Bisa gak sih kalau gak usah lama-lama jabat tangan sama teman-temen kamu, apalagi yang laki-laki!" ujar Haidar entah kenapa dia merasa kesal.


"Cieeee... ada yang bau-bau tapi bukan bau kebakaran nih!" Yumna menutupi mulutnya menahan tawa.


"Siapa juga yang cemburu. Aku enggak!"


'Harusnya kan aku yang ganggu dia kenapa jadi aku yang dia ganggu! Ini tidak benar!' Gumam Haidar dalam hatinya.


"Gue kan gak bilang elo cemburu!" ucap Yumna santai.


"Lain kali bisa jaga tangan dan matanya gak sih?" tanya Haidar membuat Yumna menoleh bingung. Alisnya terangkat satu.


"Mmm... Maksud gue ini kan resepsi kita, gak baik kan kalau salaman dan ngobrol lama-lama. Apalagi sama cowok, mau itu temen atau mantan!" ucap Haidar dengan nada sedikit kesal.


"Ohhh...." jawab Yumna.


Seorang gadis cantik berjalan menaiki panggung pelaminan. Gaun soft pink setinggi lutut, tanpa lengan dengan kerah tinggi dan sepatu berwarna senada, serta tas tangan berwarna hitam bermerk terkenal menjadi pusat perhatian di antara para tamu.


"Haidar!" panggilnya lembut. Haidar melongo melihat keberadaan gadis itu. Tidak ia sangka, dia akan datang ke acaranya.


"Selamat ya." gadis itu mengulurkan tangannya.


"Vio!" Haidar bangkit dan menerima uluran tangan Viola.


"Selamat atas pernikahan kalian." ucap Viola sambil menarik tubuh Haidar dan mencium pipi kiri dan kanannya. Tubuh Haidar menegang. Tidak ia sangka Vio akan datang dan menciumnya di hadapan para tamu yang hadir, seketika terdengar bisik-bisik dari para tamu.


"Trimakasih Vio, sudah meluangkan waktu untuk datang di pernikahan kami!" ucap Yumna mewakili, berdiri dan meraih tangan Viola hingga tautan tangan antara Haidar dan gadis itu terlepas. Haidar menatap kedua wanita di depannya.

__ADS_1


'Satu pacar, satu istri....' Haidar menggaruk lehernya yang tidak gatal. Merasa aneh dengan keadaan meteka sekarang. Dia menatap Vio dan Yumna bergantian. Dua wanita itu saling menatap satu sama lain.


"Haidar. Aku harap kamu gak lupa dengan janji kamu!" ucap Vio dia mengelus pundak Haidar, membuat pria itu salah tingkah mengingat janjinya beberapa hari yang lalu.


"Tenang saja, Haidar tidak akan pernah melupakan janji apapun sama nona Vio. Tapi untuk sekarang, kami sedang ada acara, bisakah nona Vio tidak membuat para tamu salah fokus?" tanya Yumna sopan. Viola tersenyum dan mengangguk.


"Tentu saja, nyonya Rahadian. Hanya saja sekali lagi aku akan ingatkan pada suami anda. Aku menunggu!" bisik Vio di akhir kalimat, membuat Yumna merasa kesal.


"Oke tuan Rahadian. Aku akan undur diri sekarang. Aku tidak punya hadiah yang di bawa kemari tapi..."


Cup. Mencium pipi kiri Haidar.


"...hanya ini hadiahku buat kamu!" Haidar masih terdiam mematung di tempatnya.


'Ya ampun ni orang! Apa tidak bisa mesra-mesraannya di tempat lain! Sudah tahu ini bukan acara dia!' batin Yumna.


Haidar dan Yumna menatap Vio tajam. Tidak di sangka jika wanita itu nekat mencium mempelai pria di hadapan para tamu yang hadir. Lagi, para tamu saling berbisik pelan.


"Sampai jumpa besok, sayang!" bisik Vio di dekat telinga Haidar. Lalu pergi dari sana dengan tenang seakan tidak pernah terjadi apa-apa.


Yumna menjatuhkan dirinya di atas kursi pelaminan. "Bagus! elo larang gue berjabat tangan dengan orang lain, tapi elo sendiri hanya diam saja di cium seperti itu?" sindir Yumna.


"Besok pasti akan ada berita yang lebih heboh dari pada pernikahan kita!" ucap Yumna lirih. Dia merasa kesal luar biasa dengan pemandangan barusan. Bagaimana kalau keluarganya bertanya tentang kejadian barusan? Bagaimana kalau besok ada pemberitaan miring tentang mereka?


"Hei, itu bukan keinginan gue. Gue juga gak tahu kalau Vio akan datang. Kemarin dia bilang sedang ada pemotretan di luar kota sampe besok lusa!" Haidar membela dirinya. Dia juga tidak mengetahui kalau Vio akan menghadiri pesta ini.


"Iya-iya. Gue pasti akan beresin masalah ini nanti." jawab Haidar.


"Yumna!" panggil seseorang. Yumna dan Haidar menoleh pada asal suara itu. Aldy! Mereka berdua berdiri.


"Selamat!" Aldy mengulurkan tangannya pada Yumna. "Selamat atas pernikahan kalian." ucapnya lagi. Yumna menyambut tangan Aldy. Dadanya berdebar keras. Tidak bisa di pungkiri kalau Yumna tidak pernah bisa melupakan Aldy hingga saat ini.


"Trimakasih, Al."


"Selamat, Haidar." Aldy juga bergantian mengulurkan tangannya pada Haidar.


"Semoga kalian berbahagia."


"Ya tentu. Trimakasih!" ucap Haidar memasang wajah tersenyum. Haidar menggenggam tangan Yumna. Yumna menarik tangannya, tapi genggaman kuat Haidar tidak bisa membuatnya terlepas.


"Semoga kamu bisa jagain Yumna dengan baik. Yumna adalah wanita yang berharga. Tolong jaga dia baik-baik. Kalau kamu tidak bisa menjaga dia, tolong kembalikan dia dengan baik pada keluarganya." Ucap Aldy, dia menatap Yumna yang berdiri di samping Haidar.


'Aldy, seandainya dari dulu kamu tidak bersikap dingin seperti itu, mungkin kita bisa sama-sama.'


"Tentu saja. Aku akan jagain Yumna dengan baik. Aku sudah janji sama mama Lily dan papa Bima untuk menjaga putri kesayangannya dengan baik, mencintai dia dan menyayangi hingga akhir hayatnya!" Haidar mengangkat tangannya dan mencium punggung tangan Yumna, dia melirik istrinya dengan mesra. Yumna terbelalak kaget dengan ucapan maupun perlakuan Haidar. Aldy yang melihat hal itu merasa patah hatinya.


Jleb..

__ADS_1


Jleb..


Jleb..


Sakit. Seperti ribuan anak panah yang di tembakan tepat di ulu hatinya.


'Seandainya dulu aku tidak pernah anggap dia sebagai adikku... Aku salah mengartikan rasa sayangku. Nyatanya bukan sayang pada seorang adik. Tapi aku cinta dia!'


Aldy tersenyum meskipun hatinya sedang terluka. "Ya sudah, aku senang dengan kesungguhan kamu Haidar. Yumna, aku akan mencari mama dan papa dulu. Semoga kalian bahagia!"


Aldy mengangkat tangannya dan mengusap kepala Yumna. Hal yang sangat sudah lama sekali tidak pernah ia lakukan lagi pada Yumna. Yumna terdiam memaku dengan perlakuan Aldy. Rasanya, hatinya sangat tidak nyaman dengan perlakuan Aldy yang seperti itu.


'Apa yang aku lakukan salah?!' batin Yumna.


'Cepat jauhkan tangan kamu dari istriku!' geram Haidar dalam hati.


"Sayang, apa kamu haus?" tanya Haidar, dia mengambil minuman dalam gelas kemasan dan memberikannya ke depan bibir Yumna. Yumna tersadar, dia meminum air itu langsung dari tangan Haidar.


Aldy sadar bahwa Haidar tidak suka dengan kehadiran dirinya. Dia segera meninggalkan kedua mempelai itu.


Aldy berjalan menuju meja tempat minuman berada, dia mengambil satu gelas minuman dan menenggaknya. Menatap sekali lagi ke arah dimana kedua pengantin berada.


'Yumna, aku salah. Kalau saja aku lebih tahu isi hatiku sejak awal, pasti aku yang akan berdiri di sana menjadi pendamping kamu.'


Yoga datang mendekat dan menepuk pundak putranya. Merasa iba. Dia tahu Aldy saat ini pasti sedang terluka hatinya.


"Merasa menyesal?" tanya Yoga. Aldy hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.


"Sudahlah. Bukan jodohmu! Papa sudah bilang dari dulu kan kalau perasaan kamu sama Yumna mungkin bukan perasaan seorang kakak pada adiknya, tapi kamu selalu menyangkal!" sesal Yoga, hilang sudah calon mantu yang ia idamkan sejak dulu.


"Sudah lah pa. Jangan ungkit lagi, semua memang salahku!" ucap Aldy lalu beranjak pergi.


"Hei, nak. Mau kemana?" tanya Yoga setengah berseru.


"Cari angin!" jawab Aldy. Aldy terus berjalan dan tidak menghiraukan panggilan Wanda sang mama yang baru saja datang. Dia hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Aldy kenapa, pa?" tanya Wanda.


"Patah hati!" jawab sang suami.


"Anak itu. Ckckck. Heran! Padahal papa dan mamanya banyak bicara kenapa anak itu sangat pendiam, sampai-sampai gak bisa tahu isi hati sendiri?" sesal Wanda, dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Entah lah, papa juga gak ngerti! Dulu kamu ngidam apa sih ma sampai punya anak frozen boy gitu?" Tanya Yoga pada Wanda. Wanda mendelik tajam pada sang suami dan memberikan cubitan mautnya di perut Yoga. Yoga meringis kesakitan mengusap perutnya yang terasa panas.


"Yang ngidam itu kan kamu, tengah malam makan eskrim, sampai-sampai bangunin yang lain suruh cariin eskrim. Kenapa jadi nyalahin mama?" kesal Wanda. Yoga tersenyum meringis, merasa bersalah karena melupakan hal itu.


"Hehe... Emang ngaruh gitu?" tanya Yoga dengan nada sok polosnya. Dia merangkul istrinya membujuknya supaya tidak marah lagi.

__ADS_1


"Ya gak tahu, tapi buktinya lihat anak kita. Kasihan banget dia. Bahkan sampai dia gak tahu kalau sudah jatuh cinta pada Yumna. Hilang sudah calon menantu idaman!" sesal Wanda. Yoga hanya mengangguk setuju.


__ADS_2