
...Maafin Othor sebelumnya π....
...Ternyata Othor salah ingat, kalau Aldy anak dari Yoga dan Wanda π₯². Maafin Othor, ya π . Beberapa bab sebelumnya akan ada revisi, sedikiiiittt π€, kalau mau mengulang silakan, kalau tidak juga nggak apa-apa, tetap di sini Celia yang akan hamil, tapi kita ganti dengan Alvas sang anak yang ada di posisi Aldy kemarin dan juga menghadirkan nama Yoga dan Wandaπ₯²π. Selain dari itu tidak ada yang direvisi lagi....
...Makasih buat salah satu pembaca yang sudah berkomentar dan mengingatkan β€οΈ...
...***...
Malam sudah semakin larut, tapi pesta yang ada di dalam perusahaan tersebut semakin ramai saja. Rasa-rasanya mungkin akan selesai menjelang tengah malam nanti.
Jujur saja Yumna sudah sedikit lelah, apa lagi dengan banyak tangan yang terulur kepadanya. Bersama dengan Haidar, dia tidak bisa berhenti untuk ikut berbaur dengan pengusaha-pengusaha lain yang mendekat dan berbincang. Mulutnya sudah kaku, harus selalu tersenyum dan beramah tamah. Resiko seorang istri seorang pengusaha meski namanya belum terkenal di dunia bisnis.
Dari kejauhan, Randy tak pernah berhenti menatap heran ke arah Yumna dan suaminya, melihat Haidar yang didatangi oleh beberapa orang yang dia kenal membuatnya bingung.
Sebenarnya ... Siapa suami Yumna? tanya Randy di dalam hatinya, dia meminum air yang ada di tangannya, masih melirik ke arah dua orang itu di kejauhan sana.
"Sebenarnya siapa mereka?" tanya Randy berbisik kepada Aldy.
Aldy mengangkat pandangannya, melihat ke mana arah telunjuk Randy terarah.
"Yumna dan Haidar?" tanya Aldy.
"Kamu kenal mereka?" tanya Randy dengan kening yang mengerut.
"Ya, aku kenal. Karyawan kamu, kan? Yumna juga teman kecilku, suaminya adalah seorang pengusaha yang baru menanjak sekarang ini."
"Teman kecil?" Randy terkejut mendengarnya. "Kenapa kamu nggak bilang?" tanya Randy kesal. Aldy merasa bingung dengan keterkejutan sahabatnya ini.
__ADS_1
"Iya, dia teman kecilku. Kenapa?" tanya Aldy bingung. Randy tertawa kecil, menggelengkan kepala mendengar kenyataan ini.
"Astaga."
"Kenapa? Apa penting untuk tau siapa semua temanku?" tanya Aldy lagi. Randy menggelengkan kepalanya.
"Nggak. Tapi aku cuma kaget aja kamu kenal dengan dia," ujar Randy.
Sial! Kenapa aku nggak kenal dengan Yumna juga? Rutuknya di dalam hati.
"Kamu aneh," ucap Aldy, minuman yang ada di tangan dia sesap sedikit.
"Aku nggak tau kalau kamu dekat dengan Yumna sedari dulu. Kenapa aku nggak pernah lihat kamu sama dia?" tanya Randy menyelidik.
"Yumna belajar di Singapura saat kita baru saja kenal dulu," ucap Aldy. Sontak mendengar nama Singapura membuat Randy menolehkan kepalanya.
Haidar melihat wajah lelah sang istri, kasihan juga Yumna, tapi tampak memaksakan diri karena Pak Gery, salah satu pebisnis yang kenal dengan Papi Arya, terus saja mengajaknya mengobrol. Haidar melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, sudah lumayan malam dan mereka harus berangkat bekerja besok pagi.
"Maaf, Pak Gery. Saya mohon maaf karena memotong pembicaraan kita, tapi saya harus permisi. Ini sudah malam dan saya harus menjaga kesehatan istri saya supaya tidak terlalu lelah," ucap Haidar sambil merangkul pinggang istrinya erat. Yumna menyodok perut Haidar dengan sikunya, sedikit sakit, tapi Haidar tahan untuk tidak mengeluarkan rintihan di depan Gery dan istri.
"Ya, tentu saja. Silakan. Senang sekali bertemu dengan anak muda yang bersemangat seperti ini," ucap Gery, membuat Haidar dan Yumna saling menatap bingung dengan maksud dan juga kerlingan mata dari laki-laki berumur itu.
"Papa!" Sang istri mencubit lengan suaminya. "Jangan ganggu pasangan muda. Kayak kamu nggak pernah aja dulu," bisik sang istri, tapi masih tetap terdengar oleh Haidar dan juga Yumna. Kini dua anak muda itu tengah menahan malu. Mereka berdua kemudian benar-benar pergi dari pasutri tersebut.
"Sayang, kita cari mama dan papa dulu, ya. Aku mau pamitan dulu sama mereka," pinta Yumna.
"Tentu." Haidar menggenggam tangan istrinya dan mencari mertua yang terlihat ada di suatu tempat di ruangan tersebut.
__ADS_1
Randy mengikuti langkah dua orang itu dengan pandangannya. Terutama pada tangan kedua orang itu yang saling bertautan. Sedikit panas rasa di dalam dadanya. Inginnya datang ke sana dan menjauhkan keduanya.
Yumna dan Haidar kini telah sampai di mana Lily dan Bima berada, kedua orang itu berpamitan kepada mereka.
"Oh, ya sudah. Kalian pulang saja duluan," ucap Lily.
"Yang lain kemana?" tanya Yumna lagi.
"Adik-adik kamu nggak tau pada kemana, tadi dih Mama lihat ke luar," ucap Lily.
"Bawa mobil dengan hati-hati. Jangan ngebut," ucap Bima memberi peringatan kepada menantunya.
"Baik, Papa." Haidar mengangguk dan mengulurkan tangannya berpamitan kepada Lily, mencium punggung tangan mertuanya yang masih cantik meski di usia yang sudah tidak lagi muda. Juga dengan Bima, yang seakan enggan menerima pamit dari Haidar. Sedikit bergetar tangan Haidar saat menempelkan punggung tangan Bima ke keningnya.
"Kami pulang dulu, lain kali kami akan berkunjung lagi ke rumah." Yumna memeluk ayah dan ibunya untuk malam ini.
"Hati-hati di jalan," bisik Lily, kemudian dengan sedikit tak rela melepaskan anak dan menantunya pergi.
Randy tetap tidak melepaskan mereka dari pandangannya. Dia merasa heran saat melihat keakraban Yumna dengan pasangan yang dia kagumi.
Aldy mengalihkan tatapannya ke arah pandang Randy. "Oh, ya. Aku belum bilang ya sama kamu kalau Yumna itu putri pertama dari Papa Bima?"
"Apa?" ucap Randy terkejut hampir tersedak oleh minumannya. Beruntung minuman tersebut tidak sampai jatuh ke pakaiannya.
"A-anak Pak Bima?"
Aldy mengangguk dengan santainya. "Apa kamu nggak perhatikan nama Yumna? Yumna Azzura Mahendra," ucap Aldy lagi.
__ADS_1