
Haidar mengeluarkan hp dari dalam saku celananya. Begitu banyak panggilan dan juga chat. Dari mami, papi, beberapa orang yang tak penting dan.... pesan dari Yumna?
Haidar menyipitkan matanya, tulisan di layar hpnya terlihat sedikit buram. Dia melihatnya dengan lamat, mendekatkan layar hp itu ke depan matanya. Merasa tak percaya.
Benar!
Yumna!
Haidar tersenyum senang. Sudah lama sekali dia tidak melihat gadis itu. Ah jangankan melihat, suaranya juga tidak pernah terdengar. Dan mau apa dia mengirimkan pesan?
Haidar membuka dan membaca pesan dari Yumna.
^^^Yumna💌^^^
^^^[Bisa kita ketemu?]^^^
Haidar tersenyum lebar.
Yumna mengirimkan pesan dan mengajaknya bertemu? Apa dia kangen?!
Senyumnya semakin lebar. Dia menggerakkan tangannya dan menekan layar, lalu menempelkan hpnya ke telinga.
Tuuut... Tuuuut...
Mendengus kesal saat tak ada jawaban dan hanya terdengar bunyi panggilan menunggu.
Tak menyerah, dia menekan lagi tanda memanggil dan menempelkan hpnya lagi ke telinganya.
Haidar berdecak kesal saat lagi-lagi Yumna abai dengan panggilannya. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Jam 01.17?
Tengah malam? Pantas saja!
Haidar tak peduli. Rasa ingin mendengar suara Yumna membuat dia tak peduli dengan waktu. Dia sangat ingin sekali mendengar suaranya.
Hahhh dia pasti akan marah-marah ku telfon jam segini! Haidar tersenyum senang. Itu artinya Yumna akan mengomel saat mengangkat telfonnya.
Hahh... Dia gila!
"Masa aku kangen dia ngomel-ngomel?!" Haidar berfikir, merasa heran.Dia mengankat bahunya cuek.
Masa bodoh!
Yumna terbangun saat mendengar suara hpnya yang semakin lama semakin keras. Beberapa kali menyala dan akhirnya mati. Menyala dan mati lagi. Menyala lagi...
Ughhhhttt.... Ya ampun...
Orang gila mana yang menelfonnya di tengah malam begini?
__ADS_1
Dengan malas Yumna meraih hp di atas nakas. Dia setengah membuka matanya dan mengintip nama siapa orang gila yang sudah menghubunginya di jam... 01.19?
Astaga..! Mau apa orang ini menelfon di jam segini? Apa dia pengangguran?
Yumna memang menunggu balasan pesan atau telfon dari Haidar, tapi gak di jam segini juga kali!!
"Apa?" tanya Yumna malas setelah dia mengangkat panggilan dari Haidar. "Gila ya. Telfon jam segini mau apa coba, huhh?!! Kayak nelpon kunti aja lo!!" cerca Yumna kasar.
Haidar merasa senang luar luar biasa. Hampir dua minggu dia tidak bertemu atau mendengar suaranya, dan sekarang mendengar omelannya rasanya seperti dia sedang berada di padang pasir yang tandus, menahan dahaga, lalu tiba-tiba seseorang dari langit melemparkan botol minuman kepadanya. Nyesss....
Ah... Mantap. Tapi sayang gak ada semongko hehe...
"Elo ngapain chat gue ngajak ketemu? Kangen gue ya?" tanya Haidar dengan nada khas mabuknya.
Tengah malam telfon hanya unuk bicara hal tak masuk akal seperti itu?
Yumna yang mendengar perkataan Haidar memutar bola mata malas. Pria ini terlalu pede. Kangen katanya? Apa dia sudah lupa dengan rencana perceraian mereka. Apa dia amnesia? Yumna menghubunginya hanya untuk bertanya, siapa yang akan mendaftarkan perceraian mereka ke pengadilan agama.
"Gak kangen gue. Sama sekali!!" ucap Yumna. "Elo telfon gue tengah malem gini cuma buat bilang gitu?" Tanya Yumna.
"Hehe... gue kira elo kangen gue." Haidar tertawa sambil menggaruk belakang telinganya yang tak gatal sama sekali.
"Astaga! Apa untungnya gue kangenin elo?!" Yumna mengusap wajahnya kasar. Rasa kantuknya sudah berangsur menghilang sekarang. Pria itu ngajak gelut rupanya!
"Tapi gue kangen sama elo!" ucap Haidar spontan, membuat Yumna terdiam membeku.
Deg. Deg. Deg...
Akh kangen apa juga. Jangan terlalu banyak berharap. Yumna mencoba menenangkan hatinya yang mulai berdegup tak karuan. Padahal selama ini hatinya baik-baik saja.
"Yumna! Hei elo denger gue gak? halo?" seru Haidar dari tempatnya.
'Woyyy. Elo tidur lagi ya?" Tanya Haidar dia mulai kesal saat Yumna tak lagi bicara. Dia menarik hpnya menjauh dari sisi kepalanya dan melihat layar hpnnya.
"Masih tersambung!" bergumam pelan.
"Yuma. Wooyy lo denger gue gak? Gue kangen elo! Halo!!" Haidar memegang hpnya di depan mulutnya dan berteriak keras berharap Yumna masih mendengarnya.
Berbeda dengan Haidar yang kalut karena tak mendapat sahutan. Yumna juga sedang merasa kalut tak karuan. Dia memegangi dadanya yang kini bersahutan, berdendang bertalu-talu. Berdisko ria. Kelinci berlarian kesana kemari dan berlompatan. Dan begitulah sebagainya. Oh, jangan lupakan wangi bunga padahal di kamarnya tidak ada bunga sama sekali.
"Eh Yumna, elo denger gue gak sih? Gue kangen sama elo. Elo denger gak?! Apa perlu gue datang ke rumah elo dan gue teriak di depan pagar rumah kalau gue kangen elo, hahh?!!" teriak Haidar.
Wajah Yumna memerah. Tak bisa ia cegah. Dia hanya bisa menepuk dan mencubit pipinya sedikit keras. Sakit! Dia tidak bermimpi!
"Yumna elo tidur ya, hiks.. Yumna..." Haidar terisak di tempatnya. Dia mengusap sesuatu yang mengalir di wajahnya.
Menangis? Bahkan dia tak pernah melakukan itu untuk siapapun. Untuk Vio ataupun untuk dirinya. Oh dia ingat sekarang, bahkan dia tak menangis saat mami menamparnya dulu ataupun kemarin. Tapi kenapa dia menangis saat menelfon gadis ini?
__ADS_1
"Yumna> hiks... gue... hiks.. gue... Elo gak mau gitu pulang kesini? Gue kangen banget sama elo!" Bak anak kecil Haidar merengek. Tak ia sadari.
Yumna terdiam. Haidar tidak pernah seperti ini. Tidak pernah merengek, bahkan sampai menangis. Ada yang salah! Nada suara Haidar juga terdengar lain. dan yang pasti, mungkinkah Haidar bilang kangen padanya? Tidak mungkin! Akh dia pasti sdang mabuk!
Mabuk? Astaga! Harusnya Yumna tahu itu!
Seketika semua rasa yang sempat hadir di dalam hatinya sirna sudah. Tak ada lagi hati yang bertalu-talu, tak ada lagi suara disko, kelinci atau wangi bunga. Yang ada kini hanya hatinya yang kosong dan sebentar lagi sedikit demi sedikit akan mulaiterlihat retak saat Haidar menyebutkan nama Vio.
"Haidar!" panggil Yumna dengan nada suara yang bergetar.
Haidar tersenyum senang. Akhirnya suara Yumna terdengar kembali.
"Gue kira elo tidur!" Suaranya terdengar sangat ringan, berbeda dengan tadi saat dia terdengar seperti orang menangis.
"Elo... Elo mabuk ya?" tanya Yumna.
"Gue? Ah enggak? Siapa yang mabuk? Gue cuma minum sedikiiiitt!" Haidar mengangkat tangannya di depan wajahnya, seolah memperlihatkan pada Yumna ujung kukunya. Minum sedikit katanya!
Yumna menghela nafas. Bisa-bisanya dia pede dan bahagia saat pria itu bilang kangen padanya. Padahal pria itu sedang mabuk!
"Eh elo chat gue tadi mau apa? Kangen gue kan? Kalau bukan terus apa dong?" tanya Haidar.
"Bukan! Gue cuma mau tanya, gimana keputusan kita? Siapa yang akan daftarkan perceraian kita ke pengadilan agama? gue atau elo?" tanya Yumna akhirnya. Dia menutup matanya mencoba untuk menenangkan diri. Sekali lagi merasa bodoh
"Cerai?" Haidar memegangi dadanya. Sakit. Padahal tidak ada yang menusuk ataupun menghantamnya.
Kok sakit?
Haidar terdiam.
"Gue..." terdiam lagi. Yumna juga diam untuk mendengarkan lanjutannya.
"Gue... ENGGAK!" seru Haidar sambil duduk tegak. Dadanya naik turun, tak terima dengan ucapan Yumna. "Gue gak mau! Gue kangen elo...hiks... Jangan..." Haidar kembali menjatuhkan dirinya di kasur. Air matanya berderai mengalir membasahi rambutnya.
Yumna terdiam. Apa maksud Haidar dengan jangan?
" Jangan... Gue gak mau...hiks ... hiks..." Haidar terisak, dia memiringkan tubuhnya ke samping menatap sisi lain tempat tidur. Di ambilnya bantal Yumna dan dia dekap erat.
Haidar kembali terisak. Dia kangen dengan Yumna. Sungguh dia kangen sekali.
"Ap-apa maksud elo Haidar?" tanya Yumna. Bingung pastinya.
"Haidar?!" panggil Yumna tapi tak ada jawaban dari pria itu, yang terdengar hanyalah dengkuran halus pria yang kini masih menyandang status suaminya.
Yumna memilih mematikan telfonnya. Dia terdiam. Apa arti dari ucapan Haidar tadi? Yumna mencoba mencerna apa yang Haidar bicarakan.
Akh... apa yang dia pikirkan. Haidar sedang mabuk. Bisakah dia percaya dengan ucapan pria itu.
__ADS_1
Hidar suka dengan Vio. Bukan aku!