
Haidar baru saja pulang dari kantor. Dia melihat jam di tangannya. Masih ada waktu dua puluh menit. Cukup untuk dirinya menjemput Yumna. Masa bodoh jika Yumna tadi bilang tak ingin dia jemput. Rasanya dia ingin melihat wajah kesal Yumna sekarang.
Sampai di depan kantor Yumna, Haidar menghentikan mobilnya tak jauh dari sana. Kedua tangannya terkepal di atas kemudi. Dia menatap seseorang yang kini masuk ke dalam mobil, dengan senyuman manis pada seorang pria yang kini menutup pintu mobilnya lalu berlari ke arah pintu mobil yang lain.
"Jadi, dia tidak mau aku jemput karena dia di jemput pria itu?!" geram Haidar. Dia lalu melajukan mobilnya lebih cepat, dan berhenti tepat di depan mobil yang berhenti karena ulahnya.
Haidar membuka seatbelnya dan keluar dari mobilnya. Dia berjalan dengan cepat dan menggebrak kap mobil hitam tersebut.
"Keluar!" teriak Haidar sambil menunjuk ke arah Yumna. Suaranya menggelegar membuat beberapa orang yang masih ada disana melihat ke arah mereka.
Yumna yang masih terkejut dengan kejadian barusan masih terdiam, tak mengerti dan tak menyangka dengan kedatangan Haidar. Bukankah tadi pagi dirinya sudah bilang supaya Haidar tidak menjemputnya. Kenapa pria itu ada disini?
Haidar membuka pintu mobil, dan membuka seatbelt Yumna, lalu menarik gadis itu keluar. Membawanya ke mobilnya tak peduli dengan Yumna yang meronta dan meminta di lepaskan.
Seno segera keluar dari mobilnya dan setengah berlari menahan tangan Yumna.
"Haidar. Jangan kasar dengan wanita!" seru Seno. Yumna hanya menggelengkan kepalanya pada Seno meminta pria ini untuk mundur. Tapi setelah itu, tak bisa Yumna duga.
Bughh...
Seno terjengkang setelah satu pukulan mendarat di pipinya. Bibirnya perih seketika. Seno meludahkan darah dari mulutnya ke lantai.
Yumna memekik terkejut. Dia ingin membantu Seno tapi Haidar menariknya.
"Jangan dekati Yumna lagi! Kalau tidak, aku akan membunuh mu!" teriak Haidar menunjuk tepat di wajah Seno. Dia lantas menarik Yumna dan menghempaskannya ke dalam mobilnya.
"Haidar, lepaskan. Apa yang kamu lakuin!"
"Pulang!" teriak Haidar, tak peduli dengan keadaan sekitar yang sudah mulai ramai. Yauda menutup kasar pintu mobilnya dan berlari ke arah sisi lain.
Dengan kecepatan tinggi mobil itu menghilang dari pandangan Seno.
Seno bangkit berdiri. Dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan sapu tangan miliknya. Menatap mobil yang kini sudah meninggalkan area kantornya.
Tak ia sangka Haidar semarah itu. Kedatangan dirinya kesini adalah untuk menghadiri undangan Bima yang ingin mengajaknya untuk bekerja sama mengenai resort yang akan Bima buat di Lombok. Bima selaku pemilik modal dan Seno yang akan bertanggung jawab untuk pembangunan serta menjalankan peran penting disana.
Seno hanya menawarkan diri untuk mengantar Yumna pulang, karena Yumna juga bilang tak ada yang menjemputnya. Dia sebagai sahabat tak mungkin jika membiarkan Yumna pulang sendiri. Tak ia sangka ternyata Haidar datang dan marah karenanya.
__ADS_1
Haidar melajukan mobilnya dengan cepat di jalanan. Dia tak peduli dengan Yumna yang protes karena sikap kasarnya pada Seno tadi.
"Haidar, elo gak boleh kasar gitu sama Seno. Dia cuma mau anter gue pulang!" teriak Yumna.
"Iya, anter elo pulang. Makanya elo nolak gak mau gue jemput!!" Haidar balas berteriak pada Yumna.
"Bukan itu! Gue gak sengaja ketemu karena Seno sedang...."
"Ahh... Banyak alasan! Inget Yumna bagaimana pun juga elo itu masih istri gue! Apa itu sikap elo sebagai istri? Jalan sama laki-laki lain?" teriak Haidar. Dia terus saja menginjak pedal gasnya hingga melewati beberapa mobil di depannya.
"Lalu elo gimana huhh?? Elo seenaknya jalan sama Vio, elo pikir elo suami macam apa? Harus gue ingetin lagi kalau kita nikah karena apa? Sadar dong Haidar!" ucap Yumna.
Tak terima dengan ucapan Yumna, Haidar tak lagi ingin protes, dia sadar, sangat sadar. dirinya salah, Namun, entah kenapa dia emosi melihat Yumna naik ke dalam mobil orang lain. Haidar hanya diam tak lagi mendebat.
Sampai di rumah. Yumna segera membuka pintu dan turun dari sana.
Braakkk!!
Menutup pintu dengan kasar hingga beberapa asisten disana terkejut. Yumna berjalan dengan kasar ke dalam rumah, asisten saling berpandangan satu sama lain. Tak biasanya nona muda berlaku seperti itu.
Braakkk!
"Yumna!!" teriak Haidar lalu ikut masuk ke dalam sana.
"Mereka kenapa, ya? tanya salah seorang asisten.
"Denger-denger mereka itu ....." Berbisik di telinga temannya.
"Gak mungkin!" berseru tak percaya.
"Aku denger waktu kemarin mereka makan malam."
"Aku gak percaya. Merek kan selama ini terlihat mesra."
"Hei, waktunya kerja jangan gosip!" Bi Nah memperingatkan dua orang di depannya. Dua orang asisten itu hanya tersenyum serah mengangguk pada tetua mereka lalu keduanya kembali mengurusi tanaman yang sedang mereka potong ranting keringnya.
"Yumna!! Kenapa kamu lebih membela dia daripada aku!" teriak Haidar saat dia menyusul Yumna di tangga.
__ADS_1
Mami Mitha yang mendengar keributan segera keluar dari kamarnya. Dia menyaksikan kedua anaknya yang sedang bertengkar saling berteriak di lantai atas. Lalu terdengar suara pintu kamar yang di tutup dengan keras dari sana.
Ingin rasanya dia naik ke lantai atas, tapi dia sadar, itu adalah masalah rumah tangga anaknya. Dia tidak boleh ikut campur. Mitha hanya berharap mereka bicara baik-baik dan kemudian bisa akur lagi.
Yumna menarik kopernya dari dalam lemari. Tak bisa di biarkan! Apa-apaan dia? Dia jalan dengan wanita lain saja, aku tidak pernah protes! Kenapa aku dengan yang lain dia marah?
Dengan cepat Yumna mengambil pakaiannya tanpa melipatnya. Dia akan pulang sekarang saja, tidak perlu menunggu lusa. Haidar sudah keterlaluan!
Memangnya aku ini milik dia! Kenapa dia marah seperti itu?
Terkadang Yumna berfikir dengan perlakuan Haidar padanya yang seperti itu , mungkinkah Haidar punya rasa padanya? Tapi kembali lagi jika pria itu sedang bertelfon ria dengan keasihnya. Omong kosong! Jangan banyak berharap! Tidak pernah ada rasa untukmu!
Yumna selalu mengingatkan dirinya.
"Mau kemana, kamu?" tanya Haidar yang melihat Yumna beres-beres.
"Pulang!" ucap Yumna singkat. Dia memasukkan apa yang bisa ia masukkan.
Haidar mengusap wajahnya kasar. Tak pernah Yumna bertindak sejauh ini, paling-paling sedikit mendebat dan marah, lalu besoknya mereka baikan. Tapi sekarang kenapa Yumna ingin pulang.
"Kenapa kamu mau pulang hem?" Haidar menarik tangan Yumna. Yumna kesakitan ketika Haidar menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Apa supaya kamu bisa bebas jalan dengan orang lain. Huhh?!!"
Lagi-lagi Haidar mengatakan hal seperti itu, seperti Yumna adalah miliknya saja.
Tidak! Haidar hanya pria egois. Dia hanya tidak mau tersaingi! Dia hanya tidak mau dirinya terganggu!
"Iya!" teriak Yumna akhirnya tak tahan. Matanya sudah memerah.
"Aku ingin bebas Haidar! Aku sudah bosan dengan kamu. Kamu bebas dengan yang lain kenapa aku tidak bisa? Memangnya kamu fikir aku siapanya kamu? Ingat dengan perjanjian kita, Haidar. Pernikahan kita ini hanya bohongan!!" Yumna menghempas kasar tangan Haidar, dia berjalan ke arah nakas dan mengeluarkan lembaran perjanjian yang dulu mereka buat. Melemparnya ke dada pria itu.
Haidar terdiam menatap kertas yang kini teronggok di lantai.
Ia lupa! Ia lupa dengan perjanjian sialan itu!
Yumna kembali ke dekat kopernya dia menutupnya dan berjalan melewati Haidar.
__ADS_1
"Pilih saja. Kamu yang akan ceraikan, atau aku yang menggugat?"