YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
166. Aku Suka Dengan Yumna


__ADS_3

"Kalau kamu izinkan, aku ... aku ingin mengejar kamu." Ucapan Juan membuat Yumna menolehkan kepala kepada pria itu. Yumna menatapnya tidak percaya. Padahal baru beberapa kali mereka bertemu, Juan bilang ingin mengejarnya?


"Maaf, itu ... aku ...." Juan terdiam, wajahnya memerah, dia merasa malu dengan apa yang dia ucapkan barusan.


"Aku tau ini sangat mendadak, dan juga sadar jika kita baru saja bertemu. Maksudku kita belum saling mengenal, tapi bolehkan aku untuk mengejar kamu?" tanya Juan dengan sedikit menoleh ke arah Yumna.


Juan tertawa kecil, dia merasa malu sendiri.


Payah! Harusnya aku tidak menyatakan cinta di dalam mobil. Eh, tapi ini kan bukan menyatakan cinta. Ini hanya bentuk meminta izin. Ah masa bodoh lah ....


Juan sungguh malu, mobil bukan tempat yang tepat untuk bicarakan hal ini, bukan?


"Maaf. Mungkin aku kurang ajar dengan bicara seperti ini sama kamu. Tapi ... aku sungguh ingin semakin kenal dan dekat dengan kamu."


Yumna terdiam mendengar ucapan Juan yang panjang dan lebar. Terlihat pria itu sangat canggung dengan situasi sekarang ini. Juan bahkan tidak mau menatap Yumna saking malunya dia.


Yumna menundukkan kepalanya. Dia merasa bingung dengan permintaan Juan barusan.


"Aku sudah pernah menikah, Juan," ucap Yumna.


"Tidak masalah, aku tidak masalah dengan status kamu," jawab Juan. Ada rasa hangat dan juga kagum dengan pria yang ada di sampingnya ini.


"Bagaimana? Apa kamu izinkan aku untuk mengejar kamu?" tanya Juan lagi.


Yumna masih terdiam, dia belum siap untuk menata hatinya dengan pria lain. Bukan karena takut untuk sakit hati, tapi entahlah, hatinya tidak mudah untuk menerima orang asing, apalagi dirinya baru bertemu dengan Juan beberapa kali saja. Untuk melupakan Aldy saja Yumna butuh waktu lumayan lama hingga sampai pergi ke Singapura, dan untuk melupakan Haidar ...


Ah ... Apakah aku sudah melupakan dia? monolog Yumna dalam hati. Yumna masih merasakan sakit hatinya saat kemarin melihat Haidar dengan wanita itu.


"Yumna, bagaimana? Apa aku boleh mendekati kamu?" tanya Juan sekali lagi. Yumna tersentak dari lamunannya. Dia menatap Juan.


"Maaf, tapi rasanya aku belum siap. Kita berteman saja ya," ucap Yumna. Juan terdiam menatap Yumna sekilas, lalu dia kembali lagi fokus untuk mengemudi.


Yumna merasa tidak enak hati kepada pria yang ada di sampingnya ini, tapi memang rasanya dia belum ingin dekat dengan siapapun.


"Maaf, Juan."


Juan tertawa kecil, "Oke oke. Maafkan aku, aku juga nggak maksa kamu. Maaf kalau mungkin ini juga terlalu cepat buat kamu. Kita juga baru beberapa kali ketemu." Juan berkata sambil tertawa kecil, dia merasa bersalah karena telah membuat Yumna menjadi canggung karenanya.


Yumna menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka telah sampai di area kantor perusahaan Mahendra. Yumna turun dari mobil itu dan mengucapkan kata terima kasih kepada Juan.


"Soal yang tadi maaf ya, aku benar-benar tidak bermaksud. Tapi aku harap kamu bisa mempertimbangkan apa yang aku minta tadi." Pinta Juan sebelum Yumna meninggalkannya. Yumna tidak menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum dan mengangguk.


"Telepon aku kalau kamu sudah mempertimbangkannya." Sekali lagi Yumna mengangguk.


Mobil yang dikendarai Juan kini pergi dari area perkantoran itu. Yumna terus memperhatikannya hingga menghilang di belokan.


Juan, kamu orang baik. tapi kenapa harus datang disaat hati ini belum sepenuhnya pulih? batin Yumna.


Beberapa saat lamanya Yumna menatap jalanan yang ramai di mana tadi mobil Juan menghilang. Hingga dia tersadar saat seseorang menepuk bahunya.


"Ibu Yumna?" Yumna menoleh ke arah asal suara itu. Terlihat Dion sedang menatap Yumna dengan bingung.


"Pak Dion."


"Anda sudah kembali?" tanya Dion sebenarnya dia tidak harus menanyakan hal itu lagi karena sudah jelas-jelas Yumna ada di hadapannya, tapi kenapa malah dia seperti orang bodoh bertanya seperti itu?


"Seperti yang Anda lihat Pak Dion. Saya sudah kembali ke sini terima kasih sudah bertanya." Yumna menjawab dengan senyuman manis di bibir nya. Dion sempat terpana melihat senyuman itu, sudah sangat lama sekali dia tidak melihatnya. Apalagi sekarang wanita yang ada didepannya ini terlihat sangat berbeda. Semakin cantik dari terakhir dia bertemu dengannya.


"Eh iya maaf, pertanyaan bodoh." Dion bicara sambil tersenyum meringis malu.


"Maaf, aku harus segera naik." pamit Yumna kepada dion.


"Oke silakan." Dion menggeserkan tubuhnya untuk memberikan jalan kepada Yumna.


"Terima kasih, Pak Dion." Yumna tersenyum kepada Dion lalu segera masuk ke dalam.


Dion menghela napasnya dengan berat. Dulu dia tidak bia mendekati wanita itu karena telah menikah dan setelah santer terdengar kabar tentang perceraian Yumna, dia juga tidak bisa mendekatinya karena Yumna ternyata bukan orang sembarangan. Dia putri dari bosnya.


Kenapa nasib ku sungguh miris? Mencintai wanita tapi tidak mampu untuk mengejarnya. Bahkan membayangkan untuk jalan bersanding dengannya saja aku tidak mampu. ratapnya di dalam hati.


...***...


Juan telah sampai di perusahaan, dengan langkah tegap dia berjalan dengan gagah bak pangeran yang banyak diidamkan para wanita. Beberapa karyawan yang ada disana memandangnya dengan takjub. Kapan lagi mereka akan bisa menatap pria yang seakan mempunyai semua kesempurnaan ini, sangat indah dan juga enak untuk di pandang mata.


Juan telah sampai pada sebuah ruangan. Dia berjalan dan lalu duduk di depan pria paruh baya yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pria berusia lima puluh tahunan itu melirik Juan sekilas lalu kembali pada pekerjaannya. Dia mencoba untuk tidak peduli dengan pria muda yang hobinya hanya keluyuran tidak jelas menurutnya.


"Pa. Aku mau ambil alih perusahaan ini."

__ADS_1


Pria yang disebut papa oleh Juan itu mengangkat kepalanya. Dengan satu alis terangkat dia menatap putranya itu dengan heran. Sedetik kemudian dia tertawa kecil dengan sedikit nada mengejek.


Darma Wijaya, nama pria itu. Pria yang kini sudah tidak muda lagi, tapi penampilannya masih lumayan sedap di pandang mata, tidak seperti orang lain, di usia sekarang ini bahkan Darma terlihat lebih mempesona dan juga berkharisma. Banyak karyawannya yang mengkhayalkan pria tua itu, -'Andai dia sugar daddy'- begitulah pemikiran kebanyakan karyawan perempuan yang ada di perusahaannya itu.


"Kalau kamu ingin perusahaan ini hanya untuk main-main, Papa tidak akan berikan buat kamu." Darma kembali pada pekerjaannya. Dia mencoba untuk abai dengan ucapan anaknya ini.


"Aku tidak main-main, aku akan serius kali ini." ucap Juan dengan semangat.


Darma menatap Juan dengan bingung. Apa yang menjadikan anak ini sangat bersemangat ingin mengambil alih perusahaan ini darinya. Padahal dulu dia mati-matian menolak permintaannya untuk mengurus perusahaan ini dan malah mengurusi perusahaannya yang tidak jelas itu.


Darma menyimpan kertas yang ada di tangannya.


"Apa yang membuat kamu ingin mengambil alih perusahaan ini?" tanya Darma kepada Juan.


Juan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tujuan dia ingin mengambil alih perusahaan ini adalah untuk bisa setara dengan Yumna. Tidak mungkin dirinya akan mendekati Yumna sedangkan Juan hanya memiliki perusahaan kecil yang bahkan tidak terlihat oleh banyak orang.


"Aku ... tidak apa-apa. Tidak ada alasan, hanya ingin mencoba untuk membantu papa saja." Juan berkata dengan lirih. Darma menangkap sebuah maksud dari perkataan putranya. Meski dia dan Juan tidak terlalu dekat, tapi Darma sepertinya mengerti dengan apa yang terjadi sekarang ini. apa Juan sedang mengejar seorang wanita?


"Kenapa wajahmu bersemu seperti itu?" tanya Darma yang membuat Juan semakin merasa salah tingkah. Darma tersenyum kecil melihat tingkah Juan yang tidak seperti biasanya.


"Bersemu bagaimana?" Juan tidak nyaman dengan pertanyaan dari papanya Itu. dia sampai bergerak-gerak di dalam duduknya karena tidak nyaman dengan tatapan sang papa.


"Kamu sedang dekat dengan waniita?" Papa menembak Juan dengan pertanyaan. Juan tidak bisa mengelak lagi, dia hanya tersenyum dengan pertanyaan Darma sebagai jawabannya.


Darma menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia menatap putranya semakin lekat. Juan yang merasa ditatap sedemikian itu menjadi semakin tidak nyaman.


"Aku suka dengan seseorang." Akhirnya Juan berkata juga. Papa adalah sosok yang tak bisa untuk dia menyembunyikan rahasia.


"Kenapa kamu sampai ingin mengambil alih perusahaan ini?" Tanya Darma kepada juan. Dia heran dengan putranya ini karena sebelumnya Juan tidak pernah mau mengurus perusahaan yang dibangun oleh nya.


"Ya nggak papa sih," ucap Juan dengan malu. Darma mengangkat satu alisnya, mendengar jawaban anaknya yang seperti itu.


"Aku sedang mendekati seseorang, kurasa dengan keadaanku yang seperti ini aku akan sulit mendekati dia. Ayahnya adalah seorang pengusaha ternama dan aku tidak mau jika aku hanya dianggap sebelah mata oleh orang tuanya." Juan menghela nafasnya dengan berat, akhirnya dia memutuskan untuk menerima permintaan papanya ini untuk mengelola perusahaan. Di hanya ingin membuktikan kepada Bima jika dirinya layak untuk mendekati yumna.


"Siapa?" Darma bertanya sambil menatap putranya dengan tajam. "Siapa gadis yang kamu sukai dan siapa orang tuanya?" Tanya Darma lagi.


"Sebenarnya dia bukan gadis lagi. Dia sudah pernah menikah." Juan menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu apakah papanya akan menyetujuinya atau tidak, tapi jika papa tidak menyetujui pun dia kan tetap terus maju.


"Yumna, putri dari Bima Satria Mahendra."

__ADS_1


Darma menatap putranya itu degan tajam setelah mendengar nama Bima Satria Mahendra disebutkan.


__ADS_2