
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Yumna dan Haidar tidak mengadakan pesta besar seperti yang sebelumnya pernah mereka lakukan, kali ini hanya pergi ke KUA dan mengucapkan akad kembali disaksikan oleh beberapa anggota keluarga dari kedua belah pihak. Hal itu mereka lakukan sesuai dengan kesepakatan dan pertimbangan yang ada, meski rasanya keluarga besar dari kedua belah pihak menyayangkan hal tersebut, tapi bagaimanapun juga mereka mengikuti permintaan dari Yumna maupun Haidar.
Dua orang itu kini duduk di depan penghulu, disaksikan oleh beberapa orang yang hadir dalam acara sakral tersebut. Yumna memakai kebaya putih yang sangat indah, pas di tubuhnya yang ramping, rambutnya disanggul kecil di atas kepalanya, sedangkan Haidar memakai jas hitam serta peci hitam di kepala.
"Saya terima nikah dan kawinnya Yumna Azzura Mahendra binti Bima Satria Mahendra, dengan mas kawin tersebut. Tunai!" ucap Haidar dengan lantang. Penghulu menatap para tamu yang ada di sana.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu tersebut.
Haidar dan Yumna menunggu jawaban dengan dada yang berdebar kencang. Sangat berbeda sekali dengan saat pertama kalinya mereka melakukan hal itu.
"SAH!" teriak para tamu dengan bersemangat.
"Alhamdulillah." Ucapan syukur terdengar dari semua yang hadir di sana. Haidar dan Yumna menghela napas lega saat mendengar ucapan para saksi tersebut. Mereka menadahkan tangan untuk ikut melantunkan doa yang terucap dari seorang pemuka agama yang di undang di acara tersebut.
Sekali lagi Bima harus melepaskan putrinya dengan orang yang sama seperti waktu itu. Lihat saja jika dia kembali melakukan kesalahan yang sama pula, Bima akan memastikan jika Haidar akan mendapatkan balasan yang setimpal.
"Waaah, selamat bersama kembali!" ucap Agnes dengan sangat senang, memeluk Yumna dengan erat. Senang rasanya karena Haidar telah bersama dengan wanita yang benar-benar baik kali ini.
"Hei, udah deh, jangan bikin istri gue sesak napas. Dia gak bisa napas tuh," ucap Haidar yang kesal melihat kelakuan sepupunya. Dengan terpaksa Agnes melepaskan pelukannya dari Yumna.
"Gue cuma ucapin selamat aja buat Yumna. Pelit banget sih, lo!" ucap Agnes sebal.
Haidar menarik Yumna ke dekatnya dan tidak akan mengizinkan siapa pun lagi untuk melakukan hal itu kepada Yumna tercinta.
"Haidar, apa salahnya aku dipeluk sama Agnes juga, yang penting kan bukan sama laki-laki!" ujar Yumna yang merasa jika Haidar mulai terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Aku gak mau kamu sembarangan disentuh orang, nanti lecet!" ujar Haidar tidak peduli.
"Huh! Dasar posesif!" ucap Agnes kesal. Haidar tidak peduli dengan cercaan sepupunya itu.
Beberapa saudara yang lain memberikan ucapan selamat untuk Yumna dan Haidar, berharap jika kali ini mereka tidak akan lagi terpisahkan seperti dulu.
"Terima kasih atas doanya. Kami pasti akan menjalani pernikahan ini dengan baik ke depannya," ucap Haidar kepada saudaranya yang memberikan ucapan selamat.
Tak lama mereka di sana, setelah selesai dengan acara tersebut tentu saja mereka kini beriringan menuju ke sebuah tempat, makan siang bersama dengan kerabat yang menyaksikan acara pernikahan kedua tersebut di mana semua hal itu sudah dipersiapkan oleh Lily.
Mereka menempati ruangan VIP di restoran, restoran yang ada pada salah satu hotel milik Bima, tempat di mana dulu diadakan resepsi pernikahan Yumna dan Haidar. Ruangan tersebut sudah dipersiapkan dengan baik, di tengah ruangan sudah dipersiapkan meja besar dengan banyak kursi yang mengelilinginya. Hidangan terbaik juga dibuat khusus untuk mereka makan siang kali ini.
"Ini beneran gak akan ada pesta nih?" tanya Ryan sang sepupu Haidar.
"Yaaah, sayang banget dong, gue gak bisa ketemu ...." Ryan menunjuk seseorang yang ada di seberang meja, beberapa kursi di sebelah kanannya, dengan menggunakan dagu. Gadis itu kini sedang berbicara dengan salah satu pemuda yang berwajah sama.
"Buat apa ketemu Syifa? Gak perlu ya!" ujar Haidar dengan tatapan tajamnya.
"Gue lagi usaha biar gak jadi jomlo, dukung dong, biar cepet nyusul juga. Masa elo dah dua kali sedangkan gue belum." Ryan memohon dengan memelas.
Yumna mendekat pada Haidar dan mencubit paha laki-laki itu.
"Aww! Sa ...." Haidar terdiam saat akan melakukan protes pada istrinya. Sakit sekali pahanya ini. Sadar dengan di mana mereka berada.
"Papi tanya tuh," bisik Yumna dengan senyuman kecil di bibirnya, dalam hati sedikit kesal karena laki-laki itu terlalu banyak mengobrol dengan sepupunya sehingga dia tidak mendengar saat ditanya oleh Arya.
__ADS_1
"Haidar. Bagaimana?" tanya Arya pada Haidar. Bingung jelas Haidar rasakan, tidak tahu apa yang Arya tanyakan tadi.
"Eh, apa?" tanya Haidar. Mitha menatap kesal pada sosok putranya ini, sedangkan yang ditatap tersenyum malu saat yang lain juga menatapnya menunggu jawaban.
Arya mengembuskan napasnya, ikut kesal.
"Papi tanya setelah ini kamu mau bagaimana? Apa kamu tetap akan pegang anak cabang menggantikan posisi Om Tirta?" tanya Arya.
"Oh, itu. Iya. Kalau Papa Bima mengizinkan, aku ingin memegang anak cabang dan menjalankan perusahaan itu."
Bima mengerutkan keningnya, membuat Haidar sedikit was-was.
"Kenapa harus bertanya sama saya?" tanya Bima, suasana mendadak hening di ruangan tersebut. Semua yang ada di sana menatap Bima dengan bingung.
Haidar mengusap lehernya yang tiba-tiba saja kaku ditatap sedemikian rupa oleh ayah mertuanya itu.
"Em, ini ... yang pasti perusahaan itu belum terlalu maju dan aku harus bisa membawanya tetap berjalan," ucap Haidar.
"Maksud kamu?" tanya Bima dingin. Yumna dan yang lainnya merasakan atmosfer yang berbeda di sana, apalagi dengan tatapan dan bahasa Bima yang membekukan seperti itu.
"Aku berencana untuk memegang sendiri anak cabang terrsebut tanpa campur tangan Papi. Itu pun kalau Papa ...."
"Besar kecil perusahaan harus tetap dijalankan. Coba tanya Yumna, apakah dia akan menerima kalau kamu ajak susah? Sedari dulu dia bersama dengan kami tidak pernah hidup susah, selalu berkecukupan bahkan lebih. Kami sudah menjaganya dengan baik hingga sampai menjadi seorang istri untuk suaminya, kami jaga dia dengan sepenuh hati ...." Bima terdiam sejenak. Rasanya sedikit berat untuk melanjutkan pembicaraannya.
"Dia sudah menjadi seorang istri, suami senang atau pun susah tetap dia harus berbakti dengan suaminya. Hanya satu yang kami inginkan dari kamu, Haidar. Jangan pernah sakiti hatinya lagi. Kami sudah bersusah payah menjaga dia semenjak kecil hingga besar seperti ini bukan untuk disakiti oleh orang lain," ucap Bima. Haidar tertegun mendengar ucapan ayah mertuanya ini, tidak menyangka jika Bima menyerahkan Yumna baik di saat senang dan susahnya, dan lagi ... kalimat terakhir seakan menjadi cambuk baginya untuk lebih baik lagi menjaga Yumna.
__ADS_1