
Mereka berjalan di tepian emperan pertokoan, hujan dengan sedikit angin membuat mereka kini kebasahan. Haidar melindungi Yumna dari hujan yang mengguyur di siang itu, memeluk erat Yumna dan membawanya pergi ke hotel yang berada tak jauh dari cafe tempat mereka makan siang barusan.
Sedikit berlari kecil ke dalam area hotel, akhirnya mereka sampai di lobi dan terlindung dari hujan.
"Ah, basah," ujar Yumna sambil mengusap wajahnya, begitu juga dengan Haidar yang kebasahan pada pakaiannya. Tak lupa Haidar mengusap kepala Yumna dari air hujan yang membuat rambut dan pakaian istrinya yang basah.
"Maaf, jadi basah semua ya? Aku ambil kunci dulu," ucap haidar lalu meninggalkan Yumna yang berdiri di dekat pintu masuk. Angin di luar semakin kencang, membuat hujan deras sangat terlihat dengan jelas di luar sana. Tak lama, Haidar kembali dengan membawa kunci kamar mereka.
"Yuk, sudah dapat," ucap Haidar sambil memperlihatkan kunci di tangannya.
"Apa sore nanti hujan akan berhenti?" tanya Yumna seakan bertanya pada dirinya sendiri. Haidar melihat ke arah luar, hujan siang ini sangat deras sekali, sepertinya sedikit akan lama hujan yang turun di siang ini, langit saja sampai gelap dan entah sampai kapan mereka akan menunggu cuaca membaik.
"Aku gak tau. Lebih baik kita ke kamar, aku rasanya sedikit bosan kalau harus nunggu hujan sambil duduk," ucap Haidar lalu menarik tangan Yumna untuk menuju ke kamar mereka.
Hotel kecil itu hanya terdiri dari tiga lantai, dengan banyak pintu di sepanjang perjalanan mereka menuju ke arah kamar. Haidar tidak melepaskan tangan Yumna sehingga mereka sampai di kamar yang telah dipesan.
"Apa kita akan menginap di sini?" tanya Yumna, sedikit khawatir jika hujan tidak juga reda sampai malam tiba.
"Lihat nanti saja, kalau memang hujan gak reda, besok pagi-pagi sekali kita pulang. Gak apa-apa, kan?" tanya Haidar pada sang istri. Yumna terpaksa menganggukkan kepalanya dan mengikkuti langkah kaki suaminya masuk ke dalam kamar tersebut.
Di dalam kamar itu sangat hangat, tidak terkena angin maupun hujan, Haidar kini merebahkan dirinya di atas kasur terlihat sangat nyaman sekali tidak peduli dengan pakaiannya yang basah.
"Sayang, sini. Rebahan sama aku. Nyaman banget," ucap Haidar sambil menepuk tempat di sampingnya. Yumna menutup pintu kamar dan mendekat ke arah Haidar, melihat pakaian suaminya itu telah basah akibat air hujan tadi. Dengan segera Yumna pergi ke arah lemari dan menemukan handuk kimono di sana.
"Ganti baju dulu, pada basah semua," ujar Yumna sambil memberikan kimono tersebut kepada suaminya.
"Nanti saja, rasanya nyaman banget rebahan gini. Dari tadi aku pengen rebahan sebenarnya, hehe," ujar Haidar sambil tertawa kecil. Yumna hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Haidar, dia pergi ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan kimono kering itu. Pakaian yang basah dia gantungkan di rak yang ada di sudut kamar hotel tersebut.
Yumna mendekat kembali ke arah Haidar berada, terlihat laki-laki itu memejamkan matanya, sedikit mengantuk sepertinya.
"Haidar, buka dulu bajunya." Yumna membangunkan Haidar yang tampak malas untuk bangun. "Nanti kamu masuk angin loh."
__ADS_1
"Aku ngantuk, Sayang. Nanti juga kering sendiri," ujar Haidar menolak untuk bangun. Yumna tidak mau sampai Haidar sakit karena tidur dengan pakaian yang basah, sehingga dia menarik kaos milik Haidar dan berusaha membukanya.
Grep!
Haidar menahan tangan Yumna dengan erat dan menatap istrinya itu.
"Kamu mau ngapain?" tanya Haidar. Dengan gerakan cepat dia menarik tangan Yumna sehingga wanita itu terjatuh di atas dada bidangnya.
"A-aku ... cuma mau buka baju kamu aja. Basah. Nanti kamu bisa sakit kalau tidur pakai baju basah, Haidar," ucap Yumna.
Haidar melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang istri. "Aku gak akan sakit. Aku akan sangat sakit kalau kamu pergi ninggalin aku," ucap Haidar lalu menatap wajah Yumna dengan lekat. Wajah cantik itu kini tersenyum.
"Aku bilang tergantung kamu, kalau kamu jadi anak baik apa alasan aku buat ninggalin kamu?" ujar Yumna sambil menatap Haidar dengan berani. Yumna mendekatkan wajahnya sehingga keduanya sangat dekat sekali, napas hangat terasa pada ujung hidung kedua sejoli itu.
"Aku gak akan nakal." Haidar semakin memeluk erat Yumna, menempelkan bibirnya pada bibir sang istri. "Janji," ucapnya sambil memeluk Yumna semakin erat.
Yumna tersenyum dengan senang, meski rasanya sering sekali Haidar mengatakan hal tersebut, tapi nyatanya dia tidak pernah bosan mendengarnya.
"Haidar-."
"Sayang, mumpung kita ada di sini, cetak generasi selanjutnya, yuk." Yumna tersenyum dengan malu.
Haidar mengerutkan keningnya mendengar Yumna mengatakan hal tersebut, tidak biasanya dia menginginkan hal itu duluan. "Kamu demam?" tanya Haidar sambil menempelkan punggung tangannya pada kening Yumna. Yumna sampai kesal karena Haidar tidak menganggap serius ucapannya.
"Ih, kamu nih." Yumna menepis tangan Haidar dari keningnya. "Kalau gak mau ya udah. Aku mau tidur saja!" ujar Yumna kesal sambil menggulingkan tubuhnya ke samping, selimut yang ada di kaki Haidar dia tarik dengan cepat sehingga menutupi sampai kepalanya. Haidar menjadi bingung dengan istrinya ini.
'Tadi mau, sekarang ditanya malah marah,' batin Haidar dengan bingung dan menatap Yumna yang berada di dalam selimut. Haidar mendekati Yumna dan ikut masuk ke dalam selimut tersebut.
"Ih, gitu aja kok marah. Yumna. Sayang?" panggil Haidar, bahu Yumna dia goyangkan, tapi ditepis tangan besar itu oleh Yumna.
"Awas, ah. Aku mau tidur saja," ucap Yumna kemudian mengeratkan selimut pada lehernya. Haidar tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang sangat lucu ini.
__ADS_1
"Ye, gitu aja marah. Ya sudah, ayo kita cetak generasi penerus kita," ujar Haidar, lalu membuka pakaiannya dengan cepat dan melemparkannya ke lantai, begitu juga dengan celana panjang yang setengah basah sehingga dia kini hanya memakai kain minim bahan yang hanya menutupi milik pribadinya.
"Gak jadi, udah gak mau!" teriak Yumna keras sambil menyingkirkan tangan besar Haidar dari tubuhnya.
"Aku sudah siap-siap, Yumna. Lihat aku udah gak pake baju ini." Haidar tidak mau kalah, dia tetap gigih untuk mendapatkan Yumna di siang yang hujan ini.
"Enggak jadi!" teriak Yumna lagi masih kesal. Haidar menarik bahu Yumna, memaksanya untuk telentang dan segera menaiki tubuh itu dengan paksa.
"Harus jadi, aku sudah buka baju loh ini. Hargai usahaku untuk membuka bajuku, Sayang." Yumna kini terdiam, menatap Haidar yang telah ada di atasnya.
"Kamu nyebelin," ujar Yumna kesal. Haidar tertawa kecil.
"Aku gak nyebelin, aku cuma rada bingung sama permintaan kamu. Gak biasanya kamu pengen main cetak-cetakan," ujar Haidar sambil tertawa geli melihat wajah Yumna yang kini telah berubah memerah. Yumna mengalihkan tatapannya ke arah lain, memang dia tidak biasa menginginkan hal itu terlebih dahulu, tapi demi untuk mendapatkan anak, kenapa harus jual mahal juga?
"Aku cuma pengen punya anak," ujar Yumna akhinya. Haidar menatap Yumna dengan lekat, tampak di mata Yumna kini terdapat genangan air yang sepertinya siap untuk mengalir sebentar lagi.
"Kita pasti akan punya anak, cepat atau lambat, Yumna. Lagian kenapa juga sih kamu pengen banget punya anak sekarang ini? Kita nikmati saja waktu kita berdua."
Yumna mendorong bahu Haidar, sehingga kini laki-laki itu terduduk di atas paha Yumna. Kini Yumna duduk berhadapan dengan suaminya itu. "Kamu anak pertama, aku pikir Mami Mitha dan Papi Arya akan sangat senang kalau kita punya anak dalam waktu dekat ini," ujar Yumna. Haidar mendekat dan mencium kening Yumna dengan lembut.
"Apa mami dan papi menuntut untuk kita punya anak dekat-dekat ini? Apa mereka mengganggu kamu?" tanya Haidar, Yumna menggelengkan kepalanya.
"Enggak, tapi itu cuma pemikiranku aja."
Sekali lagi Haidar mengambil wajah Yumna dan mencium kening istrinya dengan sayang. "Aku gak mau kamu terganggu dengan ucapan yang seperti itu, Yumna. Aku akan bilang sama mami dan yang lain kalau kita juga sedang berusaha keras."
Yumna memeluk Haidar dengan erat. "Maaf, aku memang terlalu banyak berpikir. Harusnya aku bisa menikmati hubungan kita berdua sekarang ini, tapi aku terlalu takut kalau semua orang kecewa sama aku," ucap Yumna dengan isakan kecil. Haidar rasanya tidak tahan, sedih rasanya karena Yumna terlalu banyak berpikir akan hal tersebut. Diusapnya kepala Yumna dengan lembut.
"Apa kita harus tinggal sedikit lebih jauh dari keluarga biar kamu gak mikirin itu?" tanya Haidar lagi. Yumna menggelengkan kepalanya dan menarik dirinya dari pelukan Haidar.
"Maaf, gak perlu," ucap Yumna akhirnya.
__ADS_1
Haidar turun dari pangkuan Yumna, dia bersandar pada kepala ranjang dan menarik Yumna, memeluk istrinya itu dengan erat. "Aku mohon, jangan pikirkan hal itu ya. Kalau program ini gak berhasil juga, kita cari cara lain. Masih banyak cara untuk kita tetap selalu berusaha. Oke?" tanya Haidar.
Yumna menganggukkan kepalanya dan mengusap air mata yang membuat wajahnya basah. Dengan kedua tangannya dia membuka kimono yang melekat di tubuhnya. "Ayo kita buat anak?"