
Yumna menatap kertas di tangannya. Dia sudah membaca seluruhnya dari atas hingga ke bawah.
Menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia sudah resmi menyandang status lain. Janda.
Oh ayolah... Janda memang kenapa? Itu hanya status! Tak berarti apa-apa. Coba lihat di luaran sana, janda yang tak punya, dan juga janda yang sudah memiliki anak. Yang bingung bagaimana dia akan melanjutkan hidup sepeninggal suaminya, yang bingung siapa yang akan menjaga putra mereka jika dia bekerja.
Beruntung dia dari keluarga berpunya, tak khawatir karena di tinggal suami, dan juga tak khawatir karena belum memiliki anak.
Hidupnya miris sekali. Andaikan dulu dia tak setuju dengan permainan ini pastilah dia tak akan menyandang status seperti ini. Akh... hidup mana tahu bagaimana ke depannya.
"Yumna. Makan malam!" suara ketukan dan juga panggilan dari luar menyadarkan lamunan akan nasib dirinya.
"Iyaa! Aku akan keluar!" teriak Yumna, dia lalu menyimpan kertas itu di dalam laci nakasnya, dan beranjak keluar dari dalam sana.
"Nenek sudah lapar ya?" tanya Yumna pada yang ia sebut nenek.
__ADS_1
Wanita tua itu hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Maaf, nek. Ayo kita makan, Yumna juga sudah lapar. Kakek mana?" tanyanya lagi.
"Kakek sudah menunggu di meja makan."
Kedua wanita beda generasi itu berjalan ke arah meja makan.
Ya seperti inilah Yumna di tepat barunya kini, dia tinggal bersama dengan nenek dan kakek. Mencoba untuk melupakan masa lalu yang di hadapinya. Masa lalu yang membuatnya bisa merasakan apa itu yang namanya cinta. Cinta bertepuk sebelah tangan. Entah dulu dengan Aldy, dan kemarin dengan Haidar! Tapi dengan Haidar sakitnya sangat terasa. Menusuk dan membekas di dalam relung jiwa.
Kakek dan nenek sangat senang dengan kehadiran Yumna, sebisa mungkin mereka akan menghibur hati yang tengah di rundung gundah gulana ini. Perceraian dengan suami memang lah tak mudah. Mereka berjanji akan membuat cucunya ini kembali tersenyum ceria seperti dulu lagi.
...***...
Suara dentuman musik terdengar memekakan telinga, lampu disko yang berpendar cepat di atas sana terus saja berputar membuat suasana di dalam ruangan pub ini semakin meriah, apa lagi dengan banyaknya pria dan wanita yang kini meliukkan badannya di tengah-tengah alunan musik menghentak seorang DJ cantik. Tak peduli jika tubuh mereka saling bersenggolan satu sama lain, bahkan ada pula yang sengaja menydorkan dirinya untuk sekedar kenikmatan sentuhan semata.
__ADS_1
Dua orang wanita sedang duduk di depan meja bartender, keduanya memegang masing-masing minuman yang sama jenisnya di tangan. Menyesapnya dengan perlahan, menikmati kerasnya aroma minuman yang mereka tenggak, tak lagi peduli dengan rasa terbakar di tenggorokannya.
"Akh... Makasih Rah, elo udah kasih tahu gue soal rencana busuk nenek lampir itu!" Vio mengangkat gelas yang ada di tangannya. Disambut oleh Sarah yang melakukan hal yang sama pula. Dia mengangkat gelasnya atas sambil tersenyum menang.
"Sama-sama Vi. Jangan lupa kalau elo udah jadi Nyonya Haidar, rekomendasiin gue sama sutradara terkenal yang gue mau!" ucap Sarah tanpa malu. Mereka tertawa bersama sambil menubrukkan gelas mereka masing-masing, lalu menenggaknya. Terlihat kening mereka yang mengernyit akibat menahan rasa keras yang baru saja melewati tenggorokannya.
"Gue gak tahu apa yang terjadi kalau elo gak bilang soal penguntit itu. Untung aja elo kasih tahu gue! Kalau enggak, gak tahu deh apa Haidar akan masih tetap percaya gue tau enggak." Vio tertawa dengan senangnya.
"Gue sayang sama elo, elo berhak bahagia dengan orang yang elo cinta. Ya... meskipun gue gak tahu kenapa dari dulu sampai detik ini nyokap dia masih gak bisa nerima elo." Sarah sedikit mendekat dan berteriak untuk mengalahkan suara musik yang terdengar.
"Elo mau tahu cerita tentang itu?" tanya Vio. Sarah mengangguk. Da sungguh penasaran dengan apa yang akan di ceritakan Vio padanya.
"Sini... Gue bisikin!" Vio menggerakkan tangannya mengundang Sarah untuk mendekat. Wanita dengan pakaian seksi melekat di tubuhnya itu lantas mendekat untuk mendengar bisikan sahabatnya.
"What?!! Elo gila!" pekiknya saat setelah mendengar bisikan Viola. Beberapa pengunjung menatap mereka heran, pasalnya salah satu di antaranya tiba-tiba saja berteriak.
__ADS_1
"Serius elo lakuin itu?" Tanya Sarah tak percaya dengan apa yang di bisikkan Viola padanya. wanita dengan rambut ikal sebahu itu hanya meringis memperlihatkan deretan giginya yang putih.