YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
288. Naik Gunung, Yuk!


__ADS_3

Haidar tersenyum senang, dia menarik tali kimono yang ada pada pinggang Yumna dan segera mendorong tubuh istrinya untuk berbaring. Sudah tidak ada lagi rasa malu yang Yumna rasakan, mereka kini mulai melakukan penyatuan dan mengeluarkan suara indah seiring dengan hujan yang masih turun dengan deras di luaran sana.


Mereka berusaha dengan sangat keras, Haidar melakukan penyatuan tersebut dengan sangat lembut sekali, tidak terburu-buru, lebih kepada menikmati waktu keduanya dengan khidmat.


Lelah keduanya rasakan, sampai Yumna dan Haidar berkeringat dengan banyak, padahal di luaran sana hujan masih saja turun dengan derasnya.


"Apa kita lagi bulan madu di sini?" tanya Yumna sambil tertawa kecil, ingat jika setelah menikah lagi mereka belum pernah melakukan perjalanan jauh dan sampai tidur di hotel. Dia mendekat dan memeluk suaminya yang masih terengah akibat permainan mereka barusan.


"Iya, anggap aja kita lagi honeymoon di sini. Oh ya, apa kita gak ada rencana buat pergi honeymoon ke tempat lain? Kita belum pergi berdua, Sayang." Haidar mengelus rambut Yumna dengan lembut.


"Kamu sibuk. Aku mana berani minta pergi kalau kamu aja lagi serius urusin cabang?" ujar Yumna.


Haidar mencium kening Yumna. "Aku memang lagi sibuk, tapi kalau memang kamu mau kita pergi, aku bisa atur waktunya. Kamu juga harus bisa ambil cuti dari pekerjaan kamu," ucap Haidar lagi.


Yumna menghela napasnya dengan sedikit berat. "Aku gak tau apa bisa ambil cuti atau enggak, kerjaanku banyak. Bos juga kelihatannya bukan orang yang bisa diajak bicara dengan baik. Dia disiplin banget. Takut kalau mau ajukan libur," ucap Yumna dengan rasa bersalah.


Haidar memikirkan hal tersebut, dia ingin sekali pergi, tapi belum mendapatkan waktu yang tepat untuk pergi berdua dengan Yumna.


"Jadi kapan? Masa aku harus nunggu akhir tahun?" ujar Haidar dengan wajah yang cemberut.

__ADS_1


"Gak tau, Haidar. Aku masih belum tanya sama yang lain. Besok deh, aku tanya dulu sama senior. Tapi masa sih kalau gak ada cuti bulanan, harusnya kan ada ya?" ujar Yumna bertanya pada suaminya.


"Harusnya. Kamu harus tanya sama yang lain soal itu. Aku pengen banget pergi honeymoon sama kamu, Sayang," ucap Haidar sambil memeluk Yumna dengan erat.


"Aku juga pengen. Nanti deh aku tanyain dulu sama yang lain. Memangnya kamu mau bawa aku kemana?" tanya Yumna menatap suaminya.


"Ke tempat yang kamu mau. Terserah kamu mau kemana, aku yang akan atur tempatnya," ucap Haidar.


Yumna sedikit berpikir. Sungguh dia merasa bingung karena tidak punya tempat yang baik untuk mereka pergi.


"Kemana?" tanya Haidar lagi. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Gak tau."


Yumna menggelengkan kepalanya lagi. "Gak tau Haidar. Aku gak tau mau kemana," ucap Yumna.


"Prancis? Italia? Amerika?" tanya Haidar. Lagi-lagi Yumna hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah pergi ke beberapa negara, termasuk yang barusan kamu sebut," ujar Yumna. Haidar menggaruk belakang telinganya, dia merasa bingung dengan tempat yang lainnya yang mungkin belum Yumna datangi.

__ADS_1


"Ke New Zealand? Greenland?" tanya Haidar lagi tidak menyerah. Yumna kembali menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau buat aku beku di Greenland?" ujar Yumna dengan kesal.


"Kan enak, dingin di sana, Sayang. Kalau dingin km enak buat pelukan, hehe," ujar Haidar sambil tertawa kecil. Yumna memutar bola matanya malas. Suaminya ini sangat me*um sekali.


"Aku gak mau ke luar negeri, mungkin di dalam negeri saja. Sudah jelas di sini juga pemandangan bagus, kok," ujar Yumna. Haidar mencoba berpikir kembali. Jika di dalam negeri dia tidak tahu harus pergi kemana. Dia belum tahu kemana Yumna ingin pergi.


"Aku pengen naik gunung, Haidar. Tidur di tenda, kayaknya seru gitu. Bikin api unggun, bakar ikan atau bakar ayam, sambil menikmati udara malam di gunung, lihat bintang," ujar Yumna dengan bersemangat. Haidar melongo mendengar ucapan keinginan istrinya tersebut.


"Naik gunung?" tanya Haidar. Yumna menganggukkan kepala. "Gunung mana?" tanya Haidar lagi dengan bingung. Yumna mengangkat kedua bahunya, dia juga tidak tahu gunung mana yang sekiranya bisa membuatnya ingin pergi ke sana.


"Kamu cari gunung mana yang indah, aku nurut aja," ujar Yumna.


Haidar tersenyum dan menggerakkan tangannya, menangkap sesuatu yang menggantung di depan tubuh Yumna. "Aku sukanya gunung ini, mendaki gunung di atas kamu rasanya nikmaaaat banget," ujar Haidar sambil tertawa kecil. Yumna menepis tangan Haidar dari miliknya dan memberikan tatapan tajam.


"Ini beda, Haidar! Aku bilang serius juga!" ucap Yumna kesal.


"Aku juga serius, semenjak nikah sama kamu, aku jadi suka mendaki gunung kembar," ucap Haidar sambil bergerak naik kembali ke atas tubuh sang istri.

__ADS_1


Yumna terkejut melihat suaminya yang kini telah ada di atasnya. "Haidar, turun ih. Mau ngapain juga?" ujar Yumna, sadar jika tangan Haidar mulai memijat tonjolan besar di depan dadanya dengan lembut dan membuat darahnya berdesir memanas.


"Naik gunung," ujar Haidar, mengambil alih tubuh Yumna lagi.


__ADS_2