
“Aku datang ke sini bukan buat itu! Tapi urusan Yumna!” Lily bicara dengan pelototan pada suaminya. Bima merengut sebal.
Ternyata.....
“Urusan apa?” tanya Bima.
Lily mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan menyerahkannya kepada Bima. Bima mengambilnya dan membacanya, dia sama terkejutnya dengan Lily.
“Apa maksudnya ini?” tanya Bima menatap istrinya tajam.
“Seperti yang Mas lihat. Yumna dan Haidar...” Lily terdiam. “... Mereka membohongi kita!” sambungnya. Bima merasa marah. Bagaimana bisa putrinya berbuat seperti itu.
Bima meremas kertas di tangannya. Dia segera bangkit mengambil hpnya.
“Apa yang akan mas lakukan?” tanya Lily, menahan tangan Bima.
“Aku akan panggil Yumna ke sini.”
“Jangan. Kita tunggu saja dia pulang. Tidak baik untuk yumna jika mas membahasnya disini” mohon Lily. Bima terdiam. Dia memang marah, tapi Lily ada benarnya juga. Ini masih jam kerja.
Bima dan Lily sama-sama terdiam. Suasana menjadi dingin di ruangan itu.
“Mas, kenapa hal ini terjadi kepada anak kita. Apakah ini karma karena kita juga melakukan hal ini dulu? Mempermainkan sebuah pernikahan?! Kenapa ini terjadi kepada yumna?” lirih Lily sedih.
“Kenapa sejarah kita berulang?” Lily seakan bertanya kepada dirinya sendiri. Dia menatap jauh keluar dari jendela. Langit biru dengan awan putih yang menggantung di luar sana. Cuaca diluar cerah tapi tidak secerah hati mereka yang kini diliputi oleh awan hitam penuh kesedihan.
“Ini pasti hanya salah paham. Aku yakin Yumna tidak akan berani melakukan hal itu.” ucap bima menenangkan sang Istri.
“Tapi bagaimana dengan tanda tangan itu? Itu tanda tangan Yumna!” ujar Lily. Bima menatap kertas yang kini ada di atas kasur. Memang benar ada tanda tangan yumna di sana.
'apa yang anak itu sudah lakukan?' batin Bima dalam hati.
Sore hari di jam pulang kantor.
“Yumna!” panggil Bima dari belakang. Yumna dan Vera menoleh bersamaan. Bima berjalan mendekat kearah Yumna.
“Papa?!” Yumna melirik ke kanan dan ke kiri, dia takut ada yang melihat selain Vera. Pasalnya beberapa hari yang lalu ada gosip tentang dirinya bersama dengan Bima. Entah siapa yang membuat gosip tersebut, dirinya di sebut sebut telah bermalam dengan bos.
“Pak Bima!” Vera menunduk hormat kepada bima. Bima balas mengangguk.
__ADS_1
“Pulang dengan papa!” nada suaranya tidak mau dibantah, Yumna tahu itu!
Bima berjalan mendahului Yumna ke arah mobil yang sudah menunggunya di depan sana. Pak Naryo sudah membukakan pintu mobil untuk bima. Bima masuk ke dalam dan menunggu Yumna.
Vera memandang Yumna. Dia tidak pernah melihat bosnya yang dingin seperti itu. Selama ini bima selalu ramah. Baru kali ini dia melihat sosok Bima yang berbeda.
“Aku pulang dulu ya!!” pamit Yumna. Vera mengangguk. Dia mendekat sebelum yumna melangkah.
“Kalau butuh teman curhat, telpon aku nanti malem!” ucap Vera. Yumna mengangguk samar. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Vera sendiri. Yumna melambaikan tangannya kepada Vera. Vera balas melambaikan tangan. Yumna masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup oleh pak Naryo. Vera hanya menatap kepergian Yumna dengan diam.
Mobil pun melaju di jalanan yang ramai.
Suasana di dalam mobil sangat tegang mencekam. Bima dan yumna sama-sama tidak berbicara. Yumna merasakan aura dingin dari sang papa. Ingin bertanya tapi lidahnya kelu.
Yumna menyandarkan dirinya dan menatap ke arah luar.
Sampai di rumah. Bima dan Yumna keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan bersama ke pintu.
“Cepat mandi, setelah itu temui papa di ruang kerja!” masih tetap dengan nada yang dingin. Bima segera meninggalkan Yumna yang kini terdiam di tempatnya.
' Ada apakah gerangan? Papa tidak seperti biasanya! Apakah mungkin papa ingin bertanya tentang perceraian aku?' batin Yumna. Yumna segera melangkahkan kakinya ke arah tangga.
Yumna mengetuk pintu ruang kerja papa bima. Setelah mendengar suara sahutan dari dalam barulah Yumna membuka pintu tersebut. Mama Lily juga sudah berada di sana berdiri disamping papa Bima. Yumna berjalan dengan perlahan ke depan meja kerja Bima.
Langkah demi langkah terasa sangat berat, mencekam, menakutkan. Rasanya Yumna sedang berjalan di hutan angker yang hanya terdapat jalan setapak dengan kanan kiri pepohonan besar dan dibalik itu terdapat beberapa serigala yang menatapnya dan siap menerkam nya.
“Duduk!” titah Bima.
Yumna menurut. Dia duduk di depan Bima dengan tubuh yang mengkeruk. Diremasnya ujung piyamanya. Takut. Dadanya berdebar. Seperti sedang akan ujian skripsi. Oh tidak! Bahkan ujian skripsi tidak ada apa-apanya untuk Yumna. Tapi kenapa kali ini lebih menakutkan daripada sidangnya dahulu?!
Bima mengeluarkan kertas dari laci mejanya dan menyodorkan nya ke depan Yumna. Yumna terkesiap saat melihat tanda tangan miliknya di kertas itu. Dia juga ingat betul tanda tangan milik Haidar.
' Bagaimana bisa papanya mendapatkan kertas itu?' batin Yumna.
Sorot mata bima semakin dingin. Begitu juga dengan mama Lily. Yumna tak kuasa menatap mata itu. Dia hanya bisa menunduk.
“Jelaskan!” hanya itu yang papa Bima ucapkan.
“Itu... Itu...” Yumna menarik nafasnya dalam-dalam. Bagaimanapun juga dia harus menjelaskannya kepada kedua orang tuanya. Tidak bisa mundur dan mengelak, mama dan Papanya sudah tahu akan hal ini. Cepat ataupun lambat. Semua memang salahnya!
__ADS_1
“Kami memang melakukannya! Kami memang menikah dengan perjanjian!” ucap Yumna akhirnya.
Lili dan Bima yang mendengar hal itu hanya bisa membuang nafas kasar.
“Kenapa kalian melakukan hal itu?!” Lily yang bertanya, sedangkan Bima hanya diam. Dia terlalu kecewa dengan apa yang dilakukan putri sulung nya.
“Kami tidak suka dijodohkan. Maafkan aku, ma. Pa. Aku mengaku salah!” Yumna menunduk semakin dalam.
“Kalian memang salah” bima berucap dengan dinginnya, membuat Yumna membeku.
“Kenapa kamu tidak bilang saja kalau kamu tidak suka dijodohkan, Yumna. Kenapa kalian harus melakukan pernikahan bodoh ini. Tidak. Bukan pernikahan yang bodoh, tapi kalian!” jerit Lily.
Yumna semakin merasa bersalah. Dia telah membuat orang tuanya marah dan kecewa. Bahkan mungkin juga Mami Mitha dan Papi Arya merasakan hal yang sama.
“Kamu tidak perlu melakukan hal ini. Mempermainkan pernikahan!” ucap Lily, menangis dengan terisak.
“Maaf, Ma. Tapi aku tidak mau dijodohkan. Dengan siapapun, apalagi Putra Suseno itu!” ucap Yumna. Suaranya begetar.
Lily merasa bersalah. Jadi, semua itu terjadi karena dirinya. Lily menangis, sedangkan Bima hanya diam.
“Jadi kalian akan bercerai?” tanya Bima.
Yumna mengangguk. "Iya Papa. Kami akan berpisah" ucap Yumna. Haruskah dia bilang kalau Haidar punya wanita lain yang sangat dia cintai.
“Lalu bagaimana kalau kamu hamil?” tanya Bima sekali lagi.
Yumna mengangkat wajahnya. haruskah ia bilang yang sesungguhnya?
“Aku pastikan, aku tidak akan hamil!” ucapan Yumna ucapannya membuat Lily mendongak
“Kami tidak pernah melakukannya!” jawab Yumna.
“Kalian...”
“Kami hanya tidur satu ruangan. Kami tidak pernah melakukan apa-apa!” ucap Yumna memotong perkataan lily. Diaenu duk semakin dalam.
Bima memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Ternyata kisah putrinya hampir sama dengan dirinya dulu. Hanya saja yang membedakan dirinya dinikahkan oleh Dena dengan Lily. Tapi putrinya ini sepakat menikah karena tidak ingin sama-sama dijodohkan!
'Kenapa ini terjadi lagi ya Tuhan!' batin bima.
__ADS_1