YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
159. Mengantar Pulang


__ADS_3

"Tidak perlu ke rumah sakit, aku baik-baik saja. Hanya perlu di bersihkan sedikit dan di kasih obat," ucap Syifa pelan kepada Juan.


"Tetap saja itu luka harus diperiksakan terlebih dahulu! Kalau itu jadi infeksi bagaimana?!" bentak Juan tanpa menoleh sama sekali. Syifa dan Yumna yang mendengarnya kini hanya diam. Yumna tidak pernah melihat Juan yang bernada tinggi seperti itu. Biasanya pria itu kalem dengan pembawaannya.


"Baiklah, terserah Kakak saja." Syifa pasrah, padahal dia tidak suka bau rumah sakit.


Mobil sampai di rumah sakit. Ketiga orang itu turun dari mobil. Yumna membantu adiknya turun dengan hati-hati. Juan setengah berlari ke arah Syifa dan melakukan hal yang sama seperti tadi, menggendong gadis mungil itu.


"Kak aku bisa berjalan, gak perlu di gendong." protes Syifa. Dalam hati dia ingin menghentikan debaran yang membuatnya terasa sesak. Bagaimana tidak sesak? Ini baru pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini oleh seorang pria. Malu juga.


Pria itu hanya diam terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Beberapa orang yang ada di sana melihat ke arah mereka.


"Kak Juan, aku gak nyaman. Lebih baik turunkan aku dan dorong saja dengan kursi roda." akhirnya Syifa berbicara, mendengar kursi roda di sebut, Juan menghentikan langkahnya Yumna pun sama.


"Aku gak kepikiran!" ucap pria itu lalu mendekat ke arah kursi roda yang ada di lorong rumah sakit itu.


Dengan cepat mereka membawa Syifa untuk menemui dokter. Beruntung tidak banyak orang yang mengantre sore ini hingga Syifa bisa langsung ditangani oleh dokter.

__ADS_1


Dokter telah memeriksa kaki Syifa.


"Tidak ada yang serius, ini hanya luka robek biasa. Tidak dalam, tidak perlu dijahit." terang dokter itu yg membuat kedua orang lainnya menghela napas dengan lega. Begitu juga dngan Syifa yang kini masih berada di balik punggung kakaknya. Dia tidak mau sama sekali melihat darah atau hanya melihat dokter yang telah selesai membalut lukanya.


"Yumna, kamu juga terluka kan? Biar dokter periksa."


"Eh, gak perlu. Kan kamu sudah obati juga tadi disana, lagian ini hanya luka lecet sedikit." tolak Yumna seraya menggoyangkan kedua tangannya di depan tubuhnya.


"Coba saya lihat, mumpung Mbak disini. Mungkin saya akan kash salep kalau memang tidak apa-apa." Dokter ikut berbicara yang membuat Yumna pasrah. Yumna menarik lengan kemejanya ke atas dan memperlihatkan lengannya yang lecet.


"Aku akan antarkan kalian pulang," ucap Juan setelah mereka keluar dari rumah sakit. Mereka berjalan dengan pelan, mengimbangi Syfa yang berjalan tertatih dengan bantuan Juan. Tangan Syifa melingkar di belakang leher pria itu, sedangkan satu lengannya dipegang sang kakak di sisi yang lain.


Berjalan sedekat itu bahkan sampai menempel dengan seorang pria membuat Syifa jadi merasa aneh. Kenapa dia merasa gampang sekali berdebar jika dekat dengan laki-laki? Dulu saat di bonceng oleh Reyhan, sekarang saat disanggah oleh Juan? Ah ... Dia memang belum bisa menata hati dengan baik.


"Tidak perlu, baiknya kami pulang sendiri saja. Lagipula hujan juga sudah reda," ucap Yumna sambil menatap langit yang kini hanya menurunkan sedikit rintik air dari atas sana.


"Tidak, jangan! Aku yang menabrak kalian, baiknya aku juga yang harus mengantarkan kalian pulang. Biar motor kalian sopirku yang bawakan." Juan bersikeras ingin mengantarkan keduanya. Akhirnya Yumna pasrah dengan tawaran lelaki itu.

__ADS_1


"Ini rumah kalian?" tanya Juan setelah mereka sampai di depan alamat yang di ucapkan Yumna.


"Iya ini rumah kami. Maksudku ... rumah orangtua kami." ralat Yumna. Juan menganggukkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Yumna juga tinggal di rumah sebesar ini. Orangtua Yumna pastilah bukan orang sembarangan.


Mobil masuk ke dalam setelah security membukakan pagar untuk mereka, kening security itu mengkerut. Tidak biasanya anak sulung keluarga Mahendra diantar oleh seorang pria.


Mungkin Mbak Yumna sudah move on, batinnya. Dia menutup kembali pagar setelah motor di belakangnya juga ikut masuk.


Syifa kembali turun bersama dengan Yumna. Juan segera berlari untuk membantu gadis muda itu.


Mendengar suara mobil berhenti di luar rumah, Lily berlari dengan khawatir. Tadi putrinya bilang akan pulang sebelum makan malam, tapi ini sudah jam makan malam lewat sedikit.


"Ya ampun Syifa. Ada apa dengan kamu, Nak?" taya Lily yang kini berlari ke dekat kedua anaknya itu. Lily melihat Syifa yang berjalan dengan bantuan keduanya


"Maaf, Ma. tadi Yumna ...."


"Saya minta maaf, Bu. Saya tidak sengaja menabrak kedua anak Ibu." Juan memotong ucapan Yumna. Yumna menoleh ke arah pria itu, bukan salahnya juga, tapi dia mengaku jika itu memang salah dia.

__ADS_1


__ADS_2