YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
113. Bima Dalam Cerita Mahabbharata


__ADS_3

Putusan sidang sebentar lagi. Tak butuh waktu lama dari saat Yumna mendaftarkannya dulu karena Haidar juga patuh datang dan ikut menjalani segala prosesnya. Mereka hanya tinggal menunggu putusan hakim akhir hakim dan juga sidang talak.


Mereka sedang makan malam bersama, selain janji Haidar tempo hari juga karena Haidar ingin merayakan perpisahan mereka. Yumna terpaksa ikut dengan pria itu karena dia tadi menjemputnya di kantor. Menuntaskan janji katanya. Janji adalah hutang.


"Ah iya, gue juga mau ngabarin sesuatu sama elo." Ucap Haidar.


"Kabar apa?" tanya Yumna seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Gue dan Vio mutusin buat tunangan setelah kita resmi bercerai nanti." ucap Haidar lalu menyesap kopinya.


Yumna terdiam, menatap Haidar yang dengan wajah bahagianya. Secepat itu dia akan bertunangan? Oh ayolah dia itu sudah pacaran dengan Vio sudah sangat lama! Wajar jika dia akan bertunangan setelah ini.


"Oh. Selamat deh!" ucapnya lalu kembali melanjutkan acara makannya meski perasaannya berubah menjadi buruk sekarang. Makanan yang dia makan pun sudah tak berasa enak lagi seperti tadi.


Haidar tersenyum senang dengan ucapan selamat dari Yumna, tapi di dalam hatinya kenapa dia ingin sekali kalau gadis itu protes dan menentang keputusannya?


"Lalu... Gimana sama elo?" tanya Haidar.


"Gue? Mau fokus aja ngurus perusahaan."

__ADS_1


"Elo gak ngejar cinta elo?"


"Hah? Siapa?"


"Si.. Aldy-Aldy itu?"


Yumna terheran mendengar Haidar menyebut nama Aldy. Seingatnya dia sama sekali tak pernah bercerita tentang masalah dia suka dengan Aldy pada Haidar. Atau dia lupa pernah bercerita? (Sebenarnya author yang lupa, apakah Yumna pernah cerita atu tidak, hehe...😁)


Yumna hanya mengangkat kedua bahunya.


"Udah lama gak ketemu dia. Lagian apa dia mau sama janda kayak gue?" tanya Yumna menekankan suara di dua kata terakhir.


Haidar mendelik menatap Yumna sebal.


Sebelum jam sepuluh malam Haidar mengantarkan Yumna pulang ke rumah.


Mobil sampai di pelataran rumah. Haidar turun dan membukakan pintu untuk Yumna. Bima yang masih ada di luar menatap sinis pada calon mantan menantunya ini. Dia memang sengaja menungu kepulangan putrinya. Ada laporan dari sekurity kalau Yumna pulang di jemput seseorang. Suaminya. Tak banyak yang tahu kalau mereka sedang mengurus perceraian


"Pa. Saya antarkan Yumna pulang. Maaf kalau kami pulang malam." ucap Haidar dengan senyuman. Bima tak menjawab apa-apa, dia hanya menatap tajam Haidar dan putrinya ini.

__ADS_1


"Yumna masuk! Haidar, pulang. Ini sudah malam!" Bima dengan suara dinginnya hingga membuat siapapun yang mendengarnya menjadi beku, termasuk Yumna.


Yumna hanya menurut, sang papa jika sudah marah terlihat sangat mengerikan. Hanya mama yang yang mampu meredakannya dengan mudah, tapi tentu saja Yumna tak mau selalu mengandalkan mama dalam urusan hal ini.


"Iya Pa. Aku masuk dulu." pamit Yumna pada Haidar. Haidar mengangguk. Yumna berjalan masuk ke dalam rumah meningalkan kedua lelaki itu di teras.


"Kalau begitu saya juga pamit pulang, Pa." Haidar menundukkan tubuhnya setengah. memberi hormat pada calon mantan mertuanya ini.


"Apa maksud kamu mengajak Yumna pergi?" tanya Bima saat Haiar hendak berbalik.


Pertayaan Bima membuat Haidar bingung, tidak ada alasan khusus mengajak Yumna pergi makan malam, mereka hanya membicarakan hal yang tadi itu saja.


"Saya tidak punya maksud apa-apa , Pa. Hanya mengajak Yumna makan malam karena saya pernah berjanji mau ajak dia makan malam. Hanya itu!" ucap Haidar, dia melihat sorot mata Bima yang dingin dan menakutkan.


"Haidar. Saya harap kamu tahu dengan posisi kamu. Dari dulu sampai sekarang kamu bukanlah siapa-siapa bagi Yumna, saya harap kamu jangan terlalu sering bertemu dengan dia. Urus saja kekasih kamu. Jangan urusi Yumna karena saya tidak akan mengizinkan kamu mendekati dia lagi!"


Bima berbalik pergi, tanpa mendengar apa yang akan di katakan Haidar. Dia meninggalkan Haidar yang kini terpaku karena ucapannya.


Terdiam karena perkataan calon mantan mertuanya itu. Bagai sebuah gada yang menghantam tubuhnya.

__ADS_1


Bima bagai sosok Bima dalam cerita Mahabbharata yang mengangkat tinggi-tinggi gada miliknya dan menghantamkannya pada tubuh musuhnya.


Ya. Itulah Bima Satria Mahendra, meski tanpa gada tapi dia bisa menghantam hati dan tubuh Haidar hingga remuk redam.


__ADS_2