YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
32. Hari pernikahan 2


__ADS_3

Yumna menatap kepergian Aldy yang baru saja pergi dari hadapannya. Dia terus menatap pria itu hingga Aldy berhenti dan mengambil minuman.


'Maaf, Al. Mungkin aku salah ambil keputusan ini. Tapi pernyataan kamu waktu itu sudah terlambat, aku gak mungkin batalin pertunangan aku dengan Haidar waktu itu, dan membuat kita semua ada dalam masalah. Bagaimana pandangan orang lain kalau aku sama kamu?'


"Gue lihat dia sangat suka sama elo!" ucapan Haidar membuat Yumna tersadar.


"Ya tentu saja suka. Dia sudah gue anggap seperti kakak sendiri." jawab Yumna. Rasanya dia ingin berteriak kencang dengan perkataannya sendiri dan menyangkalnya. Teringat dengan kata-kata Aldy tempo hari yang menyatakan cinta padanya.


"Benarkah? Meragukan!" sangkal Haidar, dia duduk kembali di singgasananya.


"Terserah percaya apa tidak." jawab Yumna santai. Yumna pun mengikuti Haidar dan duduk di kursinya. Kakinya terasa pegal karena heels yang ia pakai.


"Pegel ya?" tanya Haidar.


"He-em."Jawab Yumna.


Haidar menggeser duduknya dan mengambil kedua kaki Yumna dan ia simpan di atas pahanya, memijitnya perlahan. Yumna terkejut dengan perlakuan Haidar.


"Eh, jangan. Banyak orang disini!" Tolak Yumna, tapi Haidar menepis tangan Yumna, dan melanjutkan pijitannya dengan lembut.


"Jadi kamu mau nanti pijitinnya di kamar pengantin kita? Kalau nanti di kamar, aku gak bisa janji cuma pijit kaki doang loh!" goda Haidar berbisik pelan disertai senyuman nakal di bibirnya. Yumna melotot tanda protes.


"Tapi banyak orang, Haidar. Mereka lihatin kita. Aku malu!" bisik Yumna.

__ADS_1


"Memang kenapa harus malu? Kita kan sudah suami istri!" jawab Haidar cuek. Sementara Yumna mengedarkan pandangannya ke arah lain dengan muka memerah, para tamu yang melihat mereka hanya tersenyum-senyum melihat kemesraan pengantin.


Di tempat lain. Syifa cemberut, melihat kedua adiknya menggandeng pasangannya, ia hanya bisa menatap iba pada dirinya sendiri.


"Kenapa mereka udah punya pasangan sementara aku belum?" gumamnya kesal pada diri sendiri. Menatap kemesraan kedua adik kembaran itu dengan pacar mereka masing-masing.


Wajahnya ia tekuk dengan bibir mengerucut. Merasa sebal dengan kenyataan bahwa ia masih jomblo, ia pun pergi keluar dimana ada sebuah taman kecil. Syifa duduk disana dan memakan camilan buah yang sudah ia bawa tadi.


"Hahh, apa yang salah sama diri aku? Aku cantik, manis, baik. Kenapa aku masih jomblo?" gumamnya lagi.


"Harusnya kan aku datang kesini sama pasangan... Mereka bikin iri aja! Kak Yumna sama Kak Haidar, si duo rusuh sama Ameera dan Ana. Aku sama siapa...?!" Syifa berbicara sendiri dengan nada menyedihkan.


"Kenapa dengan, nona?" tanya seorang pria membuat Syifa tersedak karena kaget. Pria itu menepuk punggung Syifa lembut, tidak menyangka Syifa akan tersedak karena dirinya. Syifa pun menatap pria di sampingnya. Memindainya dari atas sampai bawah. Lalu sebuah ide gila muncul di otak cantiknya.


Syifa menyimpan makanannya di bangku, dan sebelum pria itu sadar dari keterkejutannya, dia sudah ditarik paksa oleh Syifa masuk kembali ke dalam balroom hotel tempat acara resepsi sang kakak di laksanakan.


"Tapi nona..."


"Tidak ada tapi-tapi. Yang lain sudah ada pasangan malam ini dan aku gak ada, karena kita sama-sama sendiri jadi untuk malam ini om jadi pasangan aku. Dan tidak boleh menolak!" Syifa tetap menarik tangan pria itu.


"Huhhh dasar pemaksa! Dan tidak pernah berubah!" batin pria itu dengan senyuman.


Lily dan Bima menatap pada ke empat putra-putrinya bergantian dengan tatapan sendu. Yumna yang sedang tersenyum bahagia bersama pria yang kini menjadi suaminya. Si kembar bersama kekasihnya, dan Syifa...

__ADS_1


Oh ya ampun, anak itu! Harusnya dia tidak perlu bersikap seperti itu kan? batin Lily menatap Syifa yang sedang memaksa seorang pria membuka mulutnya untuk di suapi. Bima yang tahu kemana arah pandang Lily hanya terkekeh melihat kelakuan putri keduanya.


Bima menggenggam tangan Lily, di kecupnya tangan itu dengan lembut. "Anak-anak kita sudah besar semua." ucap Bima sendu.


"Iya mas, gak terasa. Sepertinya kemarin, mereka baru di lahirkan dan sebentar lagi satu persatu dari mereka akan pergi dari kita." Mata Lily berkaca-kaca.


Bima menghela nafas berat. Dia mengalihkan tangannya ke pinggang sang istri. Dan membisikkan sesuatu di telinga Lily yang membuat Lily tersipu malu. Bima segera pergi menjauh sebelum istrinya berhasil mencubit perutnya.


"Dasar mesum!" gumam Lily sambil mengingat apa yang di bisikkan suaminya tadi.


'Setelah acara selesai, aku tunggu di kamar pengantin kita!'


Yumna tersenyum melihat pemandangan indah dari tempatnya. Dia melihat mama dan papanya bergandengan tangan dengan sangat mesra menyapa para tamu yang datang. Melihat kedua adik kembarnya yang sedang tertawa bahagia dengan pasangannya. Dan satu lagi, Syifa. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Senang ya lihat mereka semua." ucap Haidar yang tahu kemana arah pandang Yumna.


"Eh?" Yumna menoleh pada Haidar, masih belum mengerti maksud suaminya.


"Mama dan papa sangat serasi dan semua adik kamu sepertinya bahagia dengan pasangan masing-masing." ucap Haidar.


"Sepertinya tidak semua. Aku yakin mas Reyhan tidak bisa berkutik karena di paksa Syifa." Yumna terkekeh melihat Reyhan yang terpaksa membuka mulutnya.


"Adik kamu lucu! Bahkan Reyhan yang dingin seperti balok es bisa menurut seperti itu!" Ucap Haidar. Yumna tertawa kecil merasa lucu melihat pemandangan itu.

__ADS_1


__ADS_2