
"Jangan-jangan pak bos suka lagi sama kamu," ucap Mira yang membuat Yumna terdiam.
"Mana mungkin. Gak mungkin, ah." Yumna mengelak, sudah jelas jika dirinya sudah menikah, mana mungkin ada yang suka dengan istri orang lain, apalagi dia adalah bos di perusahaan ini.
"Napa juga gak mungkin sih. Kalau aku jadi pak bos juga kayaknya aku bakalan suka deh sama kamu. Kamu tuh beda sama yang lainnya, rasanya perfect aja gitu. Pesona kamu tuh kuat," ucap Mira lagi.
"Kuat apanya? Udah deh, malah bahas ginian. Kita ini masih kerja," ucap Yumna mengingatkan. Mira kini kembali dengan pekerjaannya sendiri, begitu juga dengan Yumna menggerakkan jemarinya di atas keyboard meski sesekali dia merasa sakit di tangannya.
Warna merah itu memudar karena salep yang tadi dia oleskan, tapi masih terlihat merah di kulit Yumna yang putih. Yumna hanya mengusap punggung tangannya itu sesekali dan juga meniupnya.
"Semoga aja nanti pas pulang udah gak merah lagi," gumam Yumna sambil mengusap punggung tangannya. Terpikir oleh Yumna kini dengan pakaian sang bos yang tadi terkena noda kopi, rasanya melihat kemeja yang dia pakai harganya juga tidak murah, semoga saja bosnya tidak marah jika besok dia bertemu lagi dan berharap tidak memotong gajinya.
Randy masuk ke dalam ruangan, melihat tiga orang yang ada di sana tengah sibuk dengan pekerjaannya. Sekilas melirik Yumna yang ada di mejanya.
"Rahma," panggil Randy pada wanita itu. Rahma yang tengah sibuk mengangkat kepalanya dan segera berdiri, Yumna dan Mira juga melihat Randy berdiri di sana, tapi mereka memilih untuk kembali pada pekerjaannya.
"Iya, Pak? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Rahma dengan cepat.
"Saya mau pulang. Kalian akhiri pekerjaan dan lanjutkan besok saja," ucap Randy.
Rahma melirik jam yang ada di dinding ruangan tersebut. Masih kurang dari jam lembur biasanya. "Eh, tapi ini masih jam tujuh, Pak."
"Gak masalah. Saya capek hari ini. Gak bisa nunggu kalian sampai selesai lembur. Bisa kan besok sebelum jam sembilan kalian selesaikan dan antarkan pekerjaan ke sekretaris saya?" tanya Randy.
Rahma dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Bisa, Pak. Bisa," ucapnya dengan cepat seraya menganggukkan kepalanya.
"Bagus." Randy menggerakkan tangannya, melihat gerakan tangan itu Rahma sudah mengerti jika Randy menyuruhnya untuk memberitahu yang lain. Maka, Rahma segera mendekati Yumna dan Mira untuk menyuruh mereka berdua pulang. Randy yang sudah menenteng tas kerjanya serta memakai jas lengkap juga keluar dari ruangan itu untuk menuju basement.
"Save pekerjaan kalian, lanjutkan besok pagi saja," ucap Rahma kepada kedua bawahannya.
"Eh, kenapa pulang? Gak jadi lembur sampai jam delapan nanti?" tanya Mira bingung.
"Gak jadi, pak bos capek. Gak bisa nungguin kita lembur sampai malam nanti. Yuk ah, kita pulang sekarang," ucap Rahma lagi lalu pergi dari sana dengan hati yang senang. Meski dia suka dengan lemburan, tapi jika sering rasanya lelah juga, apa lagi anak-anaknya sudah mulai protes jika dirinya sering tidak ada di rumah.
Mira dan Yumna juga merasakan hal yang sama. Lelah tubuh mereka meski seharian hanya duduk di depan komputer.
"Ah, senang banget gak sampai malam," ucap Mira pada Yumna. Mira segera mengeluarkan hpnya dan menghubungi sang pacar.
"Gak bisa, ya?" tanya Mira pada panggilannya. "Ya sudah deh, aku naik bis aja," ucap Mira lagi dengan nada yang tak bersemangat, pasalnya mencari bus atau kendaraan di malam hari sedikit sulit untuk dia dapatkan. Dia juga tidak memiliki aplikasi ojek online karena seringnya sang pacar yang menjemput setiap hari. Mira segera menutup teleponnya.
"Gak dijemput?" tanya Yumna pada Mira. Temannya itu menggelengkan kepalanya.
"Lagi ada urusan, jadi gak bisa jemput." Mira menjawab. "Aku naik bis aja, terpaksa," ucap Mira sambil tersenyum miris. Yumna merasa tidak tega dengan temannya ini.
"Aku anterin deh, kasihan kalau kamu pulang pake umum sendirian," ucap Yumna, tidak tega rasanya membiarkan Mira naik kendaraan umum sendirian. Bagaimana jika terjadi hal yang tidak diinginkan? Mengingat sering terjadinya kejahatan di dalam kendaraan umum.
"Eh, anter gimana? Jangan lah. Gak enak sama suami kamu," ucap Mira menolak.
"Tenang aja. Aku bawa mobil sendiri kok," ucap Yumna yang membuat Mira menatapnya tidak percaya.
"Bawa mobil?" tanya Mira. Yumna tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tangannya tidak berhenti membereskan meja kerja sehingga tampak rapi.
"Iya, ayo. Kita pulang."
Yumna dan Mira keluar dari ruangan tersebut menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai bawah. Masih ada dua mobil yang ada di basemen, milik Yumna dan juga milik pak bos.
"Ini mobil kamu?" tanya Mira tidak percaya, melihat dari tampilan dan merk mobil Yumna rasanya bukan mobil murahan.
"Iya, ayo masuk," ucap Yumna sambil menekan remot mobil di tangannya, seketika lampu mobil menyala dan mati dengan cepat. Mira hanya terdiam, selain terpaku dengan apa yang dia lihat juga tidak terbiasa menaiki mobil mewah seperti itu.
"Kok diam? Masuk yuk!" ajak Yumna lagi. Mira menggelengkan kepala membuat Yumna urung membuka pintu mobilnya. "Kenapa?" tanya Yumna bingung.
"Takut mobil kamu lecet dan kotor," ucap Mira lagi. Yumna hampir tergelak mendengarnya.
__ADS_1
"Ya ampun. Mobil kalau gak mau lecet dan kotor tuh gak usah dipake, simpan aja di museum," ujar Yumna lagi. "Ayok ah. Pulang gak?"
Mira masih terdiam sampai Yumna yang sudah masuk ke dalam mobil terpaksa harus membuka pintu yang lain dari dalam sana.
"Mir, ayo deh. Udah malam nih," ucap Yumna sambil menggerakkan tangannya mengajak Mira untuk masuk. Dengan tak enak hati Mira masuk ke dalam mobil Yumna, rasanya sedikit menyesal tadi dia mengiyakan untuk Yumna antarkan, jika saja tau mobilnya bagus Mira tidak akan mengiyakan ucapan Yumna yang ingin mengantarkannya.
Mira tampak terduduk dengan kaku, juga rasanya sedikit sulit untuk sekedar menggerakkan kepalanya.
"Kamu tuh kenapa sih, Mir? Jangan lupa sabuk pengamannya kamu pakai." Yumna mengingatkan, dengan refleks Mira memakai sabuk itu meski butuh waktu yang lumayan lama hingga pengaman itu bisa terkunci dengan sempurna. Kali ini Yumna tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Astaga. Mira kamu baik-baik aja?" tanya Yumna yang masih tertawa sedikit keras.
"Aku masih gak percaya pulang diantar mobil bagus seperti ini, Yumna." Mira kini baru bisa menggerakkan kepalanya. Mobil Yumna sangat bagus sekali dengan beberapa modifikasi di dalamnya, hasil karya si kembar.
"Ya ampun, dari tadi kamu diam karena shock?" tanya Yumna semakin terdengar keras gelak tawanya, hal yang jarang sekali dia lakukan jika tidak bersama dengan Haidar dan para adiknya. Mira mengangguk dengan kaku.
"Jangan gitu deh, jujur aku geli lihat kamu kayak robot, sekilas gak kenal sama kamu yang suka rame," ujar Yumna. Mira tersenyum, masih kaku dan tidak percaya. Yumna menyalakan mesin mobilnya, terdengar sangat halus sekali sehingga Mira bisa membandingkan dengan mobil yang sesekali pacarnya bawa jika harus menjemputnya.
Kayaknya ini mobil mahal banget. Browsing, ah, batin Mira yang sangat kepo, jelas dia mengingat merk mobil yang Yumna pakai.
Seseorang terdiam kini di balik kemudinya, dia yang kebetulan masih belum pulang melihat Yumna dan Mira masuk ke dalam mobil hitam. Randy sempat tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tadi dia sempat mengira jika mobil itu milik Rahma.
Siapa Yumna? batin Randy yang kini terdiam, jelas dia melihat jika mobil itu tidak dimiliki oleh karyawan kebanyakan. Mobil dengan harga kisaran setengah milyar itu rasanya mustahil jika dimiliki karyawan yang hanya berpenghasilan dibawah sepuluh juta satu bulannya.
...***...
Yumna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tak lupa dia tadi bertanya kepada Mira ke mana arah tujuannya, kebetulan sekali alamat yang disebutkan ternyata satu arah dengannya.
Dering suara telepon terdengar dengan sangat keras menjerit dari dalam tas Yumna. Gegas Yumna menepikan mobilnya di jalanan yang sepi.
"Sebentar ya, ada yang telepon," ucap Yumna pada Mira.
"Iya, santai aja kali," jawab Mira masih sambil mencari tahu berapa kisaran harga mobil ini, jangan sampai dia membuat lecet dan menjadikan dirinya tidak enak hati pada Yumna.
"Iya, Az?" tanya Yumna singkat.
"Kak, disuruh mama datang ke rumah. Ada kiriman dari nenek Ratih, nih," ujar Azkhan dari ujung teleponnya.
Yumna melihat jam yang ada di tangan, ini sudah malam dan juga ada Mira yang harus dia antarkan. "Gak bisa malam ini lah. Kakak capek, besok aja diambil ya. Simpan, jangan sampai kelihatan Syifa, nanti habis," ucap Yumna pada adik bungsunya.
"Haha, Kakak nih, dia mah udah habis banyak. Tapi gak tau juga sih apa ini bakalan diembat juga apa enggak," ujar Azkhan yang di sana mendapatkan tatapan tajam dari kakak perempuannya yang tengah mengunyah makanan.
"Awas aja kalau sampai habis. Udah ah, Kakak lagi otewe pulang nih. Udah malam, capek, baru pulang lemburan," ucap Yumna lagi.
"Eh, aku anterin aja deh ya. Sekalian mau cari angin," ucap Azkhan tersenyum penuh maksud.
Yumna berdecak mendengar ucapan adiknya yang penuh dengan alasan. "Terserah, asal pulang tepat waktu dan gak bikin ibu ratu marah," ucap Yumna lagi. Mira melirik mendengar pembicaraan Yumna yang entah dengan siapa. Seperti pribadi yang beda, Yumna yang sedikit pendiam nyatanya bisa juga bercanda dengan seseorang.
Panggilan berakhir, Yumna melirik ke arah Mira dan tersenyum. "Mir, kita di depan nunggu adikku dulu boleh gak? Ada yang mau aku ambil," ucap Yumna. Mira menganggukkan kepala.
"Terserah kamu aja. Aku ngikut," ujar Mira.
Mobil kembali berjalan dan Mira masih mencari sesuatu di hpnya hingga pada akhirnya matanya tidak berkedip dari sana.
"Ha?" Yumna sampai melirik mendengar Mira, melihat wanita itu membuka mulutnya sambil menatap ponselnya, seperti orang yang terkejut.
"Ada apa?" tanya Yumna ingin tahu.
Mira memperlihatkan gambar yang ada di hpnya. "Serius? Ini kan?" tunjuk Mira pada benda pipih tersebut.
"Apa?"
"Mobil ini. Ini kan gambarnya?" tanya Mira sekali lagi sambil mendekatkan hpnya pada Yumna.
__ADS_1
"Bukan," jawab Yumna berbohong. Mira tidak lantas percaya begitu saja, jelas seratus persen mirip dengan yang ada di gambar, setidaknya dia melihat bentuk yang sama.
"Ah, gak percaya. Pasti ini, kan?" tanya Mira sekali lagi. Yumna hanya tersenyum tanpa menjawab membuat Mira yakin dengan yang dia lihat di sana. Angka yang fantastis menurutnya yang hanya seorang gadis dari keluarga tidak berpunya.
"Jangan percaya yang ada di sana, nanti kamu jantungan. Ini mobil gak seberapa, kok. Mungkin cuma mirip aja, tapi bukan itu," ujar Yumna. Dia sedikit takut jika nantinya Mira akan minder kepada dirinya.
"Ah, masa?" kata Mira sekali lagi, meski rasanya ingin percaya dengan ucapan Yumna, tapi hatinya tidak mengizinkan hal tersebut. Mira kini hanya diam, entah mana yang harus dia percayai, apakah ucapan Yumna atau penglihatan dirinya.
Mobil yang Yumna kendarai kini berhenti di sebuah tempat, sebuah kendaraan tengah menunggu di sana. "Aku turun sebentar, ya." Mira mengangguk sebagai jawaban, Yumna kini keluar dari mobilnya dan mendekat ke arah dua adik kembarnya.
"Kak Yumna," ujar Azkhan senang melihat kedatangan sang kakak sulung, sedangkan Arkhan hanya bersikap biasa saja menatap Yumna dan adiknya itu saling berpelukan. Yumna menarik dirinya dan melirik ke arah Arkhan, sudah biasa jika adiknya itu bersikap dingin kepadanya.
"Kalian dah lama nunggu?" tanya Yumna. Sesekali lampu dari kendaraan yang melintas menyorot ketiga orang itu, Mira hanya memperhatikan dari dalam. Yumna dan dua orang itu sangat akrab sekali. Dia menyangka jika mereka adalah adiknya, sebab Yumna pernah bilang jika dia mempunyai adik laki-laki kembar dan adik perempuan.
Mira terus memperhatikan. "Ah, masa sih? Bener gak ya? Apa Yumna dari keluarga berada? Atau semua ini fasilitas dari suaminya?" gumam Mira jadi ingin tahu. Yumna sangat misterius sampai-sampai dia tidak terlalu banyak tahu tentang diri wanita itu.
"Ada kiriman dari nenek, nih. Mama sudah ambil, ini bagian Kak Yumna," ujar Azkhan sambil memberikan bingkisan untuk Yumna.
"Mama bilang kalau libur kerja nanti ke rumah. Kayaknya kangen tuh," ujar Azkhan.
"Iya, makasih udah dibawain. Bilang sama Mama Kak Yumna akan usahakan pulang ke rumah mama," ucap Yumna.
"Kalian sudah ini mau kemana? Jangan kelayapan, pulang ke rumah biar mama gak marah."
Azkhan sedikit mencebikkan bibirnya. Sudah lumayan lama mereka tidak keluar malam. Aturan Mama Lily tetap tidak mengizinkan semua anaknya pulang lebih dari jam sembilan malam.
"Bisa gak sih kalau kita nginap di tempat Kakak?" tanya Azkhan.
"Bisa, tapi tetap aja kalian harus izin sama mama. Tau sendiri mama kalau sudah marah kayak gimana," ucap Yumna mengingatkan.
"Sudah, kalian pulang langsung. Nanti kalau libur kuliah baru kalian nginep di rumah Kakak, kita adakan barbeque di halaman belakang," ucap Yumna yang disambut senyum kedua adiknya.
"Kakak pulang dulu ya, mau anterin temen juga sekalian pulang," ucap Yumna pada keduanya. Azkhan melirik ke dalam mobil Yumna, benar ada seseorang di sana.
"Oh, oke. Butuh kita kawal gak?" tanya Azkhan yang senang jika ada alasan untuk pulang terlambat.
"Gak usah, nanti mama marah kalau kalian pulang telat," ucap Yumna lagi. "Sudah ya. Makasih sudah diantarin, kalian hati-hati pulangnya," ucapnya lagi sambil mengangkat paperbag di tangannya. Azkhan menganggukkan kepalanya.
Yumna kini berjalan kembali ke arah mobilnya dan melaju meninggalkan dua adiknya yang masih di sana. Arkhan dan Azkhan pun juga masuk ke dalam mobilnya, tapi bukannya pulang mereka berdua mengikuti Yumna dari belakang. Rasanya tidak tega juga melihat sang kakak pulang sendirian di malam hari.
"Siapa? Adik?" tanya Mira saat Yumna sudah melajukan mobilnya kembali.
"Iya, antarin ini," jawab Yumna, satu tangannya merogoh masuk ke dalam paperbag dan melihat apa yang neneknya kirimkan. "Praline!" seru Yumna dengan wajah yang berbinar senang. Cokelat kesukaannya yang dikirimkan oleh Nenek Ratih. Mira yang melihat hal tersebut kini diam, tidak tahu apa yang Yumna pegang di tangannya.
Yumna kembali merogoh ke dalam sana sambil pandangannya terfokus pada jalanan di depannya, dia mengeluarkan satu wadah lagi yang lain. Isinya sama seperti yang tadi, cokelat dari Belgia dengan isian buah-buahan, karamel, dan juga krim.
"Buat kamu," ucap Yumna sambil memberikan satu wadah cokelat tersebut untuk Mira.
Mira menerima benda tersebut dan sedikit bingung. "Apa ini?" tanya Mira sambil melihat bungkusnya, dia tidak mengerti dengan tulisan yang ada di sana.
"Cokelat, kayaknya nenek baru pulang liburan."
Mira membaca bungkus tersebut, baru dia sadari jika di sana tertulis dengan bahasa lain, seketika dia membelalakkan matanya saat menangkap kata sebuah negara, Belgia.
"I-ini ... Belgia?" ujar Mira tidak percaya. Yumna melirik dan tersenyum kecil.
"Gak tau itu emang dari liburan atau pesan online," ujar Yumna sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Mira semakin berpikir keras, otaknya kali ini sedang berusaha untuk menerawang. Rasanya tidak mungkin jika dengan fakta yang ada wanita ini adalah seorang yang biasa. Siapa sebenarnya Yumna?🤔
...***...
Waduh, panjang juga ternyata, 🤣. Terlalu bersemangat sampai bingung mau bagian yang mana yang dipenggal 🤔.
__ADS_1