YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
209. Waktu Yang Berkesan


__ADS_3

Makan malam kali ini terasa berkesan untuk Yumna karena dia bisa makan bersama dengan Haidar. Entah mimpi apa dia selama ini hingga akhirnya Yumna bisa bersama lagi dengan Haidar.


Makanan sederhana yang terhidang di depannya memanglah biasa, tapi sangat enak menurut Yumna, entah karena memang enak atau memang suasana hatinya yang sedang bahagia hingga membuat Yumna sedari tadi terus saja menyunggingkan senyuman.


Suasana malam yang ramai di tempat itu, tak membuat keduanya terganggu sama sekali. Duduk lesehan di karpet, di teras sebuah toko yang telah tutup, membuat Yumna merasakan suasana yang benar-benar berbeda. Meski Yumna juga tidak terlalu suka makan di restoran, tapi dia juga tidak pernah makan di tempat lesehan seperti ini. Ini adalah pengalaman pertamanya makan di tempat terbuka. Yumna selama ini lebih suka makan di rumah daripada di luar.


"Tambah lagi, makan yang banyak." Haidar memindahkan beberapa tusuk sate yang ada di dalam piringnya ke piring Yumna.


Yumna yang sedari tadi mendapatkan hal serupa menjadi kesal. Pasalnya Haidar bukan hanya sekali ini memindahkan beberapa tusuk sate pada piringnya. Haidar hanya memakan tidak sampai setengah dan lebih banyak dia berikan pada Yumna.


"Jangan terlalu banyak, Haidar! Kamu sedari tadi terus saja menyodorkan aku makanan ini. Kamu mau buat aku gendut?" tanya Yumna dengan sedikit melotot pada pria di sebelahnya.


Haidar hanya terkekeh mendengar Yumna yang kesal seperti itu.


"Memangnya apa salahnya kalau gendut? Kamu tetep cantik, kok!" seru Haidar yang membuat Yumna menjadi malu.


"Jangan bercanda! Mana ada gendut cantik!" kesal Yumna, menutupi rasa malunya.


Haidar lagi-lagi terkekeh mendengar kekesalan calon kekasihnya.


"Ada. Kamu," bisik Haidar mendekat pada Yumna.


"Kamu akan selalu menjadi wanita cantik di hati aku," ujar Haidar lagi.


Yumna merasa geli dengan perlakuan dan juga ucapan Haidar. Dia malu sekali karena dalam hidupnya hampir tak pernah menerima gombalan yang seperti ini.


Dengan sekali gerakan Yumna menggerakkan tangannya hingga sikutnya mengenai tulang iga Haidar. Haidar menahan pekikan d bibirnya, sadar jika tempat ini adalah tempat umum.


"Sakit! Apa salahku sampai kamu kejam seperti ini?" tanya Haidar seraya mengusap area yang sakit.


"Kamu terlalu banyak gombal!" ujar Yumna tak peduli.

__ADS_1


"Aku gak gombal! Aku bicara yang benar, kok!" Seru Haidar, dua jarinya membentuk huruf V.


"Kalau orang yang jatuh cinta, mah. Pasangannya selalu cantik tiada tanding!" Haidar mencolek dagu Yumna, membuat Yumna risih. Pasalnya orang yang duduk tak jauh dari sana menatap ke arah mereka berdua sambil tersenyum-senyum.


"Haidar, hentikan. Malu!" Yumna semakin kesal dan juga malu. Ibu yang duduk bersama dengan putranya itu mesam-mesem menatapnya.


Haidar sadar dengan apa yang Yumna maksud hingga dia menganggukkan kepalanya pada si ibu dan di balas dengan anggukan pula.


Makan malam selesai. Yumna sangat kenyang sekali karena ternyata dia makan lebih banyak kali ini. Tak lupa dia juga membelikan beberapa bungkus sate untuk orang-orang yang ada di rumah, tentu saja Haidar yang membayarnya.


Mereka kembali menaiki mobil untuk perjalanan pulang.


"Hah, kenapa juga harus bertemu dengan waktu yang singkat seperti ini? Aku belum puas ketemu sama kamu," ucap Haidar dengan nada yang protes.


Yumna tertawa pelan sambil mengusap lengan Haidar.


"Lain kali kan kita juga bisa bertemu lagi," ucap Yumna. Haidar hanya mengangguk pasrah.


"Kenapa?"


"Lebih baik untuk sekarang ini kita jangan terlalu banyak bertemu. Maksudnya, aku belum bisa dan belum siap menjelaskan pada Mama dan Papa tentang kedekatan hubungan kita kembali." Yumna mencoba untuk menjelaskan.


Haidar harus pasrah, Yumna memang lebih banyak membutuhkan waktu untuk bisa berterus terang pada keluarga besarnya. Tidak seperti dirinya yang sudah mendapatkan lampu hijau dari Mama dan juga Papanya, selain Mama Lily dan Papa Bima, Yumna juga mempunyai adik. Apalagi dulu si kembar pernah memukulinya saat dia bersama dengan Vio.


"Oke, aku akan menunggu kamu sampai kamu siap, dan aku juga akan siap maju kalau kamu sudah mengizinkan. Aku gak akan ragu atau takut untuk bicara dengan Mama dan juga Papa Bima meski tak tau jika akhirnya aku akan dicincang oleh keduanya," ujar Haidar panjang lebar. Yumna menatap pria yang kini sedang mengemudikan mobilnya, tak menyangka jika Haidar akan memperjuangkan dirinya seperti itu.


Haidar yang di tatap seperti itu balik menatap Yumna dengan bingung.


"Ada apa?" tanya Haidar. Yumna menggelengkan kepalannya.


"Kamu lebay! Mama dan Papa gak akan mungkin sampai cincang kamu," ujar Yumna dengan kesal.

__ADS_1


Haidar tertawa kecil, dia mengalihkan tatapannya ke arah depan, dan kemudian menatap Yumna kembali.


"Mungkin mama dan papa memang tidak akan melakukan itu, tapi kedua adik kembar kamu, bisa jadi akan membuat aku tergantung di atas pohon dengan kepala di bawah," ujar Haidar. Yumna memutar bola mata malas.


"Kamu tau gak? Dulu adik kamu, gak tau yang mana pukul aku sampai babak belur," ujar Haidar.


"Beneran?" tanya Yumna tidak percaya.


"Iya, beneran. Waktu kamu baru pulang ke rumah."


"Kok bisa sampai mereka pukul kamu?" Yumna menjadi penasaran.


"Bukan mereka, tapi salah satu, cuma aku gak tahu yang mana. Dia pukul aku sangat keras sekali waktu itu aku sedang jalan dengan Vio," terang Haidar sambil mengerucutkan bibirnya.


Yumna menahan tawa, dia yakin jika Arkhan yang melakukan itu. Azkhan memang sudah mengikuti bela diri dengan ayah Iriana, tapi Azkhan bisa menahan emosi. Berbeda dengan Arkhan yang tidak bisa menahan emosinya.


Haidar menatap kesal pada calon istrinya kelak. Sedikit kesal karena ternyata tidak seperti ekspektasinya semula. Dia yang ingin dikasihani oleh Yumna malah wanita itu menertawakan dirinya.


"Kok ketawa?" protes Haidar.


"Terus? Aku harus gimana? Harus kasihan gitu?" tanya Yumna kini tertawanya semakin keras. Dia menutupi mulutnya yang tertawa dnegan lebar.


"Kejadian itu kan sudah sangat lama, lagian kalau aku juga kasihan sama kamu, mau bagaimana? Aku juga gak bisa obatin kamu," ujar Yumna.


Haidar mendelik pada Yumna.


Dia itu sayang sama gue ga sih?! Gak ada rasa iba dan simpati sama sekali!


"Apa?" tanya Yumna yang sadar Haidar menatap tak suka ke arahnya.


"Harusnya kamu itu kasihan sama aku, malah ketawa!"

__ADS_1


"Lagian Haidar, kamu itu aneh deh. Ini kejadian lama juga. Mau aku kasihan juga kan gak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Ya itu resiko kamu sudah membuat sakit hati kakak dari adik-adik yang sangat sayang sama aku," ucap Yumna.


__ADS_2