YUMNA AZZURA

YUMNA AZZURA
325


__ADS_3

"Oh, ya Pa. Aku pulang dulu. Pak Randy saya pulang duluan," pamit Yumna lalu menggamit tangan sang suami untuk cepat pergi dari sana. Haidar yang hendak berbicara dengan sang ayah mertua tidak jadi membuka mulutnya dan hanya mengangguk saja kepada dua orang tersebut.


"Mira aku duluan ya!" teriak Yumna kepada sahabatnya yang dijawab oleh lambaian tangan dari Mira.


Dengan langkah kaki yang cepat Yumna membawa Haidar ke mobilnya.


"Ini ada apa? Nggak biasanya kamu tarik-tarik tangan aku kayak gini?" tanya Haidar dengan bingung. Yumna hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia tidak ingin jika semua yang dirahasiakan dari keluarganya terbuka di sini.


'Apa mungkin Pak Randy tahu aku sedang hamil? Semoga saja dia nggak bilang sama papa,' gumam Yumna di dalam hati. Dia benar-benar akan memarahi laki-laki itu tidak peduli jika dia adalah bosnya.


Haidar membuka pintu mobil untuk Yumna, tampak ada sebuket bunga di atas kursinya.


"Itu bunga buat kamu, semoga kamu suka," ucap Haidar. Yumna tersenyum dan mengambil bunga itu dari tangan Haidar, tidak biasanya suaminya itu bersikap romantis.


"Ada apa ini? Tumben kasih bunga segala," ucap Yumna.


"Nggak apa-apa, emang nggak boleh kasih bunga buat istri sendiri?" tanya Haidar malu, sadar jika dirinya tidak pernah memberikan hadiah untuk istrinya ini. "Ayo masuk."


Yumna pun masuk ke dalam mobil dan mereka berdua pun pergi dari sana.


Dari tempatnya berdiri, Randy dan Bima masih menatap mobil berwarna hitam itu pergi dari depan perusahaan tersebut.


"Saya sangat salut sekali dengan putri Bapak, dia sangat mempesona," ucap Randy tanpa sadar.


"Apa?" tanya Bima, membuat Randy gelagapan atas ucapannya sendiri.


"Eh, tidak apa-apa. Cuma saya kagum dengan anak Bapak. Mandiri sekali Yumna, dan tidak manja meski dia anak seorang pengusaha," ucap Randy meralat ucapannya.


...***...


Menjelang malam, Haidar membawa Yumna ke tempat kejutan yang telah dipersiapkan. Yumna sedikit bingung karena laki-laki ini menutup matanya dengan sebuah kain.


"Apa kita akan ke restoran mewah?" tanya Yumna.


"Kamu tebak saja," ucap Haidar. Yumna mencoba untuk berpikir, Haidar menyuruhnya berdandan dengan baik, dan ini adalah hari ulang tahunnya, yang terpikir olehnya hanya restoran atau hotel untuk bermalam.


"Aku nggak bisa nebak selain restoran dan hotel," ucap Yumna mengutarakan pikirannya.


Haidar tergelak mendengar ucapan istrinya itu.


"Ih, kamu jadi mesum gitu," ucap Haidar, Yumna menjadi malu dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


"Ya, kan kemana lagi? Kamu tuh belum pernah kasih aku kejutan soalnya." Yumna kali ini terkekeh, sedangkan Haidar merasa jika istrinya itu benar adanya.

__ADS_1


Pasrah saja Yumna mengikuti kemana arah suaminya pergi membawanya. Dia jadi berpikir kemana dan apa saja yang akan mereka lakukan di sana.


Tak sampai satu jam, mobil yang mereka kendarai telah sampai di tempat yang dituju. Dengan perlahan Haidar membantu Yumna berjalan ke dalam tempat tersebut.


"Haidar, apa aku belum boleh buka penutup mata ini?" tanya Yumna penasaran, sangat berhati-hati melangkah karena takut tersandung sesuatu.


"Nggak dulu lah, bukan kejutan namanya kalau kamu buka sekarang," ucap Haidar memapah Yumna.


Sampai lah mereka di dalam sebuah ruangan, hening sekali sampai tak terdengar suara di sana.


"Berdiri di sini," ucap Haidar, dia mengerling ke arah lain di mana Mitha dan Lily berdiri di sana.


Yumna merasa berdebar di dalam jantungnya. Apa kejutan yang akan Haidar berikan untuknya?


"Aku gugup," ucap Yumna tanpa sadar.


"Haha, aku malah nggak tau kamu akan suka atau enggak. Semoga saja karena kami sudah susah payah membuatnya," ujar Haidar.


"Kamu siap? Satu. Dua. Tiga!" Haidar membuka penutup mata yang ada di wajah Yumna.


Yumna masih menutup matanya menghindari silau yang terdapat di ruangan tersebut. Dia membuka mata dan terpaku melihat banyak orang yang ada di sana berjajar rapi dengan setangkai bunga mawar putih di tangan mereka masing-masing.


Selamat ulang tahun,


Selamat ulang tahun, Bunda Yumna.


Semoga panjang umur.


Serentak suara itu terdengar sebagai alunan lagu yang sangat indah dengan nada yang tinggi rendah dengan koor yang baik. Sangat indah saat Yumna mendengarnya lagi dan lagi.


Melihat banyak anak yang menyanyikan lagu dan doa untuknya, membuat Yumna menjadi terharu sehingga matanya menjadi panas. Dia melihat ke sekeliling, ruangan ini sangat cantik dan terdapat namanya di dinding.


Yumna tidak tahu ada di mana sekarang ini, tapi melihat anak dengan berbagai usia, dia mengerti jika ini adalah panti asuhan. Dia tidak menyangka jika Haidar bisa membuat kejutan seperti ini di sini.


Satu persatu anak-anak yang ada di sana mendekat ke arah Yumna dan memberikan setangkai bunga itu ke padanya.


"Selamat ulang tahun, Bunda," ucap salah seorang anak, lalu memberikan sebuah amplop cantik yang digambar sendiri kepada Yumna. Tak lupa dia juga mengulurkan kedua tangannya meminta dipeluk. Yumna menunduk dan mendapati pelukan dari anak tersebut. Hangat rasanya membuat Yumna menjadi semakin terharu dan berusaha menahan air matanya dengan sebutan dari anak-anak tersebut. Juga dengan anak yang lain, mengikuti jejak kakaknya tadi hingga semua yang ada di sana selesai dan Yumna telah mendapatkan bunga dan kartu ucapan dengan berbagai gambar pada amplopnya.


"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Haidar mendekat dan mencium kening Yumna dengan sayang.


Yumna sangat senang sekali dengan kejutan sederhana ini. Dia sungguh tidak menyangka jika suaminya membuat kejutan di panti asuhan ini. Dia tidak menyesal akan hotel dan restoran, malah lebih senang dengan adanya pesta kecil mereka di sini karena bisa berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang lainnya.


"Makasih, Haidar." Akhirnya Yumna terisak juga. Tak tahan dengan perasaannya yang membuncah senang.

__ADS_1


Lily dan keluarga, juga Mitha dan Arya mendekat ke arah Yumna, bergantian memberikan selamat untuk wanita tersebut dan memeluknya bergantian. Tak lupa dengan doa yang terpanjat untuk Yumna agar mendapatkan kebahagiaan dan panjang umur di dalam hidupnya.


Lily mengusap air matanya. Beruntung Yumna di kelilingi orang-orang yang sayang dengan dia, mendapatkan laki-laki yang kini sangat mencintainya. Dia ingat akan hidupnya di masa lalu, sampai menyanyikan lagu ulang tahun sendirian selama beberapa tahun hidupnya.


"Kamu nangis?" tanya Bima berbisik kepada istrinya.


"Aku senang, Mas."


Semua orang kini duduk di lantai yang telah disediakan karpet dan juga banyak makanan di sana. Mereka tengah mendengarkan cerita seorang anak dan harapannya untuk Yumna untuk ke depannya nanti. Sampai pada akhirnya seorang wanita, ibu kepala panti maju dan mengambil mikrofon dari anak tersebut.


"Selamat ulang tahun untuk Bunda Yumna, semoga apa yang diharapkan terlaksana dan kebahagiaan selalu bersama dengan Bunda dan Ayah Haidar," ucap bu kepala tersebut. Suara riuh tepuk tangan terdengar dari semua orang yang ada di sana.


"Ada satu lagi acara sebelum penutupan kali ini. Ini adalah kisah Bunda Yumna dan Ayah Haidar. Apa ada yang mau lihat?" tanya bu kepala berteriak, lalu disahut juga dengan teriakan 'iya' oleh yang lainnya. Ibu kepala menyuruh seseorang untuk membawakan sesuatu ke dalam ruangan ini, dengan cepat dua laki-laki datang dan memasang layar putih, juga menempatkan sebuah proyektor di depan layar tersebut.


Mitha dan Lily saling berpandangan, pasalnya mereka bingung karena tidak tahu akan ada acara semacam ini saat tadi mereka semua menyiapkan pesta kejutan ini.


"Kejutan apa lagi ini?" tanya Mitha.


"Nggak tau," jawab Lily. "Apa Mas Arya nggak akan datang? Nanti ketinggalan loh," tanya Lily pada Mitha.


"Nggak tau, tadi sih bilangnya masih macet," jawab Mitha.


Gambar di layar putih itu mulai bergerak, juga dengan efek suara yang terdengar dari sebuah sound system kecil terdengar membuat gambar hidup yang mereka lihat menjadi sebuah film yang menakjubkan. Dari mulai sedikit cuplikan pernikahan Yumna dan Haidar, perjalanan keseharian yang sesekali mereka ambil videonya.


"Sayang, kamu bikin ginian apa-apaan, sih? Aku malu," ucap Yumna berbisik di dekat Haidar.


"Hehe, aku gabut, Sayang."


Lily dan Mitha menatap takjub dengan gambar yang ada di depan mereka, editannya sangat halus dan juga indah seakan mereka sedang melihat sebuah film perjalanan hidup yang dibuat oleh sutradara ternama dan aktris terkenal.


Sampai akhirnya, semua orang terdiam saat gambar yang ada di depan mereka menampilkan sebuah scene Haidar memperlihatkan sebuah testpack bergaris dua dan gambar hasil USG yang diberi lingkaran merah pada sebuah titik.


Mitha dan Lily terdiam, saling berpandangan. Tentu saja mereka tahu benda apa itu. Berbeda dengan Bima dan ketiga anak yang lainnya, hanya diam dan berusaha untuk mengerti.


"Kita akan jadi nenek!" teriak Mitha sambil berdiri.


...***...


Tunggu nanti up lagi, tapi nggak tau apa siang apa malam, hehe.


Yuk mampir dulu ke sini sambil nunggu.


__ADS_1


__ADS_2